Pengembangan Program Pendidikan Luar Sekolah

Pengembangan Program Pendidikan Luar Sekolah

Pendahuluan
Pendidikan luar sekolah yang dicanangkan pemerintah sebagai subsistem dari pendidikan nasional, hingga saat ini diperlakukan tak lebih sebagai ‘anak tiri’ yang kurang diperhatikan. Selain itu, program pendidikan luar sekolah memang belum bisa dilaksanakan secara optimal. Padahal melihat tujuan pokok dari pendidikan luar sekolah sebetulnya mampu memberikan pelayanan khusus bagi masyarakat berdasarkan kebutuhannya, juga berperan dalam mendukung dan melengkapi pendidikan sekolah.
Namun rupanya karena hanya dianggap sebagai ‘pelengkap’, perhatian pemerintah pun tidak sepenuhnya tercurah terhadap program yang diperuntukan bagi masyarakat yang tidak pernah sekolah, penyandang buta aksara, putus sekolah dalam dan antar jenjang, pendidikan usia produktif yang sudah tidak sekolah dan tidak bekerja, penduduk yang tergolong miskin serta warga masyarakat lainnya yang ingin belajar ketrampilan untuk meningkatkan taraf hidupnya ini.
Data dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), angka buta aksara usia produktif 10-44 tahun masih 18% dari total jumlah penduduk Indonesia. Siswa SD yang mampu meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya hanya 11,6 %, ini artinya 88,4% lainnya membutuhkan ketrampilan untuk bekal hidupnya. Sensus nasional tahun 2002 mencatat angka pencari kerja meningkat menjadi 3,9 juta orang setiap tahunnya.
Besarnya angka putus sekolah dan masih tingginya masyarakat yang belum terlayani pendidikan formal merupakan alasan mendasar bagi pemerintah untuk mengupayakan Pendidikan luar sekolah (PLS).
PLS mempunyai tujuan melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin, membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, mencari nafkah ataupun melanjutkan jenjang pendidikan. Dan terakhir, memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan formal.
Ciri pendidikan luar sekolah adalah (1) luwes dalam hal kurikulum, tempat belajar, peserta didik dan usia. (2) Proses belajar terjadi di lingkungan masyarakat, baik dalam keluarga, kelompok belajar, kursus ataupun satuan pendidikan luar sekolah yang sejenis. (3) Tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
Program Pendidikan Luar Sekolah sudah mengentaskan buta aksara yang menjangkau 25.850 orang, pendidikan dasar melalui Paket A setara SD dan Paket B setara SLTP 246.495 orang, kelompok belajar usaha 42.445 orang, penyediaan beasiswa magang/ kursus 26.581 orang dan Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) di 12 Kabupaten/ Kota. Selain itu digunakan pula untuk Bantuan Pengelolaan bagi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) melalui kegiatan pelatihan untuk 1.293 orang.
Meskipun begitu jumlah ini baru menjangkau sebagian kecil dari warga masyarakat yang tidak tertampung pada pendidikan formal. Fasli Djalal menyebutkan sedikitnya ada lima masalah yang membuat program PLS ini belum bisa maksimal dijalankan.
Pertama, PLS belum mendapat pemahaman dan perhatian yang proporsional dari pemerintah maupun masyarakat dalam sistem pembangunan nasional, baik yang berkenaan dengan peraturan perundangan maupun dukungan anggaran, sehingga pemerataan pelayanan pendidikan bagi masyarakat di berbagai lapisan belum bisa dilakukan secara optimal.
Kedua, masih terbatasnya jumlah dan mutu tenaga profesional pada institusi PLS di tingkat pusat dan daerah dalam mengelola, mengembangkan dan melembagakan PLS. Ketiga, masih terbatasnya sarana dan prasarana PLS baik yang menunjuang penyelenggaraan maupun proses pembelajaran PLS dalam rangka memperluas kesempatan, peningkatan mutu dan relevansi hasil program PLS dengan kebutuhan pembangunan.
Keempat, terselenggaranya kegiatan PLS di lapangan tergantung pada tenaga sukarela yang tidak ada kaitan struktural dengan pemerintah sehingga tidak ada jaminan kesinambungan pelaksanaan program PLS. Kelima, partisipasi masyarakat dalam memprakarsai penyelenggaraan dan pelembagaan PLS masih relatif sangat rendah.
Dari evaluasi pelaksanaan program PLS tahun 2001, Fasli mengungkapkan, belum semua anak usia dini, anak usia wajib belajar tidak sekolah, penduduk buta huruf, penduduk usia produktif tidak sekolah dan tidak bekerja dapat terlayani melalui program ini.
Selain itu, belum semua program pembelajaran tersusun standar kompetensinya sehingga sulit untuk mengukur kualitas penyelenggaraan dan hasil keluarnya. Dari sisi manajemen, akurasi data untuk bahan evaluasi dan perencanaan atau program PLS sendiri masih lemah. Evaluasi kekurang berhasilan penyelenggarakan luar sekolah itu masih ditambah dengan situasi nasional dan internasional yang tidak kondusif, berimplikasi pada pelaksanaan program pertukaran pemuda antarnegara.
Mungkin karena sasaran pendidikan luar sekolah adalah masyarakat yang tidak tertampung di pendidikan formal, membuat masyarakat sendiri memandang pendidikan luar sekolah sama sekali ‘tidak bergengsi’.
Oleh karena itu, dalam makalah kami ini terdapat berbagai macam pengembangan program pendidikan luar sekolah yang mana nantinya program ini akan menjadi pengetahuan khusus untuk kita dalam pengembangan program- program pendidikan luar sekolah serta terwujudnya tujuan pendidikan itu sendiri yang khususnya dilaksankan dalam program pendidikan luar sekolah tersebut.

A. Populasi sasaran Program PLS
Ada beberapa dasar klasifikasi yang dapat dipakai untuk menunjukkan populasi sasaran dari program- program pendidikan luar sekolah. Dasar- dasar klasifikasi yang dimaksud adalah; seperti usia, jenis kelamin, lingkungan tempat tinggal, latar belakang pekerjaan, latar belakang pendidikan, dan latar belakang kelainan sosial.
Berdasarkan usia, populasi pengembanagan program pendidikan luar sekolah bisa dibagi ke dalam tiga kategori besar, yakni; usia anak- anak, usia pemuda/ remaja, dan usia orang dewasa.
Tingkatan usia berkaitan langsung dengan tingkatan perkembangan, baik dalam arti psikologi maupun sosial. Apa yang digemari, diminati dan menjadi kebutuhan dari populasi sasaran bisa jadi berbeda dikarenakan variabel usia perkembangan itu. Majalah Bobo misalnya, meskipun ia sudah dibuat sebaik mungkin, isinya toh lebih mengena dan khusus digemari oleh populasi yang berusia anak- anak saja.
Variabel jenis kelamin sudah jelas hanya terbagi dua yaitu, laki-laki dan perempuan. Sudah jelas ada yang bersifat kodrati dan berupa defenisi- defenisi kebudayaan yang menyebabkan lainnya harapan masyrakat tentang peranan- peranan yang semestinya dimainkan masing-masing. Apa harapan masyarakat terhadap peranan wanita, begitu pula halnya pada laki- laki. Misalnya program PKK, lebih mengena sebagai konsumsi wanita, sedangkan montir lebih cocok menjadi konsumsi kaum pria.
Variabel lingkungan tempat tinggal, bisa dibagi kedalam perkotaan, pinggiran kota, dan pedesaan. Masing- masing lingkunagan tempat tinggal mempunyai tuntutan hidup sendiri- sendiri, dikarenakan berbedanya lingkungan alam dan ciri- ciri perkembangan masyarkatnya. Orientasi pad jasa misalnya, lebih menegena pada konsumsi masyarakat perkotaan. insdustri kerajinan tangan, terasa lebih sesuai bagi masyarakat pinggiran kota. Sedangkan kemampuan pertanian dalam arti luas akan lebih cocok bagi masyarakat pedesaan.
Berdasarkan latar belakang pekerjaan, dibagi atas masyarakat belum pernah bekerja dan masyarakat yang berkecimpung di dunia kerjanya masing- masng berdasarkan latar belakang pendidikan, diklasifikasikan menjadi buta huruf, sudah mampu baca tulis, tetapi tingkat penegetahuannya belum memadai dan penegetahuan relatif yang sudah memadai. Berdasarkan kelainan sosial, warga masyarakat yang normal namun terlantar (yatim, piatu dan gelandangan), masyarakat yang mengalami penyimpangan sosial (penjahat, WTS dan pecandu Narkoba).

B. Langkah- Langkah Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah
Di dalam pengembangan program pendidikan luar sekolah, pada dasarnya mengikuti sejumlah langkah- langkah tertentu. Yang mana langkah- langkah tersebut adalah:
• Penentuan populasi sasaran
• Identifikasi kebutuhan pelajar
• Identifikasi sumber- sumber belajar yang relevan
• Penentuan strategi pelaksanaan pendidikan luar sekolah
1. Penentuan populasi sasaran
Penentuan populasi sasaran merupakan langkah pertama yang perlu secara tegas ditetapkan; penentuan tersebut bisa jadi menggambarkan berbagai variasi misalnya, pedesaan, usia muda, atau terbatas pada kaum wanitanya. Sosial populasi, sasaran tersebut sangat penting ditetapkan secara cermat dan jelas batasannya, perlu dihindari penetapan populasi yang bersifat mengambang. Jelas atau mengambangnya populasi sasaran akan menentukan langkah- langkah berikutnya.
2. Identifikasi kebutuhan pelajar
Setelah langkah pertama, selanjutnya perlu diikuti dengan langkah identifikasi terhadap kebutuhan belajar dari populasi sasaran tadi. Pada langkah ini, memang terutama bergerak pada apa-apa yang relevan dididikkan pada populasi sasaran, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan, atau sikap mental. Identifiaksi tersebut tentu saja dapat menggunakan berbagai tekhnik, asalkan tetap pada spesifikasi kebutuhan belajar, baik berdasarkan kebutuhan yang dirasakan maupun kebutuhan-kebutuhan belajar yang riil (objektif).
3. Identifikasi sumber-sumber belajar
Istilah sumber belajar menunjuk pada segala macam sumber, baik manusia maupun non- manusia yang memberi kemungkinan terjadinya kegiatan atau proses belajar dari populasi belajar. Sumber belajar yang berupa manusia misalnya, orang– orang yang terampil dalam masyarakat, orang-orang yang berpengetahuan luas, orang-orang yang berpengalaman atau orang-orang yang diperkirakan bernilai partisipasinya, membina dan mengembangkan populasi sasaran. Sedangkan sumber yang non- manusia misalnya, gedung, peralatan belajar, kelembagaan- kelembagaan fungsional dimasyarakat (sosial, ekonomi, pemerintahan dsb) dan mungkin juga terdapat sumber-sumber lainnya yang bernilai fungsional bagi terwujudnya kegiatan atau proses belajar dari populasi sasaran.
4. Penentuan strategi pelaksanaan kelembagaan
Menenetukan strategi pelaksanaan kelembagaan pada dasarnya bergantung pada hasil penemuan atau identifikasi langkah- langkah yang sebelumnya. Pada langkah keempat ini, dituntut untuk berpikir menyeluruh dan inovatif. Gambarnya harus tergambar dengan jelas, gambaran kekuatan yang dimiliki juga mesti terlukis dengan jelas, atas dasar itu perlu menetapkan” apa yang mau dicapai dan bagaimana caranya?”. Operasionalisasi tujuan perlu dilakukan, jalur- jalur yang akan ditempuh perlu ditegaskaan, bagaimana skuensi pengalaman belajar disepenjang jalur- jalur yang akan ditempuh juga mesti secara tegas teroperasionalkan, bagaimana bermainnya pada jalur- jalur tadi juga sangat penting ditegaskan batasan- batasannya, serta bagaimana memobilisir kekuatan– kekuatan yang dimiliki. Di dalam proses pelaksanaan mendidik populasi sasaran, berfikir model strategi tadi bisa berlaku di dalam pendayagunaan jalur- jalur manapun (pendidikan mulai kursus, pengajian- pengajian kelompok, modul dll). Begitu strategi terterapkan, selanjutnya tinggal pelaksanaan program pendidikan luar sekolah.

C. Jenis dan Sasaran Program PLS
Jenis program pendidikan luar sekolah dan isinya pada dasarnya bergantung pada kebutuhan pendidikan. Hal tersebut mudah dimengerti, sebab kehadiran program pendidikan luar sekolah memang berangkat dan bermuara pada kepentingan populasi sasaran, isi dan tujuannya senantiasa berorientasi pada hal- hal yang dirasakan sebagai kepentingan kehidupan. Bagian pendidikan pendidikan luar sekolah bergantung pada kelasifikasi yang digunakan dalam hal jenis program pendidikan luar sekolah. Dalam hal jenis program pendidikan luar sekolah, disini klasifikasinya didasarkan pada fungsi pendidikannya. Isi pendidikan, juga dibagi berdasarkan penglihatan terhadap fungsinya. Jenis program pendidikan luar sekolah berdasarkan fungsinya, ialah sebagai berikut:
1. Pendididkan Keaksaraan yaitu jenis program yang berhubungan dengan populasi sasaran yang belum dapat membaca dan menulis atau dikenal dengan pemberantasan buta huruf dengan sistem kursus, pengetahuan dasar. Targetnya adalah terbebas dari buta baca, baca tulis, buta nahasa indonesia dan buta pengetahuan umum fungsional bagi kehidupan sehari- hari.
2. Pendidikan Vokasional yaitu jenis program pendidikan yang berhubungan dengan populasi dan sasaran yang mempunyai hambatan dalam pengetahuan dan keterampilannya utnuk kepentingan bekerja atau mencari penghasilan.
3. Pendidikan Kader yaitu jenis program yang berhubungan dan populasi sasaran yang sedang atau bakal memangku jabatan kepemimpinan atau pengelola dari suatu bidang usaha di masyarakat, baik usaha bidang sosial, ekonomi maupun budaya.
4. Pendidikan Umum dan Penyuluhan yaitu jenis program yang berhubungan dengan berbagai variabel populasi sasaran, target pendidikannya terbatas pada pemahaman dan menjadi sadar terhadap sesuatu hal.
5. Pendidikan Penyegaran Jiwa Raga yaitu jenis program pendidikan yang berkaitan dengan pengisian waktu luang, pengembangan minat atau bakat serta hobi.
6. Taman Bacaan Masyarkat yang mana program ini bertujuan memberikan tempat atau wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan hobi membaca dan juga merangsang tumbuhnya minat baca warga masyarakat.
7. Pendidikan Kewanitaan yaitu program yang dikembangkan secara khusus pada wanita usia produktif, yang telah berkeluarga dan yang tergolong miskin.

Isi program pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan peningkatan mutu kehidupan seperti:
1. Pengembangan nilai- nilai etis, religi, estetis, sosial dan budaya
2. Pengembangan wawasan dan tata cara berpikir
3. Peningkatan kesehatan pribadi, keluarga dan lingkungan
4. Peningkatan dan pengembangan pengetahuan dalam arti luas (sosial, ekonomi, politik, ilmu- ilmu kealaman, bahasa, sejarah, dsb).

Kesimpulan
Pengembangan program pendidikan luar sekolah adalah suatu perubahan lebih terhadap sesuatu yang terencana, akan dan sedang terlaksana yang mana berkaitan dengan pendidikan formal. Dan dengan terwujudnya program pendidikan luar sekolah ini, nantinya akan menjadikan PLS salah satu sebagai jalan dalam terwujudnya pendidikan formal itu sendiri dan khususnya tjuan pendidikan sendiri. Sebagaiman tujuan PLS itu sendiri yakni;
a. PLS mempunyai tujuan melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin,
b. Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri,mencari nafkah ataupun melanjutkan jenjang pendidikan,
c. Dan terakhir, memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan formal.

Dalam pengembangan PLS sendiri didasarkan pada populasi dan sasaran. Antara lain:
a. Berdasarkan usia
b. Berdasarkan jenis kelamin
c. Berdasarkan jenis kelamin
d. Berdasarkan lingkungan tempat tinggal
e. Berdasarkan latar belakang pekerjaan
f. Berdasarkan latar belakang pendidikan
g. Berdasarkan kelainan sosial

Langkah- langkah pengembangan program PLS sendiri adalah:
a. Penentuan populasi sasaran
b. Identifikasi kebutuhan belajar
c. Identifikasi sumber- sumber belajar
d. Pengetahuan strategi pelaksanaan PLS

Jenis dan isi pengembangan program PLS antara lain:
a. Pendidikan keaksaraan
b. Pendidikan vokasional
c. Pendidikan kader
d. Pendidikan umum dan penyuluhan
e. Pendidikan penyegaraan jiwa raga
f. Taman bacaan masyarakat
g. Pendidikan kewanitaan

DAFTAR PUSTAKA

Faisal Sanapiah, Pendidikan Luar Sekolah, Usaha Nasional, Surabaya, 1981
Sihombing Umberto, Pendidikan Luar Sekolah, Mahkota, jakarta, 1999
http://www.bp3ls.dikmentidkia.go.id/skb- jaksel.php
SH/emmy kuswandari, artikel Pendidikan Luar Sekolah (internet)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s