BAHASA PENGANTAR

BAHASA PENGANTAR

 

Pendahuluan

Bahasa adalah alat untuk menumpahkan isi hati, pikiran seseorang terhadap lawan bicaranya. Berbahasa merupakan media terpenting bagi manusia untuk melakukan interaksi dengan orang lain. Terkait dengan bagaimana orang menilai belajar bahasa Arab, banyak sudut pandang yang heterogen. Sebagian ada yang memandang bahasa Arab adalah bahasa agama, karena bahasa Arab dipandang sebagai alat untuk mempelajari teks-teks suci yang berbahasa Arab. Ada yang berpandangan belajar bahasa Arab adalah belajar bahasa ilmu pengetahuan Islam. pandangan ini juga tidak salah, karena memang ilmu-ilmu Islam mayoritas referensinya berbahasa Arab. Dan ada pula yang berpandangan bahwa belajar bahasa Arab adalah belajar berbahasa. Pandangan ini lebih menitik beratkan pada bagaimana orang belajar bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Populernya bahasa Arab seiring dengan perkembangan Islam. Bahasa Arab dan Islam tidak bisa dipisahkan karena adanya Alquran. Alquran adalah kitab suci Agama Islam, agama terbesar dan paling banyak pengikutnya di dunia ini menggunakan bahasa Arab. Seiring dengan berkembangnya bahasa Arab di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, maka banyak terjadi transformasi mengenai bahasa Arab.

Di Indonesia, bahasa Arab dijadikan sebagai tulisan resmi pada zaman Melayu dahulu, ketika bahasa melayu menjadi lingua franca (bahasa perantaraan) antar masyarakat ataupun suku di Indonesia. Selain itu, bahasa Arab juga merupakan tulisan pada kitab-kitab kuning yang umumnya terdapat di pesantren-pesantren. Percetakan buku-buku zaman dahulu juga mewajibkan tulisannya berbahasa Arab melayu.

Melihat dari perkembangan bahasa Arab yang semakin bertransformasi di atas sebagai bahasa pengantar pada zaman dan keadaan apapun, sudah selayaknya bahasa Arab menjadi bahasa internasional yang dapat bersaing dengan bahasa-bahasa lainnya. Dalam makalah ini akan membahas mengenai hal tersebut.

A. Bahasa Arab sebagai Bahasa Agama Islam

Secara umum, ketika orang mendengar tentang bahasa Arab, yang terbayangkan adalah bahasa yang digunakan oleh bangsa Arab untuk berkomunikasi dalam keseharian mereka. Dengan definisi seperti ini, kita pahami bahwa bahasa Arab tak ubahnya dengan bahasa-bahasa lain yang digunakan oleh masing-masing bangsa untuk mengutarakan maksud mereka. Sehingga seakan-akan bahasa Arab hanya identik dan khusus untuk bangsa Arab. Anggapan  seperti tidak dapat kita benarkan secara mutlak. Akan tetapi yang harus kita pahami bahwa bahasa Arab adalah bahasa Agama Islam. Bagaimana tidak, sedangkan seluruh ajaran Islam tak lepas dari bahasa Arab.

Walaupun Islam datang dari bangsa Arab, tapi bukan berarti Islam adalah agama yang khusus bagi bangsa Arab, begitu pula halnya dengan bahasa Arab. Ka’bah bukan hanya milik mereka, tapi milik seluruh umat Islam, sama halnya dengan bahasa Arab, adalah bahasa agama Islam, yang secara otomatis adalah bahasa seluruh umat Islam.

Berkaitan dengan hal di atas, bahasa Arab adalah  salah suatu bahasa dari rumpun bahasa  Semit[1] Selatan yang digunakan oleh orang-orang yang mendiami Semenanjung Arabia  di bagian barat daya Benua Asia. Bahasa Arab telah mengalami perjalanan sejarah yang sangat panjang, seiring dengan perluasan penyebaran agama Islam dari waktru ke waktu, abad ke abad,  sehingga sekarang bahasa Arab menjadi bahasa resmi di berbagai  Negara, antara lain: Yordania, Suriah, Tunisia, Arab Saudi, Sudan, Mesir, Maroko, Al-Jazair, Irak, Libanon, Libya, Iran, Iran dan Negara-negara yang ada di Semenanjung  Arabia. [2]

Bahasa Arab merupakan bahasa tertua di dunia, dalam pertumbuhan dan perkembangan tidak diketahui dengan pasti, tetapi teks bahasa Arab[3] tertua ditemukan dua abad sebelum Islam datang yaitu yang dikenal dengan sebutan Sastra Jahiliah (Al-Adab al-Jahiii).[4] Ada pula teori yang menyatakan bahwa “bahasa Arab merupakan asal dari bahasa-bahasa”[5]. Mereka meyakini hal ini karena  kenyataan menunjukkan bahwa orang Arab dapat melafalkan suara apapun dalam bahasa manapun di dunia dengan mudah, sebaliknya banyak orang-orang bukan-Arab akan merasa  kesulitan mengucapkan beberapa huruf Arab yang tidak terdapat dalam bahasa asli mereka. Sebagai contoh, huruf dhad tidak digunakan dalam bahasa manapun di dunia, dan karenanya bahasa Arab sering disebut juga sebagai bahasa dhad.

Meskipun usia bahasa Arab sudah ribuan tahun, bahasa ini tidak banyak berubah, dan bahasa ini selalu sesuai pada setiap jaman dan peradaban. Bahkan, bahasa Arab memiliki pengaruh yang besar dalam sebagian besar bahasa yang ada di masa kini. Mungkin, sumbangan bahasa Arab yang paling jelas pada kemanusiaan adalah angka Arab (0,1,2,,3,…)[6]. Selain itu, sebenarnya banyak sekali kata-kata Arab yang digunakan oleh banyak bahasa pada saat ini seperti cover, algoritma, sugar, coffee, alamat, kabar, kalimat, dan seterusnya…..

Mengapa bahasa ini tetap hidup lebih dari ratusan tahun sementara bahasa yang lain tidak? Alasan utama untuk pertanyaan tersebut adalah bahasa Arab merupakan bahasa Alquran, inilah yang menjaga bahasa Arab menjadi bahasa utama hingga lebih dari 1400 tahun peradaban Islam.[7]

Kajian-kajian kebahasaan Arab sesungguhnya sangat terkait dengan Alquran, kitab suci umat muslim. Alquran boleh diibaratkan sebagai poros yang dikelilingi oleh banyak kajian, baik yang secara langsung berhubungan dengan penafsiran Alquran, penjelasan maknanya, istinbath hukun syariah darinya, ataupun kajian-kajian yang berujung pada pengkhidmatan terhadap tujuan-tujuan itu, dalam bentuk kajian terhadap dilalah lafaz, derivasi bentuk, struktur kalimat, gaya bahasa, jenis-jenis kalimat, bahkan juga kajian-kajian yang berhubungan dengan astronomi dan matematika. Kajian-kajian ini seluruhnya mempunyai dasar tujuan yang sama, yaitu berkhidmat kepada agama Islam dan memahami Alquran sebagai sumber hukumnya.

Agama Islam, dalam berbagai fase sejarahnya, sangat erat terkait dengan bahasa Arab. Motif awal para linguis mengumpulkan pola-pola kalimat Arab dan kemudian mengkaidahkannya adalah suatu motif yang bersifat keagamaan, yaitu memastikan akurasi nash-nash Alquran dan mengajarkan para siswa bahasa Alquran tersebut. Metode pengajaran yang berlaku sejak awal-awal sejarah Islam adalah menggabungkan antara pengetahuan-pengetahuan keagamaan dengan pengetahuan-pengetahuan kebahasaan, yang berlangsung di maktab, masjid, dan sekolah-sekolah reguler pada era-era belakangan. Dari sinilah kemudian kita dapat memastikan bahwa seorang linguis kebanyakan adalah juga orang yang ahli di bidang agama. Para ahli bahasa zaman klasik Islam, juga adalah seorang mufassir, muhaddis, mutakallim, dan faqih. Hal ini diakui oleh kalangan orientalis. Noeldeke misalnya mengatakan bahwa “bahasa Arab tidak bisa menjadi bahasa dunia kecuali disebabkan oleh peran Alquran dan Islam. Di bawah komando suku Quraisy, orang-orang Badui mampu menundukan penduduk sahara Arabia, dan setengah dari dunia adalah milik mereka, dan milik keimanan Islam. Dengan demikian maka bahasa Arab juga menjadi sebuah bahasa suci”. Para ulama muslim berusaha untuk mengkaji dan meneliti bahasa Arab dengan segala rahasianya untuk mengetahui segi-segi kemukjizatan Alquran.[8]

Seperti kita ketahui, Alquran turun dengan bahasa fusha yang melebihi tingkatan bahasa awam penduduk Arabia. Oleh karena itu pada masa awal Islam, banyak orang bertanya kepada para sahabat mengenai tafsir suatu ayat, dan lafaz-lafaznya yang asing dalam pandangan mereka. Banyak riwayat yang misalnya menceritakan seorang sahabat terkenal bernama Abdullah bin Abbas ditanya[9] tentang makna lafaz-lafaz tertentu dari Alquran. Ibnu Abbas lalu menjelaskannya dengan sebuah penafsiran yang dukungan penjelasannya ia ambil dari bait-bait syair Arab.

Para ulama, sejak masa awal Islam merasa butuh kepada syair Arab untuk membantu memahami makna-makna lafaz yang kurang jelas, dan uslub-uslub asing yang ada dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi. Oleh karena itu merekapun mempelajari syair-syair kuno dan gaya bahasanya, sekaligus mempelajari sejarah bangsa Arab dan peristiwa-peristwa penting yang mereka alami. Sekiranya bukan karena ini tentu tidak sedikitpun syair jahili sampai ke tangan kita. Ibnu Abbas berkata: “Syair itu adalah diwan-nya orang Arab. Jika ada satu kata dalam Alquran yang samar maknanya bagi kita, maka kita kembalikan ke diwan Arab itu, karena Allah menurunkan Alquran dengan bahasa Arab.” Katanya juga: “Jika kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu yang asing dalam Alquran, maka carilah pengertiannya pada syair, karena syair itu adalah diwan-nya orang Arab.”

Dari sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya kajian terhadap Alquran merupakan salah satu sebab adanya perhatian terhadap syair Arab, dan juga terhadap kemunculan mu’jam-mu’jam bahasa Arab. Sedangkan jika kita melihat Nahwu[10] Arab (Gramatika Bahasa Arab), kita akan menemukan bahwa ghirah (semangat) mempelajari Alquran sekaligus menjaganya dari berbagai penyimpangan kebahasaan oleh orang-orang non-Arab, merupakan sebab dibuatnya kaidah-kaidah nahwu. Tidak berbeda halnya dengan kajian uslub atau apa yang dikenal dengan Ilmu Balagah[11] (Bayan, Ma’ani, dan Badi’).

Sementara ilmu rasam-imlai (tulis-dikte) tidak disangsikan telah ada jauh sebelum Alquran turun. Namun perhatian terhadap Alquran dan penjagaan terhadapnya dari lahn (salah baca) itulah yang mendorong para ulama Islam era awal untuk mengkaji cara yang dapat menjaga orang yang membaca Alquran terjatuh pada kesalahan ketika membacanya. Ini disebabkan oleh karena Alquran pada masa itu tidak memiliki simbol-simbol harkat. Riwayat-riwayat Islam menyebutkan bahwa Abu Aswad al-Dualiy adalah orang pertama yang membuat simbol-simbol harkat[12] untuk memudahkan pembacaan terhadap Alquran.

Demikianlah kita dapat melihat bahwa Alquran menjadi poros bagi semua kajian Arab yang pada awalnya dialamatkan untuk berkhidmat kepada Alquran. Di antara kajian-kajian itu adalah kajian kebahasaan. Sekiranya tidak ada Alquran, maka tidak akan ada bahasa Arab fusha. Seandainya tidak ada Alquran maka bahasa Arab hanya akan menjadi seperti bahasa Latin dan bahasa Sansekerta yang pada akhirnya hilang dari peredaran. Oleh sebab itu maka bahasa Arab selain bahasa agama Islam juga menjadi bahasa wajib yang dipelajari oleh setiap umat Islam.

Bahasa Arab adalah bagian dari dienul Islam. Bahasa Arab adalah bahasa Alquran. Demikian juga, hadis-hadis Nabi saw dan kitab-kitab para ulama pun ditulis dalam bahasa Arab. Secara ringkas, dapatlah kita katakan, siapa saja yang hendak mempelajari Islam dari sumber aslinya maka belajar bahasa Arab adalah sebuah keniscayaan.

Bahasa Arab sangat penting bagi umat Islam, mengapa? karena Alquran sebagai kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah berbahasa Arab.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”(QS : Yusuf : 2).

Pentingnya belajar Bahasa Arab ditekankan oleh para sahabat Nabi Saw, sebagaimana perkataan Umar bin Khattab r.a, “Pelajarilah bahasa Arab dan i’rablah Alquran, karena Alquran adalah bahasa Arab”. Karena agama ini di dalamnya (mengandung aspek) perkataan dan perbuatan, maka memahami Bahasa Arab adalah cara untuk memahami perkataan. Sedangkan memahami as-Sunnah adalah cara untuk memahami perbuatan.[13]

Pentingnya belajar Bahasa Arab ini disampaikan secara tegas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya, ketika Allah Swt menurunkan kitab-Nya dengan Bahasa Arab, menjadikan rasul-Nya sebagai penyampai risalah al-Kitab dan al-Hikmah dengan bahasa Arab, dan menjadikan generasi awal dien ini berkomunikasi dengan Bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan Bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan Bahasa Arab memudahkan umat Islam dalam memahami agama Allah dan dalam menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini serta mendekatkan mereka untuk mengambil teladan generasi pertama Islam dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka”.[14]

Dalam ungkapan lain beliau menyatakan, “Bahasa Arab merupakan bahasa umat Islam sekaligus bahasa Alquran. Oleh karena itu, Alquran dan Sunnah tidak akan pernah bisa dipahami dengan benar dan sehat kecuali dengan bahasa Arab”.[15]

Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Cintailah Bahasa Arab karena tiga hal, yaitu karena aku adalah orang Arab, dan Alquran dengan Bahasa Arab, dan bahasa penghuni syurga adalah Bahasa Arab.[16] Maka, dapatlah kita simpulkan bahwa barangsiapa yang ingin mengkaji Alquran dan Assunnah atau kitab-kitab keilmuan Islam yang ditulis para ulama, hendaklah menjadikan belajar bahasa Arab sebagai bagian dari pengkajiannya. Sebab, bahasa Arab adalah bagian dari dienul Islam itu sendiri.

B. Bahasa Arab; Bahasa Internasional

Akhir-akhir ini, bahasa Arab merupakan bahasa yang peminatnya cukup besar di Barat. Di Amerika misalnya, hampir tidak ada satu perguruan tinggi pun yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata kuliah. Termasuk perguruan tinggi Katolik atau Kristen, tentu saja dengan berbagai maksud dan tujuan mereka dalam mempelajarinya.
Sebagai contoh, Harvard University, sebuah universitas swasta  paling terpandang di dunia yang didirikan oleh para petinggi dan pemuka Protestan. Demikian pula Georgetown University, sebuah universitas swasta Katolik, keduanya mempunyai pusat studi Arab yang kurang lebih merupakan Center for Contemporary Arab Studies.[17]

Saat ini bahasa Arab digunakan sebagai bahasa utama di 22 negara, dan paling tidak  lebih dari 250 juta orang menggunakan bahasa ini. Bahasa ini juga merupakan bahasa kedua pada negara-negara Islam karena dianggap sebagai bahasa spiritual Islam, dan juga merupakan satu di antara bahasa tetap yang dipakai oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).[18]

Bahasa Arab sebagai bahasa asing, bahasa Internasional[19] yang diakui PBB adalah salah satu dari sekian banyak bahasa yang ada di dunia “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.(QS. Ar Rum: 22). Bahwa terciptanya keragaman bahasa adalah merupakan tanda kesempurnaan daya cipta Allah yang mana pemahaman ini hanya dimiliki oleh ’aalimin yakni orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, pemahaman dan kesadaran mata hati[20]. Hal ini berarti keberadaan bahasa Arab tidak saja dilihat sebagai sebuah fenomena belaka, akan tetapi bagaimana keberadaannya akan mendatangkan kemanfaat, kemaslahatan bagi bukan saja pemilik bahasa Arab dan peminatnya saja, akan tetapi bagi seluruh umat semuanya perlu dipikirkan. Bagaimana pendidikan bahasa Arab bisa menawarkan sesuatu yang baru agar bisa menjadi rahmat di muka bumi ini? Dari sinilah sebenarnya ide pengembangan kurikulum bahasa Arab berawal. Karena keberadaan Alquran melalui risalah Nabi Muhammad SAW yang ajarannya universal adalah untuk menjadi rahmatan li al ’alamin (QS. Al Anbiya’: 107). Sehingga tatkala bahasa Arab belum memberi rahmat, mendatangkan nilai positif, kemanfaatan, keselamatan, kemaslahatan, karena orang-orang yang mempelajari, memahami dan mencintainya belum mengupayakan terwujudnya fungsi rahmat tersebut, bisa-bisa ke-’alim- annya masih dipertanyakan.[21]

Bahasa Arab sebagai salahsatu bahasa Internasional (sejak tahun 1972)[22] di PBB, karena bahasa ini dipergunakan sebagai bahasa resmi oleh lebih dari 20 negara[23], untuk di Indonesia lebih banyak menunjukkan pada fungsinya sebagai bahasa agama. Pembelajaran bahasa Arab baik di tingkat dasar sampai perguruan tinggi bertujuan untuk memberikan sarana dalam memahami literatur agama (Alquran, Hadis dan ilmu-ilmu agama lainnya). Sehingga profesi yang ditawarkan adalah menjadi pengajar bahasa Arab itu sendiri.

Sekarang ini bahasa Arab masih dianggap sebagai bagian dari “Pendidikan Agama”. Perekrutan para pengajarnya pun sering tumpang tindih. Seorang lulusan Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam, tidak sedikit yang diberi tugas untuk mengajar bahasa Arab. Sebaliknya, seorang lulusan Fakultas Adab Jurusan Sastera Arab juga tidak sedikit yang diberi tugas untuk mengajar pengetahuan agama Islam. Itulah sebabnya dalam beberapa raport kita dapatkan bahasa Arab diletakkan satu kelompok dengan mata-mata pelajaran di bawah bagian “Pendidikan Agama”. Dengan adanya persepsi seperti ini, yaitu anggapan bahwa bahasa Arab merupakan bagian dari pendidikan agama, di samping latar belakang pengajarnya yang berbeda-beda, tak diherankan jika hasil pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih jauh dari apa yang diharapkan.

Dengan demikian, mengingat Indonesia mayoritas muslim, sudah selayaknya muslim Indonesia menjadi penyebar bahasa agama (baca: Arab) ini menjadi bahasa internasional. Bagaimana bahasa Arab menjadi bahasa yang dapat bersaing dengan bahasa internasional lainnya?. Program pendidikan macam apa yang akan dapat mencapai tujuan ini? Pertanyaan ini bisa terjawab melalui pemahaman tentang apa yang terjadi saat ini dan apa yang terjadi di masa depan.

John Naisbit (1982)[24] mengatakan “sekarang, kita telah memasuki gelombang ketiga yakni masa industri informasi”, karena itu menurut Philip Schlechty (1990) institusi pendidikan harus mampu menjadikan mahasiswa mampu bersaing di komunitas dunia yang berbasis informasi, yang bercirikan bahwa orang bekerja dengan mengandalkan pengetahuan bukan lagi sekedar fisik saja. [25]

Dengan berdasar pada alasan mengapa kurikulum harus berkembang dan melihat kondisi pendidikan Indonesia di atas, maka kiranya perlu dipikirkan alternatif-alternatif sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan diantaranya dengan menggali kemungkinan-kemungkinan program baru yang dapat dimanfaatkan di pasar, termasuk di dalamnya pembelajaran bahasa Arab. Kalau selama ini pasar bahasa Arab adalah pembelajaran, maka tidak menutup kemungkinan adanya program-program lain yang menjanjikan karena memang pasar membutuhkannya. Melalui metode kajian pustaka (library research) yakni dengan cara mengumpulkan sumber-sumber tertulis, baik cetak maupun elektronik. Juga melalui penelitian lapangan (field research) yang sudah dilakukan oleh penulis beberapa bulan pada tahun 2005, penulis berusaha menawarkan alternatif program selain untuk profesi pengajar (guru/dosen).

Dalam konteks ke-Indonesiaan, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing tertua yang dikenal Bangsa Indonesia sejak masuknya Islam ke nusantara. Menurut Machacin[26] bahwa “Bahasa Arab dikenal dan dipelajari oleh bangsa Indonesia karena terkait dengan fungsi bahasa Arab yang salah satunya memiliki fungsi sebagai bahasa agama”. Sebagai bahasa agama, Machasin mengatakan, bahwa bahasa Arab telah lama memainkan peranan penting dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia yang religius.

Menurut Machasin, berdasarkan realita tersebut, maka peranan bahasa Arab dalam proses pengembangan sikap religius warga bangsa pada umumnya dan peserta didik di lingkungan satuan pendidikan sangat besar. Di sisi lain, lanjutnya era globalisasi yang menjadikan dunia sebagai desa kecil, mau tidak mau memaksa warga dunia untuk melakukan interaksi sosial dan budaya secara intensif antar negara. Atas dasar itu, perkembangan sosial budaya disuatu bangsa akan mudah diakses bahkan mempengaruhi warga dunia lainnya.

Dalam Kurikulum 2004 dan 2006 disebutkan bahwa salah satu karakteristik mata pelajaran bahasa Arab adalah bahwa bahasa Arab mempunyai dua fungsi, yakni sebagai alat komunikasi antara manusia dan sebagai bahasa agama Islam. Tetapi kenyataan di sekolah-sekolah atau di madrasah-madrasah pada umumnya lebih menitik beratkan pada fungsi kedua, yaitu sebagai bahasa agama Islam.[27]

Pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing keberhasilannya tidak sekadar bertumpu pada kurikulum, tetapi juga kepada model dan metode pembelajarannya, selain faktor yang terpenting adalah pengajarnya itu sendiri.

S. Karim. A. Karhami[28] menghimbau para guru bahwa, dalam era yang penuh dengan perubahan ini hendaknya mereka menyikapi era ini dengan perubahan pula, yaitu dengan meninggalkan pola fikir dan pola tindak lama yang sudah lazim dilakukan. Menurut pandangan lama, guru diilustrasikan sebagai seorang yang maha tahu, maha terampil, sementara siswa sebagai orang yang maha tidak tahu, belajar identik dengan mencatat dan mendengarkan ceramah guru, dan mengajar harus berperilaku seperti tukang jual obat yang mampu berkata-kata kesana kemari. Menurut pandangan baru, guru berperan sebagai “tukang penggagas dan pencipta proses belajar”. Guru berperan sebagai fasilitator.

 

C. Gerakan Illeterasi (gerakan pemberantasan buta huruf latin)

Pemberantasan buta huruf  (literacy) berjalan seiringan dengan gerakan kemerdekaan. Ketika nasionalisme berada pada titik didihnya yang tertinggi, buta huruf adalah aib. Dibuatkan beragam sanksi bagi yang tak turut serta semarakkan program melek baca tulis ini. Pengalaman dari beberapa negara bisa memperkaya khasanah pengetahuan bagaimana pemberantasan buta huruf berjalan berisisian dengan nasionalisme.

Dalam kamus nasionalisme negara yang baru saja merdeka, buta huruf adalah aib. Surjadi dalam buku Tantangan Desa (1969) membuat pola pemberantasan buta huruf dari beberapa negara yang baru saja umumkan maklumat kemerdekaan. Simaklah kaum Komunis di Rusia sewaktu menumbangkan rezim Tsar pada 1917. Dalam dua tahun Lenin membuat perintah untuk menghilangkan kebuta hurufan.[29]

Turki memulai kampanye pemberantasan buta huruf segera setelah Kemal Attaturk menjadi presiden. Perkembangan yang cepat dalam kerja pemberantasan buta huruf di India merupakan akibat langsung daripada pembentukan kekuasaan Kongres. Di Indonesia dan Ghana demikian juga. Pemberantasan buta huruf dilakukan setelah kemerdekaan nasional dimaklumatkan.

Pada masa pemerintahan Sukarno yang masih labil, penanggulangan tunapendidikan waktu itu dikenal dengan pemberantasan buta huruf (PBH) atau kursus ABC. Bagian yang menangani buta huruf adalah Bagian Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK).

Pada 1951, misal, disusun program Sepuluh Tahun Pemberantasan Buta Huruf dengan harapan semua penduduk Indonesia akan melek huruf dalam jangka waktu sepuluh tahun berikutnya. Namun, pada 1960, masih terdapat sekitar 40% orang dewasa yang buta huruf. Tahun 1960 dikeluarkan Komando Presiden Sukarno untuk tuntaskan buta huruf sampai tahun 1964. Hasilnya, 31 Desember 1964 penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas buta huruf.[30]

Berkaitan dengan hal di atas, illetarsi diartikan sebagai orang yang buta huruf (literacy), khususnya huruf latin. Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat penting dalam ajaran Islam. Seorang muslim yang ingin membaca Alquran harus dapat membaca huruf-huruf Arab, karena Alquran diturunkan dengan bahasa Arab dan bahasa Arab adalah alat untuk memahami ilmu Islam.Seseorang yang menguasai Bahasa Arab dengan sendirinya dapat membaca Alquran dengan fasih dan lancar. Sebaliknya, orang yang fasih membaca Alquran belum tentu menguasai bahasa Arab, sehingga cukup kesulitan memahami isi kandungan kitab suci umat Islam. Oleh sebab itu, perlu ditekankan wajibnya belajar bahasa Arab selain sebagai memahami bahasa agama, juga sebagai salah satu bahasa internasional.

Pemberantasan buta huruf aksara Arab sesuai dengan Instruksi Presiden  Nomor 5 Tahun 2006 tentang percepatan pemberantasan buta aksara Menurut penulis dapat dilakukan melalui; Pertama, melaui Kurikulum sekolah. Sedikit sekali sekolah di Indonesia yang memasukkan bahasa Arab sebagai pelajaran wajib. Biasanya, sekolah yang memasukkan bahasa Arab sebagai salah satu pelajaran wajib hanyalah pesantren atau sekolah Islam lainnya, sementara sekolah yang berbasis Islam lebih sedikit jumlahnya, padahal mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim. Oleh sebab itu, maka perlu adanya perlakuan khusus agar bahasa Arab masuk ke dalam mata pelajaran di sekolah umum. Seperti yang dilakukan oleh Wali Kota Gorontalo[31]. Pelajaran bahasa Arab akan dimasukan dalam kurikulum pendidikan sekolah-sekolah di Kota Gorontalo pada tahun 2012. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dhambea mengatakan, pelajaran Bahasa Arab akan menjadi pelajaran wajib bagi pelajar beragama Islam, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas. “Kurikulum ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Gorontalo untuk memberantas buta huruf hijaiyah atau aksara Arab agar semua pelajar beragama Islam dapat baca-tulis aksara Alquran,” katanya.

Kedua, Melalui Mahasiswa. KKN/KKL (kuliah kerja lapangan) yang diadakan oleh perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi Islam, diharapkan mampu memperluas penyelenggaraan program PBA dan memberikan layanan pendidikan keaksaraan Arab bagi warga masyarakat yang buta aksara. Di samping itu, peserta KKL juga diharapkan dapat memfasilitasi penyelenggaraan dan pelaksanaan program PBA sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat.

Ketiga, Melalui Media. Media harus lebih berperan dalam menampilkan tayangan-tayangan timur tengah yang berbahasa Arab, yang diselingi dengan terjemahan Indonesia. Sehingga seluruh warga Indonesia dapat mengenal dan memahami bahasa Arab. Program TV di Indonesia telah mewujudkan hal ini, salah satunya adalah TV One yang menayangkan program-program khusus Timur Tengah.

Keempat, Melalui pariwisata. Saat ini Indonesia telah membuka pintu bagi wisatawan dari Timur Tengah. Pemerintah bahkan sudah berpromosi ke Timur Tengah, dan karena itu tentu akan ada banyak turis dari Timur Tengah yang akan datang ke Indonesia. Oleh sebab itu, maka daerah-daerah yang memiliki pariwisata harus bersiap membuka kursus-kursus pemandu wisata khususnya Timur Tengah. Dengan demikian, dengan dibukanya kursus-kursus bahasa Timur Tengah, maka semangat untuk mepelajari bahasa Arab juga akan semakin meningkat.

Kelima, Melalui KBIH. Di Indonesia KBIH-KBIH tumbuh subur bak jamur di pagi hari. Terlepas dari kepentingan bisnis, masing-masing menawarkan program-program demi peningkatan keselamatan dan kesejahteraan dan kesempurnaan ibadah haji para hujjaj. Diantaranya dengan menambah materi ”percakapan bahasa Arab” bagi calon jemaah haji (CJH)[32].

D. Transliterasi / Penterjemahan

Kekuasaan Dinasti Abbasiyah merupakan masa gemilang kemajuan dunia Islam dalam aspek perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan andil dari pengaruh peradaban Yunani yang sempat masuk ke dunia Islam. Sehingga selanjutnya, beberapa tokoh dalam literatur sejarah menghiasai perkembangan pemikiran hingga di era modern. Bahka, pada masa kejayaan tersebut orang-orang Barat menjadikan wilayah timur sebagai pusat perabadan untuk menggali ilmu pengetahuan

Pada saat berjayanya peradaban Islam semangat pencarian ilmu sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Semangat pencarian ilmu yang berkembang menjadi tradisi intelektual secara historis dimulai dari pemahaman terhadap Alquran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para Sahabat, Tabiin, Tabi’ tabiin dan para Ulama yang datang kemudian dengan merujuk pada Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Di masa-masa ini, kebanyakan umat Islam menggeluti ilmu pengetahuan yang bersumber dari berbagai arah dan bahasa dan mereka terjemahkan ke dalam bahasa arab dan menjadikan karya mereka ini sebagai rujukan utama para ilmuan itu dan masi eksis sampai sekarang.

Hal ini yang menyebabkan bahasa arab menjadi bahasa yang sangat popular di kalangan ilmuan dan para peneliti sejarah. Dengan bahasa arab tersebarlah ilmu pengetahuan dengan cepat keseluruh pelosok dunia Islam.

Namun, dilain pihak umat Islam juga banyak mendapatkan bahan (ilmu) dari peninggalan para ilmuan Yunani. Dan itulah yang menjadikan mereka terinspirasi untuk menggali berbagai ilmu pengetahuan di dalam Alquran serta mendatangkan banyak ilmu-ilmu baru yang menyangkut kemaslahatan umat manusia.

Pada masa ini, Gerakan terjemahan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam transmisi pengetahuan. Itu adalah gerakan yang memperkaya bahasa Arab dengan memaksa secara filologi untuk membuat istilah-istilah teknis yang baru; memaksa pikira-pikiran cerdas untuk mencari cara dalam mengakomodir, membuang, atau mengubah teori dan ide yang bertentangan dengan keyakinan  agama; membawa data ilmiah dan filosofis yang sangat besar ke dalam peradaban Islam; menghasilkan ketegangan dan konflik dalam tradisi intelektual Islam – yang dalam analisis akhir sangat bermanfaat bagi pengembangan tradisi ilmiah Islam.

Meskipun kegiatan penerjemahan sudah dimulai sebelum masa Abbasiyah, tetapi Abbasiyah yang memberikan sumber daya berkelanjutan terhadap sistematika proses terjemahan teks-teks ilmiah ke dalam bahasa Arab. Gerakan terjemahan menjadi lebih terorganisir, diperkuat secara finansial, dan mendapatdorongan secara administrative oleh pendiri Baghdad, yaitu Al-Mansur (754-775). Tiga tahap[33] yang berbeda dapat diidentifikasi dalam gerakan ini. Tahap pertama, dimulai sebelum pertengahan abad kedua Islam selama pemerintahan Al-Mansur.

Tahap kedua gerakan terjemahan yang dipimpin Hunain bin Ishaq. Para penerjemah ini memperbaiki terjemahan dari fase pertama dan memperpanjang rentang bahan yang diterjemahkan.

Selama tahap ketiga gerakan terjemahan, perbaikan terjemahan terus berlanjut dan komentar-komentar mulai muncul. Tahap ini dimulai pada awal abad kesepuluh dan berakhir sekitar tahun 1020 yang menghasilkan kritik tekstual terhadap bahan yang diterjemahkan dari sudut pandang ilmiahdanfilosofis.

Pada pertengahan abad kesebelas, gerakan terjemahan yang berlangsung selama tiga ratus tahun telah mencapai akhir. Selama itu terjadi ketegangan antara keyakinan Islam dan ide-ide, konsep, teori, dan data yang terdapat dalam teks-teks; namun gerakan terjemahan itu sendiri merupakan kekuatan utama untuk memulai suatu proses alokasi dan transformasi dari materi yang diterima. Proses ini berlangsung lambat, karena selama proses penerjemahan karya-karya tersebut diperiksa, diklasifikasikan, dan dibagi dalam beberapa kategori. Tidak ada pengawasan resmi dari kantor Negara atau otoritas keagamaan tertentu, tetapi merupakan proses organic terhadap ide-ide dalam bimbingan wahyu yang dilakukan oleh intelektual Muslim. Mereka berdebat, adakalanya tidak setuju, satu sama lain saling memberikan penilaian, bertempur atas ide-ide, dan saling mendukung. Terjadi perjuangan batin dalam pembuatan suatu tradisi melawan arus asing yang masuk dengan melibatkan berbagai filsuf dan ilmuwan. Beberapa dari mereka tetap memegang tradisi filsafat Yunani, sementara yang lain menulis untuk menentangnya. Mereka yang berada di antara dua ekstrem tersebut berusaha untuk menyelaraskan ide-ide baru dengan pandangan dunia Islam berdasarkan wahyu. Hasil akhir dari proses yang panjang ini adalah munculnya tradisi pembelajaran yang memeriksa, mengeksplorasi, dan mensintesis dalam perspektif sendiri yang unik mengenai alam dan kondisi manusia—dalam perspektif Islam, meskipun tentu saja tidak monolitik.

E. Bahasa Melayu sebagai Bahasa Lingua Franca (bahasa perantaraan)

Indonesia adalah salah satu negara kepulauan terbesar yang ada di dunia, wilayahnya terbentang dari Sabang sampai ke Merauke. Namun, ketika sebelum merdeka, Indonesia bukanlah seperti yang saat ini kita lihat. Bertahun-tahun bahkan berabad-abad Indonesia selalu dikuasai oleh penjajah. Hal itu menyebabkan setiap suku bangsa yang ada di negeri kita terpecah belah dan berdiri sendiri dengan bahasa daerahnya masing-masing. Kekuatan melawan penjajah ketika itu semakin sulit diwujudkan karena komunikasi antar suku belum dapat diciptakan. Ditambah lagi, bahasa Belanda lambat laun mulai diberlakukan sebagai bahasa pedoman oleh ahli-ahli pendidikan Belanda yang salah satu tujuannya adalah untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Barulah pada tahun 1908 kaum intelektual Indonesia dengan segala cara dan upaya berusaha mendirikan organisasi-organisasi untuk mempengaruhi rakyat agar mereka bangkit dan maju serta sadar bahwa dengan mereka menggunakan bahasa Belanda, persatuan dan cita-cita bangsa tidak akan pernah dicapai. Karena dengan mereka menggunakan bahasa Belanda, mereka tidak akan pernah dapat berhubungan dengan seluruh rakyat di berbagai pelosok sebab bahasa Belanda hanya digunakan oleh sebagian kecil rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan suatu tenaga yang besar dalam menentang kekuasaan penjajah maka dengan sendirinya mereka mencari suatu bahasa yang dapat dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia. Hal itulah yang menjadi sebab mengapa para pelopor kemerdekaan kita sepakat untuk memiliki satu bahasa persatuan.

Namun, bahasa apakah yang dipilih menjadi bahasa persatuan tersebut dan apa sebabnya? Bahasa yang kemudian dijadikan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau. Hal ini tentulah didasarkan oleh beberapa faktor dan alasan tertentu. Bahasa Melayu sejak zaman dahulu telah menjadi lingua franca(bahasa perantaraan/penghubung) di seluruh kepulauan Indonesia. Partai-partai rakyat terbesar, seperti Sarikat Islam, sudah sejak semula memakai bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda. Demikian juga surat kabar dan majalah Indonesia telah memakai bahasa Melayu sejak dari mulai lahirnya pada abad ke-19. Bahasa Melayu pun dipakai oleh sekalian orang yang masuk golongan bermacam-macam bangsa dalam pergaulannya bersama; orang Melayu dengan orang Jawa, orang Arab dengan orang Tionghoa, orang Bugis dengan orang Makasar, orang Bali dengan orang Dayak.[34] Bahasa Melayu juga tidak hanya harum namanya, tetapi juga dianggap sebagai bahasa yang paling dihormati di antara bahasa-bahasa negeri timur karena pada abad ke-16 bahasa Melayu dipakai oleh raja-raja di daerah Maluku, khususnya ketika mereka mengirim surat kepada raja Portugis. Di zaman Sriwijaya dan zaman kebesaran kota Malaka pun, ketika daerah tersebut menjadi daerah tujuan transit bangsa-bangsa lain, bahasa Melayu ikut mengalami perluasan penyebaran karena dianggap sebagai bahasa perhubungan. Bahasa Melayu sejak saat itu sudah banyak diketahui orang.

Selain itu, bahasa Melayu juga memiliki struktur yang sangat mudah dipahami—baik dari segi fonetis, morfologis, maupun leksikal—jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Jawa. Dalam bahasa Melayu tidak terdapat tingkatan-tingkatan seperti pada bahasa Jawa, yang kata-katanya sering berbeda-beda bergantung pada usia, pangkat, dan kedudukan dalam masyarakat dari orang yang dihadapi, sehingga apabila orang asing hendak mempelajari bahasa itu, ia mau tidak mau harus mempelajari lebih dari satu bahasa. Hal itu jugalah yang menunjukkan bahwa pada bahasa Jawa tersebut terdapat unsur kefeodalan dalam masyarakat yang tentunya sangat bertentangan dengan ciri persamaan derajat di dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Oleh sebab itu, yang kini menjadi bahasa persatuan Indonesia bukanlah bahasa Jawa, yang memiliki jumlah penduduk sekitar tiga puluh juta saat itu, melainkan bahasa Melayu Riau yang sekiranya hanya dipakai oleh penduduk Kepulauan Riau-Lingga dan penduduk pantai-pantai di seberang Sumatera. Namun, justru atas dasar pertimbangan itulah jika dipilih bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan maka akan dirasakan sebagai pengistimewaan yang berlebihan atau sebagai upaya pengambilalihan yang malah akan memicu terjadinya gerakan separatisme di negari ini.[35]

Demikianlah beberapa faktor yang menjadi dasar pertimbangan mengapa bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa persatuan di Indonesia.

Lain dari pada itu, datangnya semangat baru bagi penduduk Nusantara yang berabad-abad terpecah belah dan tercerai-berai ini mendapat sebuah nama untuk melukiskan perasaan persatuan yang berkobar dalam kalbunya. Akibatnya, pada tanggal 28 Oktober 1928 dicetuskanlah Kongres Pemuda di Jakarta sebagai wujud dari rasa kebangsaan dan nasionalisme tanah air. Bahasa Melayu yang ditetapkan sebagai bahasa persatuan kemudian diubah namanya menjadi bahasa Indonesia oleh M. Tabrani sebagai simbol perasaan persatuan dari keinginan bersatu tersebut. Oleh karena itu, sampai saat ini bangsa Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi, penyebaran ilmu pengetahuan, dan alat pengidentifikasian diri.

Tapi, Penulisng, di usia satu abad lebih bahasa Indonesia seperti tidak mendapat apresiasi sepenting anggapan para pendahulu bangsa. Masih banyak kenyataan ragam praktik berbahasa (lisan maupun tulis) Indonesia yang tidak mengindahkan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), terutama di ranah formal. Para profesional, misalnya, sering menunjukkan kebanggaan mereka dalam menggunakan istilah asing, padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Yang lebih menyedihkan, praktik semacam itu juga dilakukan lembaga-lembaga pemerintah. Misalnya, penggunaan istilah aanwijzing (Belanda) pada dokumen tender. Lantaran istilah ini saja, jutaan orang di negeri ini “dipaksa” untuk menggunakan istilah yang bisa jadi tidak mereka ketahui makna dan asal-usulnya itu. Tidakkah lebih mengesankan bila aanwijzing diganti dengan kata “penjelasan”?[36]

“Fenomena aanwijzing” hanyalah satu contoh dari dinamika pengembangan bahasa Indonesia yang selalu kedodoran dalam menghadapi akselerasi perubahan di berbagai bidang beserta konsekuensi-konsekuensi linguistiknya. Keterbatasan penguasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan aparatur pemerintah bisa jadi merupakan salah satu pemicu tindak kekerasan, seperti sering dilakukan petugas Satuan Polisi Pamong Praja, atau militer di masa lalu. Bila mereka berkapasitas berbahasa Indonesia yang benar, niscaya mampu berkomunikasi secara baik pada saat bernegosiasi.

Momentum Kebangkitan Indonesia di awal abad ke-20 telah memberikan pelajaran penting tentang etos berbahasa lingua franca yang mampu melahirkan semangat keindonesiaan. Organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan yang tumbuh pada masa sesudah Budi Utomo, seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah, atau Nahdlatul Ulama, untuk sekadar menyebut beberapa, memiliki semangat kebangsaan yang pekat. Muhammadiyah, misalnya, memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia (Melayu) melalui sekolah-sekolah modern sejak 1918.

Kebangkitan Indonesia yang sudah berusia lebih dari satu abad ini bisa kita simpulkan sebagai sebuah penyegaran pemahaman bahasa persatuan Indonesia. Meminjam filsuf Jerman, Gadamer (1900-2002), pemahaman adalah kejadian yang bersifat linguistik, dialektikal, dan historis. [37]

F. Tulisan Arab Melayu

Arab Melayu adalah aksara utama dalam penyebaran bahasa Melayu ke seluruh wilayah nusantara; yang penggunaannya dimulai seiring dengan kedatangan agama Islam ke kepulauan Melayu ini.

Kira-kira sampai dengan tahun 1500 sastra Melayu masa lampau disebarluaskan secara lisan, sebab masyarakatnya sebagian besar belum mengenal tulisan. Setelah huruf Arab dikenal oleh masyarakat Melayu, mulailah diadakan penulisan sastra Melayu dengan huruf Arab. Hasil-hasil kesusasteraan Melayu masa lampau dapat dikelompokkan ke dalam sastra lisan dan tulisan, yang keduanya tercipta dalam bentuk prosa dan puisi. Sastra lisan mempunyai ciri-ciri tersendiri, baik dari segi bentuk, perkembangan, dan penyebarannya, sebaliknya sastra tulisan berkembang dengan menggunakan tulisan, yang pada awalnya huruf Jawi (Arab-Melayu) dan kemudian dengan tulisan Rumi. Sebelum mengenal tulisan Jawi, orang Melayu telah memanfaatkan tulisan yang berasal dari tulisan dari kawasan mereka, misalnya tulisan Rencong, Palava dan Kavya. Tulisan-tulisan ini tidak berkembang karena ada kendala terutama dalam penerapan dan penyebarannya. Ada beberapa Genre sastra Melayu, di antaranya: genre sastra undang-undang, sastra sejarah, sastra epik, sastra keagamaan, sastra rakyat. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat masa kini masih perlu meneladani nilai-nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Hasil karya sastra masa lampau perlu dipahami terlebih dahulu dari segi konteks zaman kelahirannya, masyarakat yang melahirkannya serta nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya. Setelah memahami hal-hal yang dasar tentang sastra dan zamannya, dapatlah kita meluaskan hasil pengkajian dengan menggunakan pendekatan yang modern kepada masyarakat masa kini.[38]

Dalam tulisan ini yang hendak dibicarakan ialah sastra Melayu masa lampau yang tertulis. Adapun yang dimaksud dengan teks Melayu masa lampau yang tertulis, dibatasi pada korpus karya sastra yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu atau Jawi yang dihasilkan pada abad ke-16 sampai abad ke-19 Masehi. Dengan huruf Arab-Melayu dimaksudkan huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu. Oleh karena sistem fonologi bahasa Melayu tidak sama dengan sistem fonologi bahasa Arab, digunakan bantuan titik diakritik untuk menyatakan bunyi bahasa yang tidak ada di dalam bahasa Arab, yaitu:

چ untuk bunyi ‘c‘
ڠ untuk bunyi ‘ng‘
ڨ untuk bunyi ‘p‘
ک untuk bunyi ‘g‘
ٽ untuk bunyi ‘ny

Adapun kata ‘jawi‘ adalah bentuk genetif (Arab) kata ‘Jawa‘ yang secara pars pro toto digunakan untuk mengacu ke Indonesia atau Nusantara. Tulisan Arab-Melayu atau Jawi yang digunakan mengisyaratkan bahwa karya-karya tersebut dituliskan setelah agama Islam masuk ke kawasan Nusantara. [39]

Manuskrip (naskah) Melayu yang ada di seluruh dunia kebanyakan merupakan hasil kebudayaan Islam, yang ditulis dengan huruf Jawi. Teknik penulisan dengan dua halaman berhadapan, gaya Islam, ada kolofon yang biasanya berbentuk segi tiga dengan hiasan. Naskah Melayu biasanya ada iluminasi yang coraknya dengan corak bunga, daun. Seni kaligrafi atau dikenal juga dengan seni khat adalah fenomena seni rupa yang indah, menarik, dan tersusun. Seni kaligrafi ini termasuk seni Islam yang tinggi, karena sifatnya sebagai bahan bukti pada penuturan bahasa Alquran. Seni kaligrafi yang wujud dalam naskah Melayu yang biasa ditemui adalah khat riq‘ah dan khat thuluth.[40]

Walaupun telah diberi batasan karya sastra tertulis, bila perlu dan relevan, pembicaraan dapat juga memanfaatkan keberadaan sastra lisan. Hal ini mengingat kebanyakan karya tertulis merupakan rekaman dari karya lisan.

Di dalam karya sastra Melayu masa lampau tercermin pengalaman hidup dan keadaan masyarakat pendukungnya sepanjang masa, di dalamnya tergambar keadaan geografisnya, manusia dan pemukimannya serta kesibukan sehari-harinya, perjalanan sejarah kaum dan bangsanya, pengalaman emosional yang dilaluinya, serta pemikiran dan falsafah hidupnya. Karya sastra itu membukakan dunia orang Melayu kepada kita gambaran alam pikiran, adat-istiadat, kepercayaan, keadaan sosial masyarakat, kepribadian individu, hubungan antarindividu serta hubungan di antara individu dan masyarakat, dan sistem nilai yang berlaku di dalam masyarakat.[41]

Perkembangan tulisan Arab Melayu selanjutnya tidak terlepas dari perkembangan bahasa Melayu itu sendiri. Jika dahulu Ulama-Ulama Islam di nusantara, banyak yang telah menerjemahkan berbagai kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu, Sastrawan dan pujangga Melayu juga turut serta membubuhkan karyanya dengan Arab Melayu hingga menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara yang puncak kejayaannya adalah dengan ditulisnya Kamus Arab – Melayu oleh Syekh Muhammad Idris al-Marbawi; (Kamus al-Marbawi), kemudian diikuti oleh penulisan kitab yang menetapkan kaidah[42] tulis-baca Jawi (Arab Melayu) oleh Zainal Abidin bin Ahmad (Pandita Melayu), kini tradisi tersebut telah hilang seiring waktu, Mata Pelajaran Muatan Lokal Arab Melayu di hanya bertahan sebentar, generasi saat ini di di  Nusantara tidak akan mengenal dan mengerti dengan huruf Arab melayu, yang merupakan bahasa nenek moyang bangsa ini.

G. Kitab Kuning dan Industri Perbukuan Dunia Islam

Sejauh bukti-bukti historis yang tersedia, sangatlah mungkin untuk mengatakan bahwa Kitab Kuning menjadi text books, references, dan kurikulum dalam sistem pendidikan pesantren, seperti yang kita kenal sekarang, baru dimulai pada abad ke-18 M: Bahkan, cukup realistik juga memperkirakan bahwa pengajaran Kitab Kuning secara massal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-l9 M ketika sejumlah ulama Nusantara, khususnya Jawa, kembali dari program belajarnya di Makkah.[43]

Perkiraan di atas tidak berarti bahwa Kitab Kuning, sebagai produk intelektual, belum ada dalam masa-masa awal perkembangan keilmuan di Nusantara. Sejarah mencatat bahwa, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16 M, sejumlah Kitab Kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab” bahasa Melayu, maupun bahasa Jawi, sudah beredar dan menjadi bahan informasi dan kajian mengenai Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa karakter dan corak keilmuan yang dicerminkan Kitab Kuning, betapapun juga, tidak bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang, kira-kira sejak lima abad sebelum pembakuan Kitab Kuning di pesantren-pesantren.

Pesantren mempunyai kurikulum yang unik dan menarik untuk kita perbincangkan di sini dikarenakan berkaitan dengan kitab kuning. Mungkin garis genologi kurikulum pesantren selam ini mengadopsi dari apa yang telah dirumuskan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Itmamu Diroyahnya, Ia membagi subjek kajian kitab kuning menjadi empat belas cabang keilmuan namun mungkin dikarenakan suatu alasan yang mungkin tidak bisa dihindari maka keempat belas kajian cabang keilmuan itupun di”bonsai” menjadi: fiqh (jurisprudence), aqidah (teology), al-Qawaid al-Arabiyyah –yang meliputi nahwu , sharf dan balaghah—hadits, taswwuf, shirah nabawiyyah, tafsir al-qur’an, ushul fiqh dan juga manthiq (logika). Pembonsaian tersebut diringkas lagi secara garis besar menjadi trio kajian keilmuan yaitu fiqh, teologi dan kaidah bahasa arab.

Sementra itu, di hadapan perubahan-perubahan sosial yang semakin marak dewasa ini, pesantren yang menjadikan kitab kuning sebagi ”buku wajib” terlanjur memandang literatur tersebut sebagai khazanah intelektual yang paling absah dan sakral. Oleh karena itu tak pelak “gugatan-gugatan” atas khazanah tersebut baik secara subtansial ataupun metodologis, cenderung dianggap amoral. Akan tetapi di lain pihak gempuran-gempuran modernisme secara tidak langsung sesungguhnya mengubah cara pandang masyarakat untuk terus bergerak menuju profanisasi.

Maka, ketika kitab kuning diyakini sebagai otoritas sumber yang paling absah misalnya, ia harus siap ditantang oleh arus perubahan sosial baru yang berwatak pluralistik dan selalu berubah. Trend baru ini secara sporadis juga bisa disimpulakan merupakan anti kemapanan, rasional dan ulititarian. Maka tidaklah mengherankan jika ada pemikiran-pemikiran yang lebih “in” menjawab tantangan zaman maka kitab kuning “seakan-akan” kehilangan substansi ruhaniahnya dan pada gilirannya nanti tak mustahil jika banyak “pemeluk” kitab kuning akan mendebet saldo kepercayaan mereka . Selain itu adalah sikap yang sangat apologia mengangap bahwa semua persoalan sudah termaktub jawabannya dalam kitab kuning. Sebab realitas kepercayaan dan keyakinan tersebut harus berhadapan langsung dengan sejumlah persoalan yang ternyata sampai sekarang belum ditemukan jawabannya. Mauquf bahasa pesantrennya. Hal itu sangat dimungkinkan akibat dari pemisahan teks dengan konteks yang memang sering terjadi selama ini. Anggapan bahwa teks adalah suatu yang mandiri, entitas yang terrsediri memang sudah menjamur, lebih ekstrim bisa dikatakan teks adalah tanpa disadari menurut asumsi kita selama ini ia lahir dari ruang kosong yang tersendiri dan lepas dari konteks sosialnya. selama ini kita kita kurang memperhatikan bahwasannya teks pada hakikatnya sarat deengan muatan-muatan spasial-temporal.[44]

Selanjutnya menurut Fariez, kesenjangan-kesenjangan interpretatif antara teks dengan konteks tersebut pada saatnya nanti akan tak jarang akan mengundang pemahaman serta penafsiran keagamaan yang bersifat rigid. Penganan atas masalah baru biasanya dilakukan dengan penyelasaian “formalistik” tanpa meninjau lebih dalam akar-akar kontekstual masalah tersebut. Maka tak jarang kadang juga dalam menjawab sebuah masalah muncul penafsiran-penafsiran yang bercorak arifisial, contoh kecil misalnya tentang konsep fi shulbil aqdi dalam kontrak riba.

Selain itu menarik untuk dicermati bahwa tradisi pengajaran kitab kuning selama ini cenderung berputar dan berulang. Hal itu mungkin bisa ditelisik dari lamanya kurun waktu pengajaran, dalam proses tersebut mungkin pesantren sudah menjadi bagian yang sangat intim dengan pemikiran dan laku para santri. Sehingga sikap-sikap afektif secara tidak langsung terbangun dengan sendirinya, ambil contoh tak dapat dipungkiri bahwa angggapan orang pesantren kitab kuning adalah formulasi final dari ajaran al-Qur’an dan Hadist, ia di tulis oleh ulama’ dengan double degree (kulifikasi ganda) yakni keilmuan tinggi dan moralitas yang par-excellent. bahkan ada anggapan bahwa ia ditulis dengan jari-jari yang bercahaya hampir tidak mempunyai cacat dan tiada celah kritikan baginya.

Tradisi perputaran dan pengulangan pengajaran kitab kuning mungkin dapat digambambarkan dengan misalnya melalui disiplin ilmu fiqh, dalam fiqh ternyata kitab yang diajarkan adalah berasal dari satu “gen” yang selain itu juga bersiklus mengembang, menyempit, berputar dan berulang, di sini maka bisa dikatakan bahwa sebuah cabang keilmuan dikupas dan dikaji serta diringkas dalam berpuluh-puluh kitab kuning. Dan semuanya diajarkan berulang-ulang dan bertahun-tahun selam menempuh pendidkan di pesantren.

Selain itu mungkin yang perlu diperhatikan adalah tradisi pengajaran di pesantren lebih menitik beratkan pada aspek pendalaman materi, dan sangat sedikit sekali yang diarahkan pada pengembangan teori, metodologi dan wawasan. Padahal jika kita cermati unsur-unsur keilmuan akan kokoh jika dibangun dan ditopang oleh ketiga unsur terakhir tersebut. Sampai di Sini mungkin kita bisa mengatakan bahwasannya pesantren memang kaya dan melimpah ruah akan materi akan tetapi ia miskin akan teori terlebih metodologi.

Catatan lain yang harus kita renungkan adalah bahwa tradisi epistemologi-keilmuan kitab kuning yang dimiliki oleh pesantren selama ini adalah berpusat pada pola pemikiran ahlul hadist, bukan pola ahlul ra’yu. Tradisi pemikiran pertama adalah tradisi pemikiran yang menjadikan aspek lahiriah dan transmisi (riwayat) sebagi kecenderungan dalam mengkaji dan memecahkan (solving) suatu masalah. Sementara itu aspek rasionalitas kurang mempunyai bergaining position di sini. Oleh karena itu mungkin kritik atas teks sangat berpeluang untuk ditabukan di sini.

Lebih dari itu pertimbangan-pertimbangan lain yang bersifat “what arround the teks” seperti kondisi sosio-kultur ketika suatu teks itu tercipta hampir sulit ditemukan dalam pola pikir yang menganut ahlul hadist. Padahal pertimbangan-pertimbangan yang bersifat “arround” atau bahkan “beyond the teks” tersebut menemui signifikansinya ketika kita bermaksud untuk mengembangkan atau minimal membandingkan (compare) pemikiran suatu teks untuk konteks yang berbeda.

Sebagai ilustrasi adalah bahwasannya dalam disiplin ilmu fiqh sebagi master mindnya pesantren misalnya sumber utamanya adalah madzhab syafi’i. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam bingkai madzhab Imam Syafi’i terdapat dua kubu yang bisa dikatakan bersifat paradoksal. Yang pertama adalah aliran Iraq (iraqiyyun) dan yang kedua adalah aliran Khurosan (khurosaniyyun) pada aliran pertama kecenderungan memegangi prinsip ahlul hadist cenderung lebih kuat dari pada aspek rasionalitas, tidak demikian halnya aliran kedua yang yang corak pemikirannya lebih didominasi aspek rasionalitas. Ahlul hadist dimotori oleh Abu Hamid al-Ishfirany (406 H) dan front man dari ahlu ra’yi adalah al-Qaffal al-Marwazi (417 H).

Bila kita melihat keberadaan kitab kuning di pesantren selama ini pemikiran dan genealoginya lebih menjurus pada Imam Nawawi dari pada Imam Rafi’i, muncul sebuah pertanyaan kenapa perbandingannya harus kedua imam tersebut? Karena sebagimana kita ketahuhui bahwa dua sarjana muslim itulah yang “punya rekomendasi” dari para sarjana muslim mutakkhirin sebagi orang-orang yang memiliki otoritas dalam menyeleksi pemikiran Imam Syafi’i. Dan hal itu sudah dirumuskan oleh Zaynuddin al-Malyabary dalam Fathul Muin-nya bahwasannya pendapat yang bisa dipedomani (mu’tamad) adalah pendapat yang disepakati oleh Imam Nawawi dan Imam Rafi’i, dan jika kedua sarjana tersebut berseberangan jalan maka yang didahulukan adalah Imam Nawawi kemudian Imam Rafi’i, Jumhur Ulama’, pendapat paling pandai dan akhirnya yang paling wara’. Pertanyaan filosofisnya mengapa Imam Nawawi lebih diunggulkan dari Imam Rafi’i? Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin bisa diperoleh dari pendekatan studi identitas, maksud Penulis adalah jawaban atas pertanyaan di atas dapat terlacak dengan mengkaji kehidupan masing-masing sarjana tersebut dengan menitik beratkan pada pendekatan geo-sosio-kultur masing-msing. Imam Nawawi sebagaimana kita ketahui lahir di Nawa sebuah desa kecil di wilayah Hauran dan pad usia 19 tahun ia pindah ke Damaskus, sementra itu imam rafi’i lahir dan dibesarkan di Qazwayn sebuah kota di wilayah utara iran. Ada asumsi kuat bahwasannya dinamika corak pemikiran Iran lebih rasional dibandingkan dengan yang berekembang di Damaskus. Sedangkan di Damaskus sendiri yang lebih dominan adalah kajian hadisnya.

Tak pelak, imbas dari pola pemikiran di atas maka secara tidak langsung membangun sistem keilmuan yang bersifat “hadist oriented” yakni corak pemikiran yang bersifat penukilan atau transmisi sebagaiman Penulis sebutkan di atas. Bagi penganut sistem ini, keilmuan hanya dapat dipandang sah dan kukuh jika diberlakukan secara transmitif. Hal itu juga mungkin bisa deperkokoh lagi dengan metode hafalan yang selama ini tak pernah absen barang sejenak dari pesantren manapun. Karena sebagimana dikatakan Burhanul Islam Al-Zarnuji bahwa ilmu adalah sesuatu yang diperoleh dari mulut seorang guru, karena mereka menghafal apa yang terbaik dari yag mereka dengar dan peroleh serta menyapaikan yang terbaik dari yang mereka hafal.

Di sini dapat diakui bahwa secara normatif mendidik dengan cara seperti itu sangat baik sebagai pijakan dan basis dalam rangka penguasaan materi secara akurat nan otentik. Tapi pada tataran praksisinya sangat diPenulisngkan bahwa praktik hafalan tersebut hampir menafikan aspek-aspek pemahaman kognitif. Oleh kerena itu, di sini jelas diperlukannya balancing antara aspek afektif yang berupa hafalan dan kognitif yang berarti peemahaman rasional dalam pembelajarn kitab kuning juga terlebih lagi jika hal itu mampu dikembangan menuju aspek psikomotorik santri.

Hal itulah yang menjadi catatan-catatan kegelisahan intelektual selama ini, dan hal itu tidak lebih hanya merupakan bagian wajar dan terkecil dari kegelisahan akademik yang selalu menimpa perjalanan intelektual-keilmuan seseorang.

Dalam menjawab masalah di atas, penulis ingin menawarkan metode baru dalam memahami kitab kuning, seperti berikut ini.

  1. Pengkaji kitab kuning tidak hanya berhenti pemahaman hukum-hukum hasil karya ulama terdahulu, tetapi melacak metodologi penggalian hukumnya. Hal ini sebagaimana tawaran al-Ghazali bahwa ilmu yang paling baik adalah penggabungan antara aqli dan naqli, antara menerima hasil pemikiran ulama’ salaf sekaligus mengetahui dalil dan penalarannya.
  2. Membiasakan untuk bersikap kritis dan teliti terhadap objek kajian. Karena pada dasarnya budaya kritis adalah hal yang lumrah dalam dunia intelektual. Sebagaimana telah kita saksikan potret kehidupan ulama’ salaf yang sarat dengan nuansa konflik dan polemik. Hal itu terjadi, tak lain hanyalah karena ketelitian, kejelian dan kritisisme yang dimiliki oleh para pendahulu kita yang kesemuanya patut untuk kita teladani.
  3. Melakukan analisa yang mendalam, apakah pendapat ulama itu benar-benar murni refleksi atas teks (nash) atau ada faktor lain yang mempengaruhi. Sekedar contoh, kenapa sampai ada qoul qodim dan qoul jadid, kenapa Imam Nawawi berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i dalam transaksi jual beli tanpa sighat (bai’al mu’athoh), kenapa Imam Qoffal berani berbeda pendapat dalam memahami sabilillah yang berarti setiap jalan kebaikan (sabil al khair) dapat menerima zakat sedangkan mayoritas ulama tidak memperbolehkan.
  4. Menelusuri sebab terjadinya perbedaan pendapat, sejarah kodifikasi kitab kuning, latar belakang pendidikan pengarang, keadaan sosial dan budaya yang mempengaruhinya. Memahami faktor dan tujuan pengarang mengemukakan pendapatnya.
  5. Pengkaji harus menjaga jarak antara dirinya (selaku subyek) dan materi kajian (selaku obyek). Dengan prinsip ini, peneliti tidak boleh membuat penilaian apapun terhadap materi dan melepaskan dari fanatisme yang berlebihan. Dalam tahap ini peneliti harus berusaha ”menelanjangi” aspek kultural, sosial dan historis dimana suatu hukum dicetuskan. Benar-benar memahami latar belakang suatu hukum yang telah dirumuskan ulama’ salaf. Hal ini dimaksudkan agar terjadi penilaian dan pemahaman yang obyektif.
  6. Langkah terakhir adalah pengkaji menghubungkan antara dirinya dengan obyek kajian. Langkah ini diperlukan untuk mereaktualisasi dan mengukur relevansi kitab kuning dengan konteks kekinian. Pengkaji dalam hal ini dituntut untuk menjadikan kitab kuning sebagai sesuatu yang cocok untuk diterapkan, sesuai dengan kondisi saat ini dan bersifat ke-Indonesiaan. Senantiasa berpegang pada prinsip bahwa syariat Islam diciptakan demi tegaknya kemaslahatan sosial pada masa kini dan masa depan.[45]

Industri Perbukuan Dunia Islam

Buku Sejak peradaban Islam menguasai teknologi pembuatan kertas dan teknologi pembuatan tinta, aktivitas penulisan buku di akhir abad ke-8 M[46] kian menggeliat.[47] Hal itu terbukti dengan banyaknya jumlah buku yang terbit di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Pada era itu, minat baca manusianya pun tinggi sehingga setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul, Distorted Imagination, menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapain peradaban Barat[48] saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hampir 1.000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam, paparnya.[49]

Lebih lanjut, di dalam buku Sardar – Menjangkau Informasi – dikenal sebuah “mesin foto kopi” zaman dulu yang bernama warraq. Tentu ini bukan mesin, tapi sebuah lembaga yang terdiri atas manusia-manusia yang cinta buku. Tugas warraq adalah menyalin manuskrip-manuskrip dan mempersiapkannya bagi masyarakat ilmiah, sebuah fungsi yang pada masa sekarang secara kolektif dilaksanakan oleh percetakan, penerbit, dan penjual buku. Warraq bertugas menyalin manuskrip untuk digandakan. Cara bekerja warraq yang pantas diacungi jempol adalah terkait dengan ketelitian dan kecermatannya. Penyalinan harus diupayakan tanpa kesalahan: mendekati sempurna, termasuk titik dan komanya.[50]

Warraqin (agen penjual kertas) juga selain bekerja sebagai penulis dan menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya, mereka juga menjual buku dan membuka toko buku. Menurut Sardar, sebagai agen, warraqin juga sering membuat sendiri kertas untuk mencetak buku. Sebagai penjual buku, warraqin mengatur segalanya, mulai dari mendirikan kios di pinggir jalan hingga toko-toko besar yang nyaman jauh dari debu-debu pasar. Kios-kios buku itu umumnya berdiri di jantung kota-kota besar, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Granada, dan Fez. Seorang sarjana muslim al-Ya’qubi dalam catatannya mengungkapkan pada Abad ke-9, di pinggir kota Baghdad terdapat tak kurang dari 100 kios buku. Di toko-toko buku besar, kerap berlangsung diskusi informal bedah buku. Acara itu dihadiri para penulis dan pemikir terkemuka.

Sardar menuturkan, salah satu toko buku terkemuka dalam sejarah Islam adalah milik an-Nadim (w. 990 M) di Baghdad. Toko buku milik ilmuan penganut Syiah itu dipenuhi manuskrip dan dikenal sebagai tempat pertemuan para pemikir, penyair terkemuka pada masanya. Katalog buku-buku yang ada di tokonya, al-Fihrisat dilengkapi dengan catatan kritis. Katalog itu dikenal sebagai ensiklopedia kebudayaan Islam abad pertengahan.

Lebih lanjut, Sardar mengungkapkan bahwa industri buku pun berkembang semakin pesat, membuka jalan untuk pembangunan perpustakaan-perpustakaan besar yang kelak akan dikenang sebagai gerbang kemajuan.

Bahkan ada kegiatan penyalinan yang luar biasa yang dikisahkan oleh Syed Naquib Al-Attas. Menurut Naquib, apabila di sebuah halaman manuskrip yang disalin itu terdapat noda berupa nyamuk atau serangga lain, maka noda atau tanda itu harus juga dipindahkan kemanuskrip yang baru. Pemindahan itu menunjukkan bahwa kegiatan menyalin manuskrip harus persis dengan aslinya. Sekali lagi, ketelitian, kecermatan, dan juga sikap-sikap mulia lain yang mungkin saat ini disebut sebagai sikap ilmiah benar-benar sudah diterapkan.[51]

Bagaimana proses penulisan buku pada zaman sekarang? Penulis belum tahu banyak. Ketika kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan industri buku di zaman sekarang dengan di Timur Tengah zaman dahulu, misalnya, Penulis menemukan keadaan yang tidaksebanding atau berat sebelah.

Penerbit-penerbit raksasa dari Amerika Serikat menempati area yang sangat besar yang luasnya bagaikan seluas hangar pesawat, sementara penerbit-penerbit di Timur Tengah menempati area yang sangat kecil dan kalau area itu disusun akan berbentuk kotak-kotak kecil di sebuah apartemen.

Sekarang sudah 2012 dan teknologi informasi dan komunikasi tengah merajalela. Buku tak hanya dicetak di medium kertas tetapi juga di medium digital. Bagaimana perkembangan industry buku di negara-negara Asia dan Timur Tengah?Apakah semakin maju dan berkembang atau malah semakin terpuruk?

Penutup

Kebijakan untuk mengembangkan pendidikan bahasa Arab di lembaga pendidikan gama Islam merupakan sebuah langkah kongkrit dalam mengembangkan dan meningkatkan pendidika bahasa Arab.

Kebijakan-kebijakan tersebut tentunya berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan bahasa Arab, agar bahasa Arab menjadi mata pelajaran proritas yang harus wajib dipelajari oleh setiap pelajar, sebgai contoh membudayakan komunikasi bahasa Arab di kalangan sekolah baik antar pelajar dengan pelajar, pelajar dengan pengajar. Dalam proses belajar-mengajar bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa pengantarnya, hal ini dilakukan agar para pelajar akan terbiasa dan sedikit demi sedikit tertarik dengan bahasa Arab. Secara otomatis, ketika bahasa Arab dijadikan bahasa komunikasi yang wajib dijalankan di lembaga pendidikan formal, mau tidak mau pelajar harus bisa dan menguasi bahasa Arab. Di samping itu juga, bahasa Arab juga harus dijadikan sebagai mata pelajaran yang di evaluasi sebagai syarat kelulusan.

Kebijakan ini tentunya harus dibarengi dengan peningkatan sarana dan prasarana dalam proses belajara mengajar bahasa Arab, baik methode dan media pengajarannya, hal ini dilakukan agar pelajar lebih tertarik dan tidak merasa bosan untuk belajar bahasa Arab.

Dan yang dilakukan selama ini lembaga pendidikan agama Islam belum memprioritaskan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang harus dikuasi oleh pelajar, dan mayoritas masih memperitaskan bahasa asing lainnya. Jalur ini akan lebih bisa dilakukan dibandingkan dengan jalur di luar lembaga pendidikan non formal.

Untuk merubah kebiasaan atau budaya masyarakat kita sangatlah sulit, karena dominasi budaya barat sudah merajalela dan menguasai pola pikir masyarakat. Perang budaya inilah yang menjadi tanggungjawab kita selaku ummat Islam untuk lebih memperkenalkan dan memperluas budaya Arab di kalangan masyarakat.

Hal lain yang sering kita tidak sadar bahwa sebagaian ummat Islam (dalam hal ini kaum awam) terkadang tidak mau menghayati dan tidak mau tahu mengenai bahasa Arab. Sebagai contoh, masih banyak ummat Islam yang tidak mau tahu isi al-Qur’an, padahal sering kali membacanya, dan tidak hanya itu saja terkadang kita bershalawat, dan tidak tahu apa rati kandungannya, yang tertanam dalam pikirannya adalah yang penting membaca, dan membaca sudah merupakan ibadah, padahal kalu kita menguasai dan mengerti isi kandungan al-qur’an dan mengerti isi kandungan nyanyian yang berbahasa Arab, pahalanya lebih dari sekedar cuma membaca. Ini lah yang sering kita jumpai dan bahkan pada diri kita seperti itu. Faktor doktrin dalam hal ini sangat mempengaruhi sekali, yang mana doktrin menghafal lebih dominant dari pada menghayati dan merenungkan isi kandungannya, budaya para guru/ustadz yang terkadang tidak memberikan penjelasan dan pendidikan dari segi bahasanya atau dengan kata lain kurang komprehensif dalam memberikan pelajaran kepada ummatnya.

 

DAFTAR PUSTAKA


[1] Masuk dalam rumpun bahasa semit diantaranya: Bahasa Hebrew (Yahudi), Amrahic (Ethiopia), Akkadian (Assyria dan Babilonia), Aramiki (Arab masa Nabi Isa as dan sebagian Syiria).

[3] Bahasa Arab dibagi menjadi dua bagian. Pertama,  bahasa Arab yang sudah punah (al-‘Arobiyyah Al-Baa’idah) yaitu bahasa yang telah digunakan orang orang Arab yang berada di bagian utara Hedzjaz  dan wilayah berbatasan dengan Armenia dan jauh dari pusat pusat bahasa Arab fusha,  dan kemudian bahasa Armenia sangat mendominasi, sehingga lambat laun bahasa Arab ini musnah sebelum Islam datang,  dan yang tertinggal hanya berupa ukiran ukirannya  saja yang disebut ( Al arobiyyah an-nuqusy). Kedua, Bahasa Arab yang masih hidup (al-‘Arobiyyah al-Baaqiyah) yaitu bahasa yang sampai sekarang masih digunakan  oleh orang-orang Arab  sebagai bahasa  sastra, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa ini tumbuh di Nedzjaz dan Nejd berkembang di seluruh Negara. (http://www.badiklat.kemhan.go.id/index.php/component/content/article/178-berita-opini/499-bahasa-Arab).

[5] Anda tidak akan menemukan satu bahasa pun di dunia ini yang memiliki kosakata sekaya bahasa Arab. Sebagai perbandingan, akar kata dalam bahasa Inggris ada sekitar 20 ribu buah. Tapi dalam bahasa Arab, jumlahnya mencapai sekitar 50 ribu buah. Dalam bahasa Inggris, Anda menemukan bahwa sebuah kata paling banyak bisa melahirkan derivasi (kata turunan) sebanyak 12 kata. Artinya, untuk sebuah kata, ada 12 kata jadian yang memiliki akar makna yang sama. Sedangkan dalam bahasa Arab, sebuah kata secara umum bisa melahirkan antara 40 sampai 45 buah kata turunan. Jadi, jumlah global kosakata dalam bahasa Inggris adalah sekitar: 20.000 x 12 = 240.000 buah kosakata. Sedangkan dalam bahasa Arab, jumlah itu mencapai sekitar: 50.000 x 40 = 2.000.000 buah.

[6] Di dalam semua kamus bahasa Inggris, angka-angka tersebut dinamakan “Arabic Numerals”. Ini membuktikan keinternasionalan bahasa Arab yang tidak dapat disangkal sama sekali. (Alfikrah, No. 17 Tahun XII/23 Jumadal Akhirah 1432 H).

[7] Disarikan dari berbagai Sumber http://upikke.staff.ipb.ac.id/2010/06/12/bahasa-Arab-adalah-bagian-dari-agama/ oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

[9] Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya ini dihimpun dalam sebuah buku berjudul “Sualaat Nafi’ Ibn al-Azraq Ilaa Abdillah ibn Abbas” (Pertanyaan-pertanyaan Nafi bin al-Azraq Kepada Abdullah bin Abbas) yang diterbitkan oleh Dr. Ibrahim al-Samirai di Bagdad tahun 1968. Kitab ini dimulai dengan ungkapan berikut: “Ketika Abdullah bin Abbas sedang duduk-duduk muka Ka’bah, merendamkan kakinya di kolam zam-zam, tiba-tiba banyak orang mendatanginya dan bertanya tentang penafsiran Alquran. Abdullah bin Abbas pun menjawabnya dengan mendasarkan makna tafsirannya pada syair-syair Arab. Penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh Abdullah bin Abbas ini, didengar oleh Nafi’ bin al-Azraq yang lalu berkata kepada Najdah bin ‘Uwaymir: “Mari kita menemui orang yang gegabah dalam menafsirkan Alquran, memberikan fatwa terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya”. Keduanya lalu pergi menemui Ibnu Abas dan berkata: “Kami bermaksud menanyakan kepada engkau tentang beberapa hal yang berkenaan dengan kitabullah lalu engkau menafsirkannya untk kami, sesuai dengan perkataan orang Arab, karena sesungguhnya Allah menurunkan Alquran dalam bahasa Arab yang jelas.” Ibnu Abbas menjawab: “Tanyakanlah kepadaku, insya Allah aku akan bisa menjawabnya”.  Nafi’ : Jelaskan kepada kami firman Allah : ‘An al-yamin wa ‘an al-syimal ‘iziin (QS. al-Ma’arij : 37) . Ibn Abbas : ‘iziin artinya kelompok-kelompok yang membentuk lingkaran. Ini dijelaskan oleh syair ‘Ubayd bin al-Abrash: Fa Jaa’uu yuhra’uun ilayhi hattaa yakuunuu hawla minbarihi ‘iziin (lalu mereka bergegas mendatanginya sehingga di sekeliling mimbarnya mereka berkelompok-kelompok). Nafi’ : Jelaskan tentang firman Allah: wabtaghuu ilayhi al-wasilah (QS. al-Maidah : 35). Ibn Abbas : al-wasiilah artinya hajat / kebutuhan. Hal ini dijelaskan oleh syair ‘Antarah al-’Abbasi: inna al-rijaala lahum ilayki wasiilatun in ya’khuzuuki takahhalii wa takhadhdhabii (sesungguhnya para lelaki itu mempunyai kebutuhan terhadapmu (perempuan) maka jika mereka mengambilmu engkau harus bersolek). Begitulah Nafi’ bertanya dan Abdullah Ibnu Abbas menjawab dengan penafsiran yang didukung dengan syair-syair Arab. Ada sekitar 250 persoalan yang dikemukakan oleh Nafi’.  Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa penafsiran Abdullah bin Abbas terhadap Alquran seperti itu adalah sebagai cikal bakal mu’jam-mu’jam (kamus) Arab. Kajian tentang kamus sendiri, yang merupakan bagian dari bahasa, dimulai dengan kajian terhadap makna-makna asing dalam Alquran. Oleh karena itu kita menemukan karangan-karangan awal tentang mu’jam selalu memakai kata Gharib Alquran. Karya paling awal yang menggunakan kata itu ditulis oleh Abu Sa’id Aban bin Taghlab bin Rabbah al-Balry (w. 141 H).

[10] Bayak riwayat yang menyatakan bahwa Abu Aswad al-Dualiy adalah orang pertama yang menyusun kaidah nahwu. Sebabnya adalah karena ia mendengar seseorang membaca ayat Alquran: Inna Allah bariiun min al-musyrikin wa rasulihi (dengan mengkasrahkan huruf lam yang sesungguhnya harus didhammahkan). Hatinya gelisah dan ia pun mulai menyusun kaidah-kaidah nahwu. http://stain-palu.ac.id/artikel/51-Alquran-sebagai-dasar-eksistensi-bahasa-Arab.html

[11] Beberapa sumber Arab menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menyusun ilmu ini adalah Abu ‘Ubaydah, dengan tujuan menjelaskan uslub-uslub Alquran.

[12] Abu Aswad menggunakan simbol titik untuk harkat. Satu titik di depan huruf untuk dhammah dan dua titik untuk dhammatayn. Satu titik di bawah untuk kasrah dan dua titik untuk kasratayn. Titik-titik yang digunakan sebagai simbol bagi ketiga harkat tersebut dibedakan warnanya dalam penulisan. Hal ini kemudian sangat menyulitkan para penulis Alquran, karena harus menggunakan dua pulpen dan dua warna. Sampai kemudian datanglah Khalil bin Ahmad yang menciptakan simbol baru yang kita kenal sampai saat ini. Namun demikian, para ulama tidak segera (berani) menggunakan inovasi Khlalil ini dalam penulisan Alquran. Mereka awalnya hanya menggunakannya untuk menulis syair. http://stain-palu.ac.id/artikel/51-Alquran-sebagai-dasar-eksistensi-bahasa-Arab.html

[14] Ringkasan buku Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim,Penerjemah: Ahmad Hamdani Ibnu Muslim (Solo: Pustaka Ar-Rayyan), h.350.

[15] Ringkasan buku Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim,Penerjemah: Ahmad Hamdani Ibnu Muslim (Solo: Pustaka Ar-Rayyan), h.67.

[16] HR. Hakim, 16:320/7099.

[17] Alfikrah, No. 17 Tahun XII/23 Jumadal Akhirah 1432 H.

[18] Disarikan dari berbagai Sumber http://upikke.staff.ipb.ac.id/2010/06/12/bahasa-Arab-adalah-bagian-dari-agama/ (Oleh Upik Kesumawati Hadi).

[19] Di masa Daulah Abbasiyyah, yang ketika itu peradaban Islam mulai berkembang, bahasa Arab menjadi bahasa internasional. Bahasa Arab menjadi bahasa peradaban yang ditandai dengan diterjemahkannya berbagai buku dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Dengan bahasa Arab pula, para sarjana Islam menulis berbagai karya dalam bidang kedokteran, teknik, matematika, sains, dan berbagai bidang ilmu yang lain. Bahasa Arab merupakan pengantar ilmu-ilmu tadi ke wilayah Eropa sehingga menjadi pondasi peradaban Eropa modern. Setelah masa keemasan itu berlalu, bangsa Arab mulai mengalami masa kemunduran. Mereka mulai menjauh dari agama mereka, meninggalkan bahasa Arab baku, dan beralih pada berbagai dialek. Kemudian, tibalah masa penjajahan. Di masa ini, penjajah menggerus kebudayaan Islam dan penggunaan tata bahasa Arab baku. Mereka bersungguh-sungguh menanamkan penggunaan beragam dialek sehingga muncullah dialek Mesir, Maghrib(Afrika Utara), dan Suriah. Demikianlah realita yang terjadi. Inilah sebab terpecahnya bangsa Arab serta menjauhnya mereka satu sama lain, yang tampak apabila seorang Arab berkunjung ke wilayah Arab yang lain, dia akan kesulitan berkomunikasi dengan penduduk lokal jika mereka berbicara menggunakan dialeknya. Komunikasi tidak bisa berjalan lancar antara kedua belah pihak, kecuali jika digunakan bahasa Arab baku. Kondisi di masa kini telah berubah. Penggunaan dialek melemah, sedangkan penggunaan bahasa Arab baku mulai menguat. Ini terjadi karena pengaruh pengajaran linguistik dan adanya berbagai sarana komunikasi modern. Akhirnya, bahasa Arab kembali menjadi bahasa internasional untuk kedua kalinya, seperti bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol, dan menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahasa ini juga menjadi bahasa ketujuh di dunia, dengan penutur lebih dari dua ratus juta orang Arab. Dengan bahasa ini pula, lebih dari satu milyar umat Islam menunaikan ibadah. (Diterjemahkan dari artikel yang berjudul, “Al-’Arabiyyah Lughah ‘Alamiyyah” dalam kitab Al-’Arabiyyah bayna Yadayk, jilid ke-II, h.158, dalam situs www.badaronline.com.

[20] Ash Shobuni Ali II, Shofwah At Tafasiir (Makkah Al Mukarromah: Jami’ah Malik Al-‘Aziz, 1988), h.476.

[21] Artikel oleh Umi Machmudah, MA, Kemana Bahasa Arab Kita Bawa Pergi? (Sebuah Upaya Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab) (Penulis adalah Dosen MK Pengembangan Kurukulum Fak Humaniora dan Budaya UIN Malang, sekarang menjadi Ketua Jurusan PBA Fak Humbud).

[22] Dan pada Pada 1973, untuk pertama kalinya bahasa Arab dijadikan dan dikukuhkan sebagai bahasa resmi dilingkungan perserikatan bangsa-bangsa (United Nations, PBB) sehingga pidato-pidato diplomatik, pembicaraan dan perdebatan di forum PBB diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang sejajar dengan bahasa asing lainnya.

[23] Mamduh Nuruddin Muhammad, Al ’Arabiyyah Jisrun Li Al Tsaqofah al Islamiyyah IV (Mamlakah Al ’Arabiyyah Al Sa’udiyyah, Dar Al Andalus Al Khadhra’, 2003), h.151.

[24] Dalam M. Atwi Suparman, Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembanagn Aktivitas Instruksional (Jakarta: Dirjen DIKTI Depdiknas, 2001), h.31.

[25] M. Atwi Suparman, Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembanagn Aktivitas Instruksional (Jakarta: Dirjen DIKTI Depdiknas, 2001), h.31.

[26] Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Departemen Agama RI. Baca pada artikel oleh Reporter Waspada, Wahyu Hidayat, Bahasa Arab Merupakan Bahasa Agama dalam internet http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=58783:bahasa-Arab-merupakan-bahasa-agama&catid=14&Itemid=27.

[27] Oleh Neneng LM, Model Pembelajaran Bahasa Arab yang Terfokus kepada Peserta Didik (Materi Diklat Guru Bahasa Arab MTs) (Penulis adalah widyaiswara madya pada Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan). Lihat dalam internet http://balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=146:model-pembelajaran-bahasa-Arab-yang-terfokus-kepada-peserta-didik&catid=57:jurnal-kediklatan&Itemid=156

[28] Kepala Bidang Bangkur SMU Balitbang Diknas. S. Karim A. Karhami, “Mengubah Wawasan & Peran Guru dalam Era Kesejagatan” dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 035- Maret 2002, dalam situs: http://www.depdiknas.go.id/Jurnal.35/editorial35.htm.

[31] Wawancara dengan Wali Kota Gorontalo yang diadakan leh www.antarnews.com. Diposkan oleh TAS TOMAS MANAGEMENT. Tas Tomas Management adalah sebuah lembaga yang ambil andil mengatasi keterpurukan bangsa dengan program bottom up INDONESIA BERGEMA “Indonesia berhasil degan gerakan membaca Alquran”. http://tastomas.blogspot.com/2011/12/bahasa-arab-akan-masuk-kurikulum.html

[32] Umi Machmudah, Al ’Arabiyyah Li Al Hujjaj wa Al ”Arabiyyah Li al Siyaahah (Program life Skill alternatif di Jurusan bahasa dan sastra Arab Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang) (Depag, UIN Malang, 2005).

[34] Sutan Takdir Alisjahbana, Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (Jakarta: Dian Rakyat, 1988), h.24.

[35] Prentice (1978), h.19, dalam buku Harimurti Kridalaksana, Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai (Yogyakarta: Kanisius, 1991), h.195.

[38] Ini disampaikan dalam seminar internasional Indonesia-Malaysia Update 2008, atas kerjasama antara Universitas Gadjah Mada (UGM) Indonesia dengan Universiti Malaya (UM) Malaysia, yang diselenggarakan pada tanggal 27-29 Mei 2008 di UGM Yogyakarta oleh Dr. Kun Zachrun Istanti, S.U, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indonesia. Sumber : http://melayuonline.com/ind/article/read/711/teks-melayu-warisan-intelek-masa-lampau-indonesia-malaysia

[39] Ini disampaikan dalam seminar internasional Indonesia-Malaysia Update 2008, atas kerjasama antara Universitas Gadjah Mada (UGM) Indonesia dengan Universiti Malaya (UM) Malaysia, yang diselenggarakan pada tanggal 27-29 Mei 2008 di UGM Yogyakarta oleh Dr. Kun Zachrun Istanti, S.U, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indonesia. Sumber : http://melayuonline.com/ind/article/read/711/teks-melayu-warisan-intelek-masa-lampau-indonesia-malaysia

[40] Dato‘ Zawiyah Bte Baba, Katalog Pameran Persuratan Melayu: Warisan Intelek Silam (Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia, 2003), h.29.

[41] Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusasteraan Melayu Klassik (Singapura, 1982).

[42] Kitab kaidah tulis-baca Jawi yang disusun Zainal Abidin bin Ahmad (Za’ba) ini dikenal dengan Kaidah Za’ba.

[43] Latar Belakang Kitab Kuning; Tradisi Intelektual Islam Nusantara (sumber:http://www.nurulhidayah.com/sejarah).

[44] Fariz Alniezar (Alumnus PP. Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang Peneliti di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta), Kitab Kuning: Beberapa Catatan Kegelisahan Intelektual (di kutip dari internet, http://jombang.nu.or.id/kitab-kuning-beberapa-catatan-kegelisahan-intelektual/)

[46] Menurut Ziauddin Sardar, kertas kali pertama dikenal di dunia Islam pada Abd ke-8 M. di Samarkand, Irak. Teknologi industri kertas mulai berkembang di dunia Islam setelah Pertemuan Talas pada 751 M., sebuah pertemuan yang menjadi awal mula dominasi Islam di wilayah Asia Tengah. Pasca perang antara Dinasti Abbasiyah vs Dinasti Tang tersebut, kaum Muslimin menawan orang Cina yang memiliki keterampilan membuat kertas. Mereka diberi fasilitas untuk mengembangkan keterampilan mereka. Penulisngya, proses pembuatan kertas yang diperkenalkan orang-orang Cina itu tak bisa dilanjutkan, lantaran tak ada kulit pohon murbei di negeri-negeri Islam. Para ilmuan Muslim pun memutar otak. Akhirnya terciptalah sebuah ide brilian. Mereka memperkenalkan penemuan baru dan inovasi yang mengubah keterampalian membuat kertas menjadi sebuah industri. Kulit pohon murbei diganti dengan pohon linen, kapas, dan serat. Selain itu, para ilmuan Muslim juga memperkenalkan bambu yang digunakan untuk mengeringkan lembaran kertas ketika masih lembab. Inovasi lainnya, proses permentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat dengan menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya. Proses pembuatan kertas juga menggunakan palu penempa besar untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Awalnya, proses ini melibatkan para pekerja ahli. Namun, seiring ditemukannya kincir air di Jativa, Spanyol pada 1151 M., palu penempa tak lagi digerakkan tenaga manusia. Sejak itu penggilingan bahan-bahan menggunakan tenaga air. Tak lama kemudian, orang-orang Muslim memperkenalkan proses pemotongan kertas dengan kanji gandum. Proses ini mampu menghasilkan permukaan kertas yang cocok untuk ditulis dengan tinta. Sejak itu, industri kertas menyebar dengan cepat ke negeri-negeri Muslim.

[47] Ziauddin Sardar, Kembali Ke Masa Depan, terj. (Jakarta: Serambi, 2005).

[48] Orang Barat baru mengenal kertas beberapa ratus tahun setelah orang Muslim menggunakannya. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun pada 1276 M di Fabrino, Italia. Seabad kemudian, berdiri pabrik kertas di Nuremberg Jerman. Barat mempelajari tata cara membuat kertas, setelah Kristen menginvasi Spanyol Islam. Setelah kejayaan Islam redup, Barat akhirnya mendominasi industri kertas.

[50] Ziauddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, h.210. Yang aslinya berjudul Information and the Muslim World: A Strategy for the Twenty-first Century (1988).

[51] Oleh hernowo, IndustriBuku di Dunia Islam http://groups.yahoo.com/group/ikatanguruindonesia/message/36746

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s