STRATEGI KEPIMPINAN ABU JA’FAR AL MANSUR ; REORIENTASI DARI ROMAWI KE PERSIA

STRATEGI KEPIMPINAN ABU JA’FAR AL MANSUR ;
REORIENTASI DARI ROMAWI KE PERSIA

A. Khalifah Abu Ja’far Al Mansur Sebagai Khalifah Kedua

Abu Ja’far Adullah bin Muhammad dilahirkan di kota Hamimah pada tahun 101 H. Ibunya bernama Salamah. Ia menjadi khalifah pada usia 41 tahun. Ia memerintah selama ± 22 tahun (136 – 158 H/ 754 – 775 M).
Sebelum Abu Al- Abbas As-Saffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa bakal menjadi penggantinya, yakni saudaranya, Abu Ja’far, kemudian Isa ibn Musa, keponakannya. Sistem pengumuman putra mahkota ini meniru cara Umayyah, bukan mencontoh Khulafurrasyidin yang mendasarkan pemilihan khalifah pada musyawarah dari rakyat.
Di zaman Al Mansur berawal masa kejayaan dan masa perkembangan ilmu pengetahuan yang oleh karenanya Daulat Abbasiyah mencapai zaman keemasannya di belakang hari. Di zaman Al Mansur pula berkembang pengaruh Persia secara jelas, sehingga khalifah-khalifah Bani Abbas meniru umat Persia tentang adat istiadat istana bahkan sampai kepada nizam siasat yang terpakai di masa pemerintahan Kisra-kisra Persia. Di dalam istana orang Persialah yang berpengaruh.
Ada suatu hal yang baru lagi bagi para khalifah Abbasiyah, ialah pemakaian gelar. Abu Ja’far misalnya memakai gelar al-Mansur. Hal tersebut dapat ditelusuri dari lokasi dimana Abbasiyah berkuasa yang bertumpu pada bekas kekuasaan Persia, sehingga model Persia dijadikan acuan bagi pemerintahannya. Antara lain ialah dengan mengatakan bahwa seorang penguasa adalah wakil Tuhan di bumi, Tuhan telah memilih mereka sebagai orang kepercayaan-Nya untuk memerintah. Sedangkan menurut Joesoef Sou’yb disebabkan Abu Ja’far senantiasa menang di dalam peperangan baik memadamkan kerusuhan maupun dalam menghadapi serangan imperium Byzantium, maka iapun digelari Al Mansur yang beroleh pertolongan dari Allah. Pada masa al Mansur pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata ”Innama ana Sulthan Allah fi Ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)”. Dengan demikian konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke genarasi selanjutnya yang merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut nabi sebagaimana pada masa al Khulafa ar Rasyidin.
Hal ini merupakan pengaruh Persia yang menetapkan bahwa raja adalah wakil Tuhan, karena itu dia berhak memerintah, dan rakyat hendaklah setia dan patuh kepadanya.
Mereka juga memakai gelar Imam sebagai pemimpin umat Islam dibidang spiritual. Gelar Imam telah lazim digunakan oleh kelompok Syi’ah, pendukung Ali ibn Abi Talib. Imam sebenarnya berasal dari pemimpin sholat berjama’ah, berarti pemimpin dalam hal agama. Tetapi penggunaan kata Imam bagi Syi’ah bukan hanya dibidang agama saja, hal itu digunakan juga dalam lapangan politik. Rupanya Abbasiyah ingin selalu mendapat dukungan dari Syi’ah dengan memakai gelar yang biasa digunakan di kalangan pendukung Ali tersebut. Memang pada awal berdirinya, Abbasiyah justru mendapat dukungan penuh dari kaum Syi’ah yang selalu gagal merebut kepemimpinan umat Islam, bahkan mereka mendapat tekanan keras di masa Umayyah. Husain ibn Ali ibn Abi Talib mati terbunuh di masa pemerintahan Yazid ibn Mu’awiyah di padang Kerbala.

B. Strategi Kepemimpinan Khalifah Abu Ja’far Al Mansur Di Dalam dan Luar Negeri

Dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah diletakkan oleh khalifah kedua, Abu Ja’far al Mansur yang dikenal sebagai pembangun khilafah tersebut. Di awal masa pemerintahannya ia menghadapi berbagai kesulitan terutama perlawanan-perlawanan dari pihak yang tidak menerima beliau sebagai khalifah. Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu persatu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang gagah berani dalam pertempuran, dan ia menginginkan jabatan khalifah itu jatuh ke tangannya. Keduanya adalah yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syiria dan Mesir. Karena tidak bersedia membai’atnya maka dibunuh oleh Abu Muslim Al Khurasani atas perintah Abu Ja’far.
Pada ibu kota Hasyimia berlangsung bai’at, sedangkan dalam wilayah Khurasan sampai perbatasan belahan timur bai’at berlangsung di bawah pengawasan panglima Abu Muslim Al Khurasani yang menjabat Al Wali untuk wilayah yang luas itu. Akan tetapi Emir Abdullah ibn Ali dan Shalih bin Ali menantang pengangkatan keponakannya itu. Emir Abdullah mengadakan pertemuan besar di Damaskus dengan mengundang tokoh-tokoh terkemuka dan menyampaikan suatu pernyataan bahwa Khalif Abul Abbas dulu sudah mengucapkan janji bahwa barangsiapa yang mampu mematahkan perlawanan Khalif Mirwan dari Daulah Umayyah akan diangkat menjabat khalifah setelahnya. Palestina, Syiria dan Mesir kemudian mengangkat bai’at terhadapnya. Dia dan saudarnya Emir Shalih bin Ali lantas menyusun pasukan berkekuatan besar dan maju menuju benteng kota Harran di dalam wilayah Armenia.
Khalifah al Mansur mendengar berita tentang gerakan pamannya yang berkekuatan besar itu, maka iapun mempersiapkan pasukan dari Irak dan Iran dan selanjutnya mengirimkan instruksi kepada panglima besar Abu Muslim al Khurasani supaya bergerak dengan pasukannya. Akhirnya pecahlah pertempuran besar di Nissibin. Pasukan Emir Abdullah dan Emir Shalih dan keduanya tewas di medan pertempuran. Wilayah Palestina dan Mesir tunduk kembali kepada kekuasaan pusat pada ibu kota Hasyimia.
Abu Muslim sendiri merupakan seorang yang setia kepada khalifah dan berpengaruh besar. Ketika as-Saffah masih hidup, Abu Muslim selalu dimintai pendapatnya dalam urusan negara, sebelum meminta kepada yang lain termasuk al-Mansur. Dikarenakan kekhawatiran akan menjadi pesaing baginya, maka Abu Muslim Al Khurasani dihukum mati pada tahun 755 M. Selanjutnya Abu Ja’far juga menyingkirkn keturunan Ali ibn Abi Thalib yang pengikutnya banyak, terutama di wilayah berdirinya kekuasaan Bani Abbas. Mereka ditakutkan menuntut hak untuk kepemimpinan umat dari golongannya yang selama ini ikut berjuang mendirikan kekuasaan.
Di samping itu pula al Mansur berusaha memadamkan pemberontakan oleh kaum ‘Alawiyin yang merasa di tinggal dan tidak di berikan kekuasaan yang luas. Pada tahun 145 H muncullah di Hijaz Muhammad bin ‘Abdillah al ‘Alawy. Ia di tabalkan penduduk hijaz menjadi khalifah. Dia mengirimkan saudaranya Ibrahim ke Basrah untuk menghimbau penduduk Basrah agar turut membai’at dirinya. Muhammad bin Abdullah lalu diperangi oleh al Mansur hingga wafat pada tahun 145 H. Kemudian Ibrahim mengangkat dirinya menjadi khalifah di Irak dan Persia, akan tetapi hal ini dapat di atasi oleh al Mansur, ia pun terbunuh pada tahun 146 H.
Sedangkan strategi Luar-Negeri khalifah al Mansur antara lain:
1. Terhadap kerajaan Byzantium
Orang Byzantium senantiasa mengintai peluang kelemahan bani Umaiyah untuk melancarkan serangan mereka ke negeri-negeri Islam yang berbatasan dengan negeri mereka. Kaisar Byzantium mengerahkan tentaranya menyerang negeri Syam di zaman khalifah al Mansur pada tahun 138 H. Penyerangan ini dapat ditangkis oleh panglima Abbasiyah. Peperangan ini di akhiri dengan perjanjian peletakan senjata selama tujuh tahun.
Setelah al Mansur selesai memadamkan pemberontakan kaum ‘Alawiyin, maka di mulainyalah menyerang kerajaan Byzantium. Maka akhirnya Kaisarnya minta berdamai dan berjanji akan membayar upeti tahunan kepada khalifah Abbasiyah.

2. Terhadap negeri Andalus
Tanah Andalus telah melepaskan dirinya dari Daulat Abbasiyah setelah tegaknya daulat Bani Umaiyah dengan usaha amir Abdur Rahman bin Muawiyah bin Hisyam.. Al Mansur tidak dapat menaklukkan negeri ini karena jauhnya dari pusat khilafah Bani Abbas. Apalagi saat itu ia sedang menindas huru hara dan pemberontakan dalam negeri. Maka ia berupaya dengan menjalin hubungan baik dengan Pepyn raja Frank serta saling bertukar duta dan bingkisan. Dan raja itupun dihasutnya untuk memerangi Abdur Rahman.

3. Terhadap Afrika
Bangsa Barbar di Afrika Utara merasa tidak senang di bawah pemerintahan bangsa Arab yang berlaku aniaya terhadap diri mereka. Mereka di anggap oleh wali-wali nya bukan sebagai saudara dengan saudara, melainkan penjajah dengan rakyat terjajah, meskipun mereka telah memluk agama Islam. Di saat Daulah Umaiyah mulai melemah mereka mulai melakukan perlawan dan mendirikan beberapa wilayah merdeka. Namun perlawanan ini tidak berlangsung lama. Peluang ini di pergunakan oleh al Mansur untuk menaklukan kembali daerah itu pada tahun 144 H. Kota Kairawan silih berganti bertukar wali. Kadang di kuasai oleh bangsa Arab, di lain waktu jatuh ke tangan Barbar. Akhirnya pada tahun 155 H barulah kota itu dikuasai penuh oleh Daulat Abbasiyah.

C. Perpindahan Ibu Kota Daulah Bani Abbas sebagai Reorientasi dari Romawi ke Persia

Dalam masa pemerintahan al Mansur, ibu kota Daulah Bani Abbas dipindahkan ke kota yang baru dibangunnya, yakni Bagdad. Sebelum itu ibu kota negara adalah Al Hasyimiyah. Karena ibu kota itu berdekatan dengan Kufah, tempat pergerakan kaum syi’ah, maka al Mansur memindahkannya ke Bagdad yang merupakan kota kuno di sebelah barat sungai Tigris. Hal ini dilakukan untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu.
Al Mansur sangat cermat dan teliti dalam memilih lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang diperintahkan tinggal beberapa hari di tempat itu pada setiap musim yang berbeda, kemudian para ahli tersebut melaporkan pada beliau tentang keadaan udara, tanah dan lingkungan. Setelah penelitian yang seksama itulah daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota dan pembangunan pun dimulai.
Dalam membangun kota ini, khalifah mempekerjakan ahli bangunan yang terdiri dari arsitektur- arsitektur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat dan lain-lain. Mereka didatangkan dari Syiria, Mosul, Basrah, dan Kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang. Ada empat buah pintu gerbang diseputar kota ini, disediakan untuk setiap orang yang ingin memasuki kota. Keempat pintu gerbang itu adalah Bab al Kufah, terletak di sebelah barat daya, Bab al Syam, terletak di barat laut, Bab al Bashrah, terletak di tenggara dan Bab al Khurasan, terletak di timur laut. Di antara masing- masing pintu gerbang ini, dibangun 28 menara sebagai temapat pengawal negara yang bertugas mengawasi keadaan diluar. Di atas setiap pintu gerbang dibangun sebuah tempat peristirahatan yang dihiasi suatu ukiran-ukiran yang indah yang menyenangkan. Ditengah-tenagh kota terletak istana khalifah menurut seni arsitektur Persia. Istana ini dikenal dengan nama al-Qashr al-Zahabi, berarti istana emas. Istana ini dilengkapi bangunan mesjid, tempat pengawal istana, polisi dan tempat tinggal putri-putri dan keluarga khalifah-khalifah. Di sekitar istana dibangun pasar tempat perbelanjaan. Jalan raya menghubungkan empat pintu gerbang.
Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam islam. Itulah sebabnya, Philip K.Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya, di antara kota – kota dunia, Baghdad meruakan profesor masyarakat Islam. Al-Manshur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dan kesusasteraan dari bahasa asing: India, Yunani lama, Byzantium, Persia, dan Syria. Para peminat ilmu dan kesusasteraan segera berbondong-bondong datang ke kota itu.
Setelah masa Al-Manshur, kota Baghdad menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan dan kebudayaan Islam. Banyak para ilmuan dari berbagai daerah ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan yang ingin di tuntutnya.
Berpindahnya ibukota kekhalifahan ke Bagdad ikut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Bagdad terletak di daerah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Persia dan berarti semakin jauh dari pengaruh Arab. Kota Bagdad sendiri telah lama mengenal ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi. Membaurnya bangsa-bangsa di Bagdad mempunyai pengaruh yang besar.
Di ibu kota yang baru ini Al-Manshur melakukan konsilidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki sejumlah jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen, wazir yang pertama diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd Al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah di tingkatkan perananya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar mengantar surat, pada masa Al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah, sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
Khalifah al Mansur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia Kecil, kota Malatia, kemudian ke bagian tengah wilayah Coppadocia, dan bergerak ke arah barat merebut dan menguasai wilayah Cicilia. Perebutan Asia Kecil itu berkelanjutan tiga tahun lamanya, dari tahun 138-140 H/ 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Di pihak lain dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Byzantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, turki dibagian lain Oksus dan India.

D. Pergerakan Penyalinan/ Penterjemahan dan Mangkatnya Khalifah al Mansur

Menjelang penghujung pemerintahan Khalif Abul Abbas, ia mengangkat Khalid ibn Barmak menjabat wazir menggantikan Abu Jahm ibn Atiyya dan jabatan itu dipegangnya hingga selama masa pemerintahan Abu Ja’far al Mansur. Bahkan puteranya Yahya dan cucunya Jaafar mewarisi jabatan tersebut pada masa pemerintahan khlaif-khalif selanjutnya. Dengan begitu, bermula peranan dan pengaruh keluarga Al Barmeki dalam sejarah Daulah Abbasiah.
Keluarga Al Barmeki adalah bangsawan Iran tertua berasal dari kota Balkh yang menjadi ibu kota wilayah Bactri sewaktu Alexander the Great dari Makedomia maju manaklukkan Asia Tengah. Keluarga Al Barmeki cendrung menaruh perhatian besar pada perkembangan ilmu dan kebudayaan.
Permulaan gerakan penyalinan literatur Iran dan Irak, Grik serta Siryani secara besar-besaran adalah pada masa khalif al Mansur. Perguruan tinggi ketabiban di Jundishapur yang dibangun oleh Khosru Anushirwan (351-579 M) dan tenaga-tenaga pengajar terdiri atas tabib-tabib Grik dan tabib-tabib Roma yang berasal dari tawanan perang tetapi mendapat pelayanan yang mewah. Bahkan tabib istana pada masa khalif al Mansur adalah Jurjis ibn Bakhtisyu, mahaguru perguruan tinggi ketabiban di Jundishapur, seorang tokoh nasrani. Dan keluarga Bakhtisyu itu selanjutnya menjadi tabib-tabib istana pada masa khalifah-khalifah selanjutya.
Apalagi masa sepuluh tahun terakhir pemerintahan al Mansur itu adalah masa aman dan damai dan kemakmuran yang melimpah hingga seluruh perhatian tertuju pada negeri tersebut.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalif al Mansur. Ia menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Bagdad. Ia merangsang pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid, hadits dan ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah.
Menjelang penghujung tahun 158 H/ 775 M, khalif al Mansur berangkat untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci, disertai oleh puteranya sl Mahdi. Mendekati kota Kufah iapun jatuh sakit. Tetapi pada suatu tempat bernama Bir Maimun iapun tergeletak dan lalu wafat disitu. Ia wafat pada usia 63 tahun dan memerintah selama ± 22 tahun lamanya. Jenazahnya di kebumikan di ibu kota Bagdad.

E. Kesimpulan

Abu Ja’far al Mansur merupakan khalifah kedua pada Daulat Abbasiyah namun beliau merupakan khalifah yang menetapkan dasar-dasar pemerintahan Daulat Bani Abbas.
Masa pemerintahan Abu Ja’far al Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembanagn Daulat Abbasiyah pada pemerintahan selanjutnya. Ia melakukan strategi pemerintahannya baik di dalam maupun di luar negeri dengan penuh usaha yang akhirnya dapat memperluas wilayah kekuasaan Daulat Bani Abbas.
Reorientasi dari Romawi ke Persia di lakukan sebagai wujud kerjasama yang baik antara Bani Abbas dengan orang Persia yang telah mendukung berdirinya Daulat Abbasiyah. Di samping itu hal ini juga di lakukan agar pemerintahan Daulat Abbasiyah lebih dekat dengan Persia
Ia wafat pada usia 63 tahun dan memerintah selama ± 22 tahun lamanya. Jenazahnya di kebumikan di ibu kota Bagdad.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s