Sejarah Peradaban Islam

MUHAMMADIYAH DAN AL – WASHLIYAH DI SUMATERA UTARA; SEJARAH, IDEOLOGI, DAN AMAL USAHANYA (Penulis Ali M Zebua adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Medan, 2011, Perodi MPI)

PENDAHULUAN

Walaupun negeri Minangkabau dan Mandailing bertetangga, namun kedua kelompok etnik ini sangat berbeda. Kelompok etnis Minangkabau sebagian besar adalah pemeluk Islam modernis yang memiliki tradisi matrilinear yang kuat, terutama dalam hal suksesi, pewarisan, identitas, legitimasi, dan cenderung untuk merantau. Sementara itu, kelompok etnis Mandailing sebagian besar dikenal sebagai muslim konservatif yang memiliki tradisi patrilinear yang kuat dalam hal suksesi, pewarisan, identitas, dan legitimasi serta lebih cenderung untuk melakukan perluasan territorial.[1]

Organisasi[2] Muhammadiyah, dimana etnis Minangkabau mendominasi kepengurusan dan keanggotaannya, semakin lama memperkuat pengaruh etnis Minangkabau di Sumatera Timur. Karenanya, etnik Mandailing merasa eksistensi mereka terusik dan terancam oleh ekspansi sekolah-sekolah Muhammadiyah yang dibangun dan dikembangkan etnik Minangkabau di Sumatera Timur, baik di kota maupun di desa. Dalam kenyataannya, sekolah-sekolah Muhammadiyah lebih disukai oleh anak-anak dan orang tua mereka ketimbang sekolah-sekolah Melayu dan Mandailing. Setidaknya, hal itu dikarenakan manajemennya lebih teratur, memberi pelajaran umum dan agama, dan mempunyai kegiatan ekstrakurikuler seperti kepanduan dan perkemahan, mirip dengan sekolah-sekolah Belanda. Kebanyakan guru sekolah Muhammadiyah berasal dari Minangkabau dan merupakan lulusan dari sekolah Islam modern, misalnya Sumatera Thawalib dan Diniah Putri. Mereka mengorganisir kaum wanita menjadi bagian khusus dari Muhammadiyah dengan nama Aisyiyah (nama isteri Nabi) dan membentuk Pemuda Muhammadiyah. Perantau minangkabau menawarkan fasilitas pendidikan mereka bukan hanya untuk perantau minang, melainkan juga kepada orang Melayu dan perantau Mandailing. Mereka mengajak kau wanita dan kaum muda untuk memasuki Muhammadiyah. Demikianlah orang Mandailing menghadapi tantangan dari gerakan Muhammadiyah yang kian hari semakin solid.

Melihat fakta di atas, penulis[3] mencoba melihat dari sisi yang berbeda di tinjau dari segi sejarah, ideologi, dan amal usaha dari dua organisasi besar Islam yang berada di Sumatera Utara yang hingga sekarang sama-sama berpengaruh terhadap pembangunan dan kemajuan Islam, khususnya di Sumatera Utara.

  1. A.    MUHAMMADIYAH[4]
    1. 1.      Sejarah Pembentukan Muhammadiyah di Sumut[5]

Kapan Muhammadiyah masuk ke Sumatera Timur? Oleh Bapak Kalimin Sunar dalam makalahnya seperti yang penulis kutip buku Porfil Muhammadiyah Sumatera Utara dijelaskan bahwa pengesahan berdirnya Muhammadiyah di Sumatera Timur adalah tanggal 1 Juli 1928, namun kegiatan propaganda (dakwah) gerakan Muhammadiyah sudah dimulai sejak tanggal  25 Nopember 1927 pada sebuah tempat[6] di Jalan Nagapatam Nomor 44 Kampung Keling, Medan.

Pada saat itu biasanya di sana berlangsung pengajian rutin. Tetapi kali ini berubah agenda menjadi rapat pembentukan organisasi Muhammadiyah. Pada tanggal 25 Nopember 1927 tersebut mulailah para perantau-perantau dari minangkabau yang sudah menetap di Sumatera Timur menghimpun kawan-kawan yang sepaham dengan Muhammadiyah, ditandai ketika muzakarah, dan yang shalat disekitar pajak (pekan) bundar (kini sudah dibongkar). Disanalah bertemu St. Juin, Mas Pono, Sutan Marajo, Kari Suib dan kawan-kawan lain dari Tapanuli, mereka sepakat mendirikan[7] Muhammadiyah. Maka didekatilah HR Muhammad Said, sebagai tenaga baru kekuatan Muhammadiyah.[8]

Pemimpin pertemuan pada saat itu adalah HR Mohammad Said[9]. Ia seorang cendekiawan dan aktivis politik (Sarikat Islam Pematangsiantar). Hr Mohammad Said juga dikenal sebagai pemimpin sebuah surat kabar (Pewarta Deli). Sebelum maupun sesudah pendirian Muhammadiyah Sumatera Timur (Sekarang Kota Medan, Sumut), beliau sudah kerap mewartakan organisasi ini kepada pembacanya.

Jika terdapat jama’ah yang berbilang, tentulah pengurus Muhammadiyah yang diputuskan saat itu tak cuma belasan orang: Hr Mohammad Said (Ketua), Djuin St Penghulu (Wakil), Maspono (Sekreraris), Pangulu Manan (Wakil), dan seorang advisor bernama Tandjung Moehammad Arief . Selain itu kepengurusan dilengkapi 5 anggota[10]: Kongo St Maradjo, Hasan St Batuah, Awan St Saripado, H Su’ip, dan Sutan Berahim.

Mengembangkan sayap pada masa sulit, HR Mohammad Said memimpin pengembangan Muhammadiyah dengan titik awal di sebuah kota terpenting (Medan). Frekuensi gerakan dakwah Muhammadiyah semakin ditingkatkan, dengan mendatangkan penceramah dari Sumatera Barat dan penceramah lainnya, yang terfokus pada masalah usholli, meluruskan arah kiblat, shalat pakai dasi, kenduri kematian, ziarah kubur (kuburan keramat), shalat Hari Raya dilapangan terbuka dan shalat lain 11 rakaat, terutama bulan ramadhan.[11] Setelah itu tercatatlah pertumbuhan cukup menggembirakan di berbagai kota dan pelosok lainnya. Kegiatan Muhammadiyah di Medan sama seperti di tempat lain yaitu: tabligh, mendirikan sekolah dengan memakai sistem gubernemen, membentuk organisasi wanita, kepanduan dan lain sebagainya.[12]

Di Sumatera Barat Muhammadiyah telah lebih dahulu berdiri (1925). Diperkirakan  beberapa tempat di Tapanuli juga lebih dahulu mengenal Muhammadiyah. Dalam beberapa catatan terpercaya, malah para pendatang dari Sumatera Barat telah memperkenalkan Muhammadiyah sambil menjalankan aktivitasnya berdagang atau kegiatan intelektual lainnya, bahkan sebelum tahun 1927 di daerah-daerah yang mereka datangi, termasuk wilayah-wilayah sekitar perkebunan di Sumatera Timur.

Dalam Seminar Sejarah Muhammadiyah Sumatera Utara (1990) Ketua PDM Tapanuli Selatan almarhum H Ruhum Harahap  menuturkan Muhammadiyah di daerahnya merupakan pengembangan langsung dari Sumatera Barat, dan secara resmi berdiri di Padangsidimpuan tahun 1930, disusul kemudian di Sipirok.  Dari data yang dihimpun HM Nur Rizali ditemukan beberapa catatan sejarah perkembangan dengan pola tertentu. Setelah satu tahun berdiri di Sumatera Timur  maka pada tahun 1928 berdiri cabang Muhammadiyah di Pancurbatu (18 Januari 1928) kemudian pada tahun 1929 berdiri pula di Tebing Tinggi (1 Mei 1929) dan Kisaran (23 Desember 1929).

Rupanya jarak antara satu dan lain tempat tidak selalu memudahkan pengembangan. Ini terlihat dari fakta bahwa meskipun Medan dengan Binjai atau Belawan begitu dekat, tetapi justru di kedua kota itu Muhammadiyah barulah berdiri resmi beberapa tahun kemudian. Tercatat bahwa di Binjai Muhammadiyah berdiri 20 Nopember 1930, bersamaan tahun dengan pendirian di Muhammadiyah cabang Glugur (1 Juli 1930) Pematangsiantar (27 Januari 1930) dan Tanjungbalai (12 Oktober 1930). Sedangkan di kota Belawan pada tahun 1933, bersamaan tahun dengan pendirian di kota Rantauprapat dan Gunungsitoli (Pulau Nias).

Tanah Karo sudah lama diangap penting bagi para missionaris[13]. Pada saat Muhammadiyah berdiri di sana (1936), beberapa gereja sudah berdiri sebagai hasil pekerjaan para missionaris itu. Begitu pun di Kota Berandan baru berdiri tahun 1939 [14], sedangkan pada tahun itu di tempat terpencil di pedalaman Tapanuli Utara seperti Sirihit-rihit, Aekbotik, Janji Angkola dan Sibulan-bulan sudah berdiri Madrasah.

  1. 2.      Ideologi Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam memahami dan mengamalkan Islam berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan menggunakan akal pikiran sesuai ajaran Islam. Pengertian al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam adalah kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. sedangkan sunnah Rasul adalah sumber ajaran Islam beruapa penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran dalam al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw. (matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah).[15]

Bagi Muhammadiyah, memahami Islam secara benar sangatlah menentukan beragama secara benar pula. Apabila faham tentang Islam itu tidak benar maka tidak akan benar menangkap hakekat dan citra ajaran Islam secara benar. Sehingga akan berpengaruh terhadap pengamalannya dalam kehidupan secara benar pula. Oleh karena itu, untuk memahami Islam perlu dasar yang kokoh dan benar.

Sebagai gerakan Islam modern, Muhammadiyah dalam membersihkan Islam dari pengaruh ajaran yang salah mendasarkan programnya  terhadap sistem pendidikan Islam, dan memperbaiki kondisi sosial kaum muslimin Indonesia pada saat itu. Diantara program-program ini maka pendidikan merupakan aspek yang sangat menonjol dari pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah pada saat itu. Sebagai gerakan yang berlandaskan agama, maka ide pembaharuan Muhammadiyah ditekankan pada usaha untuk memurnikan Islam dari pengaruh tradisi dan kepercayaan lokal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Ideologi[16] Muhammadiyah sendiri adalah sistem keyakinan, cita-cita dan arah perjuangan. Tujuannya adalah untuk terbentuknya perilaku individu dan kolektif seluruh anggota Muhammadiyah yang menunjukkan keteladanan yang baik (uswah hasanah) menuju terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Batang tubuh Muhammadiyah adalah: 1) Muqaddimah anggaran dasar Muhammadiyah. 2) Kepribadian Muhammadiyah. 3) Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah. 4) Pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. 5) Keputusan-keputusan Resmi Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah merupakan wujud pembinaan kualitas iman menuju ketaqwaan, karena dengan ungkapan lain religious spirituality yang tepat akan mempengaruhi segala bentuk dan langkah seseorang, dan pada gilirannya berpengaruh pada kerja keras, kerja cerdas, serta kerja ikhlas dalam suatu organisasi.[17]

  1. 3.      Amal Sholeh dan Amal Usaha Muhammadiyah

Tidaklah berkelebihan kalau dikatakan bahwa perserikatan Muhammadiyah adalah satu organisasi sosial masyarakat Islam Modern yang terbesar di seluruh Dunia Islam. Muhammadiyah dengan tambahan ya’ nisbah, Muhammad ditambah ya’ yang menunjukkan jenis, artinya Mengambil suri tauladan terbaik dari nabi Muhammad SAW. Dalam upaya menjadi pemimpin: (1) al Amin, (2) dalam berbisnis dan bewirausaha, (3) dalam kehidupan rumah tangga, (4) dalam berdakwah, (5) dalam menata tatanan sosial dan politik, (6) dalam menata sistem hukum, (7) system pendidikan dan (8) strategi perjuangan militer. Bahkan pada masa kini terdapat tuntutan (9) menata arus informasi dalam era global. Dalam kaitan ini usaha-usaha yang dilakukan Muhammadiyah banyak terkait dengan masalah-masalah praktis ubudiyah dan muamalah.

Disamping itu, tidak dapat disangkal bahwa keberhasilan kiprah usaha-usaha Muhammadiyah dibidang pendidikan dan pelayanan sosial kepada masyarakat sangat besar, kalau tidak hendak dikatakan luar biasa.[18] Seiring dengan usianya yang bertambah, Muhammadiyah Sumut sudah melahirkan berbagai amal usaha, baik dalam bidang Pendidikan (TK hingga Perguruan Tinggi[19]), Kesehatan (RS Muhammadiyah[20]/Aisyiyah), dan berbagai amal usaha lainnya yang tidak sedikit jumlahnya.

Secara garis besar, amalan-amalan Soleh dalam Muhammadiyah di antaranya dirumuskan dalam amal usaha[21], yang diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatannya yakni meliputi:[22]

1)      Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

2)      Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk kemurnian dan kebenaran.

3)      Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan amal sholeh lainnya.

4)      Meningkatkan harkat, martabat dan kualitas sumber daya manusia agar berkemampuan tinggi serta berakhlak mulia.

5)      Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta meningkatkan penelitian.

6)      Memajukan perekonomian dan kewirausahaan kearah perbaikan hidup yang berkualitas.

7)      Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

8)      Memelihara, mengembangkan dan mendayagunakan sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan.

9)      Mengembangkan komunikasi, ukhuwah dan kerjasama dalam berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri.

10)  Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

11)  Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas anggota sebagai pelaku gerakan.

12)  Mengembangkan sarana, prasarana dan sumber dana untuk mensukseskan gerakan.

13)  Mengupayakan penegakan hukum, keadilan, dan kebenaran serta meningkatkan pembelaan terhadap masyarakat.

14)  Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah.

  1. B.     Al – JAM’IYATUL WASHLIYAH
    1. 1.      Sejarah Awal Lahirnya Al – Jam’iyatul Washliyah[23]

Sejarah awal berdirinya Al Washliyah sangat erat sekali dengan awal perkembangan dari situasi dan kondisi yang ada di Sumatera Utara (yang dahulu disebut Sumatera Timur). Di mana Sumatera Timur merupakan wilayah kesultanan yang seiring dibukanya perkebunan besar, daerah ini kemudian menjadi terkenal walaupun hal ini menyebabkan semakin dikuranginya kekuasaan para sultan oleh penguasa Belanda yang pada akhirnya wewenang kesultanan itu hanya terbatas pada bidang keagamaan saja. Sehingga daerah ini menjadi migrasi dengan penduduk yang multi etnis.[24]

Dalam hal pendidikan keIslaman yang ada di Sumatera Timur saat itu masih bersifat tradisional, yang lebih dikenal dengan pengajian. Di Sumatera Timur sama dengan di beberapa daerah yang lain di Indonesia, pengajian itu dilakukan oleh anak yang mulai umur 6-12 tahun, selain itu mereka pada usia ini biasanya belajar di sekolah tingkat dasar.[25]

Dengan bertambah banyaknya perkebunan, maka perantau-perantau dari Mandailing bertambah banyak pula yang bermigrasi di Medan dan sekitarnya. Masyarakat Mandailing pada umumnya berpendidikan relatif tinggi dibanding masyarakat Melayu Sumatera Timur. Oleh karena itu tidak mengherankan bila mereka mendapat posisi yang lebih baik di masyarakat dengan pekerjaan sebagai guru agama, Qadi atau pegawai. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi saudagar kelas menengah.[26]

Dengan motivasi yang kuat Syekh Mohammad Ya’kub berusaha merealisasi keinginan tersebut, beliau berinisiatif untuk mengajak masyarakat Mandailing mengumpulkan dana untuk pembangunan maktab. Masalah pendanaan tidak menjadi sebuah kendala yang berarti, sebab di antara mereka itu terdapat pedagangan yang berada dan sukses. Akan tetapi, kendala yang muncul kemudian adalah dalam mencari tempat untuk dibuat sebuah maktab, apalagi lagi yang diinginkan untuk membantu maktab tersebut adalah di sekitar Kesawan yang terletak di jantung kota Medan.

Namun dengan adanya hubungan baik dengan masyarakat Melayu, akhirnya mereka mendapat sebidang tanah dari Datuk Haji Mohammad Ali, seorang hartawan Melayu yang banyak memiliki tanah di kampung Kesawan. Beliau memberikan sebidang tanah sebagai wakaf, dan sebagai nazhir (pengurus) tanah yang diwakafkannya itu ditunjukkanya Haji Ibrahim, penghulu kampung Kesawan dan juga Syekh Mohammad Ya’cub. Dalam surat wakafnya dicantumkan bahwa di tanah tersebut akan didirikan sebuah rumah wakaf tempat belajar ilmu agama Islam dan bila salah seorang dari nazhir tersebut meninggal, maka kedudukannya diserahkan kepada ahli warisnya.[27]

Gedung maktab ini dibangun gotong royong oleh masyarakat Tapanuli (Mandailing) yang menetap di Medan, dan selesai tepat pada tanggal 8 Maret 1918 dan kemudian diresmikan pada tanggal 19 Maret 1918. Bangunan maktab ini terdiri dari empat ruangan belajar dan satu ruangan administrasi. Peralatan gedung seperti meja, bangku dan lainya di peroleh dari sumbangan Mayor Tjong A Fie seorang dermawan Cina.[28] Maktab ini kemudian dinamakan dengan Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) yang dipimpin oleh Abdurrahman Syihab (putra seorang perantau Madailing, Haji Syihabuddin, qadhi Sultan Serdang), dan kemudian pengajian yang awalnya diadakan di rumah Syekh Ja’far dipindahkan ke maktab ini. MIT ketika termasuk lembaga pendidikan modern, sebab sudah menggunakan sistem kelas, namun tetap mempunyai ciri-ciri tradisional, sebab masih menggunakan sistem hafalan.

Al-Jam’iyatul Washliyah sendiri resmi berdiri pada hari minggu tanggal 30 November 1930 Masehi atau tepatnya 9 Rajab 1349 Hijrah di Medan.[29] Ide didirikannya organisasi ini berawal dari perluasan sebuah perhimpunan pelajar yang ada di MIT yang merupakan satu-satunya lembaga pendidikan agama yang ada di kota Medan, yang ide awal pembentukannya dilakukan oleh pelajar-pelajar kelas tinggi MIT yang membentuk kelompok diskusi pada tahun 1928 yang mereka namakan dengan “Debating Club” yang tujuannya adalah untuk mendiskusikan[30] pelajaran-pelajaran yang mereka pelajari di maktab.[31] Setelah beberapa pertemuan dengan para ulama, dalam sebuah pertemuan di rumah Muhammad Joenoes pada 26 Oktober 1930, para pelajar dan ulama mengeluarkan keputusan untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Al-Djam’iatoel al-Washlijah[32].

Adapun yang menjadi latar belakang utama dari berdirinya Al Washliyah paling tidak ketika itu di dorong dengan ada dua hal:[33]

1)      Semangat Nasionalisme

Al Washliyah itu berdiri pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu semangat ingin bersatu mulai timbul di tengah-tengah masyarakat. Di tanah air ketika itu telah lahir Budi Utomo, Syarikat Islam, Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan sederetan organisasi besar lainnya. Demikian pula persatuan umat Islam di Sumatera Timur ketika itu begitu kental, hal ini ditandai banyaknya Pesantren, Rumah Suluk, Pengajian dan Kelompok (perserikatan) umat Islam timbul di mana-mana.

2)      Latar Belakang Sosio Keagamaan dengan Munculnya Masalah Khilafiyah di Tengah Masyarakat

Memasuki abad ke 19 telah terjadi pertentangan dikalangan umat Islam khususnya di Sumatera Barat dan Sumatera Utara yaitu antara Kaum Tua (Islam Tradisional) yang mengamalkan ibadahnya menurut kebiasaan-kebiasaan kaum lama dengan paham baru yang dibawa oleh pelajar-pelajar Islam dari Timur Tengah dan India yaitu kaum Muda Moderat. Paham ini banyak melakukan pembaharuan dan menyatakan ibadah Kaum Tua adalah bid’ah.

Belum lagi ditambah kemultietnisan masyarakat di Sumatera Uatara ketika dengan banyaknya pendatang yang kemudian berakibat munculnya, berbagai pertentangan dalam berbagai hal. Salah satu diantaranya adalah pertentangan pemahaman keagamaan.

Persoalan yang sering terjadi biasanya terhadap masalah furu’iyah dan banyak pada masalah prinsipil, namun karena ada faktor lain yaitu faktor politik “adu domba” penjajah Belanda saat itu sangat mempengaruhi dan mempertajam sumber konflik sebagai perbedaan pandangan dan termasuk persoalan khilafiyah di antara umat Islam. Dalam kenyataannya perbedaan masalah furu’iyyah di antara kedua golongan sudah diambang bahaya, kelompok tua merasa berbeda lain dengan kelompok kaum muda dalam hal ini terwakili oleh Muhammadiyah,[34] bahkan diantara saudara kandung ada yang terpisah persaudaraannya karena aliran yang berbeda.[35]

Faktor sosio keagamaan dengan banyaknya bermunculan permasalahan khilafiyan ini, kemudian menjadi faktor utama pembentukan Dewan Fatwa Al Washliyah, sebagai lembaga khusus dalam keorganisasian Al Washliyah yang bertujuan untuk menyelesaikan persoalan hukum yang khususnya terjadi pada warga Al Washliyah khususnya dan masyarakat Islam di Sumatera Utara pada umumnya.

Pada awal pembentukkannya Dewan Fatwa ini diberi nama dengan Majelis Fatwa yang berdiri tepat pada 10 Desember 1933, tiga tahun setelah Al Washliyah resmi berdiri. Lembaga Dewan Fatwa ini dibentuk oleh kepengurusan Al Washliyah yang pertama. Kepengurusan pertama ini menyusun 7 (tujuh) bagian Majelis yang akan melaksanakan program kerja organisasi, yang salah satu di antaranya adalah Majelis Fatwa.[36]

  1. 2.      Ideologi Al – Jam’iyatul Washliyah

Memang, dalam bidang doktrin keagamaan terdapat perbedaan yang sangat jauh dengan Muhammadiyah, karena Al Washliyah berasaskan Islam dalam iktihad serta berpegang teguh dengan mazhab Syafi’I dan dalam I’tiqad Ahlu Al-Sunnah wa Al-Jama’ah[37]. Sehingga jika dibandingkan dengan organisasi Islam lainnya, apalagi dengan Muhammadiyah yang notabene adalah organisasi yang dianggap berseberangan dengan Al Washliyah.[38] Maka Al Washliyah sendiri adalah termasuk organisasi tradisional yang bisa mewakili kaum tua, sebab jika dilihat dari awal munculnya Al Washliyah adalah karena begitu kuatnya pengaruh Muhammadiyah yang mengklaim dirinya sebagai organisasi tajdid.[39]

Latar belakang dari didirikannya Muhammadiyah dapat dicari dari adanya perselisihan mengenai taqlid dan persoalan yang berkaitan dengannya antara kaum muda dan tua di Medan. Perselisihan ini masih dipertajam oleh perbedaan antara orang Padang dan Batak, sehingga kalau perselisihan itu dianggap sebagai kriteria untuk menilai Al Washliyah, maka Al Washliyah menurut Boland sebagaimana yang dikutip oleh Steenbrink dapat disebut sangat ortodoks dengan ejekan konservatif.[40] Meskipun Steenbrink sendiri menyatakan  bahwa tidak cukup objektif  kalau organisasi Al Washliyah hanya dilihat dari beberapa faktor yang negatif dan ekstrem saja, yaitu menolak cita-cita dari kelompok lain, sebab organisasi ini juga bisa dikatakan modern, ini karena cikal bakal berdirinya Al Washliyah adalah daripara pelajar MIT yang merupakan sekolah Islam modern di Medan saat itu.[41]

Namun dalam aspek pemahaman keagamaan Steenbrink menjelaskan bahwa cap “tradisional”, ia mencontohkan bahwa dari kumpulan fatwa yang diterbitkan oleh Al Washliyah, yang pada umumnya berasal dari fatwa Arsyad Thalib Lubis, yang awalnya adalah brosur-brosur kecil. Persoalan yang dibicarakan hampir sama dengan isi karya Sirajuddin Abbas dalam bukunya 40 Masalah Agama. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Taufik Abdullah yang mengkategorikan pola pemikiran ulama Al Washliyah ke dalam kelompok tradisional.[42] Namun menurut Steenbrink cap “reformis” juga bisa ditujukan kepada Al Washliyah, hal ini dibuktikan untuk mengirim mahasiswa ke Cairo serta usaha mendirikan sekolah umum, yang mengikuti model gubernemen.[43]

Dalam bidang keagamaan sesuai dengan fungsi yang diembannya, terkait persoalan hukum yang mereka keluarkan. Pendapat hukum yang mereka keluarkan hanyalah sebatas fatwa, yang dirujuk kepada pendapat ulama klasik. Di kalangan ulama Al Washliyah menganggap bahwa hanya para ulama terdahulu saja yang mampu menetapkan hukum karena:[44]

Tidak semua orang mempunjai kesanggupan mengeluarkan hukum dengan sendirinja dari dalam Quran dan Hadis karena untuk melaksakan pekerdjaan tersebut harus memenuhi berbagai sjarat. Harus mengerti benar bahasa Arab mempunyai pelengkapan tentang ilmu-ilmu jang dihadjatkan untuk memahamkan Quran dan Hadis dan berbagai sjarat lain yang diterangkan dalam kitab Ushul fiqih.

Al Washliyah melalui Dewan fatwanya berprinsip bahwa mereka tidak menolak ijtihad, tetapi karena mereka menganggap diri mereka belum memiliki kemampuan dan kapasitas intelektual yang memadai untuk melakukan ijtihad, sehingga mereka tidak merasa diri mereka sebagai mujtahid tetapi adalah mengambil sebuah keputusan fatwa mereka tetap berpedoman dengan AD/ART yaitu dengan berpedoman dan mengikuti (taqlid) dengan pendapat yang dinyatakan oleh mazhab Syafi’i.

Namun sebaliknya jika dibandingkan dengan aliran pembaharuan yang lainnya seperti Muhammadiyah dan Persis, mereka hanya mengakui Al Qur’an dan Hadis sebagai sumber hukum dan menolak bertaqlid. Menurut mereka taqlid ini akan menyebabkan manusia itu tidak mampu menggunakan akal sehingga timbul paham yang jumud (beku). Paham ini mengakibatkan manusia tidak mampu mengikuti perkembangan zaman karena menggangap pintu ijtihad telah tertutup. Di samping itu, Persis juga mengakui ittiba’ yaitu mengikuti satu pendapat dengan mengetahui dalilnya dari Al Qur’an dan Hadis. Menurut Deliar Noer, pengakuan tentang ijtihad dan kembali pada Al Qur’an dan Hadis sebagai sumber hukum seperti ini, tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berangsur-angsur, terkadang disebabkan oleh tantangan yang datang dari golongan tradisi. Ia memberi contoh Minangkabau, di sini taqlid diarahkan kepada golongan adat, sedangkan imam-imam pendiri mazhab tetap dihormati sebagai mujtahid.[45]

Ini sangat berbeda jauh dengan Al Washliyah yang secara jelas bertaqlidnya kepada mazhab Syafi’i, yang penegasan ini kemudian dicantumkan di dalam Anggaran Dasar Al Washliyah. Sebagaimana terlihat dalam Anggaran Dasar pada Pasal 2, yakni:[46]

“Al Washliyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang berakidah Islam, dan hukum fikih bermazhab Syafi’i dan dalam I’tikad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah”.

Berpaham dengan mazhab Syafi’i dimaksudkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan dengan menghimpun orang-orang yang sepaham untuk berjuang membangun sesuatu yang menjadi tuntutan agama demi kepentingan umat Islam dan warga Al Washliyah khususnya.

Penyebutan bermazhab Syafi’i bukan berarti Al Washliyah tidak menghormati pendapat mazhab lain. Karena Al Washliyah menyadari bahwa hukum adalah hasil ijtihad yang bersifat Sanni yang tidak mempunyai kebenaran absolut dan Al Washliyah bersikap tasamuh (toleran) terhadap segala perbedaan pendapat dan paham. Perbedaan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu membawa perpecahan umat. Penyebutan bermazhab Syafi’i di dalam AD supaya menunjukkan tempat berpijak dalam fikih sekaligus referensi hukum bagi Al Washliyah dalam menghadapi persoalan hukum yang timbul.[47]

  1. 3.      Amal Usaha Al – Jam’iyatul Washliyah

Untuk mengukuhkan asas dan mencapai tujuan Al Washliyah haruslah ada ikhtiar dan usaha yang digerakkan, antara lain:

a)      Mengadakan, memperbaiki, dan memperbuat hubungan persaudaraan umat Islam dalam dan luar negeri dan berbuat serta berlaku adil terhadap sesama manusia.

b)      Membangun perguruan-perguruan dan mengatur kesempurnaan pengajaran pendidikan dan kebudayaan. Pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan adalah merupakan factor yang sanagat menentukan bagi nilai-nilai pribadi dan masayarakat sepanjang zaman. Dia akan tetap mengalami perkembangan, satu waktu ia membentuk zaman dan di lain waktu ia dibentuk zaman.

c)      Menyantuni fakir miskin dan memelihara serta mendidik anak yatim piatu dan anak miskin. Anak yatim piatu fakir miskin adalah merupakan penyakit pribadi sebagai anggota masyarakat yang tetap dijumpai sepanjang zaman. Penyakit ini dapat diperbaiki atau pun dikurangi dengan penyantunan yang diberikan secara efektif, berencana, dan berprogram.

d)     Mengusahakan berlakunya hukum-hukum Islam.

e)      Mempersiapkan umat Islam dalam menegakkan dan mempertahankan kebenaran dan keadilan.[48]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Sejarah adalah sebuah dialog intelektual antara manusia dengan pengalaman kolektifnya pada masa lampau. Bahwa pengalaman itu kita harapkan mampu menangkap iktibar (pelajaran moral) untuk dijadikan acuan dan pedoman masa kini, dalam rangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan lebih cerah.

Sekalipun manusia tidak punya kemampuan untuk meramalkan masa depan secara pasti, namun Al Qur’an mengajarkan agar kita mempersiapkan masa depan itu secerdas dan secermat mungkin. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyar: 18).

Dari pengalaman kolektif masa lampau, diharapkan akan dapat melihat benang merah pemihakan Allah Swt. kepada perilaku sejarah tertentu, sebab dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Allah Swt. tidak bersikap netral, akan tetapi Allah Swt. sepenuhnya berpihak kepada mereka yang telah berhasil mengembangkan nilai-nilai taqwa dan ihsan (QS. An Nahl: 128). Muhammadiyah dan Al Washliyah merupakan fakta sejarah berdirinya dua organisasi besar di Sumtera Utara yang merupakan gerakan bersama dalam perubahan gerakan Islam yang lebih maju, serta menentang kemungkaran dari kelompok luar yakni penjajah, yang menjadikan sebuah aksi yang salah satu alasan negeri ini terbebas dari penjajahan. Namun, dibalik itu, sejarah juga membuktikan bahwa dua organisasi ini yang sama-sama memberantas penjajahan ini memiliki perbedaan paham dalam hal ibadah yang akhirnya mempengaruhi sosial dan kultural di Sumatera Utara.

Muhammadiyah yang disebut Kaum Muda menjadi sebuah gerakan tajdid (pembaharuan) yang membuka lembaran baru dalam reformasi gerakan berpikir Kaum Tua pada saat itu. Kaum Tua pada saat itu yakin bahwa praktik-praktik ibadah di luar hukum-hukum Islam-seperti tepung tawar, dan ibadah-ibadah kejawen lainnya-akan lenyap dengan sendirinya setelah umat Islam mengetahui kewajiban-kewajiban religius dan hukum agama, namun ditangan Kaum Muda hal ini tidak dapat diberikan tolerir. Kaum Muda menganggap toleransi Kaum Tua tersebut melemahkan Islam. Oleh sebab itu praktik-praktik ibadah tersebut harus diluruskan agar Islam kembali suci dari animisme, dinamisme, kejawen, hindu, budha, dan adat, yang semuanya itu telah mengotori kemurnian Islam di Indonesia dan khususnya di Sumatera Utara. Di Sumatera Utara, Al Washliyah pun hadir dalam menjembatani perselisihan antara Kaum Muda dan Kaum Tua.

Membandingkan al-Washliyah dengan Muhammadiyah bukanlah dimaksudkan untuk melihat sisi doktrin keagamaan yang dianut keduanya, bukan berupaya justifikasi kebenaran dari salah satu organisasi. Sebab Muhamadiyah itu dikategorikan sebagai kelompok yang mewakili kaum Muda yang lahir karena menolak ajaran kaum Tua. Sedangkan al-Washliyah di sisi lain muncul dalam rangka menolak klaim bid’ah kaum muda terhadap kaum Tua, al-Washliyah dalam hal ini mewakili kaum tua yang berupaya membenarkan ajaran kaum Tua berdasarkan dalil-dalil syar’a, dan hal ini sesuai dengan makna Al-Djam’iatoel al-Washlijah yakni menghubungkan sesama manusia termasuk untuk mempertemukan dan mempersatukan dua kelompok yang berbeda ini.

Melihat hal tersebut di atas dalam menilai suatu peristiwa sejarah, tidak dapat digunakan ukuran-ukuran subjektif semata-mata, tetapi wahyu perlu dijadikan pedoman dalam memberikan pertimbangan moral terhadap episode sejarah di atas. Sebagai penikmat dan sekaligus pelaku sejarah, kita dapat menilai dan menyelidiki dengan menuntut bukti, fakta bukan fiktif, bila sejarah yang bukan faktual, maka gugurlah nilai sejarahnya. Oleh sebab itu “keegoisan” dalam menilai sejarah jangan didahulukan, tetapi sesuaikan dengan keyakinan (wahyu) dalam menilainya.

— Wallahu’alam —

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Majalah Soeara Moehammadijah” Nomor 4 Tahun 1939.

30 Tahun Muhammadijah Daerah Sumatera Timur. Medan: Panitian Besar Muhammadiyah, 1927-1957.

Abdullah, Taufik. Islam dan Masyarakat, Cet. I. Jakarta: LP3ES, 1987.

Al Rasyidin,dkk, Al Jami’yatul Washliyah. Medan: CAS & Perdana Publishing, 2011.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al-jam’iyatul Washliyah, Tahun 1987.

Anshori, M.A, H. Ari. “Ideologi Muhammadiyah dan Reaktualisasi Islam yang Berkemajuan dalam Dinamika Peradaban Kontemporer”. 2011.

Batubara, Ismed. Ja’far, ed. Bunga Rampai Al-Jam’iyatul Washliyah. Banda Aceh: AUP, 2010.

Bolan, The Struggle.

Djamil, Fathurrahman. Metode Ijtihad Majlis tarjih Muhammadiyah, cet. I. Jakarta: Logos, 1995.

Effendy, Muhadjir. Menggugat Pendidikan Muhammadiyah. Malang: Penerbit UMM-Press, 2005.

el-Hadidhy, Syahrul AR. et.al. Pendidikan Ke Al-Washliyahan. Medan, MPK Al-Jam’iyatul Washliyah, 2005.

Hasanuddin, Chalijah. Al-Jam’iyatul Washliyah Api Dalam Sekam. Bandung: Pustaka, 1988.

Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah Sekolah.

Kartodirjo, Sarto. Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: Gramedia, 1992.

Muhammadiyah; Pemberdayaan Umat? editor: M.A Fattah Santosa, Maryadi. Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam, h. 11. Lihat juga Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1982.

Pasha, Musthafa Kamal dan Ahmad Adaby Darban. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam-dalam Persepektif Historis dan Ideologis. Yogyakarta: LPPI UMY, 2003.

Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah; Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tanggal 8 s/d 11 Juli Tahun 2000. Jakarta: PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH 1421 H / 2000 M.

Pelly, Usman. Urbanisasi dan Adaptasi; Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: LP3ES.

Pijper. Fragmenta Islamica.

Profil Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan: 2005.

Salam, Solichin. Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia. Jakarta: NV Mega, 1956.

SteenBrink, Karel A. Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES,1986.

Sulaiman, Nukman. Peringatan ¼ Abad Al-Jam’iyatul Washliyah. Medan: PB Al-Jam’iyatul Washliyah, 1956.

Surya Negara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1996.

 

Sumber Internet :

http://www.al-washliyah.com

http://Muhammadiyahsumut.or.id/mengenang-pembesar-Muhammadiyah-hr-mohammad-said/

Lampiran 1

SEKRETARIAT PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH SE-SUMUT

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA MEDAN

Jl. Mandala By Pass No. 140-A, Medan 20224

Telp. 061-7363367; Fax. 061-3720547

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TAPANULI SELATAN

Jl. S Parman No. 16 Samping SMA Muhammadiyah 1, Kota

Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan 22718 Telp. 0634-21595

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN DELI SERDANG

Komplek Masjid Taqwa

Jl. Diponegoro No. 1 Lubuk Pakam, Deli Serdang 20511

Telp. 061-7957218 / 085261044375; Fax. 061-7957218

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA TEBINGTINGGI

Jl. Sisingamangaraja No. 47, TebingTinggi 20625, Kotak Pos 53

Telp. 0621-326804

PIMPINANDAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TAPANULI TENGAH

Jl. Padang sidempuan Km 10,5 No. 36 Pandan Komp Masjid Taqwa

Pandan, Tapanuli Tengah 22611 Telp. 0631-23745, 24216

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LABUHAN BATU

Jl. KHA Dahlan No. 94 Rantau Prapat, Labuhan Batu 21412

Telp. 0624-23450; Fax. 0624-21486

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN NIAS

Jl. Diponegoro No. 29 Kel Ilir Gunung Sitoli, Nias 22815

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN SIMALUNGUN

d/a. Ponpes Muhammadiyah Darul Arqam Kerasaan I

Kec. Pematang Bandar, Kab Simalungun 21186, Sumatera Utara

Telp. 0622-64052; Fax. 0622-64052

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LANGKAT

Jl. Kalimantan (SMU Muhammadiyah 04) Pangkalan Berandan, Langkat, Sumatera Utara 20857

Telp. 0620-20811; Fax. 0620-323190

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN ASAHAN

Jl. Madong Lubis No. 8 Mutiara, Kisaran Timur, Asahan 21223

Telp. 0623-42557; Fax. 0623-42557

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TANAH KARO

Jl. Masjid No. 38 Kabanjahe 22114, Tanah Karo Telp. 0628-20444

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA BINJAI

Jl. Perintis Kemerdekaan No. 122, Binjai 20743 Telp. 061-8820411

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN DAIRI

Jl. Sudirman No. 88 Sidikalang, Kab. Dairi 22211 Telp. 0267-21699

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA PEMATANG SIANTAR

Jl. Merdeka No. 271, Pematang siantar 21118

Telp. 0622-26606, 29079

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TAPANULI UTARA

Jl. Pembangunan Gang Cendana No. 8/17 Tarutung 22412

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA SIBOLGA

Jl. D.E. Sutan Bungaran Panggabean no. 20 Sibolga

Telp. 0631-26094; Fax. 0631-26094

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN MANDAILING NATAL

Jl. Merdeka No.127 Kayu Jati, Panyabungan, MADINA 22919

Telp. 0636-321629; Fax. 0636-321629

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA TANJUNG BALAI

Jl. Taqwa 38 A (SMP Muhammadiyah), Tanjung Balai 21316

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

Komplek Masjid Taqwa, Jl. Sudirman No. 46 Sei Rampah,

Kab Serdang Begadai Telp. 0621-41094

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN BATUBARA

Jl. Sudirman No. 122 Indrapura Kec. Air Putih, Kab Batubara 21256

Telp. 08126218518

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN PAKPAK BARAT

Mushalla Taqwa, Jl. Runding, desa Sibande, Kec. STTUJ,

Kab. Pak Pak Bharat

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LABUHAN BATU SELATAN

Jl. Prof. H.M. Yamin SH, Kotapinang, Labuhan Batu Selatan,

Telp. 0624-95344; Email: pdm_kotapinang@yanoo.com

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA PADANGSIDEMPUAN

Jl. Imam Bonjol No. 42 Kota Padangsidempuan Telp. 0634-24973

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA

Komplek SMK Muhammadiyah 3 Kualuh Hulu

Jl. KH. Ahmad Dahlan Labuhan Batu Utara

Telp. 0624-692995 / 081375680950 (Ketua)

Sumber:http://Muhammadiyahsumut.or.id/sekretariat-pimpinan-daerah-Muhammadiyah-sumut/

Lampiran 2

PENGURUS WILAYAH AL WASHLIYAH

 

NAD
Jl. Soekarno Hatta No. 10 Ketapang Dua,Banda Aceh
Telp. 0651-42560

SUMATERA UTARA
Jl. Sisingamangaraja No. 144 Medan  20217
Telp/Fax. 061-7365758

SUMATERA BARAT
Komplek Cemara II Jl. JJ No. 14 Gunung Pangilun,Padang
Telp. 0751-7875439

R I  A U 
Jl. Jend. Ahmad Yani No. 70 Pekanbaru
Telp. 0761-20030

KEPULAUAN RIAU 
Komplek Anggrek Mas Blok G No. 45 Batam-Indonesia 29432
Telp. 0778-463697

BENGKULU 
Jl. Tongkol Rt. 1 No. 175 Belakang Masjid Malabro,Bengkulu
Telp. 0721-251584/784950 atau 073620143

SUMATERA SELATAN 
Jl. Rambutan No. 10 Palembang 30144
Telp. 0711-312040

LAMPUNG
Jl. Raden Patah Gg. Mastiga Rt. 002/03 No. 2 Lingk. I Kaliawi,Tanjung Karang
Telp. 0721-251584/784950

BANTEN
Jl. Trip Jamaksari Gg Gelatik Rt. 01/15 No. 4 Bungur Indah,Tangerang
Telp. 0254-202347

DKI JAKARTA 
Jl. Jurug Raya No. 20 Pondok Kelapa,Kali Malang,Jaktim
Telp. 021-8646574/8657928

JAWA BARAT 
Jl. Kawaluyaan VI RT. 05 RW. 06 Kelurahan Sekejati Kecamatan Buah Batu Kota Bandung 40286 Tlp (022) 7332378,7332378 Fax (022) 7332378

JAWA TENGAH 
Jl. Raya Solo Purwodadi KM 12 Rt. 05/I Tuban,Gondang Rejo,Krg Anyar

BALI
Jl. Gg. Seraya I No. 25 Denpasar
Telp. 0361-482430/481630

D.I. YOGYAKARTA

NUSA TENGGARA BARAT 
Jl. Oscar No. 12 Perumahan Sandik Indah Batu Layar,Lobar NTB

NUSA TENGGARA TIMUR
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 3 Kupang

KALIMANTAN BARAT
Jl. Bakri Gg. Paten Blok M 3 No. 13 Pontianak Barat
Telp. 0561-770768

KALIMANTAN TENGAH 
Jl. Taurus II No. 226 Komp. Perumahan Amaco Baru,Palangkaraya
Komplek IAIN Antasari No. 10
KALIMANTAN SELATAN

Jl. A. Yani Km 4,5 Banjarmasin,Kalimantan Selatan Telp. 0511-3250767

KALIMANTAN TIMUR
Jl. Gunung Cermai No. 7 Samarinda
Telp. 0541-736927

SULAWESI UTARA 
Jl. Sungai Siak No. 55 Ketang Baru,Manado
Telp. 0431-855173

SULAWESI TENGAH
Jl. Miagas III No. 1-B Palu,Sulawesi Tengah  94112
Telp. 0451-427516

SULAWESI TENGGARA 
Jl. Sungai Wanggu II No. 8 Kel. Bende Wua-Wua,Kendari
Telp. 0401-394135/390607

SULAWESI SELATAN 
Jl. Gunung Merapi No. 86-A/7 Ujung Pandang

SULAWESI BARAT

MALUKU 
Jl. Bandeng No. 28 Blok IV Perum Perumnas Tual

MALUKU UTARA
Jl. Batu Angus Kel. Dufa-Dufa Kota Ternate,Maluku Utara
Telp. 0921-24346

JAMBI
Jl. Pattimura Lr. Masjid RT. 05 No. 42 Kenali Besar,Jambi

BANGKA BELITUNG 
Jl. Manggis No. 1 Pangkal Pinang,Bangka Belitung
Telp. 0717-431747 Fax. 0717-431917

Sumber:http://www.Al Washliyah.com/keorganisasian/pengurus-wilayah

Lampiran 3

STRUKTUR PB AL WASHLIYAH

Susunan Personalia Dewan Fatwa Al Washliyah periode 2010 -2015

Ketua                         :K. H. M. Ridwan Ibrahim Lubis

Wakil Ketua               :Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid,MA

Wakil Ketua               :Dr. H. Syarbaini Tanjung,MA.

Sekretaris                   :Musthafa Abdul Aziz Dahlan,MA

Wakil Sekretaris         :Muhammad Natsir,Lc,MA.

Wakil Sekretaris         :Drs. H. Abdul Aziz Ritonga,MA.

Anggota-Anggota     :

  1. Prof. Dr. H. Yusran Salman
  2. KH. Chaidir Abdul Wahab,MA
  3. Drs. H. Syarifuddin El Hayat,MA
  4. Dr. Ahmad Qarib,MA
  5. Ustadz H.  Hafidz Yazid
  6. Drs. H. Hafidz Ismail.

Susunan Personalia Dewan Pertimbangan  Al Jam’iyatul Washliyah

Periode 2010 -2015

KETUA                  :  DR. H. MASLIN BATUBARA

Wakil Ketua            :  Drs. H. Hasbullah Hadi,SH. M.Kn

Sekretaris                :  Drs. H. Ahmad Hamim Azizy,MA

ANGGOTA-ANGGOTA

  1. (Letjend. Purn. TNI) H. Sudi Silalahi
  2. H. Chairuman Harahap,SH,MH
  3. K.H. Aziddin,SE
  4. H. Abdul Wahab Dalimunthe,SH
  5. Drs. H. Sulaiman Daudy
  6. Drs. H. Yahya Tanjung
  7. Ir. H. Azwar Abubakar,MM
  8. Dr. Tata Z. Muttaqin
  9. Drs. H. Miswar Sulaiman
  10. Ibnu Pratomo

Susunan Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah

Periode 2010 – 2015

KETUA UMUM      :PROF. DR. H. MUSLIM NASUTION,MA

Wakil Ketua Umum:Dr. H. Yusnar Yusuf,MA

KETUA-KETUA

Ketua Bidang Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Asset:Prof. Dr. Syahrin Harahap,MA

Ketua Bidang Pengkaderan:Ir. H. M. Yusuf Pardamean

Ketua Bidang Dakwah :Drs. H. Masyhuril Khomis,SH.

Ketua Bidang Pendidikan:Drs. H. Ismail Effendy,M.Si

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan:Dr. H. Rahman Dahlan,MA.

Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi Keummatan:Dr. H. Halfian Lubis,SH. MA.

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga:Drs. H. Irgan Chairul Mahfizh

Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat:Drs. H. Lukman Hakim Hasibuan

Ketua Bidang Luar Negeri:H. Abdul Mun’im Ritonga,SH,MH.

Ketua Bidang Amal Sosial :Drs. H. Aris Banaji

Ketua Bidang Hukum dan Ham:R. Akbar Lubis,SH.

SEKRETARIS JENDERAL :  PROF. DR. RUSYDI ALI MUHAMMAD,MA.

Sekretaris                                           :Drs. Haris Sambas

Sekretaris                                           :A. Dolly  Kurnia Zainuddin Tanjung,MA

Sekretaris                                           :Ir. H. Amran Arifin,MM. MBA.

Sekretaris                                           :Deding Abdul Fattah

BENDAHARA UMUM :H. M. NATSIR ADNAN,SH

Bendahara                                          :H. Gio Hamdani

Bendahara                                          :Drs. H. Syaiful Wathan

ANGGOTA – ANGGOTA:

Mayor Jend. (Purn) Pol. H. Hamdan Mansyur

Ir. H. Leo Jamarial Damanik,M.Sc.

Hendro Saryanto,SH,M. Hum

Drs. H. Ahmad Ikhyar Hasibuan

Prof. Dr. H. Kamrani Bussyeri,MA.

Drs. Khoiruddin Hsb,M.Ag.

Drs. H. Pangihutan,SH,MH

Drs. Hotrun Siregar

Tk. Zulfahmi Zaiwi,SE,MM.

Drs. Amar Nasution

H. Oman Syahroman

Drs. Muzakkir Samidan,SH. HM

H. Pangadilan Daulay,MA

Sumber: http://www.Al Washliyah.com/about/struktur-pb


[1] Dikutip dari Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi; Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing (Jakarta: LP3ES), h. 185. Lihat dalam buku Al Rasyidin,dkk, Al Jami’yatul Washliyah (Medan: CAS & Perdana Publishing, 2011), h.3.

[2] Muhadjir Effendy menegaskan bahwa jati dri Muhammadiyah itu adalah gerakan (Movement). Jadi bukan organisasi. Kemudian kata gerakan itu di dalam anggaran dasrnya dijabarkan lebih lanjut sebagai “Gerakan dakwah amar makruf nahi munkar”. Lihat dalam Muhadjir Effendy, Menggugat Pendidikan Muhammadiyah (Malang: Penerbit UMM-Press, 2005), h.iii.

[3] Makalah ini dipersentasikan pada materi perkuliahan Sejarah Peradaban Islam (Perodi MPI,  Pascasarjana IAIN Medan, 2011), oleh Ali M Zebua.

[4] Muhammadiyah secara umum didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan tanggal 18 November 1912 Miladiyah di Yogyakarta untuk jangka waktu tidak terbatas (Lihat Anngaran Dasar Muhammadiyah Bab I, Pasal 2 tentang Nama, Pendiri, dan Tempat Kedudukan). Secara singkat lahirnya gerakan Muhammadiyah disebabkan dua faktor, yakni faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu; pertama, kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, karena merajalelanya perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat yang menyebabkan umat Islam menjadi beku; kedua, keadaan bangsa Indonesia dan umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran; ketiga, tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat; keempat, lembaga pendidikan Islam tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik, dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno. Sedangkan faktor ekstern terdiri dari pertama, adanya penjajahan Belanda di Indonesia; kedua, kegiatan dan kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen Katolik di Indonesia; ketiga, sikap sebagai intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman; keempat, adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya, lihat dalam Solichin Salam, Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia, (Jakarta: NV Mega, 1956), h. 55-56.

[5] Sebagian dikutip dari situs resmi Muhammadiyah Sumut: http://Muhammadiyahsumut.or.id/mengenang-pembesar-Muhammadiyah-hr-mohammad-said/ (Artkel ini diposting tanggal 22 Juni 2011). Di unduh pada tanggal 19 Desember 2011.

[6] Tempat pertemuan itu kini sudah berubah nama menjadi Jalan Kediri. Rumah itu smpai kini masih ada, namun nampaknya dalam penguasaan orang lain.

[7] Gerakan awal ini dirintis sejak tahun 1923, terutama oleh Mas Pono.

[8] Baca dalam Profil Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan: 2005), h.4-5.

[9] HR Mohammad Said wafat tanggal 22 Desember 1939. HAMKA menceritakan perihal wafatnya tokoh besar ini dengan rinci. Tentang jumlah pelayat yang demikian besar, tentang pemberitaan media yang melukiskan perasaan kehilangan. Tetapi ada yang amat menarik, bahwa saat menyaksikan deraian air mata jama’ah yang menangisi kepergian almarhum HR Mohammad Said, dengan amat tegas HAMKA berkata: ”Apa yang kita tangiskan tuan-tuan? Siapa yang kita tangisi?  Padahal almarhum yang kita cintai ini wafat meninggalkan jasa yang amat besar. Kalau hendak menangis juga, sebaiknya tangisilah diri sendiri karena tidak mempunyai jasa sebesar almarhum HR Mohammad Said”. Dia juga merupakan pemimpin dan tenaga yang paling aktif dalam 10 tahun pertama dalam pembentukan Muhammadiyah di Sumut yang dahulu adalah ketua Sarekat Islam, lihat tentang Muhammadiyah di Medan: 30 Tahun Muhammadijah Daerah Sumatera Timur (Medan: Panitian Besar Muhammadiyah, 1927-1957), Lihat juga: Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah Sekolah (Jakarta: LP3ES,1986), h.76.

[10] Sebagian besar anggota pimpinan Muhammadiyah berasal dari Minangkabau, walaupun ada juga beberapa orang berasal dari Jawa dan Melayu. Dari sebelas anggota pimpinan, enam orang bergelar Sutan dan boleh diaggap sebagai orang yang berasal dari Sumatera Barat. Tidak seorangpun yang memakai nama Batak. 30 Tahun Muhammadijah Daerah Sumataera Timur, h. 100. Lihat juga: Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah…, h.77. Muhammadiyah di Sumatera Timur dikembangkan oleh mubalig dan pedagang yang merantau ke Sumatera Timur dari Minangkabau. Para perantau Minangkabau sangat tertarik kepada ide-ide Muhammadiyah yang relatif sama dengan ide-ide kaum Muda yang menolak bertaqlid kepada ulama fikih.

[11] Lebih lanjut lihat dalam buku Profil Muhammadiyah…, h.5.

[12] Pijper, Fragmenta Islamica, h. 166-167 memberikan gambaran yang menarik tentang penyebaran Muhammadiyah di daerah di luar Jawa.

[13] Aktivitas kristenisasi yang dilakukan oleh misi Katolik maupun Zending Protestan terhadap penduduk  pribumi yang telah beragama Islam terus berlangsung tanpa halangan dari  penguasa kolonial. Lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah, panti asuhan, dan rumah sakit yang didirikan oleh misi Zending sebagai pendukung utama dalam proses kristenisasi, secara reguler mendapat bantuan dana yang besar dari pemerintah. Sarto Kartodirjo, Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme, Jakarta: Gramedia, 1992, hlm. 52

[14] Pada tahun ini juga diadakannya Muktamar Muhammadiyah ke 28. Muhammadiyah Sumut saat baru berusia 12 tahun begitu berani menjadi tuan rumah Muktamar. Bayangkan lagi, saat itu Indonesia belum merdeka. Sebenarnya Muktamar ke 28 tahun 1939 di Medan adalah hasil pinangan ketiga setelah pinangan resmi yang diajukan pada Muktamar 25 (Betawi), Muktamar 26 (Yogjakarta) dan Muktamar ke 27 (Malang). Jumlah pengunjung yang tak kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) orang pada Muktamar ke 28 ini cukup melukiskan besarnya perhelatan tersebut (Data ini dicatat pada “Majalah Soeara Moehammadijah” Nomor 4 Tahun 1939).

[15] Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam-dalam Persepektif Historis dan Ideologis (Yogyakarta: LPPI UMY, 2003), h.43.

[16]  Selain itu, sejarah mencatat Muhammadiyah sebagai organisasi sosial pendidikan yang pertama menentang ideology komunis yang dikembangkan oleh Semaun, Darsono, dan Haji Misbach. Lihat dalam Ahmad Mansur Surya Negara, Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1996), Cet. III, h.220.

[17] Disampaikan Oleh: Drs. H. Ari Anshori, M.A. pada Pengajian Ramadhan 1432 H. Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahad, 7 Ramadhan 1432 H/7 Agustus 2011 M. Jam 15.30-17.30 WIB. Dengan Tema : “Ideologi Muhammadiyah dan Reaktualisasi Islam yang Berkemajuan dalam Dinamika Peradaban Kontemporer”. Lihat juga di dalam Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah; Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tanggal 8 s/d 11 Juli Tahun 2000 ( Jakarta: PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH 1421 H / 2000 M).

[18] Muhammadiyah; Pemberdayaan Umat? editor: M.A Fattah Santosa, Maryadi (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), h.3.

[19] Seperti UMSU yang didirikan pada 29 Februari 1957) atas prakarsa HM Bustami Ibrahim, dkk. UMSU kemudian memperkarsai berdirinya Universitas Tapanuli Selatan (1984), Sekolah Tinggi Ekonomi dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Kisaran-Asahan.

[20] Salah satunya RS Muhammadiyah Jl. Mandala By Pass, Medan, yang hingga kini masih eksis.

[21] Dahulu, pertama sekali dalam melawan penjajah, Muhammadiyah melakukan amal usaha berupa pembangunan dalam bidang pendidikan sebagai jawaban atas pendidikan Belanda yang pada saat itu dipersukar, diperlambat pembangunannya, dan diupayakan sebagai sarana pemecah-belah kehidupan rakyat pribumi. Oleh sebab itu, Muhammadiyah realitasnya melakukan politik pendidikan yang berpengaruh terhadap generasi muda. Dengan dibangunnya kepramukaan Hizbul Wathon (Cinta tanah air); Keputrian, Nasyiatul Aisyiyah. Selain itu, Muhammadiyah berhasil membangun sekolah sebanyak delapan buah Holland Indische School (HIS), sebuah Kweekschool (sekolah guru), 32 Indische School (sekolah rendah “kelas dua”), dan madrasah 14 buah, ini terjadi pada 1925. Kurikulumnya berbeda dengan sekolah-sekolah Belanda pada saat itu, karena ditambah dengan Pendidikan Agama Islam (HIS met de Quran). Seiring Muhammadiyah semakin luas cabangnya, maka pada tahun 1928 terdapat 150, 1929 terdapat 209, dan 1931 terdapat 267 cabang. Poliklinik yang dibangun di Yogya, Surabaya, Surakarta, Malang pada 1929 telah mengobati 81.000 orang pasien. Disaat masyarakat masih takut kepada dokter, polikliniknya mendapatkan perhatian masyarakat sebanyak itu. Lihat dalam Mansur Surya Negara, Menemukan Sejarah.., h.220-221.

[22] Lihat dalam Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Pasal 3 mengenai Usaha.

[23] Sebagian dikutip dari situs resmi Al Washliyah: http://www.al-washliyah.com. Di unduh pada tanggal 16 Desember 2011.

[24] Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul Washliyah Api Dalam Sekam, (Bandung: Pustaka, 1988), h.34-35.

[25] Pengajian itu biasanya dilakukan di masjid atau dirumah seorang ulama. Namun ada juga yang belajar langsung kepada orang tuanya masing-masing di rumah, yang biasanya waktunya itu dilakukan setelah maghrib.  Tujuan utama pengajian ini adalah hanya untuk dapat memberikan kemampuan kepada anak-anak itu agar dapat membaca Alquran. Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 16.

[26] Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 16.

[27] Ibid.

[28] Bantuan dari Mayor Tjong A Fie ini menunjukkan bahwa masyarakat Tapanuli di Medan mempunyai hubungnan baik dengan masyarakat Cina, antara lain hubungan dagang yang menyebabkan mereka saling berkepentingan. Penyebutan Mayor ini bukan merupakan kepangkatan dalam militer, tetapi karena beliua orang yang palang terpandang dalam etnisnya.

[29] Sehingga setiap tanggal 30 November diresmikan dan ditetapkan sebagai hari lahirnya “al-Jam’iyatul Washliyah”. Susunan yang pertama terdiri dari: Ketua H. Ismail Banda, Penulis (sekretaris) H. Muhammad Arsyad Tahlib Lubis, Bendahara H. Muhammad Ya’kub, Pembantu-pembantu H. Syamsuddin, Abdul Malik, Abdul Aziz Efendy dan Muhammad Nurdin. Kepada mereka diserahkan untuk segera menetapkan Anggaran dasar al-Washliyah. Lihat dalam:  Syahrul AR el-Hadidhy, et.al., Pendidikan Ke Al-Washliyahan (Medan, MPK Al-Jam’iyatul Washliyah, 2005), h. 2-4.

[30] Salah satu isi diskusi pada saat itu adalah mengenai pengucapan niat dulu atau tidak ketika shalat. Masalah ini dikenal dengan usolli. Menyikapi masalah tersebut, menjadi salah satu alasan didirikannya Al Washliyah.

[31] Perkumpulan atau kelompok diskusi pelajar seperti ini adalah hal yang sudah lumrah dan banyak dibentuk di kalangan pelajar-pelajar sekolah umum. Di Medan sendiri terdapat kumpulan pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Medan yang didirikan oleh pelajar-palajar Indonesia yang belajar di sekolah Belanda pada tahun 1926. akan tetapi pelajaran MIT tidak tergabung di dalam keanggotaanya, karena mereka belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Belanda, bahasa yang di pergunakan JIB. Mereka membentuk sebuah perkumpulan sendiri dengan nama Debating Club. Pemberian nama ini mengandung arti bahwa mereke berkeinginan berdiri sejajar dengan rekan-rekan pelajar Islam yang belajar di sekolah Belanda. Lihat dalam: Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 34-35.

[32] Nama ini diberikan oleh Syaikh HM Joenoes yang berarti perhimpunan yang memperhubungkan dan mempertalikan. Menurut analisis Ridwan Lubis, nama tersebut mempunyai dua makna dua dimensi. Pertama, memperhubungkan antara manusia dengan khaliqnya, Kedua memperhubungkan sesame manusia termasuk untuk mempertemukan dan mempersatukan dua kelompok yang berbeda, yakni Kelompok  Tua dan Kelompok Muda. Lihat dalam buku Nukman Sulaiman, Peringatan…, h.34-38.

[33] Syahrul AR el-Hadidhy, et.al., Pendidikan…, h. 2-4.

[34] Muhammadiyah sendiri didirikan oleh seorang ulama di Kauman, Yokyakarta, oleh Haji Ahmad Dahlan, bersama dengan teman-temannya pada tahun 1912. Tujuan mereka adalah memperbaiki praktek-praktek pelaksanaan ajaran Islam yang dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Menurut anggapan mereka ajaran Islam, telah banyak disusupi oleh unsur bid’ah dan khurafat. Untuk merealisir citra-citra ini, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berprinsip menolak taqlid dan menggalakkan ijtihad.

[35] Syahrul AR el-Hadidhy, et.al., Pendidikan…, h. 2-4.

[36] Duduk sebagai pengurus pertama adalah Syekh Mahmud Yunus (Penasehat) Ismail Banda (Ketua), Abdurrahman Syihab (Wakil Ketua) dan Mhd. Arsyad Thalib Lubis (Sekretaris), dan beberapa orang pembantu. Kepengurusun ini menyusun tujuh program kerja yaitu: (1). Tabligh (Ceramah Agama), (2). Tarbiyah (Pengajaran), (3). Pustaka/Penerbitan, (4). Fatwa, (5). Penyiaran, (6). Urusan Anggota, dan (7). Tolong Menolong. Lihat: Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 35-36.

[37] Hal ini sesuai dengan Anggaran Dasar Al-Washliyah BAB II Pasal 2 tentang Asas dan Akidah. Lihat juga di dalam buku Bunga Rampai Al-Jam’iyatul Washliyah, editor: Ismed Batubara, Ja’far (Banda Aceh: AUP, 2010), h.27. Maksudnya adalah bahwa setiap gerak, cita-cita, dan usah-usaha perhimpunan ini haruslah sesuai tuntunan dan ajaran Islam.

[38] Membandingkan al-Washliyah dengan Muhammadiyah dimaksudkan untuk melihat sisi doktrin keagamaan yang dianut keduanya, bukan berupaya justifikasi kebenaran dari salah satu organisasi. Sebab Muhamadiyah itu dikategorikan sebagai kelompok yang mewakili kaum Muda yang lahir karena menolak ajaran kaum Tua. Sedangkan al-Washliyah itu muncul dalam rangka menolak klaim bid’ah kaum muda terhadap kaum Tua, al-Washliyah dalam hal ini mewakili kaum tua yang berupaya membenarkan ajaran kaum Tua berdasarkan dalil-dalil syar’a.

[39] Identitas tajdid ini semakin menonjol setelah mukhtamar Muhammadiyah ke-42 di Yokyakarta tahun 1960, dalam salah satu putusannya berhubungan dengan identitas Muhammadiyah dengan menetapkan Ketua Bidang Tajdid, yang dalam struktur kepengurusan sebelumnya tidak pernah ada. Inilah yang kemudian menjadikan dasar kuat untuk menyatakan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Walaupun masih terjadi perbedaan pendapat tentang rumusan yang tepat dari tajdid itu, sampai akhirnya pada tahun 1989 pada mukhtamar ke-22 di Malang dirumuskan defenisi yang resmi bagi Muhammadiyah. Lebih jelas baca: Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majlis tarjih Muhammadiyah, cet. I (Jakarta: Logos, 1995), h. 57-59.

[40] Bolan, The Struggle, h. 75 lihat juga dalam Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah Sekolah, h. 78.

[41] Ibid.

[42] Cap tradisional ini menurutnya adalah karena kecendrungan tradisional para ulama Indonesia yang pada awalnya di dominasi oleh para ulama dari pesantren itu kemudian mereka itu tergabung ke daam organisasi formal, seperti Nahdlatul Ulama/NU (di Jawa), Persatuan Tarbiyah Islamiyah/Perti (di Sumatera Barat) dan al-Jam’iyah al-Washliyah (di Sumatera Utara). Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, Cet. I (Jakarta: LP3ES, 1987), h. 29.

[43] Lihat dalam: Karel A. SteenBrink, Pesantren…, h. 79.

[44] Peringatan 30 Tahun Muhammadiyah di Sumatera Timur  (Medan: Panitian Besar Muhammadiyah, 1927-1957), h.351.

[45] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam, h. 11. Lihat juga Harun Nasution, Pembaharusn Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), h. 64-65.

[46] Lihat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al-jam’iyatul Washliyah, Tahun 1987, h. 4.

[47] Pernyataan ini dinyatakan oleh Mhd. Arsyad Thalib Lubis, salah seorang ulama sekaligus pendiri al-Washliyah pada kata pengantar dalam buku Nukman Sulaiman, Peringatan ¼ Abad Al-Jam’iyatul Washliyah (Medan: PB Al-Jam’iyatul Washliyah, 1956), h.18-20.

[48] Al Rasyidin,dkk, Al Jami’yatul…, h.219-222. Lihat juga dalam buku Bunga Rampai Al-Jam’iyatul…, h.32-36.

Categories: Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

DINASTI FATHIMIYAH DI MESIR

DINASTI FATHIMIYAH DI MESIR:
SYI’AH BERTOLERANSI DENGAN SUNNI DAN NON MUSLIM

A. Pendahuluan
Dinasti Fathimiyah adalah salah satu dari Dinasti Syiah dalam sejarah Islam. Dinasti ini didirikan di Tunisia pada tahun 909 M. sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang terpusat di Baghdad, yaitu bani Abbasiyah. Dinasti Fatimiyah didirikan oleh Sa’id ibn Husain, kemungkinan keturunan pendiri kedua sekte Ismai’liyah.
Berakhirnya kekuasaan Daulah Abbasiyah di awal abad kesembilan ditandai dengan munculnya disintegrasi wilayah. Di berbagai daerah yang selama ini dikuasai, menyatakan melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah di Baghdad dan membentuk daulah-daulah kecil yang berdiri sendiri (otonom). Di bagian timur Baghdad, muncul dinasti Tahiriyah, Saariyah, Samaniyah, Gasaniyah, Buwaihiyah, dan Bani Saljuk. Sementara ini di bagian barat, muncul dinasti Idrisiyah, Aglabiyah, Tuluniyah, Fatimiyah, Ikhsidiyah, dan Hamdaniyah .
Dinasti Fathimiyah adalah merupakan salah satu dinasti Islam yang pernah ada dan juga memiliki andil dalam memperkaya khazanah sejarah peradaban Islam. Sama halnya pengutusan Muhammad SAW sebagai Rasulullah telah menoreh sejarah Islam, yang pada awalnya hanya merupakan bangsa jahiliyah yang tidak mengenal kasih sayang dan saling menghormati.
Jikalau ditarik garis horizontal sejarah Islam, maka akan diketahuilah bahwa dari sekian banyak sejarah peradaban Islam yang termaktub dalam buku-buku sejarah peradaban banyak terjadi pertumpahan darah hanya demi menegak dan mempertahankan kepemimpinan.
Maka adalah sangat janggal jika uraian makalah ini menganalisis persoalan sejarah dalam korelasi hubungannya terhadap konsepsi teologi, karena substansi pembahasan makalah ini, bukan untuk melihat sejarah masa lalu umat Islam yang mesti diapresiasikan oleh umat masa kini dalam rangka menakar dogma teologis ke arah yang lebih luas dan universal.

B. Fase Pembentukan Dinasti Fathimiyah.
Afrika Utara sampai tahun 850 M dikuasai oleh Bani Aghlab, meliputi wilayah Ifriqyah(Tunisia) dan sebagian pulau Sisilia yang merupakan negara bagian daulah Abbasiyah. Wilayah disebelah baratnya berkuasa Bani Rustamiah di Aljazair dan Bani idris di Maroko, sedangkan Spanyol berada dibawah kekuasaan Bani Umayyah II. Semua dinasti ini berkuasa sampai tahun 909 M. Namun sesudah tahun 909 M muncul sebuah dinamika baru, terbentuknya sebuah Negara Fatimiyah di Fathimiyah berdiri pada tahun 297 H/910 M, dan berakhir pada 567 H/1171 M yang pada awalnya hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berkedudukan di Afrika Utara, dan kemudian berpindah ke Mesir Dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad SAW dan sekaligus istri Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu. Dan juga dinasti ini mengklaim dirinya sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Zahra binti Rasulullah SAW. Namun masalah nasab keturunan Fathimiyah ini masih dan terus menjadi perdebatan antara para sejarawan. Dari dulu hingga sekarang belum ada kata kesepakatan diantara para sejarawan mengenai nasab keturunan ini, hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya ;
Pertama, pergolakan politik dan madzhab yang sangat kuat sejak wafatnya Rasulullah SAW.
Kedua, ketidakberanian dan keengganan keturunan Fatimiyah ini untuk mengiklankan nasab mereka, karena takut kepada penguasa, ditambah lagi penyembunyian nama-nama para pemimpin mereka sejak Muhammad bin Ismail hingga Ubaidillah al Mahdi .
Dinasti Fatimiyah beraliran syiah Ismailiyah dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al Salamiyah yang bergelar Ubaidillah al Mahdi. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika,, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan .
Pada awalnya, Syiah Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas, baru pada masa Abdullah bin Maimun yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah .

Silsilah Kekhalifaan Fatimiyah
1. Al-Mahdi (909-934) 9 . Al-Musta’li ( 1094-1101)
2. Al-Qa’im (934-946) 10. Al- Amir (1101-1130)
3. Al-Manshur (946-952) 11. Al-Hafizth (1130-1149)
4. Al-Mu’izz (952-975) 12. Al-Zafir (1149-1154)
5. Al-Aziz (975-996) 13. Al-Fa’iz (1154-1160)
6. Al-Hakim (996-1021) 14. Al-Adhid (1160-1171)
7. Al-Zhahir (1021-1035)
8. Al-Mustanshir (1035-1094)
Pasca kematian Abdullah ibn Maimun, tampuk pimpinan dijabat oleh Abu Abdullah al-Husain, melalui propagandanya ia mampu menarik simpati suku Khitamah dari kalangan Berber yang bermukim didaerah Kagbyle untuk menjadi pengikut setia. Dengan kekuatan ini, mereka menyeberang ke Afrika Utara dan berhasil mengalahkan pasukan Ziyadat Allah selaku Penguasa Afrika Utara saat itu .
Syi’ah Ismai’liyah mulai menampakkan kekuatannya setelah tampuk Pemerintahan dijabat oleh Sa’id ibn Husain al-Islamiyah yang menggantikan Abu Abdullah al-Husain. Di bawah kepemimpinannya, Syi’ah Islamiyah berhasil menaklukkan Tunisia sebagai pusat kekusaan daulah Aglabiyah pada tahun 909 M . Said memproklamasikan dirinya sebagai imam dengan gelar Ubaidillah al Mahdi.
Sa’id mengaku dirinya sebagai putera Muhammad al-Habib seorang cucu imam Islamiyah. Namun kalangan Sunni berpendapat bahwa Sa’id berasal dari keturunan Yahudi sehingga dinasti yang didirikannya pada awalnya disebut dinasti Ubaidillah. Sementara Ibn Khaldun, Ibn al-Asir dan Philip K. Hitti berpendapat bahwa Sa’id memang berasal dari garis keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammad SAW, yang bersambung garis keturunannya hingga Husain bin Ali bin Abi Thalib .
Ubaidillah merupakan khalifah pertama daulah Fatimiyah. Ia memerintah selama lebih kurang 25 tahun (909-934 M). Dalam masa pemerintahannya, al-Mahdi melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika, meliputi Maroko, Mesir, Multa, Alexandria, Sardania, Corsica, dan balerick. Pada 904 M, Kahalifah al-Mahdi mendirikan kota baru dipantai Tunisia yang diberi nama kota Mahdiyah yang didirikan sebagai ibukota pemerintahan.
Di Afrika Utara kekuasaan mereka segera menjadi besar. Pada tahun 909 mereka dapat menguasai dinasti Rustamiyah dan Tahert serta menyerang bani Idris di Maroko. Pekerjaan daulah Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan ummat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah dan istri dari Ali bin Abu Muthalib .
Daulah Fatimiyah memasuki era kejayaan pada masa pemerintahan Abu Tamin Ma’Abu Daud yang bergelar al-Mu’iz (953-997). Al-Mu’iz behasil menaklukkan Mesir dan memindahkan pemerintahan ke Mesir. Pada masa ini rakyat merasakan kehidupan yang makmur dan sejahtera dengan kebijakan-kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Indikatornya adalah banyaknya bangunan fisik seperti Mesjid, Rumah sakit, Penginapan, jalan utama yang dilengkapi lampu dan pusat perbelanjaan. Pada masa ini pula berkembang berbagai jenis perusahaan dan kerajinan seperti tenunan, kermik, perhiasan emas, dan perak, peralatan kaca, ramuan, obat-obatan .
Kesuksesan lainnya adalah dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Besarnya minat masyarakat kepada ilmu pengetahuan mendapat dukungan penguasa dengan membangun Dar al-Hikmah pada tahun 1005 M dan perguruan tinggi al-Azhar (yang sebelumnya adalah bangunan masjid), yang mengajarkan ilmu kedokteran, Fiqh, Tauhid, Al-Bayan, Bahasa Arab, Mantiq, dan sebagainya .

C. Perkembangan dan kemajuan Dinasti Fatimiyah.
Pada masa pemerintahan Fatimiyah, persoalan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Agama dipandang sebagai pilar utama dalam menegakkan daulah/negara. Untuk itu, pemerintah Fatimiyah sangat memperhatikan masalah keberagamaan masyarakat meskipun mereka berstatus sebagai warga negara kelas dua seperti orang Yahudi, Nasrani, Turki, Sudan .
Menurut K.Ali, mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat, bahkan penuh perhatian terhadap urusan agama non muslim sehingga orang-orang Kristen Kopti Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan selain dari pemerintahan Muslim. Banyak orang Kristen, seperti al-Barmaki, yang diangkat jadi pejabat pemerintah dan rumah ibadah mereka dipugar oleh pemerintah.
Akan tetapi, Kemurahan hati yang ditampilkan Khalifah Fatimiyah terhadap orang Kristen tidak urung menimbulkan isu negatif. Al-Mu’iz yang dikenal dengan kewarakan dan ketaqwaannya diisukan telah murtad, mati sebagai orang Kristen dan dikubur di gereja Abu Siffin di Mesir kuno. Namun, menurut Hasan, isu tersebut tidak benar sebab tidak ada sejarawan yang menyebutkan seperti itu, dan hanya cerita karangan (Khurafat) yang sengaja dienduskan oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya termasuk dari sisa-sisa penguasa Abbasiyah yang sengaja ingin melemahkan kekuatan Fatimiyah .
Sementara itu, agama yang didakwahkan Fatimiyah adalah ajaran Islam, menurut pemahaman Syi’ah Islamiyah yang ditetapkan sebagai mazhab negara. Untuk itu, para missionaris daulah Fatimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran tersebut dan berhasil meraih pengikut yang banyak sehingga masa kekuasaan daulah Fatimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan mazhab Ismai’liyah .
Meskipun para Khalifah berjiwa moderat, akan tetapi terhadap orang yang tidak mau mengakui ajaran Syi’ah Ismai’liyah langsung dihukum bunuh. Pada tahun 391 H khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan/fadhilah Ali bin Abi Thalib, dan di tahun 395 H, al-Hakim juga memerintahkan agar di mesjid, pasar dan jalan-jalan ditempelkan tulisan yang mencela para sahabat .
Jelasnya peranan agama sangat diperhatikan sekali oleh penguasa untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Buktinya, sikap tegas khalifah Fatimiyah terhadap orang yang tidak mau mengakui mazhab Isma’iliyah dapat berupa apabila sikap seperti dapat berakibat munculnya instabilitas negara. Al-Hakim misalnya, agar terjalin hubungan yang baik dengan rakyatnya yang berpaham sunni, al-Hakim mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela sahabat khususnya khalifah Abu Bakar dan Umar. Al-Hakim juga membangun sebuah madrasah yang khusus mengajarkan paham sunni, memberikan bantuan buku-buku bermutu sehingga warga Syi’ah ketika merasa senang sebab merasakan tengah hidup dikawasan sunni.
Sikap yang diambil para khalifah Fatimiyah tidak sekejam yang dilakukan Abdullah al-Saffah yang berusaha mengikis habis siapa-siapa pengikut Bani Ummayyah di awal masa kekuasaannya. Dalam hal ini para khalifah Fatimiyah memberlakukan masyarakat secara sama selama mereka bersedia mengikuti ajaran Syi’ah Isma’iliyah yang merupakan madzhab negara.
Ketidak senangan khalifah Fatimiyah kepada Abbasiyah tidak menunjukkan dalam bentuk kekerasan. Hanya saja, Khalifah Fatimiyah melarang menyebut-nyebut bani Abbasiyah dalam setiap khutbah jum’at dan mengharamkan pemakain jubah hitam serta atribut bani Abbasiyah lainnya. Pakaian yang dipakai untuk khutbah adalah berwarna putih .
Meskipun al-Mu’iz menuntaskan pemberontakan, akan tetapi ia akan selalu menempuh jalan damai terhadap pera pemimpin dengan Gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada yang bersedia menunjukkan loyalitasnya. Banyak diantara para Gubernur yang bersedia mengikuti mazhab Isma’iliyah, padahal mereka sebelumnya adalah Gubernur yang diangkat khalifah Abbasiyah. Sikap mereka ini juga dilakukan oleh penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka bersedia masuk Islam dan menganut mazhab Isma’iliyah ketika mereka ditawarkan memegang jabatan tertentu didalam pemerintahan .
Tindakan tegas dalam bentuk pemberian hukum bunuh baru dilakukan terhadap orang yang menolak paham Isma’iliyah. Hanya satu peristiwa yang diambil tindakan tegas terhadap orang yang tidak mau mengikuti faham Isma’iliyah, yaitu ketika raja muda Zarida di Afrika yang bernama Mu’iz ibn Badis menghina dinasti Fatimiyah dengan tidak menyebut-nyebut nama khalifah Fatimiyah al-Muntasir pada saat khutbah jum’at melainkan menyebut-nyebut nama khalifah Abbasiyah. Tidak diambinya tindakan tegas dikarenakan al-Muntasir lebih tertarik pada pemberontakan Al-Bassasiri terhadap pemerintahaan Abbasiyah. Momen ini dinilai al-Muntasir sebgai kesempatan untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Asia Barat setelah Tughril menegakkan kekuasaan Abbasiyah di wilayah itu .
Dalam bidang administrasi pemerintahan tidak benyak berubah. Sistem administrasi yang dikembangkan khalifah Abbasiyah masih tyerus saja dipraktekkan. Khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan keduniaan maupun dalam urusan spritual. Ia berwenang mengangkat sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di bawahnya. Selain itu sakralisasi khalifah yang muncul di masa pemerintahan Abbasiyah masih tetap dipertahankan yang indikatornya dapat dilihat dari gelar yang disandang para khalifah Fatimiyah seperti al-Mu’iz dinillah, al-Aziz billah, al-Hakim bin Amrullah dan sebagainya.
Ada tiga hal yang dapat disoroti mengenai perkembangan dan kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Fatimiyah berkuasa yakni :

1. Kemajuan Administrasi Pemerintahan
Pengelolaan negara yang dilakukan Dinasti Fatimiyah ialah denganmengangkat para menteri. Dinasti Fatimiyah membagi kementrian menjadi dua kelompok. Pertama kelompok militer yang terdiri dari tiga jabatan pokok
 Pejabat militer dan pengawal khalifah
 Petugas keamanan
 Resimen-resimen

Yang kedua adalah kelompk sipil yang terdiri atas
 Qadhi (Hakim dan direktur percetakan uang)
 Ketua Dakwah yang memimpin pengajian
 Inspektur pasar (pengawas pasar, jalan, timbangan dan takaran)
 Bendaharawan negara (menangani Bait Maal
 Kepala urusan rumah tangga raja
 Petugas pembaca Al Qur’an, dan
 Sekretaris berbagai Departemen

Selain pejabat pusat, disetiap daerah terdapat pejabat setingkat guberbur yang
diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi dikelola oleh pejabat setempat .

2. Penyebaran faham Syiah
Syiah bertoleransi dengan Sunni dikarenakan penduduk Mesir mayoritas bermazhab Sunni, maka hal ini di lakukan sebagai upaya Syiah agar tetap dapat bertahan dalam pemerintahan. Ketika Al Muiz berhasil menguasai Mesir, di kawasan ini berkembang empat madzhab Fikih : Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hanbali, sedangkan Al Muiz sendiri menganut madzhab Syiah. Dalam menyikapi hal ini Al Muiz mengangkat hakim dari kalangan Sunni dan Syiah. Akan tetapi jabatan-jabatan penting diserahkan kepada ulama Syiah sedangkan Sunni hanya menduduki jabatan rendahan. Pada tahun 973 M, semua jabatan di berbagai bidang politik, agama dan militer dipegang oleh Syiah. Disisi lain al Muiz membangun toleransi agama sehingga pemeluk agama lain seperti Kristen diperlakukan dengan baik dan diantara mereka diangkat menjadi pejabat istana . Syiah juga bertoleransi dengan Sunni karena penduduk Mesir mayoritas bermazhab Sunni, maka hal ini di lakukan sebagai upaya Syiah agar tetap dapat bertahan dalam pemerintahan.
Dari Mesir Dinasti Fatimiyah tumbuh semakin luas sampai ke Palestina, dan kemudian propaganda Syiah Ismailiyah semakin tersebar luas melalui sebuah gerakan agen rahasia .

3. Perkembangan ilmu pengetahuan
Dinasti Fatimiyah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Fatimiyah membangun masjid Al Azhar yang akhirnya di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga berdirilah Universitas Al Azhar yang nantinya menjadi salah satu perguruan Islam tertua yang dibanggakan oleh ulama Sunni . Al Hakim berhasil mendirikan Daar al Hikmah, perguruan Islam yang sejajar dengan lembaga pendidikan Kordova dan Baghdad. Perpustakaan Daar al Ulum digabungkann dengan Daar al Himmah yang berisi berbagai buku ilmu pengetahuan. Beberapa ulama yang muncul pada saat itu adalah sebagai berikut:
1. Muhammad al Tamimi (ahli Fisika dan Kedokteran)
2. Al Kindi (ahli sejarah dan filsafat)
3. Al nu’man (ahli hukum dan menjabat sebagai hakim)
4. Ali bin Yunus (ahli Astronomi)
5. Ali Al Hasan bin al Khaitami (ahli Fisika dan Optik)

Disamping itu kemajuan bangunan fisik sungguh luar biasa. Indikasi-indikasi kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun berupa masjid-masjid, universitas, rumah sakit dan penginapan megah. Jalan-jalan utama dibangun dan dilengkapi dengan lampu warna-warni, dalam bidang industri telah dicapai kemajuan besar khususnya yang berkaitan dengan militer seperti alat-alat perang, kapal dan sebagainya .

D. Puncak Kejayaan Dinasti Fatimiyah.
Sepanjang kekuasaan Abu Mansyur Nizar al-Aziz (975-996), Kerajaan Mesir
Senantiasa diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Dibawah kekuasaannyalah dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khalifah selalu disebutkan dalam khutbah-khutbah jum’at disepanjang wilayah kekuasaanya yang berbentang dari Atlantik hingga laut Merah, juga di mesjid-mesjid Yaman, Mekkah, Damaskus, Bahkan di Mosul. Kalau dihitung-hitung, kekuasannya meliputi wilayah yang sangat luas.
Di bawah kekuasaannya kekhalifahan Mesir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifaan di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifaan itu telah menenggelamkan penguasa Baghdad dan ia berhasil menempatkan kekhalifaan Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Meditera Timur. Al-Aziz menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah, musuhnya yang diharapkan akan dikuasai setelah Baghdad berhasil ditaklukkan. Seperti pendahulunya ia melirik wilayah Spanyol, tetapi khalifah Kordova yang percaya diri itu ketika menerima surat yang pedas dari raja Fatimiyah memberikan balasan tegas dengan berkata, “Engkau meremehkan kami karena kau telah mendengar tentang kami. Jika kami mendengar apa yang telah dan akan kau lakukan kami akan membalasnya”.
Bisa dikatakan bahwa diantara para khalifah Fatimiyah khalifah Al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan paling murah hati. Dia hidup di kota Kairo yang mewah dan cemerlang, dikelilingi beberapa mesjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal yang baru, serta memberikan toleransi yang terbatas kepada umat Kristen, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sikap dan prilakunya ini tidak pelak lagi dipengaruhi oleh wazirnya yang beragama Kristen “Isa ibn Nasthir” dan isterinya yang berasal dari Rusia, ibu dari anak laki-laki dan pewarisnya, Al-Hakim, saudara perempuan dari dua bangsawan keluarga Melkis yang berkuasa di Iskandariyah dan Yerussalem.
Menurut Harun Nasution, dalam masa kejayaan ini tergores sejarah yang menunjukkan kegemilangan Fatimiyah bahwa salah satu golongan sekte syiah yang bernama Qaramithah (Carmatian) yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qarmat di akhir abad IX, menyerang Makkah pada tahun 951 M dan merampas Hajar Aswad dengan mencurinya selama dua puluh tahun. Hal ini disebabkan mereka meyakini bahwa hajar aswad adalah merupakan sumber takahayul. Gerakan ini menentang pemerintahan Pusat Bani Abbas, namun Hajar Aswad ini akhirnya dikembalikan oleh Bani Fathimiyah setelah didesak oleh kalifah Al Mansur pada tahun 951 M .

E. Masa Kemunduran dan Runtuhnya Daulah Fatimiyah.
Gejala-gejala yang menunjukkan kemunduran dinasti Fatimiyah telah terlihat
Dipenghujung masa pemerintahan Al-Aziz namun baru kelihatan wujudnya pada masa pemerintahan al-Muntasir yang terus berlanjut hingga berakhirnya kekuasaan adalah Fatimiyah pada masa pemerintahan al-Adid 567 H / 1171 M.
Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya daulah Fatimiyah dapat diklarifikasikan kepada faktor internal dan eksterna:

1. Faktor Internal
Faktor internal yang paling signifikan dalam menghantarkan kemunduran daulah Fatimiyah adalah di karenakan lemahnya kekuasaan pemerintah. Menurut Ibrahim Hasan, para khalifah tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi seperti yang ditunjukkan para pendahulu mereka ketika mengalahkan tentara Berber di Qairawan. Kehidupan para khalifah yang bermewah-mewah merupakan penyebab utama hilangnya semangat untuk melakukan ekspansi .
Selain itu, para khalifah kurang cakap dan memerintah sehingga roda pemerintahan tidak bejalan secara efektif, ketidak efektifan ini dikarenakan khalifah yang diangkat banyak yang masih berusia relatif muda sehingga kurang cakap dalm mengambil kebijakan . Tragisnya mereka ibarat boneka ditangan para wajir karena peranan wajir begitu dominan dalam mengatur pemerintahan.
Fenomena ini muncul pasca wafatnya al-Aziz, setelah al-Aziz wafat ia digantikan puternya bernama Abu Mansur al-Hakim yang pada saat pengangkatannya masih berusia 11 tahun. Kebijakan dalam pemerintahannya sangat tergantung kepada keputusan Gubernur bernama Barjawan yang meskipun pada akhirnya dihukum al-hakim karena penyalahgunaan kekuasaan .
Bukti lain ketidak cakapan khalifah adalah munculnya perlawanan orang Kristen terhadap penguasa. Perlawanan ini muncul dikarenakan orang Kristen tidak senang dengan maklumat al-Hakim yang dianggap menghilangkan hak-hak mereka sebagai warga negara. Maklumat tersebut berisikan tiga alternatif pilihan yang berat bagi orang Kristen. Masuk Islam, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung salib sebagai simbol kehancuran .
Setelah al-Hakim wafat, ia digantikan puteranya bernama Abu Hasyim Ali yang bergelar al-Zahir. Pada saat pengangkatannya al-Zahir masih berusia 16 tahun dan kebijakan pemerintahan berada ditangan bibinya bernama Siti al-Mulk, sepeninggalan bibinya al-Zahir menjadi raja boneka ditangan para wajirnya.
Pengangkatan khalifah dalam usia relatif muda masih terus berlanjut hingga masa akhir pemerintahan daulah Fatimiyah, bahkan khalifah ke tiga belas yang bernam al-Faiz dinobatkan pada saat masih balita nanun keburu meninggal dunia sebelum berusia dewasa. Sementara khalifah terakhir bernam al-Adid dinobatkan disaat berusia sembilan tahun.
Faktor lainnya diperparah oleh peristiwa alam. Wabah penyakit dan kemarau panjang sehingga sunagi Nil kering, menjadi sebab perang saudara. Setelah meninggal Abu Tamim Ma’ad al Muntashir diganti oleh anaknya al Musta’li. Akan tetapi Nizar, (anak Abu Tamim Ma’ad yang tertua) melarikan diri ke Iskandariyah dan menyatakan diri sebagai khalifah. Oleh sebab ini fatimiyah terpecah menjadi dua .
Selain itu, faktor internal lainnya sebagai penyebab kehancuran daulah Fatimiyah adalah persaingan dalam memperoleh jabatan dikalangan wajir. Pada masa al-Adid sebagai khalifah terakhir misalnya, terjadi persaingan antara Abu Sujak Syawar dan Dargam untuk merebutkan jabatan wajir yang akhirnya dimenangkan Dargam. Karena sakit hati, Syawar meminta bantuan Nur Al-Din al-Zanki untuk memulihkan kekuasannya di Mesir, jika berhasil ia berjanji untuk menyerahkan sepertiga hasil penerimaan negara kepadanya.
Tawaran ini diterima Nur al-Din, lalu ia mengutus pasukan dibawah pimpinan Syirkuh dan keponakannya Salah al-Din al-Ayyubi. Pasukan ini mampu mengalahkan Dargam sehingga Syawar kembali memangku jabatan wazir dan memenuhi janjinya kepada Nur al-Din.
Perebutan kekuasaan ditingkat wazir ini merupakan awal munculnya kekuasaan asing yang pada akhirnya mampu merebut kekuasaan dari tangan daulah Fatimiyah dan membentuk dinasti baru bernama Ayyubiyah.

2. Faktor Eksternal
Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab runruhnya daulah Fatimiyah adalah menguatnya kekuasaan Nur al-Din al-Zanki di Mesir. Nur al-Zanki adalah Gubernur Syiria yang masih berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Popularitas al-Zanki menonjol pada saat ia mampu mengalahkan pasukan salib atas permohonan khalifah al-Zafir yang tidak mampu mengalahkan tentara salib.
Dikarenakan rasa cemburunya kepada Syirkuh yang memiliki pengaruh kuat di istana dianggap sebagai saingan yang akan merebut kekuasaannya sebagai wazir, syawar melakukan perlawanan. Agar mampu menguat kekuasannya, Syawar meminta bantuan tentara Salabiyah dan menawarkan janji seperti yang dilakukannya terhadap Nural-Din .
Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang salib dan melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk dapat menaklukkan Mesir. Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib.Syawar sendiri dapat ditangkap dan dihukum bunuh dengan memenggal kepalanya atas perintah khalifah Fatimiyah .
Dengan kemenangan ini, maka Syirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun
565 H / 1117 M. setelah Syirkuh wafat, jabatan wazir diserahkan kepada Salah al-Din Ayyubi. Selanjutnya Salah al-Din mengambil kekuasaan sebagai khalifah setelah al-Adid wafat. Dengan berkuasanya Salah al-Din, maka diumumkan bahwa kekuasaan daulah Fatimiyah berakhir. Dan membentuk dinasti Ayyubiyah serta merubah orientasinya dari paham syi’ah ke sunni .
Khalifah Fatimiyah berakhir pada tahun 567 H / 1117 M. Untuk mengantipasi perlawanan dari kalangan Fatimiyah, Salah al-Din membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer. Yang kini bangunan benteng tersebut masih berdiri kokoh di kawasan pusat Mishral qadim (Mesir lama) yang terletak tidak jauh dari Universitas dan juga dekat dengan perumahan Mahasiswa Asia di Qatamiyah.

F. Penutup
Daulah Fatimiyah merupakan salah satu imperium besar sepanjang sejarah Islam. Pada awalnya, daulah ini hanya berupa dinasti kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan daulah Abbasiyah. Mereka mampu memerintah lebih dua abad sebelum ditaklukkan oleh dinasti Ayyubiyah dibawah kepemimpinan Salah al-Din al-Ayyubi.
Dalam masa pemerintahannya, daulah Fatimiyah sangat konsern dengan pengembangan paham Syi’ah Isma’iliyah. Untuk kesuksesannya, mereka mewajibkan seluruh aparat di jajaran pemerintahan dan warga masyarakat untuk menganut paham tersebut. Upaya ini cukup berhasil yang ditandai dengan banyaknya masyarakat yang bersedia menerimanya meskipun berasal dari non muslim.
Kemunduran daulah Fatimiyah dikarenakan tidak efektifnya kekuasaan pemerintah dikarenakan pra khalifah hanya sebagai raja boneka sebab roda pemerintah didominasi oleh kebijakan para wazir sementara khalifah hanya hidup menikmati kekuasaannya didalam istana yang megah.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K., Sejarah Islam ( Tarikh Pra modern), Terj Ghufran A Mas’adi. Jakarta: PT Grafindo Persada, 1996.
Glasse, Cyrill, Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.
Hasan, Ali Ibrahim, Ushur al Wustha : Minal Fathil Arabiy ilaa fathil Ustmaniy. Kairo: Maktabah al Nahdah al Mishriyah, 1976
Hasan, Hasan Ibrahim, Tarikh daulah Fatimiyah fil Maghrib, Mish, Suriah wa biladil arab. Kairo: Maktabah Lajnah at Ta’lif wa al tarjamah wan Nasyr, 1958.
Hitty, Philip K., History of the Arabs. MacMillan: The MacMillan Press Ltd, 1974.
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam, bagi I, Terjm dari A History of Islamic Societies oleh Ghufran A Mas’adi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.
Maktabah al Nahdah al-Mishriyah, 1976.
Mubarah, Jaih, Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Bani Qurays, 2004.
Mufradi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: tp., 1997.
_______________, Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, tth.
Nasution, Harun, Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
______________, Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, jilid I. Jakarta: UI Press, 1985.
Oesman, Latief, Ringkasan Sejarah Islam. Jakarta: Widjaya, 1979
Soui’b, Josoep, Sejarah Daulat Abbasiah. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
Surur, Muhammad Jamaluddin, ad-Daulah al fatimiyah fil Mashr. Kairo: Darul Fikr al-Arabiy, 1979.
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam). Jakarta: Kencana, 2003.
Thaqusy, Muhammad Sahil, Tarikhul Fathimiyyin fi syimali afriqiyah, mishra wa biladis Syam. Beirut: Darun Nufas, 2001.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasat Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Categories: Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

INOVASI PENDIDIKAN SAYYID AHMAD KHAN

INOVASI PENDIDIKAN SAYYID AHMAD KHAN
PENDAHULUAN
Pada pertengahan abad ke 13 kekuasan Islam mengalami disintegrasi setelah tentara Mongol menyerang pusat wilayah Islam Timur Tengah. Situasi yang sama terjadi di wilayah Muslim Spanyol dimana dinasti Islam ditaklukkan kekuatan bangsa Eropa. Bencana yang disebakan tentara-tentara asing itu menandai masa kemerosotan umat Islam.
Selanjutnya kekuatan kolonial Barat memasuki dan menjajah hampir semua negara-negara Islam dari Maroko di Afrika utara, India di Asia Tengah sampai Indonesia di Asia Tenggara. Selama beberapa abad, secara umum Pendidikan Muslim mengalami kemerosotan pada periode disintegrasi muslim pasca klasik dan selanjutnya berhadapan dengan hegemoni barat dibidang ekonomi politik dan intelektual.
Kemudian, di tengah kemerosotan dan keterbelakangan pendidikan Islam, wawasan pendidikan menjadi semakin sempit, pendidikan Islam hanya dibatasi pada pengertian teologis, dimana studi matakuliah asing dihilangkan dan, bahkan, sangat dicurigai. Pendidikan Islam hanya membahas pada tema-tema atau pelajaran keagamaan tradisional yang hanya memenuhi kebutuhan praktis keagaman dan kehidupan keluarga.
Memasuki era modern pada awal abad 19 hampir seluruh dunia Islam ada dalam cengkraman penjajahan negara-negara barat. Dalam masa penjajahan barat ini, dunia Islam merasakan secara langsung dampak dari tekanan politik, ekonomi, budaya dan pengaruh pendidikan barat. Tak lepas seperti negara India yang menjadi jajahan negara Inggris. Secara langsung umat Islam India merasakan semua dampak diatas yang datangnya dari kolonial Inggris .
Untuk tetap eksis dan dapat mengikuti perkembangan zaman modern. Umat Islam harus menentukan pilihannya. Di tengah-tengah kebimbangan dalam menentukan sikap yang harus diambil muncullah Ahmad Khan di tengah-tengah mereka. Dengan pandangannya yang rasional dan positif, ia mencoba mengajak umat Islam untuk mau menerima dan mengikuti pendidikan Inggris, tanpa diliputi rasa takut atas kegoncangan iman dan kerusakan akhlak mereka.
Kesediaan untuk menerima dan mengikuti pendidikan Inggris adalah satu-satunya pilihan yang harus ditempuh. Sebab menurut Ahmad Khan itulah satu-satunya cara bagi umat Islam untuk mencapai kemajuan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa bangsa Inggris menjadi bangsa yang maju dan dapat menguasai India karena mereka memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan .
Ajakan Ahmad Khan tersebut berdasarkan pada pengalaman sejarah bahwa umat Islam pernah mengalami masa kejayaan karena jiwa besar masyarakat Islam dalam menghadapi kebudayaan waktu itu. Yaitu keberanian-keberanian masyarakat Islam dalam mempelajari karya-karya ilmiah dan filosofis bangsa Yunani serta berusaha menerjemahkan karya-karya ilmiah tersebut dalam bahasa arab, tanpa takut akan pengaruh negatifnya.
Keberanian orang Arab untuk mempelajari kitab Pythagoras atau istilah yang dipakai oleh Rusli Karim; kemampuan mensintesakan aspek-aspek positif kebudayaan barat yang dilakukan oleh umat Islam zaman dahulu itulah yang telah melahirkan progresivitas dan vitalitas kebudayaan Islam yang selanjutnya mengantarkan pendidikan Islam dapat melahirkan para pakar ilmu pengetahuan di berbagai bidang.
Apa yang dilakukan oleh Ahmad Khan menunjukkan bahwa ia adalah seorang intelektual muslim sejati. Ini dapat terlihat dari sikapnya yang terbuka terhadap hal dari luar, ia bersedia mendengarkan segala hal diluar komunitasnya (Islam), ia tidak cepat apriori terhadap pengaruh tersebut sebagaimana para ahli agama waktu itu, namun ia pikirkan pengaruh itu dan ia mengambil kesimpulan bahwa yang diajarkan Inggris mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi harus dipelajari dan dikuasai oleh umat Islam.
Hal lain yang menunjukkan keintelektualannya adalah ia tidak mengisolir diri dalam tempurung primordialisme. Ia tidak lebur dalam satu keyakinan aliran agama dan menjauhkan diri dari perbenturan fikiran. Ia berani berbenturan pikir dengan Inggris dan juga umat Islam mainsterm saat itu yang berbeda pandangan dengannya.
Karakteristik yang penting adalah kejujuran dan kesetiaan pada cita-citanya untuk membangun India setaraf dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan mendirikan lembaga pendidikan Aligarth College sebagai basis kaderisasi anak bangsa dimasa mendatang.

BIOGRAFI AKHMAD KHAN
Ahmad Khan lahir tanggal 6 Dzulhijjah 1232 Hijriyah atau 17 Oktober 1817 Masehi di kota Delhi. Ia biasa dipanggil dengan Sir Sayyid. Sebutan Sir ia dapatkan dari bangsa Inggris atas jasa-jasanya terhadap Inggris. Sedangkan sebutan Sayyid karena ia masih keturunan langsung nabi Muhammad SAW. Ia merupakan keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah. Neneknya Sayyid Hadi adalah pembesar istana di zaman Alamghir II (1754-1759).
Masa hidupnya yang relatif panjang, sekitar delapan puluh tahunnan secara garis besar dapat dibagi menjadi empat periode. Pertama, masa pendidikan (1817-1837). Kedua, masa pengabdiannya menjadi pegawai peradilan (1838-1857). Ketiga, masa minatnya terhada kesejahteraan umum. Kehususnya dalam mengembangkan bidang pendidikan di negaranya (1858-1877) dan keempat, masa terpenting dalam hidupnya (1878-1877) dimana ia mendapat reputasi sebagai pemimpin politik dan pendidikan Islam terbesar selama abad XIX .
Ahmad Khan mendapat pendidikan formal pertama kali disebuah maktab (mungkin kalau di Indonesia semacam madrasah diniyah), yaitu lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu agama. Di Maktab ini ia belajar bahasa Parsi, bahasa ‘ beradab” bagi muslim India pada waktu itu, dan juga berhitung
Boleh dibilang pendidikan formal yang diperolehnya pada waktu ia kecil tidaklah demikian mendalam dan sistematis. Ia lebih banyak mendapat bimbingan dari ibunya, seorang wanita yang bijaksana, yang mengasuhnya dengan sungguh-sunguh, sehingga ia memperoleh pengetahuan yang cukup tentang beberapa ilmu pengetahuan yang biasa diajarkan di madrasah-madarasah muslim pada waktu itu. Selain itu, ia seorang anak yang sangat rajin membaca berbagai ilmu pengetahuan. Dan ditambah pengetahuannya tentang masalah-masalah kenegaraan (ilmu pemerintahan). Pengenalannya dengan kebudayaan barat diperolehnya dari sang kakek dari pihak ibu, Khawaja Fariduddin, yang pernah menjadi Perdana menteri di Istana Mughal masa Sultan Akbar II selama delapan tahun.
Pada tahun 1837, setahun setelah ayahandanya meninggal dunia, ia bekerja di istana mughal masa sultan Bahadur Shah sebagai seorang pembaca. Ahmad muda banyak dianugerahi titel dan jabatan kakeknya, akan tetapi ia menolak anugerah tersebut. Ia lebih memilih bekerja untuk Inggris.
Pada awalnya ia bekerja di The East India Company, kemudian dipindahkan kebagian Criminal Departmen di bagian New Delhi. Pada tahun 1846, setelah lima tahun bekerja sebagai musnif di Fatihpur Sikri distrik Agra, ia dipindahkan ke Delhi, kota kelahirannya .
Pada tanggal 10 Mei 1857, ketika terjadi pemberontakan terhadap kolonial inggris, saat itu ia berada di daerah Bignapur, sebagai seorang pegawai peradilan. Ia tidak ikut memberontak, bahkan ia banyak membantu melepaskan orang-orang Inggris yang teraniaya dalam pemberontakan tersebut. Karena jasa-jasanya itulah ia di beri gelar Sir oleh Inggris.
Ahmad Khan mengajar umat Islam untuk bersikap damai dan bekerja sama dengan Inggris, karena disamping akan membawa kemajuan, peningkatan taraf hidup dan status sosial mereka, juga dengan harapan Inggris memperbolehkan umat Islam memiliki perguruan tingginya sendiri.
Pada tahun 1869, bersamaan dengan kepergian anaknya ke Inggris untuk melanjutkan studinya.ia juga pergi ke Inggris. Kepergiannya ini adalah semata-mata untuk memenuhi keingintahuannya yang sudah lama yaitu mempelajari sendiri sumber-sumber kekuatan Inggris, dengan harapan dapat mewujudkan cita-citanya menciptakan negara India yang kuat dan makmur, dapat mengikuti perkembangan zaman modern serta dapat menduduki tempat mulia dalam masyarakat dunia.
Sekembalinya dari Inggris, ia merasa mendapat kekuatan baru yang lebih meyakinkan anggapannya bahwa selama ini ketertinggalan India dari bangsa barat adalah karena faktor mental, Inggris memiliki mental yang kuat dalam segala hal. Dan untuk merubah mental masyarakat India harus dilakukan revolusi pemikiran dengan meninggalkan ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan lama dan menerima tuntutan zaman modern. Bersamaan dengan itu ia mulai merintis berdirinya perguruan tinggi Islam modern.
Cita-cita Ahmad Khan untuk mendirikan perguruan tingi akhirnya terwujud dengan diletakkannya batu pertama pembangunan gedung perguruan tinggi tersebut oleh Gubernur Jendral Lord Lotion (raja muda waktu itu) pada tanggal 8 Januari 1877 di kota Aligarth. Perguruan tinggi tersebut diberi nama Muhammadan Anglo Oriental College, yang lebih dikenxcxal dengan Aligarth College
Masa-masa akhir hayatnya digunakan untuk mewujudkan Aligarth College yang didirikannya itu. Ia berkeinginan Aligarth dapat meningkat menjadi universitas, sebagaimana yang di cita-citakan sejak kepergiannya ke Inggris. Dalam mewujudkan keinginannya tersebut ia habiskan delapan jam sehari untuk menegembangkan Aligarth College. Akan tetapi keinginannya untuk menjadikan Aligarth sebagai universitas belum tercapai ajal telah merenggutnya pada usia 81 tahun. Seluruh India berkabung, dan umat Islam kehilangan seorang tokoh besar yang selama hidupnya digunakan untuk memajukan bangsanya.
Ahmad Khan telah tiada, namun sampai kini gagasan-gagasannya masih banyak diualas oleh akademisi dan para ilmuan. Pandangan yang sangat mendasar dari Akhmad Khan adalah tentang keterbelakangan masayarakat muslim India. Menurut analisanya umat Islam di India sangat terbelakang bila dibandingkan dengan peradaban barat karena ia tidak mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi. Diakibat oleh kejumudan pemikiran umat islam pasca abad pertengahan, sehingga untuk melawan keterbelakangan maka yang harus dilakukan umat Islam adalah menghidupkan dan mengembangkan kembali pemikiran rasional agama zaman klasik, dengan perhatian yang besar pada sain dan tehnologi.

KONDISI PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA ABAD XIX
Di India pendidikan modern yang dibawa oleh Inggris pada awal abad ke 19 telah meimbulkan dualisme sikap masyarakat muslim. Yaitu sikap antagonis (menolak) dan sikap akomodatif (menerima) . Sikap penolakan ditunjukkan oleh sebagian besar umat Islam India, teruma para pengelola lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu-ilmu agama an sich. Penolakan tersebut, karena meraka beranggapan apa yang dibawa oleh Inggris tidak cocok diikuti umat islam, sebab pendidikan modern Inggris mengabaikan bidang studi dan tradisi keilmuan Islam.
Sebagian lain masyarakat Islam dapat menerima dengan lapang dada sistem pendidikan modern Inggris tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi modern yang dibawa oleh Inggris dan diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan Inggris tersebut merupakan sarana yang dapat membawa kemajuan umat Islam India. Sebab mereka meyadari India sangat ketinggalan jauh dengan Inggris dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Salah satu tokoh yang mendukung sikap ini adalah Ahmad Khan. Ia berpandangan bahwa saat ini umat Islam harus kembali ke teologi sunnatullah dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah seperti pada zaman Islam klasik, dari pada itu ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat dibarat perlu dikuasai oleh umat Islam. Sebab ilmu pengetahuanlah yang akan mampu menghidupkan kembali orientasi keduniaan umat yang telah hilang sejak zaman pertengahan. Untuk mengusai pengetahuan dari barat tiada lain jalan yang ditempuh adalah dengan mengakomodasi pikiran-pikiran modern termasuk pendidikan yang dibawa oleh inggris.

ALIGARTT COLLEGE
Akhmad Khan banyak disebut sebagai seorang reformer (pembaharu) di India, terutama pembaharuan pendidikan (educational reformer). Statemen ini tepat untuk menggambarkan perjuangan Akhmad Khan. Ia menghabiskan seluruh tenaga dan hampir separuh umurnya guna mengembangkan dunia pendidikan di India. Apa yang dilakukannya dalam memperjuangkan kemajuan umat Islam melalui pendidikan mengisyaratkan perilaku seorang pembaharu, sebagaimana dinyatakan oleh Muhammad Abduh, bahwa pertama kali yang harus dilakukan oleh seorang pembaharu adalah mendidik rakyatnya dan kemudian berusaha mendapatkan kemerdekaan
Keseriusannya dalam mengembangkan pendidikan di India nampak dari pengorbanannya yang besar, pada usai yang hampir senja (52 tahun), Ahmad Khan masih menyempatkan diri pergi ke Inggris untuk mempelajari sistem pendidikan modern. Bahkan untuk biaya studi itu ia telah menggadaikan rumahnya dan menjual gedung perpustakaan pribadi beserta seluruh isinya. Namun perjuangannya itu tidak sia-sia, pengorbanannya telah menghasilkan sebuah perguran tinggi Islam di India dengan sistem pendidikan modern, Aligarth College.
Alighar College adalah. Karya besar Akhmad Khan dalam bidang pendidikan. Aligarth merupakan lembaga pendidikan Islam moderen yang dikembangkan olehnya dari hasil studi panjangnya di Inggris. Sistem pendidikannya berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang ada pada waktu itu. Perbedaan tersebut nampak dalam hal materi dan tujuan pendidikan.
Dari segi materi Aligarth memasukkan pengetahuan umum (ilmu pengetahuan umum dan tehnologi) dalam pembelajarannya, padahal pada era tersebut India sama sekali tidak memiliki satu lembaga pendidikan Islam yang memasukkan ilmu-ilmu umum dalam daftar mata pelajarannya.
Dengan memberikan pelajaran umum ini Ahmad Khan menginginkan hilangnya dikotomi ilmu yang ada pada benak dan pikiran masyarakat Islam India. Terlihat dari penyusunan cabang ilmu pegetahuan yang diajarkan di Aligarth. Dalam susunan itu ilmu-ilmu agama dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, bukan menjadi cabang tersendiri yang terpisah dari ilmu pengetahuan yang lain. Akhmad Khan tidak menginginkan adanya keterpisahan ilmu pengetahuan dalam pandangan umat Islam India.
Dari sudut tujuan, Aligarth College memiliki tujuan yang bebeda dengan lembaga pendidikan Islam mainstrem. Ia memiliki tujuan membentuk ulama intelek, yaitu orang yang memiliki keahlian dalam bidang pengetahuan agama dan juga mahir dalam ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian diharapkan lulusan Aligarth College memiliki intelegensia yang tinggi dan adaptif dengan perkembangan zaman dan peradaban modern dengan kepribadian muslim.
Perbedaan dengan lembaga pendidikan Islam mainstrem terlihat dari penambahan ilmu pengetahuan umum yang pada era ini sama sekali tidak tersentuh oleh lembaga pendidikan Islam yang lain.

Konteks Pembaharuan Pendidikan di Indonesia
Kemunduran umat Islam sebagian besar dikaenakan tertinggalnya ia dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi, Menurut para pakar terdapat suatu korelasi pengusaan ilmu pengetahuan dan tehnologi dengan kekuatan poltik dan ekonomi. Masyarakat Islam selalu kalah dalam politik da ekonomi diantaranya karena umat Islam tidak dapat mengusai dan melakukan peneyebaran ilmu pengetahuan dan tehnoogi. Lebih lanjut, didalam kehidupan politik dan ekonomi kita lihat adanya fase-fase perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmupengetahuan dan tehnologi. Fase-fase tersebut ialah fase perbudakan, feodaisme, industrialisasi, dan masa depan ialah era ilmu pengetahuan. Era ilmu pengetahuan berarti semakin luas penyebaran dan kontrol ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Hal ini berarti suatu masyarakat atau bangsa yang tidak menguasai dan mengontrol ilmu pengetahuan berarti akan kehilangan kekuatan politik dan ekonominya. Masyarakat masadepan adalah masyrakat yang berkembang atas dasar penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Apabila ilmu pengetahuan merupakan faktor yang sangat menentukan didalam kehidupan umat manusia masa depan, maka ini artinya lembaga-lembaga pendidikan haruslah menyesuaikan diri dengan tuntutan masa depan tersebut. Visi dan misi lembaga pendidikan (islam) harus berubah sebagai tempat untuk mempersiapkan sumberdaya manusia masa depan yang menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya, serta memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup manusia.
Kesadaran sebagaimana diatas dalam kontek India telah melahirkan pembaharuan pendidikan yang dipelopori oleh Ahmad Khan pada paruh akhir abad ke 19 dengan Aligarth Collegenya. Ide pembaharuan pendidikan tersebut tersebar luas seantero dunia muslim, termasuk Indonesia.
Maka bermunculanlah moderenisasi pendidikan Islam di Indonesia dengan berbagai bentuknya. Kemunculannya tersebut berkaitan erat dengan pertumbuhan gagasan moderenisme Islam dikawasan asia. Gagasan moderenisme Islam yang menemukan momentumnya sejak awal abad 20, pada lapangan pendidikan direalisasikan dengan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan modern yang diadopsi dari sistem pendidikan kolonial Belanda. Pemrakarsa pertama dalam hal ini adalah organisasi-organisasi “Moderenis” Islam seperti Jami’at Al-Khoir,al-Irsyad, Muhammadiyah dan lain-lain.
Pada awal perkembangan adopsi gagasan moderenisasi pendidikan Islam ini setidak-tidaknya terdapat dua kecenderungan pokok dalam eksperimentasi organisasi-organisasi Islam di atas. Pertama adalah adopsi sistem dan lembaga pendidikan modern secara hampir menyeluruh. Titik tolak moderenisme pendidikan Islam disini adalah sistem dan kelembagaan pendidikan modern (Belanda), bukan sistem dan lembaga pendidikan Islam tradisional.
Eksperimentasi ini terlihat secara jelas dilakukan oleh Abdullah Ahmad dengan Madrasah Adabiyah, yang kemudian diubah menjadi Sekolah Adabiyah (1915). Hanya terdapat sedikit ciri atau unsur kurikulum sekolah (HIS) Adabiyah yang membedakannya dengan sekolah belanda. Selain mengadopsi seluruh kurikulum HIS Belanda, sekolah Adabiyah menambahkan pelajaran agama 2 jan sepekan.
Kemudian organisasi Islam yang lain adalah Muhammadiyah. Ia mengadopsi sistem kelembagaan pendidikan Belanda secara cukup konsisten dan menyeluruh, misalnya mendirikan sekolah-sekolah ala belanda sepeti MULO, HIS dan lain-lain. Sementara itu sekolah-sekolah Muhammadiyah membedakan diri dengan sekolah belanda hanya dengan memasukkan pendidikan agama (persisnya dalam istilah Muhammadiyah adalah Met de Qur’an) kedalam kurikulumnya. Karena itu sekolah-sekolah Muhammadiyah sebenarnya lebih tepat disebut sekolah umum plus.
Muhammdiyah dalam batas tertentu juga mencoba bereksperimen dengan sistem dan kelembagaan madrasah modern dengan mendirikan madrasah Mu’alimin dan madrasah Mu’alimat. Tetapi sama dengan sistem dan kelembagaan sekolah-sekolahnya, madrasah yang dikembangkan Muhammadiyah ini tidaklah menjadikan sistem dan kelembagaan pendidikan Islam tradisional – apakah surau atau pesantren—sebagai basisnya.
Kedua, eksperimen pembaharuan yang bertitik tolak justru dari sistem pendidikan Islam itu sendiri. Disini lembaga pendidikan Islam yang sebenarnya telah ada sejak waktu lama di moderenisasi; sistem pendidikan madrasah dan surau, pondok pesantren, yang memang secara tradisional merupakan kelembagaan pendidikan Islam di moderenisasi misalnya dengan mengadopsi aspek-aspek tertentu dari sistem pendidikan modern, khususunya dalam kandungan kurikulum, tehnik dan metode mengajar dan sebagainya
Eksperimen semacam ini pertama kali dilakukan Pesantren Manbaul Ulum, Surakarta tahun 1906. Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren ini mempunyai basis pada pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu tradisional Islam, seperti al-Qur’an, hadits, Fiqh, bahasa Arab dan lainya. Juga terdapat mata pelajaran mantiq, aljbar, dan ilmu falaq. Selain itu Pesantren Manbail Ulum juga memasukkan beberapa mata pelajaran modern ke dalam kurikulumnya, seperti membaca (huruf latin) dan menghitung.
Eksperimen lain dilakukan oleh H. Abdul Karim Amrullah yang pada tahun 1916 menjadikan surau Jembatan Besi – lembaga pendidikan islam tradisional— sebagai basis untuk pngembangan madrasah modern, yang kemudian lebih dikenal dengan Sumatra Thawalib. Berbarangan dengan itu, Zainuddin Labay al Yunusi mengembangkan Madrasan Diniyah, yang pada awal perkembangannya merupakan “madrasah sore” untuk memberikan pelajaran agama pada murid-murid sekolah Gubernemen.
Upaya menjadikan sistem dan lembaga pendidikan pesantren sebagai basis dalam pengembangan sistem dan kelambagaan pendidikan Islam pada era lebih belakang (1926) kembali dilakukan di Pulau Jawa dengan pembentukan Pndok Modern Gontor Ponorogo. Gagasan yang berbeda di belakang pembentukan Pondok Moden adalah kesadaran perlunya moderenisasi sistem dan kelembagaan pendidikan Islam tidak dengan mengadopsi sistem dan kelembagaan pendidikan modern Belanda, melainkan dengan malakukan moderenisasi sistem dan kelembagaan pendidikan idegenous, pesantren. Ini dilakukan karena pesantrenlah yang memilki akar kuat dan mendalam dan lebih dapat diterima oleh banyak masyarakat muslim .
Demikian pola pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia sebagian besar memiliki kesamaan dengan pembaruan pendidikan Islam di India abad ke 19 yang dipelopori Akhmad Khan baik motif maupun tujuannya.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Trabiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat ini sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana (S2) Magister Perdamaian dan Resosulusi Konflik Universitas Garahmada (UGM) dan Pascasarjana Magister Managemen (MM) Universitas Islam Indonesia (UII), saat ini sedang menyelesaikan program Doktor Ilmu Ekonomi di UII.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Jamil, Seratus Muslim Terkemuka, Terjemahan Tim Peneremah Pustaka Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993

Ali, HA. Mukti , Aliran Pemikiran Modern dalam Islam di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993

¬¬¬¬______, Alam Pikiran Modern di Timur Tengah, Jakarta: Djambatan, 1995.

Azra , Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Moderenitas menuju Millenium Baru. Jakarta; Logos; 1999

Categories: Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

NEO-SUFISME DAN SPRITUALITAS MASYARAKAT MODERN

NEO-SUFISME DAN
SPRITUALITAS MASYARAKAT MODERN

A. Pendahuluan
Agama memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia. Agama tidak hanya memberikan landasan normatif dan kerangka nilai bagi kelangsungan hidup umatnya, namun juga memberikan arah dan orientasi duniawi di samping orientasi ukhrowi (eskatologis). Dengan demikian, kehadiran spiritualitas dalam pengalaman sufistik sangat penting dilakukan. Sebab, salah satu dampak negatif modernisme telah menyeret manusia untuk berlomba-lomba mengeruk harta kekayaan demi mendapatkan kekayaan, tanpa melihat esensi dan kualitasnya. Akibatnya, banyak manusia-manusia modern yang antirealitas dan asosial. Melihat gejala yang dihadapi masyarakat tersebut, para pemikir keagamaan, memberikan tawaran alternatif terapi untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, yakni dengan ber-tasawuf. Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa melakukan tindak sufisme bukan berarti meninggalkan dunia tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya. Sufisme juga dapat menjadi perisai untuk membentengi manusia dari kekuasaan nafsu.
Ilmu pengetahuan modern memberikan sarana bagi ummat Islam untuk mawas diri secara kritik kesejarahan dalam rangka menemukan kembali ajaran islam yang benar-benar segar dan kontekstual sesuai dengan semangat zaman terkini.

B. Pengertian
Neo-sufisme lebih menekankan manusia pada aspek rekonstruksi moral sosial masyarakat. Sufisme merupakan terapi yang efektif untuk membuat orang lebih manusiawi pula. Menjalani sufisme bukan berarti meninggalkan dunia. Tetapi, menjalani sufisme justru meletakkan nilai yang tinggi pada dunia dan memandang dunia sebagai media meraih spiritualitas yang sempurna.
Pada hakekatnya Neo-sufisme berarti paham tasawuf baru, atau menurut istilah Fazlurrahman, tasawuf yang diperbaharui untuk menyebut paham tasawuf para ahli hadits yang puritan, terutama tasawuf Ibnu Taimiyah dan muridnya, ibnu Al-Qayum Al-Jauziyah .
Neo-sufisme, dipelopori oleh tokoh salaf, Ibnu Taimiyah. Meskipun ia menentang berbagai praktek sufi, terutama kultus individu, namun Ibnu Taimiyah justru mengadopsi metode yang mereka gunakan. Ia meniru cara-cara kaum sufi dalam menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah SWT.
Sebagai ahli hukum Islam, ia berusaha menyeimbangkan syari’at dan tasawuf. Adapun caranya ialah, berbagai ragam pengalaman sufistik ia uji dengan pengalaman empirik. Perilaku eksternal sufi dikonfrontasikan dan diuji dengan merujuk pada aspek lahiriah ajaran islam. Neo-Sufisme cenderung mengacu pada kehidupan Nabi SAW secara utuh. Tidak ada dikotomi antar syari’at dan taswuf karena nabi Muhammad mampu menggabungkan keduanya dalam satu perilaku dan cermin kehidupan. Tidak ada dikotomi antara filsafat dan tasawuf karena Nabi membangun pola kehidupan yang merangkum keduanya.
Dalam buku the seculer city Harvey Cox, pernah memprediksi keruntuhan agama karena modernisme. Tetapi, agaknya ia segera merubah teorinya, karena ternyata modernisasai sama sekali tidak melumpuhkan agama. Modernisme justru mengantar mansuia pada jalan buntu yang menyebabkan mereka berpaling pada nilai-nilai spritual dan pencarian makna hidup. Fenomena ini diidentifikasi oleh Futrolokg Jhon Naisbitt dan Patridcia Abordene sebagai kebangkitan agama (spritualisme) millenium ketiga (Megatrends 2000, h. 254). Dalam islam kebangkitan spritualisme yang menandai era baru yang disebut Paskahmodernisme itu timbul antara lain dalam bentuk Neo-Sufisme.
Neo-Sufisme menurut Fazlurrahman memilki beberapa ciri yang membedakan dengan tasawwuf populer :
Pertama, Neo-Sufisme, memberikan pengahargaan positif pada dunia untuk seorang sufi. Menurut paham ini tidak harus miskin, bahkan boleh kaya. Kesalehan, menurut paham ini bukan dengan menolak harta dan kekayaan, tatapi mempergunakannya sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Rasul.
Kedua, Neo-Sufisme menekankan kesucian moral dan akhlakul karimah sebagai upaya memperkuat iman dan takwa.
Ketiga, dalam Neo-Sufisme terdapat aktivitas dan dinamika baik dalam berpkir maupun dalam bertindak.
Neo-Sufisme tetap menghendaki penghayatan esoterisme yang mendalam, tetapi tidak dengan mengasingkan diri (uzlah), melainkan tetap aktif melibatkan diri dalam masyarakat. Selain sebagai olah rohani, tasawuf klasik berperan melancarkan gerakan oposisi keagamaan (pious opposition) terhadap praktik-praktik penindasan.

C. Tokoh Neo-Sufisme, Persamaan dan Perbedaan dengan Sufi Klasik
Sufisme mempunyai aspek dukungan yang amat positif bagi mendalamnya keyakinan agama dan pembinaan akhlak yang karimah. Hal ini telah dikemukakan oleh imam Al-Ghazali dalam bukunya al-Munqidz min al Dlalal. Yaitu, karena mereka percaya bahwa dengan pengalaman kejiwaan (kasyfi) itu adalah hubungan langsung dengan Tuhan, maka benar atau salah kepercayaan ini menimbulkan keyakinan yang mantap tak tergoyahkan. Keyakinan itu menghidupkan rasa yang mendorong ketekunan beribadah dan pengamalan agama. Disamping itu, jalan untuk mencapai pengalaman kasyfi juga menjadi sarana pembinaan akhlak keagamaan. Ada kekhawatiran apabila tasawuf dihapuskan, umat Islam akan terpelanting ke arah formalisme yang kaku dan kosong dari rasa agama. Bahkan ada yang memandang penghayatan kasyfi sebagai dimensi batin bagi agama Islam. Nurcholis Madjid misalnya dalam bukunya Islam Agama Peradaban mengatakan sebagai berikut:
Sebagai sistem ajaran keagamaan yang lengkap dan utuh, Islam memberi tempat kepada jenis penghayatan keagamaan eksoterik (zhahiri) dan esoterik (bhatini) sekaligus. Tetapi meskipun tekanan yang berlebihan kepada salah satu dari kedua aspek penghayatan itu akan menghasilkan kepincangan yang menyalahi prinsip ekuilibrium (tawazun) dalam Islam, namun kenyataannya banyak kaum Muslim yang penghayatan keislamannya lebih mengarah kepada yang lahiri dan banyak pula yang lebih mengarah kepada bhatini. Kaum syariah lebih menitik beratkan perhatian kepada segi-segi syari’ah atau hukum sering juga disebut kaum lahiri. Sedangkan kaum thariqah yaitu mereka yang berkecimpung dalam amalan-amalan tarekat, dinamakan kaum batini.

Pemikir yang memahami benar-benar intisari sufisme yakni mencari hubungan langsung secara tatap muka dengan Tuhan dengan perantaraan pengalaman kejiwaan (kasyfi), pasti menilai tidak ada pembaharuan. Sufisme adalah kepercayaan bahwa penghayatan kasyfi yang bersifat pengalaman kejiwaan itu merupakan dalil yang paling meyakinkan. Intisari yang menjadi tujuan utama tasawuf tidak mungkin dicapai bila dibatasi dengan aturan-aturan syariat. Tujuan tasawuf hanya bisa dicapai dengan kontemplasi dengan perantara membaca aurad-aurad yang kaifiyatnya menyimpang dari tuntunan syariat. Dan amal semacam inilai yang dinalai oleh para pembaru agama sebagai bid’ah. Kenyataan inilah yang menyebabkan upaya-upaya untuk mensyariatkan sufisme seperti dicoba oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Haji Ahmad Rifa’i dan Hamka di Indonesia tidak bisa berkembang ; disebabkan berlawanan dengan logika pemikiran sufisme itu sendiri.
Istilah Neo Sufisme berasal dari Fazlur Rahman dalam upaya untuk memperbarui sufisme dengan jalan mencoba mengikat serta menundukkan ajaran tasauf dibawah kendali syariat yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam sistem Ghazaliyah tasawuf atau ilmu Hakikat dipandang lebih halus dan lebih tinggi dari syariat. Urutannya adalah syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Dalam cita neo-sufisme sebaliknya sufisme harus tunduk didalam kendali syari’at. Penganut paham neo-sufisme ini terdapat dua cabang. Satu cabang menolak penghayatan kasyfi sebagai intisari atau hakikat sufisme. Mereka berusaha mengembalikan pada bentuk tasawuf seperti yang diamalkan para sahabat nabi (ulama salaf). Artinya intisari yang menjadi tujuan tasawuf hendaknya hanya bertekun beribadah dan menghindari kemewahan hidup duniawi. Penghayatan kasyfi yang kadang menyertai orang-orang yang tekun beribadah itu adalah godaan, yang apabila itu diutamakan berarti penyimpangan dari tujuan tasawuf semula (yang asli). Cabang yang lain mengakui penghayatan kasyfi memang intisari ajaran tasawuf. Namun kebenarannya jangan di mutlakkan. Kebenaran penghayatan kasyfi harus di uji sesuai atau tidak dnegan syari’at. Cabang pertama yang berupaya mengalihkan intisari yang menjadi tujuan utama tasawuf adalah ketekunan beribadah dipelopori Ibnu Khaldun. Dalam kitabnya Muqadimah tentang bab “Ilmu Tashawwuf” Ibnu Khaldun mengatakan agar tujuan utama ajaran tasawuf atau sufisme diubah.
Usul Ibnu Khaldun untuk tidak mementingkan penghayatan kasyifi ini memang bagus, namun kurang realitis. Karena apabila penghayatan makrifat yang menjadi intisari sufisme ditinggalkan atau tidak menjadi tujuan utama, tasawuf pasti akan gulung tikar, tidak menjadi tasawuf lagi. Yakni berubah menjadi ‘abid atau zahid, tidak perlu disebut sufi atau mistikus. Karena kurang realis maka ide Ibnu Khaldun tidak digubris dan tidak diperhatikan oleh para sufi sendiri. Cabang kedua, tetap mengakui penghayatan kasyfi sebagai intisari dan tujuan utama tasawuf. Upaya ini mula-mula dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Di Indonesia faham ini dianut oleh Haji Rifa’i dan Hamka. Nurcholish Majid dalam bukunya Islam Agama Peradaban menjelaskan secara panjang lebar tentang neo-sufisme sebagai berikut :
Fazlur Rahman menjelaskan sufisme baru itu merupakan ciri utama berupa tekanan kepada motif moral dan penerapan metode zikir dan muraqobah atau konsentrasi keruhanian guna mendekati Tuhan, tetapi sasaran dan isi konsentrasi disejajarkan dengan doktrin salafi (ortodoks) dan bertujuan untuk meneguhkan keimanan kepada qidah yang benar dan kemurnian moral dan jiwa.gelaja yang dapat disebut sebagai neo-sufisme ini cenderung untuk menghidupkan kembali aktifisme salafi dan menanamkan kembali sikap positif kepada dunia. Dalam makna inilah kaum Hambali seperti Ibn taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyah, sekalipun sangat memusuhi sufisme populer, adalah jelas kaum neo-sufi, malah mejadi perintis ke arah kecenderungan ini. Selanjutnya kaum neo-sufi juga mengakui sampai batas tertentu, kebenaran klaim sufisme intelektual : mereka menerima kasyf (pengalaman menyingkapkan kebenaran Ilahi) kaum sifi atau ilham intuitif, tetapi menolak klaim mereka seolah-olah tidak dapat salah (ma’shum), dengan menekankan bahwa kehandalan kasyfi adalah sebanding dengan kebersihan moral dari kalbu, yang sesungguhnya mempunyai tingkat-tingkat yang tidak terhingga. Ibn Qayyim sesungguhnya mengaku pernah mengalami kasyf sendiri. (Islam Agama Peradaban, hlm. 93-94).

Keyakinan kaum sufi yang sejati tidak akan bisa ditawar, bahwa penghayatan kasyfi adalah ilmu yang mendatangkan haqqul-yaqin, dan bahwa ilmu yang mereka yakini sebagai ladunniyah lebih tinggi dan benar dari ilmu-ilmu ta’limiyah. Maka golongan terbesar atau masyarakat sufi tidak akan tergoyahkan dan tidak akan tertarik dengan ide-ide baru yang memang berlawanan dari dasar fikiran sufisme.
Adapun gerakan pemikiran Islam yang tegas menolak dan menjauhi sufisme juga membentur suatu masalah yang setiap saat menghantui mereka, yaitu proses pendangkalan spiritual dan rasa agama. Dengan pendangkalan ini gerakan akan selalu dihadang oleh penyakit formalisme dan kejatuhan moral Islam. Akhlak Islamiyah tidak bisa dibina hanya dengan kegarangan rasional saja. Bahkan rasionalisme syariat dan pemikiran Islam ini pun akan membentur pada masalah penafsiran kembali ajaran-ajaran agama yang itu-itu juga. Artinya akan terjerat pada pemikiran yang berputar sehingga mengkontektualkan Islam, namun kekurangan ahli pemikir agama yang mampu berfikir akademis.
Spritualisme masyarakat modern muncul di dorong oleh modernisme itu sendiri di mana manusia modern merasakan bahwa harta tidak lagi dapat menjadi patokan pembawa kebahagiaan dan penyejukab hati sehingga masyarakat modern mengalami kefakuman eksistensial. Hal ini pada akhirnya mengantarkan masyarakat modern kembali kepada nilai-nilai religius. Masyarakat modern haus akan kegiatan-kegiatan dan orang-orang yang mampu memberikan kesejukan dan ketenangan jiwa bagi mereka.
Sebuah fenomena, pada awal abad ke 20 ini, di Indonesia – dengan tidak menafikan negara-negara Islam lainnya – telah muncul pemikir-pemikir Islam yang cukup berani dengan kemampuannya mengungkap warisan ilmu pengetahuan Islam dengan pendekatan epistemologi Islaminya. Ary Ginanjar Agustian misalnya, meski dia seorang praktisi yang bergerak di bidang usaha, dengan ‘ESQ Model’ nya, ia telah dianggap mampu memperkenalkan paradigma baru yang mensinergikan sains, sufisme dan psikologi dengan tetap berpijak pada ajaran-ajaran Qur’ani serta penekanannya pada prinsip Tauhid.
Ada lagi Agus Musthofa, seorang sarjana teknik nuklir lulusan Universitas Gadjahmada (UGM) Yogyakarta, dengan cukup berani ia mencoba menyingkap fenomena-fenomena spiritual yang dianggap sulit dicerna oleh indera manusia dengan argumen-argumen logis-empiris namun tetap berpijak pada koridor ajaran wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadits).
Tantangan terbesar bagi ilmuwan Muslim saat ini adalah, bagaimana menemukan formulasi yang konfrehensif tentang berbagai macam teori ilmu pengetahuan yang dapat diterima oleh semua kalangan, baik Islam maupun non Islam, sehingga sains Islam-pun bukan hanya akan terbebas dari bayang-bayang imperialisme epistemologi barat, tetapi juga mampu mencerminkan secara kongkrit konsep Islam sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’.

D. Implikasnya bagi Masyarakt Modern
Menjelang abad XXI ini, tasawuf dituntut untuk lebih humanistik, empirik, dan fungsional. Penghayatan terhadap ajaran Islam, bukan hanya pada Tuhan, bukan hanya reaktif, tetapi aktif serta memberikan arah kepada sikap hidup manusia di dunia ini, baik berupa moral, spiritual, sosial, ekonomi, teknologi, dan sebagainya.
Saat ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai oang yang stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan aktif dalam medan perjuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi. Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani). Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial daripada “terkungkung” dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.
Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri, kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya terhadap Allah dan Rasulnya. Kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan sangat dianjurkan didalam Islam, serta pengamalan dari pengetahuan juga harus disesuaikan dengan kehendak Ilahi sebagai wujud yang kita yakini sebagai wujud tunggal yang menguasai segala hal di alam semesta ini. dalam mendorong umat untuk giat mencari ilmu, para ulama’ menetapkan bahwa setiap ilmu hasil ciptaan atau hasil buatan yang memang diperlukan oleh umat Islam maka hukumnya adalah fardu kifayah, seperti yang pernah dikatakan oleh al Ghazaly:
” apabila ilmu dan karya yang dimiliki oleh Non-Muslim lebih baik dan lebih maju dari pada yang dimiliki oleh kaum Muslim, maka kaum muslim berdosa dan kelak mereka akan dituntut atas kelalaianya itu”.
Dari serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan dari suatu masyarakat, karena tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan, kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu ibadah kepada Allah yang satu.
Kekuatan tasawuf mampu membangkitkan kesadaran dan nuansa pembebasan masyarakat Muslim. Kecenderungan demam tasawuf di perkotaan kian menunjukkan peningkatan. Kursus-kursus tasawuf yang diselenggarakan oleh lembaga semacam LSAF, Paramadina, Sehati, Tazkiya, dan lain-lain menarik minat yang cukup tinggi, terutama di kalangan kaum kota yang terdidik secara modern.
Mubaligh-mubaligh dalam sosok sufi pun makin dirindukan umat. Aa’ Gym, Arifin Ilham, atau Ihsan Tanjung, yang terkenal dengan program Alquran Seluler, mewakili dai-dai sufi yang bertumpu pada kekuatan akhlak dan aura spiritualnya. Buku-buku tasawuf, mulai dari sufi klasik; Ibn Arabi, al-Hallaj, al-Aththar, al-Qawariri, atau al-Kharraj hingga pemikir sufi kontemporer; Inayat Khan, Idris Shah, Kabir Helminski, Hakim Moinuddin Christhi, Seyyed Hossein Nasr, dll makin digemari dan membanjiri pasaran.
Kebangunan tasawuf ini dapat ditengarai sebagai antitesis fiqh-oriented yang telah lama menghinggapi pola hidup masyarakat Muslim. Bukan berarti fiqh tidak penting. Secara fungsional-historis, fiqh telah berdiri memberi arah kejelasan ajaran-ajaran Islam, tapi “penganakemasan” berlebihan pada fiqh hanya menggiring esktremisme yang tidak bisa ditolerir. Wacana keberagamaan yang cenderung fiqh bukan saja memancangkan reduksionisme pola pikir yang dualistis, tapi juga mengintrodusir tafsir keagamaan “bawah-atas” yang sangat terikat dengan ruang dan waktu, karenanya tidak berlaku universal. Fiqhisme memang berhasil menjelaskan tata cara hidup, namun gagal mengajarkan bagaimana menikmati hidup.
Dalam konteks ini, tasawuf hadir menginjeksi fungsi pendalaman, sesuatu yang bersifat esoteris. Namun, tasawuf bukanlah esoterisme. Karena esoterisme adalah pengembaraan aspek-aspek “dalam” yang sepenuhnya terlepas dari sandaran jurisprudensi formal agama, seperti syariat. Tasawuf berpijak pada syariat untuk menjalani tarekat guna mencapai hakikat. Inilah neo-sufisme yang dimunculkan Fazlur Rahman (1979) dengan menitikberatkan pada rekonstruksi sosio-moral masyarakat Muslim. Dengan pendalaman, tasawuf diharapkan memberikan tempat buat bangkitnya kesadaran dan nuansa pembebasan bagi masyarakat Muslim.

Categories: Pemikiran Islam, Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

STRATEGI KEPIMPINAN ABU JA’FAR AL MANSUR ; REORIENTASI DARI ROMAWI KE PERSIA

STRATEGI KEPIMPINAN ABU JA’FAR AL MANSUR ;
REORIENTASI DARI ROMAWI KE PERSIA

A. Khalifah Abu Ja’far Al Mansur Sebagai Khalifah Kedua

Abu Ja’far Adullah bin Muhammad dilahirkan di kota Hamimah pada tahun 101 H. Ibunya bernama Salamah. Ia menjadi khalifah pada usia 41 tahun. Ia memerintah selama ± 22 tahun (136 – 158 H/ 754 – 775 M).
Sebelum Abu Al- Abbas As-Saffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa bakal menjadi penggantinya, yakni saudaranya, Abu Ja’far, kemudian Isa ibn Musa, keponakannya. Sistem pengumuman putra mahkota ini meniru cara Umayyah, bukan mencontoh Khulafurrasyidin yang mendasarkan pemilihan khalifah pada musyawarah dari rakyat.
Di zaman Al Mansur berawal masa kejayaan dan masa perkembangan ilmu pengetahuan yang oleh karenanya Daulat Abbasiyah mencapai zaman keemasannya di belakang hari. Di zaman Al Mansur pula berkembang pengaruh Persia secara jelas, sehingga khalifah-khalifah Bani Abbas meniru umat Persia tentang adat istiadat istana bahkan sampai kepada nizam siasat yang terpakai di masa pemerintahan Kisra-kisra Persia. Di dalam istana orang Persialah yang berpengaruh.
Ada suatu hal yang baru lagi bagi para khalifah Abbasiyah, ialah pemakaian gelar. Abu Ja’far misalnya memakai gelar al-Mansur. Hal tersebut dapat ditelusuri dari lokasi dimana Abbasiyah berkuasa yang bertumpu pada bekas kekuasaan Persia, sehingga model Persia dijadikan acuan bagi pemerintahannya. Antara lain ialah dengan mengatakan bahwa seorang penguasa adalah wakil Tuhan di bumi, Tuhan telah memilih mereka sebagai orang kepercayaan-Nya untuk memerintah. Sedangkan menurut Joesoef Sou’yb disebabkan Abu Ja’far senantiasa menang di dalam peperangan baik memadamkan kerusuhan maupun dalam menghadapi serangan imperium Byzantium, maka iapun digelari Al Mansur yang beroleh pertolongan dari Allah. Pada masa al Mansur pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata ”Innama ana Sulthan Allah fi Ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)”. Dengan demikian konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke genarasi selanjutnya yang merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut nabi sebagaimana pada masa al Khulafa ar Rasyidin.
Hal ini merupakan pengaruh Persia yang menetapkan bahwa raja adalah wakil Tuhan, karena itu dia berhak memerintah, dan rakyat hendaklah setia dan patuh kepadanya.
Mereka juga memakai gelar Imam sebagai pemimpin umat Islam dibidang spiritual. Gelar Imam telah lazim digunakan oleh kelompok Syi’ah, pendukung Ali ibn Abi Talib. Imam sebenarnya berasal dari pemimpin sholat berjama’ah, berarti pemimpin dalam hal agama. Tetapi penggunaan kata Imam bagi Syi’ah bukan hanya dibidang agama saja, hal itu digunakan juga dalam lapangan politik. Rupanya Abbasiyah ingin selalu mendapat dukungan dari Syi’ah dengan memakai gelar yang biasa digunakan di kalangan pendukung Ali tersebut. Memang pada awal berdirinya, Abbasiyah justru mendapat dukungan penuh dari kaum Syi’ah yang selalu gagal merebut kepemimpinan umat Islam, bahkan mereka mendapat tekanan keras di masa Umayyah. Husain ibn Ali ibn Abi Talib mati terbunuh di masa pemerintahan Yazid ibn Mu’awiyah di padang Kerbala.

B. Strategi Kepemimpinan Khalifah Abu Ja’far Al Mansur Di Dalam dan Luar Negeri

Dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah diletakkan oleh khalifah kedua, Abu Ja’far al Mansur yang dikenal sebagai pembangun khilafah tersebut. Di awal masa pemerintahannya ia menghadapi berbagai kesulitan terutama perlawanan-perlawanan dari pihak yang tidak menerima beliau sebagai khalifah. Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu persatu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang gagah berani dalam pertempuran, dan ia menginginkan jabatan khalifah itu jatuh ke tangannya. Keduanya adalah yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syiria dan Mesir. Karena tidak bersedia membai’atnya maka dibunuh oleh Abu Muslim Al Khurasani atas perintah Abu Ja’far.
Pada ibu kota Hasyimia berlangsung bai’at, sedangkan dalam wilayah Khurasan sampai perbatasan belahan timur bai’at berlangsung di bawah pengawasan panglima Abu Muslim Al Khurasani yang menjabat Al Wali untuk wilayah yang luas itu. Akan tetapi Emir Abdullah ibn Ali dan Shalih bin Ali menantang pengangkatan keponakannya itu. Emir Abdullah mengadakan pertemuan besar di Damaskus dengan mengundang tokoh-tokoh terkemuka dan menyampaikan suatu pernyataan bahwa Khalif Abul Abbas dulu sudah mengucapkan janji bahwa barangsiapa yang mampu mematahkan perlawanan Khalif Mirwan dari Daulah Umayyah akan diangkat menjabat khalifah setelahnya. Palestina, Syiria dan Mesir kemudian mengangkat bai’at terhadapnya. Dia dan saudarnya Emir Shalih bin Ali lantas menyusun pasukan berkekuatan besar dan maju menuju benteng kota Harran di dalam wilayah Armenia.
Khalifah al Mansur mendengar berita tentang gerakan pamannya yang berkekuatan besar itu, maka iapun mempersiapkan pasukan dari Irak dan Iran dan selanjutnya mengirimkan instruksi kepada panglima besar Abu Muslim al Khurasani supaya bergerak dengan pasukannya. Akhirnya pecahlah pertempuran besar di Nissibin. Pasukan Emir Abdullah dan Emir Shalih dan keduanya tewas di medan pertempuran. Wilayah Palestina dan Mesir tunduk kembali kepada kekuasaan pusat pada ibu kota Hasyimia.
Abu Muslim sendiri merupakan seorang yang setia kepada khalifah dan berpengaruh besar. Ketika as-Saffah masih hidup, Abu Muslim selalu dimintai pendapatnya dalam urusan negara, sebelum meminta kepada yang lain termasuk al-Mansur. Dikarenakan kekhawatiran akan menjadi pesaing baginya, maka Abu Muslim Al Khurasani dihukum mati pada tahun 755 M. Selanjutnya Abu Ja’far juga menyingkirkn keturunan Ali ibn Abi Thalib yang pengikutnya banyak, terutama di wilayah berdirinya kekuasaan Bani Abbas. Mereka ditakutkan menuntut hak untuk kepemimpinan umat dari golongannya yang selama ini ikut berjuang mendirikan kekuasaan.
Di samping itu pula al Mansur berusaha memadamkan pemberontakan oleh kaum ‘Alawiyin yang merasa di tinggal dan tidak di berikan kekuasaan yang luas. Pada tahun 145 H muncullah di Hijaz Muhammad bin ‘Abdillah al ‘Alawy. Ia di tabalkan penduduk hijaz menjadi khalifah. Dia mengirimkan saudaranya Ibrahim ke Basrah untuk menghimbau penduduk Basrah agar turut membai’at dirinya. Muhammad bin Abdullah lalu diperangi oleh al Mansur hingga wafat pada tahun 145 H. Kemudian Ibrahim mengangkat dirinya menjadi khalifah di Irak dan Persia, akan tetapi hal ini dapat di atasi oleh al Mansur, ia pun terbunuh pada tahun 146 H.
Sedangkan strategi Luar-Negeri khalifah al Mansur antara lain:
1. Terhadap kerajaan Byzantium
Orang Byzantium senantiasa mengintai peluang kelemahan bani Umaiyah untuk melancarkan serangan mereka ke negeri-negeri Islam yang berbatasan dengan negeri mereka. Kaisar Byzantium mengerahkan tentaranya menyerang negeri Syam di zaman khalifah al Mansur pada tahun 138 H. Penyerangan ini dapat ditangkis oleh panglima Abbasiyah. Peperangan ini di akhiri dengan perjanjian peletakan senjata selama tujuh tahun.
Setelah al Mansur selesai memadamkan pemberontakan kaum ‘Alawiyin, maka di mulainyalah menyerang kerajaan Byzantium. Maka akhirnya Kaisarnya minta berdamai dan berjanji akan membayar upeti tahunan kepada khalifah Abbasiyah.

2. Terhadap negeri Andalus
Tanah Andalus telah melepaskan dirinya dari Daulat Abbasiyah setelah tegaknya daulat Bani Umaiyah dengan usaha amir Abdur Rahman bin Muawiyah bin Hisyam.. Al Mansur tidak dapat menaklukkan negeri ini karena jauhnya dari pusat khilafah Bani Abbas. Apalagi saat itu ia sedang menindas huru hara dan pemberontakan dalam negeri. Maka ia berupaya dengan menjalin hubungan baik dengan Pepyn raja Frank serta saling bertukar duta dan bingkisan. Dan raja itupun dihasutnya untuk memerangi Abdur Rahman.

3. Terhadap Afrika
Bangsa Barbar di Afrika Utara merasa tidak senang di bawah pemerintahan bangsa Arab yang berlaku aniaya terhadap diri mereka. Mereka di anggap oleh wali-wali nya bukan sebagai saudara dengan saudara, melainkan penjajah dengan rakyat terjajah, meskipun mereka telah memluk agama Islam. Di saat Daulah Umaiyah mulai melemah mereka mulai melakukan perlawan dan mendirikan beberapa wilayah merdeka. Namun perlawanan ini tidak berlangsung lama. Peluang ini di pergunakan oleh al Mansur untuk menaklukan kembali daerah itu pada tahun 144 H. Kota Kairawan silih berganti bertukar wali. Kadang di kuasai oleh bangsa Arab, di lain waktu jatuh ke tangan Barbar. Akhirnya pada tahun 155 H barulah kota itu dikuasai penuh oleh Daulat Abbasiyah.

C. Perpindahan Ibu Kota Daulah Bani Abbas sebagai Reorientasi dari Romawi ke Persia

Dalam masa pemerintahan al Mansur, ibu kota Daulah Bani Abbas dipindahkan ke kota yang baru dibangunnya, yakni Bagdad. Sebelum itu ibu kota negara adalah Al Hasyimiyah. Karena ibu kota itu berdekatan dengan Kufah, tempat pergerakan kaum syi’ah, maka al Mansur memindahkannya ke Bagdad yang merupakan kota kuno di sebelah barat sungai Tigris. Hal ini dilakukan untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu.
Al Mansur sangat cermat dan teliti dalam memilih lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang diperintahkan tinggal beberapa hari di tempat itu pada setiap musim yang berbeda, kemudian para ahli tersebut melaporkan pada beliau tentang keadaan udara, tanah dan lingkungan. Setelah penelitian yang seksama itulah daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota dan pembangunan pun dimulai.
Dalam membangun kota ini, khalifah mempekerjakan ahli bangunan yang terdiri dari arsitektur- arsitektur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat dan lain-lain. Mereka didatangkan dari Syiria, Mosul, Basrah, dan Kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang. Ada empat buah pintu gerbang diseputar kota ini, disediakan untuk setiap orang yang ingin memasuki kota. Keempat pintu gerbang itu adalah Bab al Kufah, terletak di sebelah barat daya, Bab al Syam, terletak di barat laut, Bab al Bashrah, terletak di tenggara dan Bab al Khurasan, terletak di timur laut. Di antara masing- masing pintu gerbang ini, dibangun 28 menara sebagai temapat pengawal negara yang bertugas mengawasi keadaan diluar. Di atas setiap pintu gerbang dibangun sebuah tempat peristirahatan yang dihiasi suatu ukiran-ukiran yang indah yang menyenangkan. Ditengah-tenagh kota terletak istana khalifah menurut seni arsitektur Persia. Istana ini dikenal dengan nama al-Qashr al-Zahabi, berarti istana emas. Istana ini dilengkapi bangunan mesjid, tempat pengawal istana, polisi dan tempat tinggal putri-putri dan keluarga khalifah-khalifah. Di sekitar istana dibangun pasar tempat perbelanjaan. Jalan raya menghubungkan empat pintu gerbang.
Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam islam. Itulah sebabnya, Philip K.Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya, di antara kota – kota dunia, Baghdad meruakan profesor masyarakat Islam. Al-Manshur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dan kesusasteraan dari bahasa asing: India, Yunani lama, Byzantium, Persia, dan Syria. Para peminat ilmu dan kesusasteraan segera berbondong-bondong datang ke kota itu.
Setelah masa Al-Manshur, kota Baghdad menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan dan kebudayaan Islam. Banyak para ilmuan dari berbagai daerah ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan yang ingin di tuntutnya.
Berpindahnya ibukota kekhalifahan ke Bagdad ikut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Bagdad terletak di daerah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Persia dan berarti semakin jauh dari pengaruh Arab. Kota Bagdad sendiri telah lama mengenal ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi. Membaurnya bangsa-bangsa di Bagdad mempunyai pengaruh yang besar.
Di ibu kota yang baru ini Al-Manshur melakukan konsilidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki sejumlah jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen, wazir yang pertama diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd Al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah di tingkatkan perananya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar mengantar surat, pada masa Al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah, sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
Khalifah al Mansur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia Kecil, kota Malatia, kemudian ke bagian tengah wilayah Coppadocia, dan bergerak ke arah barat merebut dan menguasai wilayah Cicilia. Perebutan Asia Kecil itu berkelanjutan tiga tahun lamanya, dari tahun 138-140 H/ 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Di pihak lain dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Byzantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, turki dibagian lain Oksus dan India.

D. Pergerakan Penyalinan/ Penterjemahan dan Mangkatnya Khalifah al Mansur

Menjelang penghujung pemerintahan Khalif Abul Abbas, ia mengangkat Khalid ibn Barmak menjabat wazir menggantikan Abu Jahm ibn Atiyya dan jabatan itu dipegangnya hingga selama masa pemerintahan Abu Ja’far al Mansur. Bahkan puteranya Yahya dan cucunya Jaafar mewarisi jabatan tersebut pada masa pemerintahan khlaif-khalif selanjutnya. Dengan begitu, bermula peranan dan pengaruh keluarga Al Barmeki dalam sejarah Daulah Abbasiah.
Keluarga Al Barmeki adalah bangsawan Iran tertua berasal dari kota Balkh yang menjadi ibu kota wilayah Bactri sewaktu Alexander the Great dari Makedomia maju manaklukkan Asia Tengah. Keluarga Al Barmeki cendrung menaruh perhatian besar pada perkembangan ilmu dan kebudayaan.
Permulaan gerakan penyalinan literatur Iran dan Irak, Grik serta Siryani secara besar-besaran adalah pada masa khalif al Mansur. Perguruan tinggi ketabiban di Jundishapur yang dibangun oleh Khosru Anushirwan (351-579 M) dan tenaga-tenaga pengajar terdiri atas tabib-tabib Grik dan tabib-tabib Roma yang berasal dari tawanan perang tetapi mendapat pelayanan yang mewah. Bahkan tabib istana pada masa khalif al Mansur adalah Jurjis ibn Bakhtisyu, mahaguru perguruan tinggi ketabiban di Jundishapur, seorang tokoh nasrani. Dan keluarga Bakhtisyu itu selanjutnya menjadi tabib-tabib istana pada masa khalifah-khalifah selanjutya.
Apalagi masa sepuluh tahun terakhir pemerintahan al Mansur itu adalah masa aman dan damai dan kemakmuran yang melimpah hingga seluruh perhatian tertuju pada negeri tersebut.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalif al Mansur. Ia menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Bagdad. Ia merangsang pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid, hadits dan ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah.
Menjelang penghujung tahun 158 H/ 775 M, khalif al Mansur berangkat untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci, disertai oleh puteranya sl Mahdi. Mendekati kota Kufah iapun jatuh sakit. Tetapi pada suatu tempat bernama Bir Maimun iapun tergeletak dan lalu wafat disitu. Ia wafat pada usia 63 tahun dan memerintah selama ± 22 tahun lamanya. Jenazahnya di kebumikan di ibu kota Bagdad.

E. Kesimpulan

Abu Ja’far al Mansur merupakan khalifah kedua pada Daulat Abbasiyah namun beliau merupakan khalifah yang menetapkan dasar-dasar pemerintahan Daulat Bani Abbas.
Masa pemerintahan Abu Ja’far al Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembanagn Daulat Abbasiyah pada pemerintahan selanjutnya. Ia melakukan strategi pemerintahannya baik di dalam maupun di luar negeri dengan penuh usaha yang akhirnya dapat memperluas wilayah kekuasaan Daulat Bani Abbas.
Reorientasi dari Romawi ke Persia di lakukan sebagai wujud kerjasama yang baik antara Bani Abbas dengan orang Persia yang telah mendukung berdirinya Daulat Abbasiyah. Di samping itu hal ini juga di lakukan agar pemerintahan Daulat Abbasiyah lebih dekat dengan Persia
Ia wafat pada usia 63 tahun dan memerintah selama ± 22 tahun lamanya. Jenazahnya di kebumikan di ibu kota Bagdad.

Categories: Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.