Gila vs Gila

Oleh: Muhammad Maula
Nurudin Alhaq Penulis Buku ‘Jadi Ikhwan
Jangan Cengeng’, Community
Manager @Depok Creative, CEO
bitBOEKOE Publishing Kita semua sebenarnya adalah
orang gila di zaman ini.
Bagaimana tidak, kadang
pengemis yang membutuhkan
uang untuk makan sering kita
fitnah bahwa itu hanya tipuan, hanya sebuah kemalasan. Pikir
kita, “Masih kuat kok malah
ngemis!?”. Tak jauh dari
pengemis itu, kita malah
menukarkan selembar seribuan
untuk cemilan makanan yang sebenarnya sama sekali tidak
kita butuhkan. Seribu, yang
sama dengan penyambung nyawa
bagi pengemis itu, malah kita
makan. Kita memakan sebuah
nyawa, tambah lagi satu korban pembunuhan, bukan karena
peluru atau celurit, tapi karena
ketidakpekaan. Tapi banyak pengemis juga yang
gila. Mengapa setiap hari mereka
meminta uang padahal manusia
semakin lama akan semakin
apatis. Semakin lama akan
semakin sedikit yang mempunyai rasa kasihan, apa para pengemis
itu tidak tahu hal seperti itu?
apalagi makin banyak pengemis
di negeri ini, artinya: makin
banyak saingan, berefek makin
sedikit pemasukan. Salah pengemis juga, mengapa mereka
harus selalu meminta uang,
mengapa tidak meminta ilmu
untuk mencari uang saja? “Pak..
bagi ilmu pak.. bagi ilmu pak..
sudah tiga hari tidak dapat ilmu pak..”, kan banyak juga pebisnis
baik hati yang berada di dekat
mereka, saya yakin kok pebisnis
baik itu rela mengajari, inilah
realita yang namanya: kelaparan
dalam lumbung padi. Kekesalan kepada pengemis juga
tidak seratus persen salah,
banyak juga pengemis bohongan,
males-malesan, yang sebenarnya
masih sangat mampu untuk
bekerja, masih sehat wal afiat, bahkan ada yang pura-pura
sakit. Mereka ini sudah mati
mata hatinya, sudah tidak
mendengarkan teriakan
potensinya, malas sekali, walau
hanya untuk bekerja menyumbang suara falsnya alias
ngamen. Lebih baik memelas
muka setiap hari, tidak cape,
pikir mereka. Memang gila.
Gila, apa benar kita sudah gila?
Zaman ini mungkin orang gila itu lebih waras daripada kita,
mungkin merekalah (orang gila–
red.) yang bisa disebut normal,
bisa jadi mereka gila karena
tahu manusia sekarang sudah
melampaui kata gila, akhirnya mereka memilih untuk kembali
menjadi waras atau normal yang
dengan kacamata di zaman
serba materialistis dan
individualistis ini disebut “Gila
beneran..”. Lalu, kalau kita sudah sepakat
kita semua sebenarnya gila,
kenapa ketakutan dengan
merasa gila sendiri? Hei.. buka
mata, semua manusia sekarang
sudah gila, hanya zaman ini kegilaan itu disebut normal. Apa
tidak gila, di depan cafe yang
begitu banyak orang
mengeluarkan lembaran ratusan
ribu hanya untuk sekedar makan
enak, sedang terbaring lemah seorang anak kecil yang
menahan perut sangat laparnya. Apa tidak gila, masjid yang
setiap hari memberi ceramah-
ceramah tentang amar ma’ruf
nahi munkar, namun beberapa
ratus meter dari situ masih ada
yang suka memukuli anak dan istrinya, apa fungsi masjid?
Apakah untuk menambahi
keimanan orang-orang yang
sudah beriman? Lalu mereka
yang masih memukul, membunuh,
mencuri.. Kenapa tidak tersampaikan? Apakah hidayah
itu seperti keajaiban tanpa
perantara? Pantas banyak yang
bilang, “Lebih baik saya tidak
beriman, daripada beriman
namun tidak mempunyai hati”. Terjadilah miss-communication,
hakikat keimanan pun buyar
saat masuk tataran realita,
sedih sekali, miss-
communication yang seharusnya
tidak terjadi. Kita tertawa melihat orang gila,
ia menari-nari, terkadang
telanjang tanpa malu.. Namun,
apa kita tidak mentertawakan
diri kita? Orang-orang yang kita
anggap gila itu mungkin sudah menjadi orang-orang yang
dipastikan masuk surga, bahkan
sudah kita lihat dengan nyata
bahwa dia sedang di surga, dia
dengan mudahnya tertawa-tawa
lepas tanpa beban di negeri yang krisis dan banyak masalah
ini, bukankah itu surga? Lalu
kita menertawai mereka yang
sudah dijamin surga? Padahal
tertawa kita, geleng-geleng
kepala kita, merasa normalnya kita tidak dilandasi jaminan
bahwa kita akan berkumpul
bersama Nabi-nabi dan orang
sholeh lainnya di akhirat kelak.
Masihkah kita tertawa? Jika kita sudah tahu bahwa kita
semua gila, untuk apa kita
berkunjung ke psikiater? Padahal
mereka juga orang gila, banyak
masalah, kehebatan mereka
hanya tahu bagaimana menenangkan kegilaan. Jika
psikiater itu ‘mati’ hatinya
pasti ia akan menjadikan
profesinya menjadi bisnis, sedikit
konsultasi namun banyak mencari
keuntungan dengan menjual obat-obat anti-depresan. Gila..
kejiwaan seseorang pun
diperjualbelikan. Kemanakah jiwa-
jiwa yang tenang akan hadir jika
masalah jiwa saja
diperjualbelikan, menjadi sebuah komoditi bisnis, jual-beli obat
penenang. Rumah sakit jiwa, katanya
tempat kumpulan orang gila.. Ya
di sana banyak orang berteriak-
teriak, senyum-senyum sendiri,
menangis, tertawa keras bahkan
ada yang mengaku dirinya Tuhan! “Aku Tuhan.. akulah
Tuhan! HAHAHA!”, heboh sekali
suasana RSJ itu. Namun apa kita
tidak melihat sebuah RUmah
Sakit Jiwa yang orang-orangnya
tidak sadar dia gila, menuhankan diri sendiri walau
tidak berkoar-koar bahwa
dirinya Tuhan, suka senyum-
senyum sendiri jika ada isu
tentang renovasi Rumah sakit
jiwa mereka atau kenaikan gaji. Mereka lebih gila dari orang gila!
Rumah sakit jiwa yang sering
disebut DPR-MPR, departemen-
departemen, institusi-institusi,
dan lainnya itulah, malas saya
menyebutkannya. Perbedaannya dengan rumah
sakit jiwa yang ada di Grogol
cuma satu, kalau yang di Grogol
gila tapi tidak menyengsarakan
orang lain, namun yang satu ini
menyengsarakan orang lain, bahkan menyengsarakan satu
bangsa, hingga banyak rakyat
yang terbunuh, entah terbunuh
kemiskinan, terbunuh karena
dipukuli warga saat ketahuan
mengambil uang untuk membeli susu bayinya, terbunuh karena
memakan makanan beracun
saking tidak adanya lauk,
terbunuh kehidupannya karena
difitnah mencuri kakao, dan
lainnya. Lalu, kesimpulannya, lebih gila mana? Capek sekali, melihat dimana-
mana orang gila mengatai yang
lain gila, semua merasa dirinya
normal, padahal diri mereka
sendirilah yang gila. Yang
mencoba bertahan dengan kewarasan dan kenormalan saat
ini pasti dibilang orang gila.
Mereka yang benar-benar gila
sampai saat ini tetap tertawa-
tawa juga senyum-senyum
sendiri, pasti mereka mentertawai kegilaan kita semua. Yah.. sudahlah, memang sudah
begitu rumusnya saat ini.. yang
‘normal’ saat ini pasti dibilang
g
ila, yang gila pasti dibilang
normal. Berbahagialah bagi mereka yang gila saat ini, walau
terasing, tetaplah menjadi gila!
namun jangan sampai gila
beneran! Hidup Gila!. “Pada awalnya Islam
itu asing dan Islam
akan kembali asing
sebagaimana pada
awalnya. Sungguh
beruntunglah orang- orang yang
asing.” (HR Muslim) Rasul: “Kenapa kalian
berkumpul di
sini?” ,Sahabat: “ada
ORANG GILA ya Rasul”.
Beliau bersabda,
“Orang ini bukanlah gila. Ia sedang dapat
musibah. Tahukah
kalian siapa ORANG GILA
sebenarnya?” Beliau
menjelaskan,”ORANG
GILA ialah orang yang berjalan dengan
sombong, yang
memandang orang lain
dengan merendahkan,
yang kejelakannya
membuat orang tidak merasa aman dan
kebaikannya tidak
pernah diharapkan.
Itulah orang gila yg
sebenarnya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s