PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

A. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Bila kita perhatikan sebenarnya awal perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban dan budaya manusia, dimana para orangtua bersama kelompoknya bertanggungjawab dalam mendidik dan mengajarkan anak-anak mereka hingga mencapai kedewasaan melalui pengalaman langsung dalam keseharian kehidupan mereka dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Dunia pendidikan mau mengadakan inovasi yang positif untuk kemajuan pendidikan. Tidak hanya inovasi dibidang kurikulum, sarana-prasarana, namum inovasi yang menyeluruh dengan menggunakan teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan seringkali diasumsikan dalam persepsi yang mengarah semata-mata pada masalah elektronika atau peralatan teknis saja, padahal teknologi pendidikan mengandung pengertian dan penerapan yang sangat luas. Teknologi pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh kegiatan proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik. Kemajuan atau perkembangan teknologi pendidikan sekarang ini tidak terjadi begitu saja.
Menurut James D Finn seorang Guru Besar Tetap dalam bidang Pendidikan di University of Southern California (USC), tahun 1920-an adalah awal perkembangan teknologi pendidikan. Istilah dan defenisi formal pertama yang berhubungan dengan teknologi pendidikan pada saat itu adalah”pengajaran visual” yakni kegiatan mengajar dengan menggunakan alat bantu visual yang terdiri dari gambar, model, objek, atau alat-alat yang dipakai untuk menyajikan pengalaman konkret melalui visualisasi kepada anak. Kelemahan pengajaran visual adalah hanya mengutamakan bahan itu sendiri, dan kurang memperhatikan desain, pengembangan, produksi, evaluasi, dan pengelolaan bahan itu. Dengan timbulnya rekaman suara dan film bersuara, pengajaran visual dikembangkan menjadi pengajaran audiovisual yang menggunakan perangkat pengajaran untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman melalui mata dan telinga.
Menurut sebagian ahli Teknologi Pendidikan merupakan kelanjutan perkembangan dari kajian-kajian tentang penggunaan audiovisual, dan program belajar dalam penyelenggaraan pendidikan. Kajian tersebut pada hakekatnya merupakan usaha dalam memecahkan masalah belajar manusia (human learning). Solusi yang diambil melalui kajian teknologi pendidikan bahwa pemecahan masalah belajar perlu menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat dengan banyak memfungsikan pemanfaatan sumber belajar (learning resources). Pengajaran audiovisual juga mengandung dua kelemahan yakni lebih menaruh perhatian kepada bahan daripada proses pengembangan bahan itu, dan tetap memandang audiovisual sebagai alat bantu guru dalam mengajar.
Pada akhir Perang Dunia II, mulai timbul suatu kecenderungan baru dimana orientasi teknologi pendidikan pada komunikasi mulai diperhatikan. Perhatian tidak lagi dipusatkan pada benda-benda, melainkan pada proses komunikasi informasi mulai dari sumber (guru maupun bahan) sampai kepada sasaran (siswa).
Usaha untuk merumuskan defenisi teknologi pendidikan secara terorganisasi dimulai pada tahun 1960. hingga sekarang defenisi teknologi pendidikan telah berkembang lima kali. Pengembangan defenisi pertama dilakukan oleh the Technological Develompment Project dari The National Education Association dengan ketua tim Prof. Dr. Donald P. Ely pada tahun 1963, yang disebut defenisi komunikasi audiovisual. Defenisi komunikasi audiovisual ini kemudian berkembang dengan menggunakan acuan Pendekatan Sistem dan Pengembangan Instruksional yang didefenisikan oleh the Commission on Instructional Technology yang dipimpin oleh Sidney Tickton pada tahun 1970. Defenisi yang kedua ini pun dianggap belum lengkap sehingga Komisi Defenisi dan Terminologi AECT mengeluarkan defenisi baru sebagai defenisi yang ketiga pada tahun 1972. Defenisi yang keempat muncul pada tahun 1977 setelah pada tahun 1975 AECT membentuk Komisi Defenisi dan Terminologi yang dipimpin oleh Dr. Kenneth H. Silber dengan anggota sebanyak 26 orang. Laporan komisi ini diterbitkan oleh AECT “The Defenition of Educational Technology”. AECT kembali membentuk Komisi Defenisi dan Terminologi pada tahun 1990 yang dipimpin oleh Barbara B. Seels dengan 21 orang anggota. Setelah bekerjasama selama tiga tahun komisi ini merumuskan defenisi yang keempat. Kemudian defenisi yang kelima pada tahun 1994.
Secara singkat sejarah perkembangan teknologi pendidikan sebagai suatu disiplin keilmuan, pada awalnya berkembang sebagai bidang kajian di Amerika Serikat. Sebagai istilah, teknologi pendidikan mulai digunakan sejak tahun 1963, dan secara resmi diikrarkan oleh Association of Educational and Communication Technology (AECT) sejak tahun 1977, walaupun adakalanya terjadi overlapping penggunaan istilah tersebut dengan teknologi pembelajaran. Teknologi pendidikan ditafsirkan sebagai media yang lahir dari perkembangan alat komunikasi yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan dan teknologi pembelajaran menurut Bambang Warsita bertujuan untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran.
Perkembangan kajian teknologi pendidikan menghasilkan berbagai konsep dan praktek pendidikan yang banyak memanfaatkan media sebagai sumber belajar. Oleh karena itu, terdapat persepsi bahwa teknologi pendidikan sama dengan media, padahal kedudukan media berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah dalam penyampaian informasi atau bahan belajar. Dari segi sistem pendidikan, kedudukan teknologi pendidikan berfungsi untuk memperkuat pengembangan kurikulum terutama dalam desain dan pengembangan, serta implementasinya, bahkan terdapat asumsi bahwa kurikulum berkaitan dengan “what”, sedangkan teknologi pendidikan mengkaji tentang “how”. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, teknologi pendidikan memperkuat dalam merekayasa berbagai cara dan teknik dari mulai tahap desain, pengembangan, pemanfaatan berbagai sumber belajar, implementasi, dan penilaian program dan hasil belajar.
Romiszoswki (1981) menyebutkan bahwa penggunaan istilah teknologi pada pendidikan memiliki keterkaitan dengan konsep produk dan proses. Konsep produk berkaitan dengan perangkat keras atau hasil-hasil produksi yang dimanfaatkan dalam proses pengajaran. Pada tahapan yang sederhana jenis teknologi yang digunakan adalah papan tulis, bagan, objek nyata, dan model-model yang sederhana. Pada tahapan teknologi menengah digunakannya OHP, slide, film proyeksi, peralatan elektronik yang sederhana untuk pengajaran, dan peralatan proyeksi (LCD). Sedangkan tahapan teknologi yang tinggi berkaitan dengan penggunaan paket-paket yang kompleks seperti belajar jarak jauh yang menggunakan radio, televisi, computer assisted instruction, serta pengajaran atau stimulasi yang komplek, dan sistem informasi dial-access melalui telepon dan lain sebagainya.
Penggunaan perangkat keras ini sejalan dengan perkembangan produk indutri dan perkembangan masyarakat, seperti e-learning yang memanfaatkan jaringan internet untuk kegiatan pembelajaran. Konsep proses atau perangkat lunak, dipusatkan pada pengembangan substansi pengalaman belajar yang disusun dan diorganisir dengan menerapkan pendekatan ilmu untuk kepentingan penyelenggaraan program pembelajaran. Pengembangan pengalaman belajar ini diusahakan secara sistemik dan sistematis dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Pengembangan program belajar diawali dengan analisis tingkahlaku yang perlu dikuasai pendidik dalam proses belajar dan pelahiran tingkah laku setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Tahapan analisis tingkahlaku tersebut memanfaatkan penggunaan ilmu atau sejumlah pengetahuan untuk mengungkap kemampuan yang harus dimiliki calon peserta didik, di samping kemampuan yang harus digunakannya untuk memperoleh kemampuan hasil belajar.
Di Indonesia sendiri penerapan teknologi pembelajaran baru dikenal sekitar awal tahun 1950-an , dengan didirikannya Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) dan Balai Alat Peraga Pendidikan (BAPP) di Bandung. BKTPG yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (P3G Tertulis) bertanggung jawab untuk menyelenggarakan penataran kualifikasi guru dengan bahan pelajaran tertulis dengan berpegangan pada konsep belajar mandiri. BAPP pada awal tahun 1970 diintegrasikan dengan Pusat Pengembangan Penataran Guru Bidang studi.

B. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih berorientasi teoritis dan menganggap fungsinya adalah mempersiapkan peserta didik untuk masa depan yang siap latih. Padahal, dengan semakin berkembangnya kegiatan sosial ekonomi diperlukan tenaga yang kompeten lebih banyak dan cepat. Hal ini memicu teumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatuhan dan kursus sebagai upaya pendidikan berkelanjutan yang bersifat terapan. Lembaga-lembaga ini ada yang berdiri sendiri, namun banyak yang merupakan bagian dari organisasi bisnis, industri dan public, serta organisasi pemerintah.
Pendidikan dan Pelatihan biasanya dibedakan dengan karekteristik berikut;
Pendidikan:
Waktu relatif lama, pengakuan dengan ijazah atau diploma, kurikum standar untuk keperluan mendatang, ditujukan bagi mereka yang akan memasuki lingkungan pekerjaan, program regular dengan pengajar tetap
Pelatihan:
Waktu relatif singkat, pengakuan dengan sertifikat, kurikulum fleksibel sesuai dengan keperluan, ditujukan bagi mereka yang ada/ sudah dalam lingkungan kerja dan program tidak regular serta pengajar tidak tetap/ widyaiswara.
Fungsi lembaga penyelenggara ini seharusnya merupakan agen pembaharu. Lembaga ini perlu memahami perubahan dan kemudian mampu menganalisis dampak perubahan itudalam lingkungan organisasinya, kemudian mempersiapkan dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan hasil analisisnya. Namun, masih banyak lembaga Diklat yang masih terbelenggu sehinnga harus menunggu instruksi atau hanya menyelenggarakan diklat atas permintaan atau perintah lembaga lain yang lebih tinggi kedudukannya dalam struktur organisasi atau bahakan tergantung pada alokasi dana yang diberikan.
Tuntutan akan prestasi pegawai baik negeri maupun swasta yang tinggi memang sudah menjadi bagian dari aspek pemerintahan/ perusahaan. Faktanya yang ada sekarang memperlihatkan bahwa belum semua pegawai memiliki prestasi kerja yang tinggi sesuai dengan harapan lembaganya. Masih banyak terdapat pegawai yang memiliki prestasi kerja rendah. Aktifitas kerja pegawai menunjukan hasil yang berbeda-beda antara pegawai satu dengan pegawai yang lainnya, meskipun mereka bekerja pada bidang dan tempat yang sama. Hal ini membuktikan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi prestasi kerja pegawai.
Pada kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Surakarta misalnya, dimana setiap tahunnya mereka melakukan penilaian terhadap pegawainya,kemudian dari hasil penelitian inilah divisi menganalisis dan menentukan pegawai berprestasi. Selanjutnya, dibuatlah rencana pengembangan karir dan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan pegawai agar prestasi dan kontribusinya kepada perusahaan terus meningkat. Berdasarkan contoh kasus tersebut bahwa perusahaan perlu mengadakan penilaian terhadap pegawainya untuk mengetahui prestasi kerja pegawainya agar dapat mencapai prestasi yang sebaik-baiknya untuk kemajuan perusahaan.
Suatu sistem penilaian prestasi kerja yang baik harus bisa menampung berbagai tantangan eksternal yang dihadapi oleh para pegawai, terutama yang mempunyai dampak kuat terhadap pelaksanakan tugasnya. Tidak dapat disangkal bahwa berbagai situasi yang dihadapi oleh seseorang di luar pekerjaanya, seperti masalah keluarga, keadaan keuangan, tanggung jawab sosial dan berbagai masalah pribadi lainnya pasti berpengaruh terhadap prestasi kerja seseorang. Sistem penilaian tersebut harus memungkinkan para pegawai untuk mengemukakan berbagai masalah yang dihadapinya itu. Organisasi seyogyanya memberikan bantuan kepada para anggotanya untuk mengatasi masalahnya itu. Tanpa adanya prestasi kerja yang tinggi, mengakibatkan tugas-tugas pekerjaan yang diselesaikan kurang baik, kurang baiknya pelaksanakan tugas yang dikerjakan oleh pegawai menunjukan rendahnya prestasi kerja pegawai yang akan menggangu proses pencapaian tujuan perusahaan. Peningkatan prestasi kerja pegawai perlu memperhatikan hal-hal yang dapat memotivasi pegawai untuk menjalankan tugas-tugasnya antara lain dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya yang meliputi kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan akan makan dan minum, kebutuhan akan keselamatan dan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri dan kebutuhan perwujudan diri.
Salah satu faktor yang dianggap penting bagi peningkatan prestasi kerja pegawai yaitu adanya pendidikan dan pelatihan bagi pegawai atau karyawan. Karyawan (guru dalam dunia pendidikan) diharapkan menyukai tantangan dan mampu memecahkan permasalahan dalam pekerjaannya dengan lebih baik yang pada akhirnya dapat mendukung tercapainya prestasi kerja secara memuaskan perlu didukung adanya pendidikan dan pelatihan terlebih dahulu. Pemimpin dalam hal ini perlu memberi kesempatan kepada bawahan agar mereka dapat mengaktualisasikan diri secara baik dan wajar di perusahaan. Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan oleh Kantor Kementerian Agama RI misalnya, dengan pendidikan dan pelatihan yang diikuti guru diharapkan menyukai tantangan dan mampu memecahkan permasalahan dalam pekerjaannya dengan lebih baik yang pada akhirnya dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan secara memuaskan dan berhasil guna. Dasar hukum penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil, Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 66/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Jabatan Fungsional Pranata Komputer dan Angka Kreditnya dan lain sebagainya.
Ada anggapan bahwa dengan digalakkan latihan akan menimbulkan pemborosan karena dianggap bisa mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan pendidikan. Anggapan tersebut salah karena justru dengan adanya latihan akan terjadi penghematan. Misalnya: peralatan yang canggih dan mahal apabila ditangani oleh tenaga yang kurang terlatih justru menimbulkan biaya yang sangat besar jika terjadi kerusakan. Maksudnya ingin menghemat malah menghasilkan pemborosan. Hasil dari penggalakkan latihan ini memang tidak dirasakan secara langsung karena merupakan investasi jangka panjang. Demikian halnya dengan pendidik jika tidak mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai maka akan menghasilkan peserta didik (generasi) yang tidak berkembang ilmu dan teknologinya. Walaupun tidak dapat dipungkiri banyak pendidikan dan pelatihan yang telah diikuti oleh sebagian guru namun tingkat atau kualitas ilmu dan teknologinya tetap sama dengan sebelum mengikuti pendidikan dan pelatihan. Pada dasarnya hal ini tidak akan terjadi jika benar-benar menerapkan ilmu yang telah diperoleh dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang diikuti.

Instruksi presiden Nomor 15 Tahun 1974 tentang pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1972, disebutkan bahwa “ pendidikan merupakan segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmaniah dan rohaniah yang berlangsung seumur hidup, baik didalam maupun diluar negeri dalam rangka pembangunan persatuan Indonesia masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila. Sedangkan “pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ketrampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relative singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori.

Penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan merupakan proses yang berlanjut karena munculnya kondisi- kondisi baik perkembangan teknologi, perkembangan kurikulum maupun lembaga dalam dunia pendidikan/ pelatihan . Mengantisipasi adanya perkembangan perkembangan lain, kondisi-kondisi baru, mendorong pemerintah untuk menyusun program pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya pendidikan dan pelatihan tersebut maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memberikan kontribusi yang terbaik dalam pencapaian tujuan, kompetensi bersaing, terlebih lagi pada persaingan global dan tuntutan perkembangan pengetahuan. Lembaga Diklat yang konvensional, belajar itu terjadi karena ada instrukut (widyaiswara) yang mengajar. Lembaga Diklat yang tranformatif akan mampu mengembangkan dan mengelola program BEBAS (Belajar yang Berbasis Aneka Sumber).

C. PENGARUH TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Teknologi telah merupakan bagian integral dalam setiap masyarakat. Makin maju masyarakat makin banyak teknologi yang dikembangkan dan digunakan. Bagi sebahagian orang menganggap teknologi mampu memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi. Demikian halnya dengan teknologi pendidikan sebagai suatu bidang kajian ilmiah, senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang terus mendukung dan berupaya mengatasi masalah-masalah pendidikan.
Pengaruh teknologi pendidikan pada lembaga pendidikan dan pelatihan cukup besar antara lain:
1. Teknologi pendidikan membuka wawasan tentang terjadinya perubahan lingkungan strategis, terutama karena berkembangnya ilmu dan teknologi, sehingga diperlukannya inovasi dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan.
2. Penyusunan bahan pada Diklat. Biasanya disajikan oleh widyaiswara profeisonal. Namun dengan adanya bahan ajar yang disajikan melalui film, televise dan media lain maka penyusunan bahan dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama tim. Jadi baik orang maupun cara penyusunan bahan Diklat mengalami perubahan.
3. Mutu bahan ajar akan lebih dijaga, karena melalui teknologi pendidikan bahan ajar tersebut dapat disebarluaskan ke masyarakat.
4. Dengan adanya media untuk Diklat maka akan ada keseragaman bahan yang diperoleh oleh peserta. Pengadaan makalah atau bahan ajar telah mengarah pada keseragaman, namun dengan adanya media lain seperti radio dan televise maka keseragaman itu akan lebih terjamin. Hal ini terutama pada penyelenggraan pendidikan maupun pelatihan kelas jauh.
5. Berkembangnya pengertian dan tugas nara sumber pada Diklat. Bila selama ini nara sumber harus berinteraksi langsung dengan peserta Diklat maka dengan perkembangan teknologi pendidikan nara sumber dapat mempersiapkan modul cetakan atau data terprogram dan melalui media dia berinteraksi dengan peserta dimana dan kapan saja.

Teknologi pendidikan telah mampu mengatasi masalah khususnya pada lembaga pendidikan dan pelatihan. Misalnya, mempermudah mempelajari konsep yang abstrak, mudah mengatamati objek yang terlalu kecil/ besar, mudah menggambarkan peristiwa yang telah lalu, mudah memperoleh pengalaman langsung serta pemanfaatan waktu pendidikan dan pelatihan yang lebih efektif dan efisien.
Beberapa penerapan teknologi pendidikan secara menyeluruh, meliputi semua komponen yang merupakan system, dapat dicontohkan sebagai berikut:
1. Proyek percontohan sistem PAMONG (Pendidikan anak oleh Masyarakat, Orang Tua, dan Guru) di kabupaten Karanganyar, Surakarta pada tahun 1974, dan disebarkan di kabupaten Malang dan Gianyar pada tahun 1978.
2. Pemasyarakatan P4 melalui permainan yang diuji cobakan di kabupaten Batu, Malang.
3. Proyek pendidikan melalui satelit (Rural Satellite Project) di perguruan tinggi wilayah Indonesia bagian Timur (BKSPT INTIM).
4. Program pendidikan karakter melalui serial televise ACI (Aku Cinta Indonesia = Amit, Cici, dan Ito) = serial televise (pendidikan) pertama (dan terakhir).
5. Program KEJAR Paket A dan B.
6. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
7. SLTP Terbuka.
8. Universitas Terbuka.
9. Sistem belajar jarak jauh yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan.
10. Jaringan sistem belajar jarak jauh (Indonesia Distance Learning Network = IDLN) dan SEAMOLEC (SEAMEO Open Learning Center) yang berkedudukan di Pustekkom Diknas.
Namun, pengaruh-pengaruh yang telah diungkapkan pemakalah diatas tidak serta merta positif dan berjalan lancar. Ia akan mempunyai akibat-akibat lebih lanjut yang menyangkut organisasi, personal, biaya, nilai dan norma dan sebagainya yang dapat mengarah kepada pengaruh-pengaruh negatif.
Sebagai akhir makalah ini kami mengutip azas manfaat dari teknologi pendidikan yang merupakan pendapat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dalam Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan di Yogyakarta yang dapat dinyatakan sebagai berikut:
“Teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan real yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu (i) tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; (ii) keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa, antara lain, penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai sarana pendidikan, dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan; (iii) penyempurnaan system pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai dengan tantangan jaman dan kebutuhan pembangunan; (iv) peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber pendidikan; (v) penyempurnaan pelaksanaan interaksi antara pendidikan dan pembangunan di mana manusia dijadikan pusat perhatian pendidikan.”

Perlu disadari bahwa semua bentuk teknologi, termasuk teknologi pendidikan, adalah sistem yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Oleh karena itu teknologi itu pada hakekatnya adalah tidak bebas nilai, karena terkandung adanya aturan etik dan estetika dalam penciptaan dan penggunaannya. Namun ada orang-orang tertentu yang menyalahgunakan makna dan/atau penggunaannya, dengan menganggap teknologi itu value-free atau empty of meaning.

DAFTAR PUSTAKA
AJ, Romiszowski, Designing Instructional Systems, Decision Making in Course Planning And Curriculum Design, New York: Nichols Publishing, 1981
Miarso ,Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2007, cet. 3
Nasution, S., Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), cet. 4
Warsita, Bambang, Teknologi Pembelajaran: Landasan & Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipts, 2008, cet. 1,
http://re-searchingies.com./Ishak.1108.html.
Ikadeksuartama.blogspot.com/…/aplikasi-teknologi-pendidikan.html-tembolok.
Yusufhadi.net/wp-content/…/konstribusi-teknologi-pendidikan-dalam-2.doc.
http://www.geogle.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s