Studi Hadits (Penulis Ali M Zebua adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Medan, 2011, Perodi MPI)

BAB I
PENDAHULUAN
   
       •          
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al Hujuraat [49]: 6)
Hadits Nabi Saw. diyakini oleh mayoritas umat Islam sebagai bentuk ajaran yang paling nyata dan merupakan realisasi dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Dalam hubungan antara keduanya, hadits berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an. Interpretasi terhadap petunjuk Allah Swt. ini diwujudkan dalam bentuk nyata dalam kehidupan Nabi Saw. Sabda, perilaku, dan sikapnya terhadap segala sesuatu, terkadang menjadi hukum tersendiri yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Oleh karena sedemikian sentralnya keberadaan hadits Nabi Saw. itu, banyak musuh-musuh Islam berupaya meruntuhkan ajaran Islam dengan cara mengkaji dan meneliti hadits dengan satu tujuan, yakni untuk meragukan dasar-dasar validitas hadits sebagai dalil / dasar argumentasi ke-dua umat Islam setelah al-Qur’an.
Dalam memandang fenomena berkembangnya ilmu-ilmu studi hadits dewasa ini, amat menentukan komentar yang akan terbentuk didalam benak kita masing-masing mengenai validitas hadits. Para orientalis dalam campur tangan mereka mengenai studi hadits, sekiranya dapat dipahami seperti pedang bermata dua. Memang ada manfaat yang luas, dengan menawarkan konstruk berfikir yang ilmiah, namun sekali lagi hal ini beresiko mengacak-acak kekokohan fondasi iman pada para pelajar maupun sarjana muslim yang selama ini hanya melanjutkan ilmu kritik hadits warisan ulama terdahulu. Namun apakah umat harus merubah paradigma dalam memahami Ushul al-Hadits? Tentu tidak. Justru hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para ulama peneliti hadits masa kini, untuk menjawab tuduhan-tuduhan para orientalis. Keikhlasan dan kesabaran untuk membela sunnah Rasulullah Saw. adalah sebuah bentuk jihad mulia. Maka untuk memahamkan kita akan kajian hadits, dalam hal ini penulis akan membahas Studi Hadits dengan sub-bab yakni, defenisi kunci-kunci istilah dalam studi hadits, sejarah dan perkembangan awal studi hadits, pendekatan dan metodologi dalam studi hadits, serta disiplin utama/ sub- disiplin dan disiplin suplemen dalam studi hadits.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Kunci- Kunci Istilah dalam Studi Hadits
Penulis membagi defenisi kunci-kunci istilah dalam studi hadits ini dalam dua poin, yakni; defenisi kunci-kunci hadits secara umum dan khusus.
Defenisi Kunci-kunci Hadits Secara Umum
1. Hadits
Kata hadits merupakan isim (kata benda) yang secara bahasa berarti kisah, cerita, pembicaraan, percakapan atau komunikasi baik verbal maupun lewat tulisan. Bentuk jamak dari hadits yang lebih populer di kalangan ulama muhadditsin adalah ahadits, dibandingkan bentuk lainnya yaitu hutsdan atau hitsdan. Masyarakat Arab di zaman Jahiliyyah telah menggunakan kata hadits ini dengan makna “pembicaraan”, hal itu bisa dilihat dari kebiasaan mereka untuk menyatakan “hari-hari mereka yang terkenal” dengan sebutan ahadits.
Kata hadits kadang-kadang diterjemahkan sebagai “ucapan”, tetapi istilah itu bisa menyesatkan. Ucapan Muhammad tidak sperti ucapan seperti Shakespare atau Einstein atau orang-orang pintar biasa lainnya. Kalimat-kalimat itu diangkat bukan karena keindahan frasenya. Tak seorang pun akan repot-repot mencatat perkataan orang bijak lokal, atau bahkan Shakespare, kecuali jika kalimat-kalimat mereka cerdas, bernash, atau mendalam. Tetapi dengan hadits, yang penting adalah fakta bahwa Muhammad benar-benar mengucapkannya.
Dalam membijaki ini, maka penulis mengutip dari Prof.Dr.H. Abuddin Nata, M.A yang menyatakan bahwa, hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Walaupun hanya sekali saja terjadi sepanjang hidupnya dan walaupun diriwayatkan seorang saja.

2. Sunnah
Sunnah menurut bahasa berarti, jalan, metode, arah. Sedangkan secara terminologi, sunnah adalah istilah yang mengacu kepada perbuatan yang mutawatir, yakni cara Rasulullah Saw. melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliah yang mutawatir pula.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Hadits dan sunnah memiliki pengertian yang sama, yaitu sama-sama segala berita yang bersumber dari Nabi Saw. baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir, sifat akhlak dan sifat anggota badan yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Pendapat lain mengatakan bahwa pemakaian kata Hadits berbeda dengan sunnah. Kata Hadis dipakai untuk menunjukkan segala berita dari Nabi secara umum. Sedang kata sunnah dipakai untuk menyatakan berita yang bersumber dari Nabi yang berkenaan dengan hukum syara’.
Sunnah juga adalah hujjah, sebagaimana firman Allah Swt.:
         •   •    
Artinya:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (Qs. Al-Hasyr : 7)

                              
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Qs. An-Nisa : 59)

3. Khabar
Khabar menurut bahasa berarti an-Naba’ (berita). Yaitu segala berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sedangkan menurut terminologi khabar lebih bersifat umum dibanding Hadits, yakni sesuatu yang datang dari Nabi Saw. atau orang selain Nabi. Ulama lain mengatakan bahwa khabar adalah suatu berita yang datang dari selain Nabi, sedangkan Hadits adalah berita yang bersumber dari Nabi.
4. Atsar
Secara pendekatan bahasa, atsar sama artinya denga khabar. Secara istilah Atsar merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in yang terdiri dari perkataan dan perbuatan. Ulama Khurasan berpendapat bahwa atsar dipakai untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu’.
5. Sanad
Sanad menurut bahasa berarti mu’tamad, yaitu tempat bersandar, pegangan, dan pedoman. Dikatakan demikian, karena Hadits itu bersandar kepadanya dan dipegangi atas kebenarannya.
Sedangkan menurut terminologi, sanad adalah jalannya matan, yaitu silsilah para perawi yang meriwayatkan matan dari sumbernya yang pertama (asanid) . Yang dimaksud dengan silsilah adalah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi Hadits tersebut, mulai dari yang pertama sampai kepada Nabi Saw.
6. Matan
Matan menurut bahasa adalah sesuatu yang keras dan tinggi (terangkat) dari bumi. Sedangkan secara terminologi, matan berarti lafaz-lafaz Hadits yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu. Dengan demikian matan adalah lafaz Hadits itu sendiri.
7. Rawi
Rawi adalah orang yang meriwayatkan atau orang yang menyampaikan hadits dilihat dari sudut orang per orang . Defenisi lain mengatakan, bahwa rawi adalah orang yang menerima hadits kemudian menghimpunnya dalam satu kitab tadwin. Seorang rawi dapat juga disebut sebagai mudawwin, yaitu orang yang membukukan Hadits.
Defenisi Kunci-kunci Hadits Secara Khusus
1. Istilah yang Berhubungan dengan Generasi Periwayatan
• Sahabat : Menurut Ibn Hajar, Sahabat adalah setiap orang yang bertemu dengan Nabi Saw., beriman dengan beliau dan mati dalam keadaan Islam.
• Mukhadramun : Menurut Imam Al-Hakim, Mukhadramun adalah orang-orang yang mendapati masa Jahiliah dan tidak sempat bertemu dengan Rasulullah Saw., namun mereka bersahabat dengan para Sahabat Rasulullah Saw.
• Tabi’in : Para Ulama hadits kebanyakan berpendapat tabi’in adalah setiap orang yang bertemu dengan Sahabat, meskipun tidak sampai bergaul dengannya.
• Al-Mutaqaddimun : para Ulama hadits yang hidup pada kedua dan ketiga Hijriah yang telah menghimpun hadits-hadits Rasulullah Saw. dalam kitab mereka.
• Al-Muta’akhirun : Ulama hadits yang hidup pada abad keempat Hijriah.
2. Istilah yang berhubungan dengan kegiatan periwayatan
Al-Muktsirun fi al-Hadits : sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, yang jumlahnya lebih dari seribu hadits.
3. Istilah yang berhubungan dengan kepakaran dan jumlah hadits yang diriwayatkan.
• Thalib al-Hadits : seseorang yang sedang mencari atau mempelajari hadits.
• Al-Musnid : orang yang meriwayatkan hadits dengan menyebutkan sanad-nya.
• Al-Muhaddits : gelar orang-orang yang telah mahir dalam bidang hadits, riwayah atau dirayah.
• Al-Hafizh : gelar ulama hadits yang kepakarannya berada di atas Al-Muhaddits, dengan menghafal 100.000 hadits lengkap dengan matan dan sanad.
• Al-Hujjah : gelar kepakaran dalam bidang hadits yang lebih tinggi dari Al-Hafizh yang mampu menghafal 300.000 hadits, lengkap dengan matan dan sanad-nya.
• Al-Hakim : gelar kepakaran dalam bidang hadits yang lebih tinggi dari Al- Hujjah yang mampu menghafal lebih dari 300.000 hadits, lengkap dengan matan dan sanad-nya.
• Amir al-Mu’minin fi al-Hadits : gelar tertinggi dalam kepakaran seorang ulama hadits.
4. Istilah yang berhubungan dengan sumber pengutipan
• Akhrajahu al-Sab’ah : Istilah ini umumnya mengiringi matan dari suatu hadits. Diriwayatkan oleh tujuh perawi hadits.
• Akhrajahu al-Sittah : suatu hadits diriwayatkan oleh enam perawi hadits.
• Akhrajahu al-Khamsah : hadits diriwayatkan oleh lima perawi hadits.
• Akhrajahu al-Arba’ah : hadits diriwayatkan oleh empat perawi hadits.
• Akhrajahu al-Tsalasah : hadits diriwayatkan oleh tiga perawi hadits.
• Muttafaq ‘Alaihi: hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sanad terakhirnya yaitu ditingkat sahabat.
• Akhrajahu al-Jama’ah : maksudnya, matan hadits itu diriwayatkan oleh jemaah ahli hadits.

B. Sejarah dan Perkembangan Awal Studi Hadits
Sesuai dengan perkembangan hadits, ilmu hadits selalu mengiringinya sejak masa Rasulullah Saw. sekalipun belum dinyatakan sebagai ilmu secara eksplisit. Pada masa Nabi Saw. masih hidup di tengah-tengah sahabat, hadits tidak ada persoalan karena jika menghadapi suatu masalah atau skeptis dalam suatu masalah mereka langsung bertemu dengan beliau untuk mengecek kebenarannya. Setelah Rasulullah Saw. meninggal, kondisi para sahabat sangat berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Seiring dengan itu, sejarah dan perkembangan awal studi hadits sendiri mulai eksis dan ia telah memunculkan dirinya (studi hadits) setelah Rasulullah Saw. meninggal.
Ketika Rasulullah meninggal, umat Islam pada saat itu harus menjadikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai fokus dan merekam rinci-rincian mengenai hal tersebut secara tertulis untuk mencegah iman mereka dari penyimpangan, divergensi, dan kehendak sesaat orang yang berkuasa. Itu sebabnya dua khalifah pertama mengumpulkan mushaf-mushaf Al-Qur’an di satu tempat dan mengapa khalifah ketiga menciptakan satu edisi yang berwenang.
Tetapi, al-Qur’an tidak eksplisit menjawab banyak pertanyaan yang bermunculan dalam kehidupan nyata. bahkan ketika Al-Qur’an berbicara secara spesifik pun sering terbuka untuk interpretasi. oleh sebab itu, jelas ummat Islam harus tiba pada satu kesepakatan tentang bagian-bagian yang ambigu dan melakukan dengan cepat untuk menghindari itu, sementara semangat yang asli masih membara dalam memori. tidak ada seorang pun pada waktu awal itu yang menawarkan interpretasi pribadi tentang Kebenaran yang hanya akan didukung oleh nalarnya sendiri. Jika nalar saja sudah cukup, wahyu tidak akan pernah diperlukan. Tentu saja, tidak ada seorang pun dari para khalifah awal yang mengklaim otoritas tersebut, mereka orang-orang saleh yang menolak untuk mengutak atik instruksi Allah Swt. tersebut. Kerendahan hati itu justru yang membuat hati mereka hebat. mereka ingin mendapatkan petunjuk yang setepat-tepatnya secara harfiah dan ruhiah – dan yang mereka maksud dengan “tepat” adalah “persis seperti yang Allah Swt. maksudkan”.
Oleh karena itu, sejak awal umat Islam mencoba mengandalkan ingatan mereka tentang Nabi untuk mengisi setiap celah dalam pedoman Al-Qur’an. Umarlah yang membukakan jalan ini . Setiap kali muncul sebuah pertanyaan yang jawaban eksplisitnya tidak bisa ditemukan dalam Al-Qur’an, dia bertanya, “Apakah Muhammad Saw. pernah harus berhadapan dengan situasi ini? Apa yang dia putuskan?”
Pendekatan Umar ini yang membuat orang lain termotivasi untuk mengumpulkan segala yang pernah dikatakan dan dilakukan Muhammad Saw., kutipan dan laporan peristiwa yang disebut umat Islam sebagai hadits. Tapi banyak orang pernah mendengar Muhammad Saw. mengatakan banyak hal. Yang mana dapat dipercaya? Sebagian kutipan bertentangan dengan kutipan lain. sebagian orang mungkin telah mengarang-ngarang saja. Siapa yang tahu? Dan sebagian, ternyata, tidak benar-benar mendengar kutipan itu sendiri, tetapi mendengarnya dari seorang yang dapat dipercaya – atau demikianlah menurut pengakuan mereka, yang tentu saja menimbulkan pertanyaan, siapakah sumber aslinya? Apakah orang itu dapat diandalkan? Bagaimana dengan orang lain yang telah meneruskannya? Apakah mereka semuanya dapat dipercaya? Lalu, akhirnya, apa yang membuat seseorang “dapat dipercaya?” Perkembangan hadits pada masa ini hanya mengandalkan pada ingatan dan hafalan para sahabat, yang mereka juga adalah manusia, maka terjadilah periwayatan secara makna yang mungkin saja pelafalan antar sahabat, yang mendengar hadits yang sama, menjadi berbeda. Jauh kedepan, periwayatan-periwatan yang berbeda lafal ini akan mengundang dan mengandung multi interpretasi tadi.
Maka, mulailah usaha-usaha penyaringan dan pemilihan riwayat dilakukan. Maka terseleksilah hadits yang benar-benar bersumber dari Rasul (hadits Sahih), dari hadits-hadits yang cacat (dha’if) dan dipalsukan orang (mawdhu’). Umar dan Ali misalnya, tidak mau menerima hadits sebelum perawinya disumpah atas kebenaran riwayat yang disampaikannya. Bahkan, mereka terlebih dahulu meminta saksi dari perawi yang menyampaikan hadits kepadanya sebelum hadits itu diterimanya. Sikap tegas dan kehati-hatian yang ketat yang dipraktekkan oleh para sahabat besar dalam penerimaan hadits tersebut menumbuhkan sikap serupa dikalangan sahabat lainnya.
Selain itu, Umar lalu membentuk dewan ulama yang bekerja purna-waktu untuk memeriksa pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan demikian membentuk suatu preseden konsekuensia: sebelum memiliki pasukan tentara professional, Islam memiliki para ulama profesional.
Ketelitian dan sikap hati-hati para Sahabat Nabi Saw. mengenai periwayatan hadits, maka diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka, dan sikap tersebut semakin ditingkatkan terutama setelah munculnya hadits-hadits palsu , yakni sekitar tahun 41 H setelah masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra. Semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadits dengan mempraktikkan ilmu al-jarah wa al-ta’dil, dan sekaligus mulai pulalah ilmu ini tumbuh dan berkembang.
Dan di antara aturan-aturan yang diberlakukan pada masa sahabat adalah:
• Mengurangi periwayatan hadis
Mereka khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian, dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasul Saw. Selain itu mereka juga khawatir dengan memperbanyak periwayatan akan menyibukkan umat Islam terhadap as-Sunnah dan mengabaikan Al-Quran.
• Ketelitian dalam periwayatan
Para sahabat sangat berhati-hati dalam menerima hadits tanpa adanya perawi yang benar-benar dapat dipercaya, karena mereka sangat takut terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits Nabi Saw.
• Kritik terhadap riwayat
Adapun bentuk kritik terhadap riwayat adalah dengan cara memaparkan dan membandingkan riwayat dengan Al-Qur’an, jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak mengamalkannya.
Setelah munculnya kegiatan pemalsuan hadits dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadits dalam rangka memelihara kemurnian hadits, yaitu seperti:
• Melakukan pembahasan terhadap sanad hadits serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi hadits, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan;
• Melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber hadits agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut melaluinya;
• Melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu hadits.
Demikianlah kegiatan para ulama hadits di abad pertama hijrah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadits. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi hadits, yaitu: Hadits Marfu’, Hadits Mawquf, Hadits Muttashil, dan Hadits Mursal. Dari macam-macam hadits tersebut, juga telah dibedakan antara hadits maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan hadits shahih dan hadits hasan, serta hadits mardud yang kemudian dikenal dengan hadits dha’if dengan berbagai macamnya.
Akan tetapi, hadits berkembang biak lebih cepat daripada yang dapat dikendalikan oleh sekelompok kecil ulama itu. Hadits-hadits baru pun terus bermunculan. Pada masa Umayyah, terdapat ribuan pertanyaan, kutipan, dan keputusan Muhammad Saw. yang teringat. Menyisir berbagai cara dan menentukan mana yang autentik, yang menjadikan pekerjaan bagi sejumlah ulama.
Setelah itu masuklah masa seleksi atau penyaringan hadits, hal ini terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbasyiah, khususnya pada masa al-Makmun sampai masa al-Muqtadir (201-300 H). Sebab munculnya periode ini, karena pada periode tadwin belum berhasil memisahkan hadits-hadits yang dha’if dari hadits yang sahih. Begitu juga hadits yang mauquf dan maqtu’ dari hadis yang marfu’, bahkan masih ada hadits yang mawdhu’ bercampur dengan hadis yang sah.
Pada masa ini para ulama mengadakan penyaringan hadits yang diterimanya secara ketat. Melalui kaidah-kaidah yang ditetapkan, pada masa ini mereka berhasil memisahkan hadits mawquf dan maqtu’ dari hadits marfu’, dan hadits dha’if dari hadits sahih, dll. Meskipun berdasarkan penelitian berikutnya masih ditemukan hadits dha’if dalam kitab-kitab karya mereka. Berkat keuletan dan keseriusan para ulama pada masa ini, maka muncullah kitab-kitab hadits yang hanya memuat hadis-hadis yang sahih.
Seiring perkembangan zaman, muncul pula penulis-penulis lain dengan berbagai karyanya dengan sistem penulisan yang semakin sempurna. Selain hal tersebut, banyak pula yang melakukan elaborasi terhadap sebuah karya dengan melakukan pensyarahan dari kitab-kitab ilmu hadits yang terdahulu. Bahkan, banyak di antaranya ditulis dalam bentuk disertasi dengan kajian yang dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan lain seperti dengan tinjauan ilmu sejarah. Kajian seperti ini semakin berkembang khususnya di zaman modern sekarang ini. Oleh karena itu, sekarang dapat ditemukan banyak kitab ilmu hadits dengan pembahasan yang semakin luas sehingga memudahkan setiap orang yang berminat mendalaminya, baik kalangan Muslim maupun para Islamis.

C. Pendekatan dan Metodologi dalam Studi Hadits
1. Pendekatan dalam Studi Hadits
Kaum muslimin mendapat dorongan yang kuat untuk meneliti dan menyelidiki periwayatan hadits, dan mengikuti aturan-aturan periwayatan yang benar agar mereka dapat menjaga warisan yang agung ini dari penyelewengan dan penyusupan terhadapnya, sehingga tetap bersih dan tidak dikotori oleh aib maupun oleh keraguan, sehingga muncullah hadits-hadits yang terpercaya dengan kualitas yang tidak diragukan lagi.
Oleh sebab itu, untuk mengetahui kualitas hadits, maka kita harus melakukan berbagai pendekatan, seperti berikut:
a. Pendekatan Rasio
Pendekatan ini terkonsentrasi pada matan hadits. Ketika matan hadits bertentangan dengan akal sehat, maka secara jelas dapat kita pastikan kelemahan hadits itu.
b. Pendekatan Ilmu Hadits Riwayah
Kata riwayah artinya periwayatan atau cerita. Secara terminologi yang dimaksud dengan hadits riwayah adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan dan “pendewanan” apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, ikrar dan lain sebagainya. Dengan kata lain, ilmu Hadits Riwayah adalah ilmu tentang hadits itu sendiri. Perintis pertama dari hadits riwayah ini adalah Muhammad bin Shihab az-Zuhri, wafat pada tahun 124 H.
c. Pendekatan Ilmu Hadits Dirayah
Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syarat, macam-macam dan hukum-hukumnya serta untuk mengetahui keadaan para perawi baik syarat-syaratnya, macam-macam hadits yang diriwayatkan dan segala yang berkaitan dengannya. Dengan kata lain ilmu Hadits Dirayah merupakan kumpulan kaidah untuk mengetahui dan mengkaji permasalahan sanad dan matan serta yang berkaitan dengan kualitasnya. Ilmu ini mulai dirintis dalam garis-garis besar sejak pertengahan abad ke-3. Kemudian sekitar abad ke-4 ilmu ini dibukukan sejajar dengan ilmu-ilmu lain.
Ilmu Hadits Riwayah dan ilmu Hadis Dirayah merupakan ilmu utama yang digunakan dalam studi hadits.
d. Pendekatan Ilmu Rijalul Hadits
Ilmu Rijal al-Hadits adalah ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadits.
e. Pendekatan Ilmu Jarh dan Ta’dil
Ilmu Jarh dan ta’dil yaitu ilmu yang membahas hal ihwal para perawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.
f. Pendekatan Ilmu Gharib al-Hadits
Gharib al-hadits yang kami maksud adalah lafal-lafal hadis yang sulit untuk dicerna. Apakah lafal-lafalnya sudah terlalu lama sehingga tidak lagi digunakan oleh masyarakat arab, atau istilah-istilah yang tidak jamak pada saat itu. Maka ilmu ini konsentrasinya pada pembahasan bahasa yang digunakan hadits tersebut.
g. Pendekatan Ilmu Asbabul Wurud
Asbabul Wurud menjadi sangat penting dalam memahami hadits. Karena, terkadang Nabi mengeluarkan haditsnya sebagai jawaban atas masalah-masalah tertentu. Sehingga ia memberikan pemahaman khusus, yakni berkaitan dengan masalah itu.
h. Pendekatan Ilmu Nasikh dan Mansukh
Ilmu Nasikh wa mansukh yaitu ilmu yang membahas hadis-hadis yang saling berlawanan maknanya yang tidak mungkin dapat dikompromikan dari segi hukum yang terdapat pada sebahagiannya, karena ia sebagai nasikh terhadap hukum lain. Karena itu hadis yang mendahuluinya disebut sebagai mansukh dan hadis terkhir sebagai nasikh.
i. Pendekatan Ilmu Mukhtalif al-Hadits
Ilmu Mukhtalif al-Hadits, yaitu ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan, karena adanya kemungkinan dapat dikompromikan.
2. Metode Dalam Studi Hadits
Sentralnya keberadaan hadits Nabi Saw. membuat banyak penelitian dan kajian-kajian yang dilakukan ulama-ulama hadits untuk menentukan dan mengetahui kualitas hadits yang berhubungan dengan kehujjahan hadits tersebut. Ternyata bukan hanya orang muslim, banyak musuh-musuh Islam seperti para orientalis yang berupaya meruntuhkan ajaran Islam dengan cara meneliti hadits yang bertujuan untuk meragukan dasar-dasar validitas hadits sebagai dalil.
Studi mereka yang berasal dari Barat tentang hadits sangat berbeda dengan studi di Timur Tengah. Studi hadits di Timur Tengah dan juga di Indonesia menekankan pada bagaimana seseorang melakukan takhrij hadits dan syarh (penjelasan) hadits sehingga dapat diketahui keasliannya dan kandungan makna dari hadits tersebut.
Adapun di Barat, studi mereka menitik beratkan bagaimana melakukan penanggalan hadits untuk menaksir sejarahnya dan bagaimana melakukan membangun sejarah terhadap peristiwa yang terjadi pada masa awal Islam. Model studi orientalis Barat kebanyakan berupa kritik sejarah, dalam bidang hadits setidaknya ada tiga orang kalangan orientalis sebagai tokoh Hadits Critism (kritik hadits) adalah Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, dan G.H.A Juynboll.
Oleh sebab itu, maka perlu adanya sebuah metode dalam menyeleksi hadits-hadits Rasulullah Saw., agar hadits-hadits tersebut tetap sempurna keasliannya, tanpa ada pihak-pihak lain yang mampu merusak atau memalsukan hadits-hadits tersebut. Adapun metode dalam menyeleksi hadits adalah melalui Takhrij Hadits .
Metode takhrijul hadits Dalam buku “Cara Praktis Mencari Hadits” dikemukakan bahwa metode takhrijul hadits yang dijalankan dalam buku ini terbagi dua macam, yakni :
a) Takhrijul Hadits Bil-Lafz, yakni upaya pencarian hadits pada kitab-kitab hadits dengan cara menelusuri matan hadits yang bersangkutan berdasarkan lafal atau lafal-lafal dari hadits yang dicarinya itu.
b) Takhrijul Hadits Bil-Maudhu’, yakni upaya pencarian hadits pada kitab-kitab hadits berdasarkan topic masalah yang dibahas oleh sejumlah matan hadits.
Tujuan dan manfaat Takhrijul Hadits Menurut Abd al-Mahdi adalah untuk menunjukkan sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu :
a) Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits
b) Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat diterima (Shahih atau Hasan) atau ditolak (Dha’if).
Manfaat takhrijul hadits sendiri sangat banyak, sehingga apabila ada seseorang yang akan melaksanakan takhrijul hadits, maka dia termasuk salah satu orang yang sangat teliti pada hadits-hadits Rasulullah Saw.

D. Disiplin Utama / Sub – Disiplin dan Disiplin Suplemen dalam Studi Hadits
Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian disiplin Ilmu hadits, yaitu Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah.
1. Ilmu Hadits Riwayah
Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadits Riwayah, sebagaiamana yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi Ulum al-Hadis seperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut: “Ilmu Hadits yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasul Saw. serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya”.
Dari definisi tentang ilmu Hadits Riwayah di atas dapat dipahami bahwa Ilmu Hadits Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadits Nabi Saw.
a. Objek Kajian Ilmu Hadits Riwayah
• Cara periwayatan hadits, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lain.
• Cara pemeliharaan hadits, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan, dan pembukuannya.
b. Tujuan dan Urgensi Ilmu Hadits Riwayah
Adapun tujuan dan urgensi ilmu hadits riwayah ini adalah agar tidak lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya. Dengan demikian, hadits-hadits Nabi Saw. dapat terpelihara kemurniannya dan dapat diamalkan hukum-hukum dan tuntunan yang terkandung di dalamnya, hal ini sejalan dengan perintah Allah Saw. agar menjadikan Nabi Saw. sebagai ikutan dan suri teladan dalam kehidupan ini (QS. Al-Ahzab [33] : 21).
2. Ilmu Hadits Dirayah
Mengenai pengertian Ilmu Hadits Dirayah, para ulama hadits memberikan definisi yang bervariasi, namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan, maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya, terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya:
Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut:
وَعِلْمُ الَحَدِيْثِ الخَاصُّ باِلدِّرَايَةِ : عِلْمٌ يُعْرَفُ مِنْهُ حَقِيْقَةُ الرِّوَايَةِ وَشُرُوْطُهَا وَأَنْوَاعُهَا وَأَحْكَامُهَا وَحَالُ الرُّوَاةِ وَشُرُوْطُهُمْ وَأَصْنَافُ الْمَرْوِيَاتِ وَمَايَتَعَلَّقُ بِـهَا
Artinya :
“Dan ilmu hadits yang khusus tentang dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya,keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.”

Dari definisi ini dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu:
• Hakikat Riwayat, yaitu kegiatan periwayatan hadis dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdis, yaitu perkataan seorang perawi, “haddasana fulan” (telah menceritakan kepada kami si Fulan), atau ikhbar, seperti perkataan: “akhbarana fulan” (telah mengabarkan kepada kami si Fulan).
• Syarat-Syarat Riwayat, yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadits), seperti sama’ (perawi mendengar langsung bacaan hadits dari seorang guru), qira’ah (murid membacakan catatan hadits dari gurunya dihadapan guru tersebut), ijazah (member izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadits dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya), munawalah (menyerahkan suatu hadits yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan), kitabah (menuliskan hadits untuk seseorang), I’lam (member tahu seseorang bahwah hadits-hadits tertentu adalah koleksinya), washiyyat(mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadits yang dimilikinya), dan wajadah(mendapatkan koleksi tertentu tentang hadits dari seorang guru.
• Macam-macam Riwayat, yaitu seperti periwayatan muttsahil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi terakhir, atau munqathi’ (periwayatan yang terputus, baik di awal, di tengah, atau di akhir, dan lainnya.
• Hukum Riwayat, yakni al-qabul (diterimannya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu, dan al-radd (ditolak, karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi.
• Keadaan para Perawi, maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al-‘adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh).
• Syarat-syarat Mereka, yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-add’).
• Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat), adalah penulisan hadits di dalam kitab al-musnad, al-mu’jam, atau al-ajza’ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun hadits-hadits Nabi Saw.

Selain itu, M. ‘Ajjaj al-Khatib mendefinisikan Ilmu Hadits Dirayah sebagai berikut: “Ilmu hadits dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi diterima dan ditolaknya.”
Definisi ini dapat kita jelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
• Al-Rawi atau perawi adalah orang yang meriwayatkan atau menyampaikan hadits dari satu orang ke orang yang lain.
• Al-Marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw. atau kepada yang lainnya, seperti Sahabat atauTabi’in.
• Keadaan Perawi dari segi diterima atau ditolaknya, adalah mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta’dil ketika tahammul dan adda’ al-hadits, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan hadits.
• Keadaan Marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ittishal al-sanad (persambungan sanad) atau terputusnya, adanya ‘illat atau tidak, yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu hadis.
Objek Kajian Ilmu Hadis Dirayah
• Segi persambungan sanad (ittishal al-sanad), yaitu bahwa suatu rangkaian sanad hadits haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan hadits tersebut. Oleh karenanya tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya atau tersamar;
• Segi keterpercayaan sanad (siqat al-sanad), yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi hadisnya);
• Segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz);
• Segi keselamatannya dari cacat (‘illat); dan
• Tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad.
Sedangkan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau ke-dha’ifan-nya. Hal tersebut dapat terlihat melalui kesejalannya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam Al-Qur’an, atau harus selamat dari beberapa hal berikut:
• Selamat dari kejanggalan redaksi (rakakat al-fadz);
• Selamat dari cacat atau kejanggalan pada maknanya (fasad al-ma’na) karena bertentangan dengan akal dan pancaindera, atau dengangan kandungan dan makna Al-Qur’an, atau dengan fakta sejarah;
• Selamat dari kata-kata asing (ghorib), yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN
Orang yang melakukan kajian secara mendalam mendapati bahwa dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayat dan penyampaian berita dijumpai di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw., Allah Swt. berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Sedangkan di dalam sunnah, Rasulullah Saw. bersabda;
“Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (berita, yaitu hadits), lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang ia dengar. Dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih paham dari orang yang mendengarnya.” (HR. At-Tirmidzi).
Pada ayat dan hadits yang mulia ini terdapat prinsip yang tegas dalam mengambil suatu berita dan tata cara menerimanya, dengan cara menyeleksi, mencermati, dan mendalaminya sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
Dalam upaya melaksanakan perintah Allah Swt. dan Rasulullah Saw., para sahabat telah menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya, terutama jika mereka meragukan kejujuran si pembawa berita. Berdasarkan hal itu, tampak nilai dan pembahasan mengenai isnad dalam menerima dan menolak suatu berita. Di dalam pendahuluan kitab Shahih Muslim, dituturkan dari Ibnu Sirin, “Dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami orang-orang yang meriwayatkan hadits kepadamu.’ Apabila orang-orang yang meriwayatkan hadits itu adalah ahlu sunnah, maka mereka ambil haditsnya. Jika orang-orang yang meriwayatkan hadits itu adalah ahli bid’ah, maka mereka tidak mengambilnya.”
Berdasarlan hal ini, maka suatu berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Karena itu muncullah ilmu jarh wa ta’dil, ilmu mengenai ucapan para perawi, cara untuk mengetahui bersambung (muttashil) atau terputus (munqathi’)-nya sanad, mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Muncul pula ucapan-ucapan (sebagai tambahan dari hadits) sebagian perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak, hingga muncul berbagai pembahasan di dalam banyak cabang ilmu yang terkait dengan hadits, baik dari aspek ke-dlabithan-nya, tata cara menerima dan menyampaikannya, pengetahuan tentang hadits-hadits yang nasikh (menghapus) dari hadits-hadits yang di-mansukh (dihapus), pengetahuan tentang hadits-hadits yang gharib (asing/menyendiri), dan lain-lain. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan.
Lalu, masalah itu semakin berkembang. Lama kelamaan ilmu hadits ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserak diberbagai tempat di dalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul, fiqh, dan ilmu hadits. Akhirnya, ilmu-ilmu itu semakin matang, mencapai puncaknya dan memiliki istilah tersendiri yang terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya.

 

Wallaahusubhanahuwata’ala A’lam

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
• A.W. Munawwir, 1997. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Edisi Kedua, Surabaya: Pustaka Progresif.
• Abdul Majid Khon,2010. Ulumul Hadis, Jakarta: Amzah.
• Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, 1955. Kitab Tadzkirat al-Huffazh, Hiderabat : The Dairati al-Ma’arifi al-Usmania.
• Abuddin Nata, 2007. Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo.
• Ahmad Amin, 1974. Dhuha Islam, Kairo : Maktabah al-Nahdhat al-Mishriyah.
• Ahmad Amin, 2000. Fajrul Islam, Mesir: Maktabatul Usroh.
• Atha’ bin Khalil, 2003. Taisir al-Wushul ila al-Ushul, Bogor: Pustaka Thariqul Izza.
• Badri Khaeruman, 2004. Otentisitas Hadits Studi Kritis atas Kajian Hadits Kontemporer, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
• Fathur Rahman, 1987. Ikhtisar Mustalah al-Hadis, Bandung: Al-Ma’arif.
• Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyuti, 1988. Tadrib ar-Rawi fi Syarh an-Nawawi, Beirut : Dar al-Fikr.
• M. Agus Solahudin; Agus Suyadi, 2009. Ulumul Hadis, Bandung: CV. Pustaka Seti.
• M. Hasbi Ash Shiddieqy, 1991. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang
• M. Syuhudi Ismail, 1991. Cara Praktis Mencari Hadits (Jakarta : Bulan Bintang.
• Manna Khalil al-Qattan, 1996. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor : Litera AntarNusa.
• Muhammad Ajjaj al-Khatib, 1989. Ushul al-Hadis: Ulumuhu wa Musthalahuhu, Beirut : Dar al-Fikr.
• Muhammad Ajjaj al-Khatib, 1990. as-Sunnah Qabl at-Tadwin, Beirut: Dar al-Fikr.
• Nawer Yuslem, 2001. Ulumul Hadis, Jakarta: PT Mutiara Sumber Widy.
• Nawir Yuslem, 2006. Kitab Induk Hadis, Jakarta : Hijri Pustaka Utama.
• Ramli Abdul Wahid, 2005. Studi Ilmu Hadis, Bandung: Cita Pustaka.
• Shubhi ash-Shalih, 1977. ‘Ulum al-Hadits wa Mustalahuh, Beirut: Dar al-‘Ilm al-Malayin.
• Subhi as-Shalih, 1995. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (terj), Jakarta: Pustaka Firdaus.
• Tamim Ansary, 2010. A History of The World through Islamic Eyes, diterjemahkan oleh Destiny Discruted (United States: Public Affairs, 2009) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yuliani Liputo, Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam, Jakarta: Penerbit Zaman.

Internet :
http://arifin-jahari.blogspot.com/2011/02/makalah-studi-hadis-bagian-iii.html.
http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html
http://www.belajarislam.com/sejarah-munculnya-ilmu-mustholah-hadits-dan-perkembangannya/. (Dr. Mahmud Thahan, Ilmu Hadits Praktis (Pustaka Thariqul Izzah)
http://www.gaulislam.com/sosok-orientalisme-dan-kiprahnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s