Pemikiran Islam

Studi Hadits (Penulis Ali M Zebua adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Medan, 2011, Perodi MPI)

BAB I
PENDAHULUAN
   
       •          
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al Hujuraat [49]: 6)
Hadits Nabi Saw. diyakini oleh mayoritas umat Islam sebagai bentuk ajaran yang paling nyata dan merupakan realisasi dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Dalam hubungan antara keduanya, hadits berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an. Interpretasi terhadap petunjuk Allah Swt. ini diwujudkan dalam bentuk nyata dalam kehidupan Nabi Saw. Sabda, perilaku, dan sikapnya terhadap segala sesuatu, terkadang menjadi hukum tersendiri yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Oleh karena sedemikian sentralnya keberadaan hadits Nabi Saw. itu, banyak musuh-musuh Islam berupaya meruntuhkan ajaran Islam dengan cara mengkaji dan meneliti hadits dengan satu tujuan, yakni untuk meragukan dasar-dasar validitas hadits sebagai dalil / dasar argumentasi ke-dua umat Islam setelah al-Qur’an.
Dalam memandang fenomena berkembangnya ilmu-ilmu studi hadits dewasa ini, amat menentukan komentar yang akan terbentuk didalam benak kita masing-masing mengenai validitas hadits. Para orientalis dalam campur tangan mereka mengenai studi hadits, sekiranya dapat dipahami seperti pedang bermata dua. Memang ada manfaat yang luas, dengan menawarkan konstruk berfikir yang ilmiah, namun sekali lagi hal ini beresiko mengacak-acak kekokohan fondasi iman pada para pelajar maupun sarjana muslim yang selama ini hanya melanjutkan ilmu kritik hadits warisan ulama terdahulu. Namun apakah umat harus merubah paradigma dalam memahami Ushul al-Hadits? Tentu tidak. Justru hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para ulama peneliti hadits masa kini, untuk menjawab tuduhan-tuduhan para orientalis. Keikhlasan dan kesabaran untuk membela sunnah Rasulullah Saw. adalah sebuah bentuk jihad mulia. Maka untuk memahamkan kita akan kajian hadits, dalam hal ini penulis akan membahas Studi Hadits dengan sub-bab yakni, defenisi kunci-kunci istilah dalam studi hadits, sejarah dan perkembangan awal studi hadits, pendekatan dan metodologi dalam studi hadits, serta disiplin utama/ sub- disiplin dan disiplin suplemen dalam studi hadits.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Kunci- Kunci Istilah dalam Studi Hadits
Penulis membagi defenisi kunci-kunci istilah dalam studi hadits ini dalam dua poin, yakni; defenisi kunci-kunci hadits secara umum dan khusus.
Defenisi Kunci-kunci Hadits Secara Umum
1. Hadits
Kata hadits merupakan isim (kata benda) yang secara bahasa berarti kisah, cerita, pembicaraan, percakapan atau komunikasi baik verbal maupun lewat tulisan. Bentuk jamak dari hadits yang lebih populer di kalangan ulama muhadditsin adalah ahadits, dibandingkan bentuk lainnya yaitu hutsdan atau hitsdan. Masyarakat Arab di zaman Jahiliyyah telah menggunakan kata hadits ini dengan makna “pembicaraan”, hal itu bisa dilihat dari kebiasaan mereka untuk menyatakan “hari-hari mereka yang terkenal” dengan sebutan ahadits.
Kata hadits kadang-kadang diterjemahkan sebagai “ucapan”, tetapi istilah itu bisa menyesatkan. Ucapan Muhammad tidak sperti ucapan seperti Shakespare atau Einstein atau orang-orang pintar biasa lainnya. Kalimat-kalimat itu diangkat bukan karena keindahan frasenya. Tak seorang pun akan repot-repot mencatat perkataan orang bijak lokal, atau bahkan Shakespare, kecuali jika kalimat-kalimat mereka cerdas, bernash, atau mendalam. Tetapi dengan hadits, yang penting adalah fakta bahwa Muhammad benar-benar mengucapkannya.
Dalam membijaki ini, maka penulis mengutip dari Prof.Dr.H. Abuddin Nata, M.A yang menyatakan bahwa, hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Walaupun hanya sekali saja terjadi sepanjang hidupnya dan walaupun diriwayatkan seorang saja.

2. Sunnah
Sunnah menurut bahasa berarti, jalan, metode, arah. Sedangkan secara terminologi, sunnah adalah istilah yang mengacu kepada perbuatan yang mutawatir, yakni cara Rasulullah Saw. melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliah yang mutawatir pula.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Hadits dan sunnah memiliki pengertian yang sama, yaitu sama-sama segala berita yang bersumber dari Nabi Saw. baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir, sifat akhlak dan sifat anggota badan yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Pendapat lain mengatakan bahwa pemakaian kata Hadits berbeda dengan sunnah. Kata Hadis dipakai untuk menunjukkan segala berita dari Nabi secara umum. Sedang kata sunnah dipakai untuk menyatakan berita yang bersumber dari Nabi yang berkenaan dengan hukum syara’.
Sunnah juga adalah hujjah, sebagaimana firman Allah Swt.:
         •   •    
Artinya:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (Qs. Al-Hasyr : 7)

                              
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Qs. An-Nisa : 59)

3. Khabar
Khabar menurut bahasa berarti an-Naba’ (berita). Yaitu segala berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sedangkan menurut terminologi khabar lebih bersifat umum dibanding Hadits, yakni sesuatu yang datang dari Nabi Saw. atau orang selain Nabi. Ulama lain mengatakan bahwa khabar adalah suatu berita yang datang dari selain Nabi, sedangkan Hadits adalah berita yang bersumber dari Nabi.
4. Atsar
Secara pendekatan bahasa, atsar sama artinya denga khabar. Secara istilah Atsar merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in yang terdiri dari perkataan dan perbuatan. Ulama Khurasan berpendapat bahwa atsar dipakai untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu’.
5. Sanad
Sanad menurut bahasa berarti mu’tamad, yaitu tempat bersandar, pegangan, dan pedoman. Dikatakan demikian, karena Hadits itu bersandar kepadanya dan dipegangi atas kebenarannya.
Sedangkan menurut terminologi, sanad adalah jalannya matan, yaitu silsilah para perawi yang meriwayatkan matan dari sumbernya yang pertama (asanid) . Yang dimaksud dengan silsilah adalah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi Hadits tersebut, mulai dari yang pertama sampai kepada Nabi Saw.
6. Matan
Matan menurut bahasa adalah sesuatu yang keras dan tinggi (terangkat) dari bumi. Sedangkan secara terminologi, matan berarti lafaz-lafaz Hadits yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu. Dengan demikian matan adalah lafaz Hadits itu sendiri.
7. Rawi
Rawi adalah orang yang meriwayatkan atau orang yang menyampaikan hadits dilihat dari sudut orang per orang . Defenisi lain mengatakan, bahwa rawi adalah orang yang menerima hadits kemudian menghimpunnya dalam satu kitab tadwin. Seorang rawi dapat juga disebut sebagai mudawwin, yaitu orang yang membukukan Hadits.
Defenisi Kunci-kunci Hadits Secara Khusus
1. Istilah yang Berhubungan dengan Generasi Periwayatan
• Sahabat : Menurut Ibn Hajar, Sahabat adalah setiap orang yang bertemu dengan Nabi Saw., beriman dengan beliau dan mati dalam keadaan Islam.
• Mukhadramun : Menurut Imam Al-Hakim, Mukhadramun adalah orang-orang yang mendapati masa Jahiliah dan tidak sempat bertemu dengan Rasulullah Saw., namun mereka bersahabat dengan para Sahabat Rasulullah Saw.
• Tabi’in : Para Ulama hadits kebanyakan berpendapat tabi’in adalah setiap orang yang bertemu dengan Sahabat, meskipun tidak sampai bergaul dengannya.
• Al-Mutaqaddimun : para Ulama hadits yang hidup pada kedua dan ketiga Hijriah yang telah menghimpun hadits-hadits Rasulullah Saw. dalam kitab mereka.
• Al-Muta’akhirun : Ulama hadits yang hidup pada abad keempat Hijriah.
2. Istilah yang berhubungan dengan kegiatan periwayatan
Al-Muktsirun fi al-Hadits : sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, yang jumlahnya lebih dari seribu hadits.
3. Istilah yang berhubungan dengan kepakaran dan jumlah hadits yang diriwayatkan.
• Thalib al-Hadits : seseorang yang sedang mencari atau mempelajari hadits.
• Al-Musnid : orang yang meriwayatkan hadits dengan menyebutkan sanad-nya.
• Al-Muhaddits : gelar orang-orang yang telah mahir dalam bidang hadits, riwayah atau dirayah.
• Al-Hafizh : gelar ulama hadits yang kepakarannya berada di atas Al-Muhaddits, dengan menghafal 100.000 hadits lengkap dengan matan dan sanad.
• Al-Hujjah : gelar kepakaran dalam bidang hadits yang lebih tinggi dari Al-Hafizh yang mampu menghafal 300.000 hadits, lengkap dengan matan dan sanad-nya.
• Al-Hakim : gelar kepakaran dalam bidang hadits yang lebih tinggi dari Al- Hujjah yang mampu menghafal lebih dari 300.000 hadits, lengkap dengan matan dan sanad-nya.
• Amir al-Mu’minin fi al-Hadits : gelar tertinggi dalam kepakaran seorang ulama hadits.
4. Istilah yang berhubungan dengan sumber pengutipan
• Akhrajahu al-Sab’ah : Istilah ini umumnya mengiringi matan dari suatu hadits. Diriwayatkan oleh tujuh perawi hadits.
• Akhrajahu al-Sittah : suatu hadits diriwayatkan oleh enam perawi hadits.
• Akhrajahu al-Khamsah : hadits diriwayatkan oleh lima perawi hadits.
• Akhrajahu al-Arba’ah : hadits diriwayatkan oleh empat perawi hadits.
• Akhrajahu al-Tsalasah : hadits diriwayatkan oleh tiga perawi hadits.
• Muttafaq ‘Alaihi: hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sanad terakhirnya yaitu ditingkat sahabat.
• Akhrajahu al-Jama’ah : maksudnya, matan hadits itu diriwayatkan oleh jemaah ahli hadits.

B. Sejarah dan Perkembangan Awal Studi Hadits
Sesuai dengan perkembangan hadits, ilmu hadits selalu mengiringinya sejak masa Rasulullah Saw. sekalipun belum dinyatakan sebagai ilmu secara eksplisit. Pada masa Nabi Saw. masih hidup di tengah-tengah sahabat, hadits tidak ada persoalan karena jika menghadapi suatu masalah atau skeptis dalam suatu masalah mereka langsung bertemu dengan beliau untuk mengecek kebenarannya. Setelah Rasulullah Saw. meninggal, kondisi para sahabat sangat berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Seiring dengan itu, sejarah dan perkembangan awal studi hadits sendiri mulai eksis dan ia telah memunculkan dirinya (studi hadits) setelah Rasulullah Saw. meninggal.
Ketika Rasulullah meninggal, umat Islam pada saat itu harus menjadikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai fokus dan merekam rinci-rincian mengenai hal tersebut secara tertulis untuk mencegah iman mereka dari penyimpangan, divergensi, dan kehendak sesaat orang yang berkuasa. Itu sebabnya dua khalifah pertama mengumpulkan mushaf-mushaf Al-Qur’an di satu tempat dan mengapa khalifah ketiga menciptakan satu edisi yang berwenang.
Tetapi, al-Qur’an tidak eksplisit menjawab banyak pertanyaan yang bermunculan dalam kehidupan nyata. bahkan ketika Al-Qur’an berbicara secara spesifik pun sering terbuka untuk interpretasi. oleh sebab itu, jelas ummat Islam harus tiba pada satu kesepakatan tentang bagian-bagian yang ambigu dan melakukan dengan cepat untuk menghindari itu, sementara semangat yang asli masih membara dalam memori. tidak ada seorang pun pada waktu awal itu yang menawarkan interpretasi pribadi tentang Kebenaran yang hanya akan didukung oleh nalarnya sendiri. Jika nalar saja sudah cukup, wahyu tidak akan pernah diperlukan. Tentu saja, tidak ada seorang pun dari para khalifah awal yang mengklaim otoritas tersebut, mereka orang-orang saleh yang menolak untuk mengutak atik instruksi Allah Swt. tersebut. Kerendahan hati itu justru yang membuat hati mereka hebat. mereka ingin mendapatkan petunjuk yang setepat-tepatnya secara harfiah dan ruhiah – dan yang mereka maksud dengan “tepat” adalah “persis seperti yang Allah Swt. maksudkan”.
Oleh karena itu, sejak awal umat Islam mencoba mengandalkan ingatan mereka tentang Nabi untuk mengisi setiap celah dalam pedoman Al-Qur’an. Umarlah yang membukakan jalan ini . Setiap kali muncul sebuah pertanyaan yang jawaban eksplisitnya tidak bisa ditemukan dalam Al-Qur’an, dia bertanya, “Apakah Muhammad Saw. pernah harus berhadapan dengan situasi ini? Apa yang dia putuskan?”
Pendekatan Umar ini yang membuat orang lain termotivasi untuk mengumpulkan segala yang pernah dikatakan dan dilakukan Muhammad Saw., kutipan dan laporan peristiwa yang disebut umat Islam sebagai hadits. Tapi banyak orang pernah mendengar Muhammad Saw. mengatakan banyak hal. Yang mana dapat dipercaya? Sebagian kutipan bertentangan dengan kutipan lain. sebagian orang mungkin telah mengarang-ngarang saja. Siapa yang tahu? Dan sebagian, ternyata, tidak benar-benar mendengar kutipan itu sendiri, tetapi mendengarnya dari seorang yang dapat dipercaya – atau demikianlah menurut pengakuan mereka, yang tentu saja menimbulkan pertanyaan, siapakah sumber aslinya? Apakah orang itu dapat diandalkan? Bagaimana dengan orang lain yang telah meneruskannya? Apakah mereka semuanya dapat dipercaya? Lalu, akhirnya, apa yang membuat seseorang “dapat dipercaya?” Perkembangan hadits pada masa ini hanya mengandalkan pada ingatan dan hafalan para sahabat, yang mereka juga adalah manusia, maka terjadilah periwayatan secara makna yang mungkin saja pelafalan antar sahabat, yang mendengar hadits yang sama, menjadi berbeda. Jauh kedepan, periwayatan-periwatan yang berbeda lafal ini akan mengundang dan mengandung multi interpretasi tadi.
Maka, mulailah usaha-usaha penyaringan dan pemilihan riwayat dilakukan. Maka terseleksilah hadits yang benar-benar bersumber dari Rasul (hadits Sahih), dari hadits-hadits yang cacat (dha’if) dan dipalsukan orang (mawdhu’). Umar dan Ali misalnya, tidak mau menerima hadits sebelum perawinya disumpah atas kebenaran riwayat yang disampaikannya. Bahkan, mereka terlebih dahulu meminta saksi dari perawi yang menyampaikan hadits kepadanya sebelum hadits itu diterimanya. Sikap tegas dan kehati-hatian yang ketat yang dipraktekkan oleh para sahabat besar dalam penerimaan hadits tersebut menumbuhkan sikap serupa dikalangan sahabat lainnya.
Selain itu, Umar lalu membentuk dewan ulama yang bekerja purna-waktu untuk memeriksa pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan demikian membentuk suatu preseden konsekuensia: sebelum memiliki pasukan tentara professional, Islam memiliki para ulama profesional.
Ketelitian dan sikap hati-hati para Sahabat Nabi Saw. mengenai periwayatan hadits, maka diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka, dan sikap tersebut semakin ditingkatkan terutama setelah munculnya hadits-hadits palsu , yakni sekitar tahun 41 H setelah masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra. Semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadits dengan mempraktikkan ilmu al-jarah wa al-ta’dil, dan sekaligus mulai pulalah ilmu ini tumbuh dan berkembang.
Dan di antara aturan-aturan yang diberlakukan pada masa sahabat adalah:
• Mengurangi periwayatan hadis
Mereka khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian, dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasul Saw. Selain itu mereka juga khawatir dengan memperbanyak periwayatan akan menyibukkan umat Islam terhadap as-Sunnah dan mengabaikan Al-Quran.
• Ketelitian dalam periwayatan
Para sahabat sangat berhati-hati dalam menerima hadits tanpa adanya perawi yang benar-benar dapat dipercaya, karena mereka sangat takut terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits Nabi Saw.
• Kritik terhadap riwayat
Adapun bentuk kritik terhadap riwayat adalah dengan cara memaparkan dan membandingkan riwayat dengan Al-Qur’an, jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak mengamalkannya.
Setelah munculnya kegiatan pemalsuan hadits dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadits dalam rangka memelihara kemurnian hadits, yaitu seperti:
• Melakukan pembahasan terhadap sanad hadits serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi hadits, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan;
• Melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber hadits agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut melaluinya;
• Melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu hadits.
Demikianlah kegiatan para ulama hadits di abad pertama hijrah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadits. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi hadits, yaitu: Hadits Marfu’, Hadits Mawquf, Hadits Muttashil, dan Hadits Mursal. Dari macam-macam hadits tersebut, juga telah dibedakan antara hadits maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan hadits shahih dan hadits hasan, serta hadits mardud yang kemudian dikenal dengan hadits dha’if dengan berbagai macamnya.
Akan tetapi, hadits berkembang biak lebih cepat daripada yang dapat dikendalikan oleh sekelompok kecil ulama itu. Hadits-hadits baru pun terus bermunculan. Pada masa Umayyah, terdapat ribuan pertanyaan, kutipan, dan keputusan Muhammad Saw. yang teringat. Menyisir berbagai cara dan menentukan mana yang autentik, yang menjadikan pekerjaan bagi sejumlah ulama.
Setelah itu masuklah masa seleksi atau penyaringan hadits, hal ini terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbasyiah, khususnya pada masa al-Makmun sampai masa al-Muqtadir (201-300 H). Sebab munculnya periode ini, karena pada periode tadwin belum berhasil memisahkan hadits-hadits yang dha’if dari hadits yang sahih. Begitu juga hadits yang mauquf dan maqtu’ dari hadis yang marfu’, bahkan masih ada hadits yang mawdhu’ bercampur dengan hadis yang sah.
Pada masa ini para ulama mengadakan penyaringan hadits yang diterimanya secara ketat. Melalui kaidah-kaidah yang ditetapkan, pada masa ini mereka berhasil memisahkan hadits mawquf dan maqtu’ dari hadits marfu’, dan hadits dha’if dari hadits sahih, dll. Meskipun berdasarkan penelitian berikutnya masih ditemukan hadits dha’if dalam kitab-kitab karya mereka. Berkat keuletan dan keseriusan para ulama pada masa ini, maka muncullah kitab-kitab hadits yang hanya memuat hadis-hadis yang sahih.
Seiring perkembangan zaman, muncul pula penulis-penulis lain dengan berbagai karyanya dengan sistem penulisan yang semakin sempurna. Selain hal tersebut, banyak pula yang melakukan elaborasi terhadap sebuah karya dengan melakukan pensyarahan dari kitab-kitab ilmu hadits yang terdahulu. Bahkan, banyak di antaranya ditulis dalam bentuk disertasi dengan kajian yang dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan lain seperti dengan tinjauan ilmu sejarah. Kajian seperti ini semakin berkembang khususnya di zaman modern sekarang ini. Oleh karena itu, sekarang dapat ditemukan banyak kitab ilmu hadits dengan pembahasan yang semakin luas sehingga memudahkan setiap orang yang berminat mendalaminya, baik kalangan Muslim maupun para Islamis.

C. Pendekatan dan Metodologi dalam Studi Hadits
1. Pendekatan dalam Studi Hadits
Kaum muslimin mendapat dorongan yang kuat untuk meneliti dan menyelidiki periwayatan hadits, dan mengikuti aturan-aturan periwayatan yang benar agar mereka dapat menjaga warisan yang agung ini dari penyelewengan dan penyusupan terhadapnya, sehingga tetap bersih dan tidak dikotori oleh aib maupun oleh keraguan, sehingga muncullah hadits-hadits yang terpercaya dengan kualitas yang tidak diragukan lagi.
Oleh sebab itu, untuk mengetahui kualitas hadits, maka kita harus melakukan berbagai pendekatan, seperti berikut:
a. Pendekatan Rasio
Pendekatan ini terkonsentrasi pada matan hadits. Ketika matan hadits bertentangan dengan akal sehat, maka secara jelas dapat kita pastikan kelemahan hadits itu.
b. Pendekatan Ilmu Hadits Riwayah
Kata riwayah artinya periwayatan atau cerita. Secara terminologi yang dimaksud dengan hadits riwayah adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan dan “pendewanan” apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, ikrar dan lain sebagainya. Dengan kata lain, ilmu Hadits Riwayah adalah ilmu tentang hadits itu sendiri. Perintis pertama dari hadits riwayah ini adalah Muhammad bin Shihab az-Zuhri, wafat pada tahun 124 H.
c. Pendekatan Ilmu Hadits Dirayah
Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syarat, macam-macam dan hukum-hukumnya serta untuk mengetahui keadaan para perawi baik syarat-syaratnya, macam-macam hadits yang diriwayatkan dan segala yang berkaitan dengannya. Dengan kata lain ilmu Hadits Dirayah merupakan kumpulan kaidah untuk mengetahui dan mengkaji permasalahan sanad dan matan serta yang berkaitan dengan kualitasnya. Ilmu ini mulai dirintis dalam garis-garis besar sejak pertengahan abad ke-3. Kemudian sekitar abad ke-4 ilmu ini dibukukan sejajar dengan ilmu-ilmu lain.
Ilmu Hadits Riwayah dan ilmu Hadis Dirayah merupakan ilmu utama yang digunakan dalam studi hadits.
d. Pendekatan Ilmu Rijalul Hadits
Ilmu Rijal al-Hadits adalah ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadits.
e. Pendekatan Ilmu Jarh dan Ta’dil
Ilmu Jarh dan ta’dil yaitu ilmu yang membahas hal ihwal para perawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.
f. Pendekatan Ilmu Gharib al-Hadits
Gharib al-hadits yang kami maksud adalah lafal-lafal hadis yang sulit untuk dicerna. Apakah lafal-lafalnya sudah terlalu lama sehingga tidak lagi digunakan oleh masyarakat arab, atau istilah-istilah yang tidak jamak pada saat itu. Maka ilmu ini konsentrasinya pada pembahasan bahasa yang digunakan hadits tersebut.
g. Pendekatan Ilmu Asbabul Wurud
Asbabul Wurud menjadi sangat penting dalam memahami hadits. Karena, terkadang Nabi mengeluarkan haditsnya sebagai jawaban atas masalah-masalah tertentu. Sehingga ia memberikan pemahaman khusus, yakni berkaitan dengan masalah itu.
h. Pendekatan Ilmu Nasikh dan Mansukh
Ilmu Nasikh wa mansukh yaitu ilmu yang membahas hadis-hadis yang saling berlawanan maknanya yang tidak mungkin dapat dikompromikan dari segi hukum yang terdapat pada sebahagiannya, karena ia sebagai nasikh terhadap hukum lain. Karena itu hadis yang mendahuluinya disebut sebagai mansukh dan hadis terkhir sebagai nasikh.
i. Pendekatan Ilmu Mukhtalif al-Hadits
Ilmu Mukhtalif al-Hadits, yaitu ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan, karena adanya kemungkinan dapat dikompromikan.
2. Metode Dalam Studi Hadits
Sentralnya keberadaan hadits Nabi Saw. membuat banyak penelitian dan kajian-kajian yang dilakukan ulama-ulama hadits untuk menentukan dan mengetahui kualitas hadits yang berhubungan dengan kehujjahan hadits tersebut. Ternyata bukan hanya orang muslim, banyak musuh-musuh Islam seperti para orientalis yang berupaya meruntuhkan ajaran Islam dengan cara meneliti hadits yang bertujuan untuk meragukan dasar-dasar validitas hadits sebagai dalil.
Studi mereka yang berasal dari Barat tentang hadits sangat berbeda dengan studi di Timur Tengah. Studi hadits di Timur Tengah dan juga di Indonesia menekankan pada bagaimana seseorang melakukan takhrij hadits dan syarh (penjelasan) hadits sehingga dapat diketahui keasliannya dan kandungan makna dari hadits tersebut.
Adapun di Barat, studi mereka menitik beratkan bagaimana melakukan penanggalan hadits untuk menaksir sejarahnya dan bagaimana melakukan membangun sejarah terhadap peristiwa yang terjadi pada masa awal Islam. Model studi orientalis Barat kebanyakan berupa kritik sejarah, dalam bidang hadits setidaknya ada tiga orang kalangan orientalis sebagai tokoh Hadits Critism (kritik hadits) adalah Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, dan G.H.A Juynboll.
Oleh sebab itu, maka perlu adanya sebuah metode dalam menyeleksi hadits-hadits Rasulullah Saw., agar hadits-hadits tersebut tetap sempurna keasliannya, tanpa ada pihak-pihak lain yang mampu merusak atau memalsukan hadits-hadits tersebut. Adapun metode dalam menyeleksi hadits adalah melalui Takhrij Hadits .
Metode takhrijul hadits Dalam buku “Cara Praktis Mencari Hadits” dikemukakan bahwa metode takhrijul hadits yang dijalankan dalam buku ini terbagi dua macam, yakni :
a) Takhrijul Hadits Bil-Lafz, yakni upaya pencarian hadits pada kitab-kitab hadits dengan cara menelusuri matan hadits yang bersangkutan berdasarkan lafal atau lafal-lafal dari hadits yang dicarinya itu.
b) Takhrijul Hadits Bil-Maudhu’, yakni upaya pencarian hadits pada kitab-kitab hadits berdasarkan topic masalah yang dibahas oleh sejumlah matan hadits.
Tujuan dan manfaat Takhrijul Hadits Menurut Abd al-Mahdi adalah untuk menunjukkan sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu :
a) Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits
b) Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat diterima (Shahih atau Hasan) atau ditolak (Dha’if).
Manfaat takhrijul hadits sendiri sangat banyak, sehingga apabila ada seseorang yang akan melaksanakan takhrijul hadits, maka dia termasuk salah satu orang yang sangat teliti pada hadits-hadits Rasulullah Saw.

D. Disiplin Utama / Sub – Disiplin dan Disiplin Suplemen dalam Studi Hadits
Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian disiplin Ilmu hadits, yaitu Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah.
1. Ilmu Hadits Riwayah
Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadits Riwayah, sebagaiamana yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi Ulum al-Hadis seperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut: “Ilmu Hadits yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasul Saw. serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya”.
Dari definisi tentang ilmu Hadits Riwayah di atas dapat dipahami bahwa Ilmu Hadits Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadits Nabi Saw.
a. Objek Kajian Ilmu Hadits Riwayah
• Cara periwayatan hadits, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lain.
• Cara pemeliharaan hadits, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan, dan pembukuannya.
b. Tujuan dan Urgensi Ilmu Hadits Riwayah
Adapun tujuan dan urgensi ilmu hadits riwayah ini adalah agar tidak lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya. Dengan demikian, hadits-hadits Nabi Saw. dapat terpelihara kemurniannya dan dapat diamalkan hukum-hukum dan tuntunan yang terkandung di dalamnya, hal ini sejalan dengan perintah Allah Saw. agar menjadikan Nabi Saw. sebagai ikutan dan suri teladan dalam kehidupan ini (QS. Al-Ahzab [33] : 21).
2. Ilmu Hadits Dirayah
Mengenai pengertian Ilmu Hadits Dirayah, para ulama hadits memberikan definisi yang bervariasi, namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan, maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya, terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya:
Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut:
وَعِلْمُ الَحَدِيْثِ الخَاصُّ باِلدِّرَايَةِ : عِلْمٌ يُعْرَفُ مِنْهُ حَقِيْقَةُ الرِّوَايَةِ وَشُرُوْطُهَا وَأَنْوَاعُهَا وَأَحْكَامُهَا وَحَالُ الرُّوَاةِ وَشُرُوْطُهُمْ وَأَصْنَافُ الْمَرْوِيَاتِ وَمَايَتَعَلَّقُ بِـهَا
Artinya :
“Dan ilmu hadits yang khusus tentang dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya,keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.”

Dari definisi ini dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu:
• Hakikat Riwayat, yaitu kegiatan periwayatan hadis dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdis, yaitu perkataan seorang perawi, “haddasana fulan” (telah menceritakan kepada kami si Fulan), atau ikhbar, seperti perkataan: “akhbarana fulan” (telah mengabarkan kepada kami si Fulan).
• Syarat-Syarat Riwayat, yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadits), seperti sama’ (perawi mendengar langsung bacaan hadits dari seorang guru), qira’ah (murid membacakan catatan hadits dari gurunya dihadapan guru tersebut), ijazah (member izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadits dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya), munawalah (menyerahkan suatu hadits yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan), kitabah (menuliskan hadits untuk seseorang), I’lam (member tahu seseorang bahwah hadits-hadits tertentu adalah koleksinya), washiyyat(mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadits yang dimilikinya), dan wajadah(mendapatkan koleksi tertentu tentang hadits dari seorang guru.
• Macam-macam Riwayat, yaitu seperti periwayatan muttsahil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi terakhir, atau munqathi’ (periwayatan yang terputus, baik di awal, di tengah, atau di akhir, dan lainnya.
• Hukum Riwayat, yakni al-qabul (diterimannya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu, dan al-radd (ditolak, karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi.
• Keadaan para Perawi, maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al-‘adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh).
• Syarat-syarat Mereka, yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-add’).
• Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat), adalah penulisan hadits di dalam kitab al-musnad, al-mu’jam, atau al-ajza’ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun hadits-hadits Nabi Saw.

Selain itu, M. ‘Ajjaj al-Khatib mendefinisikan Ilmu Hadits Dirayah sebagai berikut: “Ilmu hadits dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi diterima dan ditolaknya.”
Definisi ini dapat kita jelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
• Al-Rawi atau perawi adalah orang yang meriwayatkan atau menyampaikan hadits dari satu orang ke orang yang lain.
• Al-Marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw. atau kepada yang lainnya, seperti Sahabat atauTabi’in.
• Keadaan Perawi dari segi diterima atau ditolaknya, adalah mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta’dil ketika tahammul dan adda’ al-hadits, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan hadits.
• Keadaan Marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ittishal al-sanad (persambungan sanad) atau terputusnya, adanya ‘illat atau tidak, yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu hadis.
Objek Kajian Ilmu Hadis Dirayah
• Segi persambungan sanad (ittishal al-sanad), yaitu bahwa suatu rangkaian sanad hadits haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan hadits tersebut. Oleh karenanya tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya atau tersamar;
• Segi keterpercayaan sanad (siqat al-sanad), yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi hadisnya);
• Segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz);
• Segi keselamatannya dari cacat (‘illat); dan
• Tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad.
Sedangkan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau ke-dha’ifan-nya. Hal tersebut dapat terlihat melalui kesejalannya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam Al-Qur’an, atau harus selamat dari beberapa hal berikut:
• Selamat dari kejanggalan redaksi (rakakat al-fadz);
• Selamat dari cacat atau kejanggalan pada maknanya (fasad al-ma’na) karena bertentangan dengan akal dan pancaindera, atau dengangan kandungan dan makna Al-Qur’an, atau dengan fakta sejarah;
• Selamat dari kata-kata asing (ghorib), yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN
Orang yang melakukan kajian secara mendalam mendapati bahwa dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayat dan penyampaian berita dijumpai di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw., Allah Swt. berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Sedangkan di dalam sunnah, Rasulullah Saw. bersabda;
“Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (berita, yaitu hadits), lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang ia dengar. Dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih paham dari orang yang mendengarnya.” (HR. At-Tirmidzi).
Pada ayat dan hadits yang mulia ini terdapat prinsip yang tegas dalam mengambil suatu berita dan tata cara menerimanya, dengan cara menyeleksi, mencermati, dan mendalaminya sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
Dalam upaya melaksanakan perintah Allah Swt. dan Rasulullah Saw., para sahabat telah menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya, terutama jika mereka meragukan kejujuran si pembawa berita. Berdasarkan hal itu, tampak nilai dan pembahasan mengenai isnad dalam menerima dan menolak suatu berita. Di dalam pendahuluan kitab Shahih Muslim, dituturkan dari Ibnu Sirin, “Dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami orang-orang yang meriwayatkan hadits kepadamu.’ Apabila orang-orang yang meriwayatkan hadits itu adalah ahlu sunnah, maka mereka ambil haditsnya. Jika orang-orang yang meriwayatkan hadits itu adalah ahli bid’ah, maka mereka tidak mengambilnya.”
Berdasarlan hal ini, maka suatu berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Karena itu muncullah ilmu jarh wa ta’dil, ilmu mengenai ucapan para perawi, cara untuk mengetahui bersambung (muttashil) atau terputus (munqathi’)-nya sanad, mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Muncul pula ucapan-ucapan (sebagai tambahan dari hadits) sebagian perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak, hingga muncul berbagai pembahasan di dalam banyak cabang ilmu yang terkait dengan hadits, baik dari aspek ke-dlabithan-nya, tata cara menerima dan menyampaikannya, pengetahuan tentang hadits-hadits yang nasikh (menghapus) dari hadits-hadits yang di-mansukh (dihapus), pengetahuan tentang hadits-hadits yang gharib (asing/menyendiri), dan lain-lain. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan.
Lalu, masalah itu semakin berkembang. Lama kelamaan ilmu hadits ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserak diberbagai tempat di dalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul, fiqh, dan ilmu hadits. Akhirnya, ilmu-ilmu itu semakin matang, mencapai puncaknya dan memiliki istilah tersendiri yang terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya.

 

Wallaahusubhanahuwata’ala A’lam

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
• A.W. Munawwir, 1997. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Edisi Kedua, Surabaya: Pustaka Progresif.
• Abdul Majid Khon,2010. Ulumul Hadis, Jakarta: Amzah.
• Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, 1955. Kitab Tadzkirat al-Huffazh, Hiderabat : The Dairati al-Ma’arifi al-Usmania.
• Abuddin Nata, 2007. Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo.
• Ahmad Amin, 1974. Dhuha Islam, Kairo : Maktabah al-Nahdhat al-Mishriyah.
• Ahmad Amin, 2000. Fajrul Islam, Mesir: Maktabatul Usroh.
• Atha’ bin Khalil, 2003. Taisir al-Wushul ila al-Ushul, Bogor: Pustaka Thariqul Izza.
• Badri Khaeruman, 2004. Otentisitas Hadits Studi Kritis atas Kajian Hadits Kontemporer, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
• Fathur Rahman, 1987. Ikhtisar Mustalah al-Hadis, Bandung: Al-Ma’arif.
• Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyuti, 1988. Tadrib ar-Rawi fi Syarh an-Nawawi, Beirut : Dar al-Fikr.
• M. Agus Solahudin; Agus Suyadi, 2009. Ulumul Hadis, Bandung: CV. Pustaka Seti.
• M. Hasbi Ash Shiddieqy, 1991. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang
• M. Syuhudi Ismail, 1991. Cara Praktis Mencari Hadits (Jakarta : Bulan Bintang.
• Manna Khalil al-Qattan, 1996. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor : Litera AntarNusa.
• Muhammad Ajjaj al-Khatib, 1989. Ushul al-Hadis: Ulumuhu wa Musthalahuhu, Beirut : Dar al-Fikr.
• Muhammad Ajjaj al-Khatib, 1990. as-Sunnah Qabl at-Tadwin, Beirut: Dar al-Fikr.
• Nawer Yuslem, 2001. Ulumul Hadis, Jakarta: PT Mutiara Sumber Widy.
• Nawir Yuslem, 2006. Kitab Induk Hadis, Jakarta : Hijri Pustaka Utama.
• Ramli Abdul Wahid, 2005. Studi Ilmu Hadis, Bandung: Cita Pustaka.
• Shubhi ash-Shalih, 1977. ‘Ulum al-Hadits wa Mustalahuh, Beirut: Dar al-‘Ilm al-Malayin.
• Subhi as-Shalih, 1995. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (terj), Jakarta: Pustaka Firdaus.
• Tamim Ansary, 2010. A History of The World through Islamic Eyes, diterjemahkan oleh Destiny Discruted (United States: Public Affairs, 2009) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yuliani Liputo, Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam, Jakarta: Penerbit Zaman.

Internet :
http://arifin-jahari.blogspot.com/2011/02/makalah-studi-hadis-bagian-iii.html.
http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html
http://www.belajarislam.com/sejarah-munculnya-ilmu-mustholah-hadits-dan-perkembangannya/. (Dr. Mahmud Thahan, Ilmu Hadits Praktis (Pustaka Thariqul Izzah)
http://www.gaulislam.com/sosok-orientalisme-dan-kiprahnya.

Categories: Pemikiran Islam | Tinggalkan komentar

DINASTI AYYUBIYAH HUBUNGAN POLITIK DENGAN PENDIDIKAN ISLAM (Oleh Ali M Zebua / Mahasiswa Magister MPI Pascasarjana IAIN SU Medan)

BAB I
PENDAHULUAN

Dinasti Ayyubiyah (567 – 648 H / 1171 – 1250 M) berdiri di atas puing-puing Dinasti Fatimiyah Syi’ah di Mesir. Di saat Mesir mengalami krisis di segala bidang maka orang-orang Nasrani memproklamirkan perang Salib melawan Islam, yang mana Mesir adalah salah satu Negara Islam yang diintai oleh Tentara Salib.
Shalahudin al-Ayyubi seorang panglima tentara Islam tidak menghendaki Mesir jatuh ke tangan tentara Salib, maka dengan sigapnya Shalahudin mengadakan serangan ke Mesir untuk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fatimiyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan Tentara Salib. Menyadari kelemahannya dinasti fatimiyah tidak banyak memberikan perlawanan, mereka lebih rela kekuasaannya diserahkan kepada shalahudin dari pada diperbudak tentara salib yang kafir, maka sejak saat itu selesailah kekuasaan dinasti fatimiyah di Mesir, berpindah tangan ke Shalahudin al-Ayyubi.
Shalahudin panglima perang Muslim yang berhasil merebut Kota Yerusalem pada Perang Salib itu tak hanya dikenal di dunia Islam, tetapi juga peradaban Barat. Sosoknya begitu memesona. Ia adalah pemimpin yang dihormati kawan dan dikagumi lawan. Pada akhir 1169 M, Shalahudin mendirikan sebuah kerajaan Islam bernama Ayyubiyah. Di era keemasannya, dinasti ini menguasai wilayah Mesir, Damaskus, Aleppo, Diyarbakr, serta Yaman. Para penguasa Dinasti Ayyubiyah memiliki perhatian yang sangat besar dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tak heran jika kota-kota Islam yang dikuasai Ayyubiyah menjadi pusat intelektual. Di puncak kejayaannya, beragam jenis sekolah dibangun di seluruh wilayah kekuasaan dinasti itu. Madrasah-madrasah itu dibangun tak hanya sekadar untuk membangkitkan dunia pendidikan, tetapi juga memopulerkan pengetahuan tentang mazhab Sunni. Di masa kepemimpinan Shalahudin, di Kota Damaskus berdiri sebanyak 20 sekolah, 100 tempat pemandian, dan sejumlah tempat berkumpulnya para sufi. Bangunan madrasah juga didirikan di berbagai kota, seperti Aleppo, Yerusalem, Kairo, Alexandria, dan di berbagai kota lainnya di Hijaz. Sejumlah sekolah juga dibangun oleh para penerus tahta kerajaan Ayyubiyah. “Istri-istri dan anak-anak perempuan penguasa Ayyubiyah, komandan, dan orang-orang terkemuka di dinasti itu mendirikan dan membiayai lembaga-lembaga pendidikan’’ . Meski Dinasti Ayyubiyah menganut mazhab fikih Syafi’i, mereka mendirikan madrasah yang mengajarkan keempat mazhab fikih. Sebelum Ayyubiyah menguasai Suriah, di wilayah itu tak ditemukan sama sekali madrasah yang mengajarkan fikih mazhab Hambali dan Maliki. Setelah Ayyubiyah berkuasa di kawasan itu, para ahli sejarah menemukan 40 madrasah Syafi’i, 34 Hanafi, 10 Hambali, dan tiga Maliki.
Dibalik kemajuan sebuah peradaban, terdapat juga kemunduran pada sebuah kekuasaan, tidak terkecuali pada Dinasti Ayyubiyah terutama dalam bidang politik dan pendidikannya. Untuk melihat bagaimana kemajuan dan kemunduran Dinasti Ayyubiyah dilihat dari politik dan pendidikan pada masa itu, maka pemakalah dalam hal ini akan membatasi pembahasan mengenai Dinasti Ayyubiyah; hubungan politik dengan pendidikan Islam dengan sub pembahasan yakni, sejarah dinasti ayyubiyah, politik dan pendidikan Islam dinasti ayyubiyah, universitas al-Azhar pada masa dinasti ayyubiyah, serta kemajuan-kemajuan pada masa dinasti ayyubiyah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Dinasti Ayyubiyah (1171 – 1250 M)
Al-Ayyubiyah adalah sebuah dinasti yang berkuasa di Mesir, Irak, Hijaz, Suriah, Dyarbakr, dan Yaman. Berdirinya Daulah al-Ayyubiyah ini
memiliki kaitan erat dengan kekuasaan Imaduddin Zangi,
seorang atabeg (panglima) Tutusy, penguasa Dinasti Seljuk
di Aleppo (Halab). Setelah Tutusy meninggal, Imaduddin
diangkat sebagai penguasa Aleppo, Mosul, al-Jazirah, dan
Harran, selama kurang lebih sepuluh tahun
(512H/ 1118M-522H/1128M). Gambar: Shalahudin al-Ayyubi
Dalam catatan sejarah, Imaduddin dikenal sebagai salah seorang panglima yang mengerahkan kekuatan umat Islam untuk menghadapi tentara Salib. Setelah ia meninggal, kekuasaan Imaduddin terbagi di antara dua putranya, Nuruddin, yang menguasai utara syam dan menjadi penerus ayahnya dalam menghadapi tentara Salib, dan Saifuddin Gazi yang menguasai Mosul dan daerah lain di Irak. Dalam perkem-bangan selanjutnya, Nuruddin berhasil memperluas kekuasaannya, yang membentang dari Damaskus ke Mesir. Sepeninggalnya, kepemimpinan keluarga Imaduddin Zangi jatuh ketangan anaknya, Ismail.
Tercatat dalam sejarah bahwa pada masa pemerintahan Zangi, terdapat seorang bernama Bahruz yang hidup di sebuah kota di Azerbaijan, dan kemudian berpindah ke Irak untuk bekerja kepada Sultan Seljuk, Mas’ud bin Giyatuddin. Bahruz diberikan kekuasaan sebagai gubernur di wilayah Baghdad, dan diberikan iqta’ di kota Takrit. Dalam mengelola iqta’ di kota itu, ia di bantu oleh seorang Kurdi yang bernama Syadi dan dua anaknya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Syirkuh. Ketika meninggal, Syadi digantikan oleh Najmuddin sebagai gubernur di Takrit. Di kota inilah Shalahudin lahir dari ayahnya, Najmuddin.
Pengaruh Najmuddin dilatarbelakangi oleh kekuasaan Imaduddin Zangi, yang membantu Sultan Mas’ud dalam mengahadapi khalifah Abbasiyah, al-Mustarsid. Ketika perlawanan itu gagal, Imaduddin mundur ke Tarkit. Di kota inilah ia mendapat dukungan dari Najmuddin. Dalam aliansinya dengan kekuasaan Imaduddin, Najmuddin berhasil memperluas pengaruhnya. Ia ditunjuk menjadi penguasa Baala-bek. Ketika Imaduddin terbunuh, terjadi pertentangan dikalangan keluarganya untuk merebut puncak kekuasaan. Akhirnya Nuruddin, salah seorang putra Imaduddin, bersekutu dengan Syirkuh (paman Shalahudin), yang kemudian berhasil menguasai Aleppo dan Damaskus. Di samping itu, ia berpandangan bahwa Mesir sangat penting untuk menghadapi tentara Salib. Karena itu, di bawah pimpinan Syirkuh dan Shalahudin, pasukan Nuruddin menyerang Mesir pada tahun 559H/1163M. serangan ini berakhir dengan kegagalan akibat campur tangan tentara Salib.
Serangan kedua kemudian dilancarkan pada tahun 562 H/1166 M. Dalam pertempuran ini, Nuruddin mengalahkan tentara Salib, akan tetapi akhirnya kedua pihak sepakat untuk membebaskan Mesir. Meskipun demikian, serangan ke tiga dilaksanakan pada tahun 564H/1168M sebagai jawaban atas permintaan khalifah al-Adid untuk melawan tentara Salib. Kemenangan atas tentara Salib dalam pertempuran itu melapangkan jalan bagi tampilnya Salahudin sebagai wazir bagi khalifah Fatimiyah.
Salahudin sebenarnya mulai menguasai Mesir pada tahun 564H/1169M, akan tetapi baru dapat menghapuskan kekuasaan Daulah Fatimiyah pada tahun 567H/1171M. Dalam masa tiga tahun itu, ia telah menjadi penguasa penuh, namun tetap tunduk kepada Nuruddin Zangi dan tetap mengakui kekhalifahan Daulah Fatimiyah. Jatuhnya Daulah Fatimiyah ditandai dengan pengakuan Shalahudin atas khalifah Abbasiyah, al-Mustadi, dan penggantian Qadi Syi’ah dengan Sunni. Bahkan pada bulan Mei 1175, Shalahudin mendapat pengakuan dari Khilafah Abbasiyah sebagai penguasa Mesir, Afrika Utara, Nubia, Hejaz dan Suriah. Kemudian ia menyebut dirinya sebagai Sultan . Sepeluh tahun kemudian ia menaklukan Mesopotamia dan menjadikan para penguasa setempat sebagai pemimpinnya.
Selain memperluas daerah kekuasaannya, sebagian besar usaianya juga dihabiskan untuk melawan kekuatan tentara Salib. Dalam kaitan itu, maka pada tahun 1170 M Salahudin telah berhasil menaklukan wilayah Masyhad dari tangan Rasyidin Sinan. Kemudian pada bulan Juli 1187 M ia juga berhasil merebut Tiberias, dan melancarkan perang Hattin untuk menangkis serangan tentara Salib. Dalam peperangan ini, pasukan Perancis dapat dikalahkan, Yerussalem sendiri kemudian menyerah tiga bulan berikutnya, tepatnya pada bulan Oktber 1187 M, pada saat itulah suara azan menggema kembali di Mesjid Yerussalem. Jatunya pusat kerajaan Haatin ini memberi peluang bagi Shalahudin al-Ayyubi untuk menaklukkan kota-kota lainya di Palestina dan Suriah. Kota-kota di sini dapat ditaklukkan pada taun 1189 M, sementara kota-kota lainnya, seperti Tripol, Anthakiyah,Tyre an beberapa kota kecil lainnya masih berada di bawah kekuasaan tentara Salib.
Setelah perang besar memperebutkan kota Acre yang berlangsung dari 1189-1191 M, kedua pasukan hidup dalam keadaan damai. Untuk itu, kedua belah pihak mengadakan perjanjian damai secara penuh pada bulan 2 November 1192 M. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa daerah pesisir dikuasai tentara Salib, sedangkan daerah pedalaman dikuasai oleh kaum muslim. Dengan demikian, tidak ada lagi gangguan terhadap umat Kristen yang akan berziarah ke Yerussalem. Keadaan ini benar-benar membawa kedamaian dan dapat dinikmati oleh Shalahudin al-Ayyubi hingga menjelang akhir hayatnya, karena pada 19 Februari 1193 ia jatuh sakit di Damaskus dan wafat dua belas hari kemudian dalam usia 55 tahun.
Dalam catatan sejarah, Shalahudin tidak hanya dikenal sebagai panglima perang yang ditakuti, akan tetapi lebih dari itu, ia adalah seorang yang angat memperhatikan kemajuan pendidikan, mendorong studi keagamaan, membangun bendungan, menggali terusan, serta mendirikan sekolah dan masjid. Salah satu karya yang sangat monumetal adalah Qal’ah al-Jabal, sebuah benteng yang dibangun di Kairo pada tahun 1183. Secara umum, para Wazirnya adalah orang-orang terdidik, seperti al-Qadi al-Fadl dan al-Katib al-Isfahani. Sementara itu, sekretaris pribadinya bernama Bahruddin ibn Syaddad kemudian juga dikenal sebagai penulis biografinya. Kekayaan Negara tidak digunakan untuk kepentingan dirinya, tetapi dibagi-bagikan terutama kepada para prajurit dan pensiunan, selain untuk membiayiai pembangunan. Dia hanya mewariskan empat puluh tujuh dirham dan sebatang emas.
Setelah Shalahudin al-Ayyubi meninggal, daerah kekuaannya yang terbentang dari sungai Tigris hingga sunagi Nil itu kemdian dibagi-bagikan kepada keturunannya. Al- Malik al-Afdhal Ali, putera Shalahudin memperoleh kekuasaan untuk memerintah di Damaskus, al-Aziz berkuasa di Kairo, al-Malik al-Jahir berkuasa di Aleppo (Halab) , dan al-Adil, adik Shalahudin, memperoleh kekuasaan di al-Karak dan asy-Syaubak. Antara tahun 1196 dan 1199, al-‘Adil berhasil menguasai beberapa daerah lainnya, sehingga ia menjadi penguasa tunggal untuk Mesir dan sebagian besar Suriah. Al-‘Adil yeng bergelar Saifuddin itu mengutamakan politik perdamaian dan memajukan perdagangan dengan koloni Perancis. Setelah ia wafat pada 1218 M, beberapa cabang Bani Ayyub menegakkan kekuasaan sendiri di Mesir, Damaskus, Mesopotamia, Hims, Hamah, dan Yaman. Sejak itu, sering terjadi konflik internal di anara keluarga Ayyubiyah di Mesir dengan Ayubiyah di Damaskus untuk memperebutkan Suriah.
Kemudian al-Kamil Muhammad, putera al’Adil, yang menguasai Mesir ( 615 – 635 H/ 1218 -1238 M) termasuk tokoh Bani Ayub yang paling menonjol. Ia bangkit untuk melindungi daerah kekuasaannya dari rongrongan tentara Salib yang telah menaklukkan Dimyat, tepi sungai Nil, utara Kairo pada masa pemerintahan ayahnya. Tentara Salib memang nampaknya terus berusaha menaklukan Mesir dengan bantuan Italia. Penaklukan Mesir menjadi sangat penting, karena dari negeri itulah mereka akan dapat menguasai jalur perdagangan Samudera Hindia melalui Laut Merah. Setelah hampir dua tahun (November 1219 hingga Agustus 1221 M) terjadi konflik antara tentara salib dengan pasukan Mesir, tetapi al-Kamil dapat memaksa tentara Salib untuk meningalkan Dimyati.
Di samping memberikan perhatian serius pada dalam bidang politik dan militer, al-Kamil juga dikenal sebagai seorang penguasa yang memberikan perhatian terhadap pembangunan dalam negeri. Program pemerintahannya yang cukup menonjol ialah membangun saluran irigasi dan membuka lahan lahan pertanian serta menjalin hubungan perdagangan dengan Eropa. Selain itu, ia juga dapat menjaga kerukunan hidup beragama antar umat Islam dengan Kristen Koptik, dan bahkan sering mengadakan diskusi keagamaan dengan para pemimpin Koptik.
Pada masa itu kota Yerussalem masih tetap berada di bawah kekuasaan tentara Salib sampai 1244 M. Ketika al- Malik al-Saleh, putera Malik al- Kamil, memerintah tahun 1240 – 1249, pasukan Turki dari Khawarizm mengembalikan kota itu ke tangan Islam. Pada 6 Juni 1249 M pelabuhan Dimyati di tepi sungai Nil ditaklukan kembali oleh tentara salib yang dipimpin oleh Raja Louis IX ari Perancis.
Ketika pasukan Salib hendak menuju Kairo, sungai Nil dalam keadaan pasang, sehingga mereka menghadapi kesulitan dan akhirnya dapat dikalahkan oleh pasukan Ayyubiyah pada April 1250. Raja Louis IX dan beberapa bangsawan Perancis ditawan, tetapi kemudian mereka dibebaskan kembali setelah Dimyati dikembalikan ke tangan tentara muslim, disertai dengan sejumlah bahan makanan sebagai bahan tebusan. Kemudian pada bulan November 1249 M, Malik al-Saleh meninggal dunia. Semula ia akan digantikan oleh putera mahkota, Turansyah. Untuk itu, Turansyah dipanggil pulang dari Mesopotamia (Suriah) untuk menerima tampuk kekuasaan ini. Untuk menghindari kevakuman kekuasaan, sebelum Turansyah tiba di Mesir, ibu tirinya yaitu Sajaratuddur. Akan tetapi, ketika Turansyah akan mengambil alih kekuasan ia mendapat tantangan dai para Mamluk, hamba sahaya yang dimiliki tuannya, yang tidak menyenanginya. Belum genap satu tahun turansyah berkuasa, ia kemudian dibunuh oleh para mamluk tersebut atas perintah ibu tirinya, Sajaratuddur. Sejak saat itu, Sajaratddur menyatakan dirinya sebagai Sultanah pertama di Mesir. Pada saat yang bersamaan, seorang pemimpin Ayubiyah bernama al-Asyraf Musa dari Damaskus juga menyatakan dirinya sebagai sultan Ayyubiyah meskipun hanya sebatas lambang saja tanpa kedaulatan atau kekuasaan yang riel. Kekuasaan yang sebenarnya justeru berada di tangan seorang mamluk bernama Izzuddin Aybak, pendiri dinasti Mamluk (1250-1257 ) . Akan tetapi, sejak al-Asyraf Musa meninggal pada 1252 M, berakhirlah masa pemerintahan dinasti al-Ayubiyah, dan kekuasaan beralih ke pemerintahan Dinasti Mamluk ( 1250-121517 M).
Selama lebih kurang 75 tahun dinasti Al-Ayyubiyah berkuasa, terdapat 9 orang penguasa, yakni sebagai berikut:
1. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (1171-1193 M)
2. Malik Al-Aziz Imaduddin (1193-1198 M)
3. Malik Al-Mansur Nasiruddin (1198-1200 M)
4. Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M)
5. Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M)
6. Malik Al-Adil Sifuddin, pemerintahan II (1238-1240 M)
7. Malik As-Saleh Najmuddin (1240-1249 M)
8. Malik Al-Mu’azzam Turansyah (1249-1250 M)
9. Malik Al-Asyraf Muzaffaruddin (1250-1252 M)

B. Politik dan Pendidikan Islam Dinasti Ayyubiyah
Keberhasilan Shalahudin dalam perang Salib , membuat para tentara mengakuinya sebagai pengganti dari pamannya, Syirkuh yang telah meninggal setelah menguasai Mesir tahun 1169 M. Ia tetap mempertahankan lembaga–lembaga ilmiah yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah menjadi Sunni.
Penaklukan atas Mesir oleh Shalahudin pada 1171 M, membuka jalan politik bagi pembentukan madzhab-madzhab hukum sunni di Mesir. Madzhab Syafi’i tetap bertahan di bawah pemerintahan Fatimiyah, sebaliknya Shalahudin memberlakukan madzhab-madzhab Hanafi. Keberhasilannya di Mesir tersebut mendorongnya untuk menjadi penguasa otonom di Mesir.
Sebelumnya, Shalahudin masih menghormati simbol-simbol Syi’ah pada pemerintahan Al-Adil Lidinillah, setelah ia diangkat menjadi Wazir (Gubernur). Namun, setelah al-Adil meninggal 1171 M, Shalahudin menyatakan loyalitasnya kepada Khalifah Abbasiyah (al-Mustadi) di Bagdad dan secara formal menandai berakhirnya rezim Fatimiyah di Kairo.
Dengan jatuhnya Dinasti Fatimiyah, secara otomatis terhentilah fungsi madrasah sebagai penyebaran faham Syi’ah. Salah satu penyebaran faham Syi’ah pada saat itu adalah melalui jalur pendidikan. Kemudian digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah yang menganut faham Sunni. Belajar dari Politik Dinasti Fatimiyah yang memasukkan faham politik syi’ah ke lembaga pendidikan, Shalahudin kemudian mendirikan madrasah-madrasah sebagai pusat penyebaran faham Sunni. Selain itu, banyak pihak swasta yang mendirikan madrasah-madrasah dengan maksud untuk menanamkan ide-idenya dalam rangka mencari keridhaan Allah Swt. serta menyebarkan faham keagamaan yang dianutnya, yang tidak dapat disalurkan lewat mesjid karena berorientasi pada kepentingan pemerintah atau politik, yang semakin hari semakin bertambah banyak madrasah yang didirikan dalam masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah. Sebagai contoh adalah madrasah-madrasah berikut ini:

Tabel. 1
Nama-nama Madrasah yang Didirikan Pada Masa
Dinasti Ayyubiyah

NO Nama Madrasah Pendirinya Jabatannya
1.
2.
3. Al-Nashriyat
Al-Qamhiyat
Al-Suyufiyat Shalahudin al-Ayyubi
Shalahudin al-Ayyubi
Shalahudin al-Ayyubi Sultan
Sultan
Sultan
4.
5.
6.
7.
8. Al-Malik al-‘Adil
Al-Kamiliyat
Al-Shalihiyat
Al-Quthbiyat
Manaz al-‘Izz Al-Adil
Al-Kamil
Al-Shalih Najm al-Din Ayyub
Quthb al-Din Khisru
Taqiu al-Din ‘Umar Sultan
Sultan
Sultan
Amir
Amir
10.

11.
12.
14.
15 Madrasah di Fayyum (2 Buah)
Al-Fadhliyat
Al-Azkasyiyat
Al-Sayfiyat
Al-Asyuriyat Taqiu al-Din ‘Umar

Al-Qadhi al-Fadhil
Shayf al-Din bin Ayyub
‘Asyura binti Saruch
‘Ishmat al-Din binti al-‘Adil Amir

Menteri
Amir
Amir
Istri amir
16.
17.
18 Quthbiyat
Al-Syarifiyat
Al-Shahibiyat Al-Syarif Fakhr al-Din
‘Abdullah ibn ‘Ali
Fakhr al-Din ibn Shairam Amir
Amir
Menteri
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25. Al-Fakhriyat
Al-Shairamiyat
Al-Shairamiyat
Ibnu al-Arsufy
Al-Masruriyat
Al-Ghaznawiyat
Ibnu Rasyiq Syaraf al-Din Hibatullah
‘Abdullah ibn Arsyufy
Masrul al-Shafady

Hisam al-Din Qaymaz
Jemaah haji dari takrur Ustadz al-Kamil
Amir
Menteri
Saudagar
Pembantu
Bekas Hamba
Bekas Hamba

Berbeda dengan kuttab dan mesjid, madrasah sudah mempunyai bangunan fisik tertentu seperti sekarang ini, yang bentuknya dirancang sesuai fungsinya untuk melanjutkan pendidikan mesjid. Bangunan madrasah tersebut meliputi tiga unit, yaitu; Unit madrasah, unit asrama, dan unit mesjid. Unit asarama dijadikan tempat murid-murid, guru-guru dan para pegawai madrasah sehingga membentuk keluarga besar, dengan demikian murid-murid dapat diberikan program-program belajar yang intensif dan membahas secara bersama-sama masalah-masalah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, keagamaan, kemasyarakatan, dan penghidupan. Tujuan pendidikannya selain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agama dan membentuk kader-kader yang mempunyai misi keagamaan dalam masyarakat, juga untuk mencetak tenaga-tenaga yang kreatif yang ahli dalam bidangnya masing-masing.
Perbedaan-perbedaan lainnya adalah madrasah sudah merupakan salah satu organisasi resmi Negara di mana dikeluarkan pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintahan. Pelajar-pelajar disitu juga resmi, dijalankan menurut peraturan-peraturan dan undang-undang, serupa yang dikenal selama ini. Segala sesuatu diatur seperti kehadiran dan kepulangan murid, program-program pelajaran, staf pengajar, perpustakaan dan gelar-gelar ilmiah. Di Mesir ketika itu hanya terdapat satu buah perguruan tinggi yaitu Universitas al-Azhar yang masih berdiri hingga sekarang.
Selain itu, di masa pemerintahan Shalahudin, ia juga membina kekuatan militer yang tangguh dan perekonomian yang bekerja sama dengan penguasa Muslim di kawasan lain. Ia juga mambangun tembok kota sebagai benteng pertahanan di Kairo dan bukit Muqattam.
Pasukannya juga diperkuat oleh pasukan barbar, Turqi dan Afrika. Disamping digalakkan perdagangan dengan kota-kota dilaut tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistem perpajakan. Atas dasar inilah, ia melancarkan gerakan ofensif guna merebut al-Quds (Jerusalem) dari tangan tentara Salib yang dipimpin oleh Guy de Lusignan di Hittin, dan menguasai Jerusalem tahun 1187 M. Inipun tetap tak merubah kedudukan Shalahudin, sampai akhirnya raja inggris Richard membuat perjanjian genjatan senjata yang dimanfaatkannya untuk menguasai kota Acre.
Sampai ia meninggal (1193 M) , Shalahudin mewariskan pemerintahan yang stabil dan kokoh, kepada keturunan-keturunannya dan saudaranya yang memerintah diberbagai kota. Yang paling menonjol ialah al-Malik al-Adil (saudaranya), dan keponakannya al-Kamil, mereka berhasil menyatukan para penguasa Ayubi lokal dengan memusatkan pemerintahan mereka di Mesir.
Selain hal di atas, aroma-aroma politik yang di jalankan pada masa Dinasti Ayyubiyah sampai juga di salah satu mesjid sekaligus madrasah ternama yakni al-Azhar. Disana disebarkan paham-paham Sunni yang semakin lama semakin menjamur.

C. Universitas Al-Azhar Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
Segera setelah dinasti Fatimiyah runtuh (1171M) Shalahudin al-Ayyubi meng-hapuskan dinasti tersebut dan secara jelas ia menyatakan dirinya sebagai penguasa baru atas Mesir, dengan nama dinasti Ayyubiyah. Dinasti ini lebih berorientasi ke Baghdad, yang Sunni.
Nasib al-Azhar pada masa pemerintahan dinasti Ayyubiyah, sebenarnya tidak lebih baik dari masa pemerintahan dinasti Fatimiyah. Sebab, setelah Shalahudin berkuasa, ia mengeluarkan beberapa kebijaksanaan baru mengenai al-Azhar. Kebijakan itu antara lain, penutupan al-Azhar. Al-Azhar tidak boleh lagi dipergunakan untuk shalat Jum’at dan Madrasah, juga dilarang dijadikan sebagai tempat belajar dan mengkaji ilmu-ilmu, baik agama, maupun ilmu umum. Alasannya, menurut Hasan Langgulung, penutupan itu diberlakukan karena al-Azhar pada masa dinasti Fatimiyah dijadikan sebagai alat atau wadah untuk mempropaganda ajaran Syi’ah. Hal itu amat berlawanan dengan mazhab resmi yang dianut dinasti Ayyubiyah, yaitu mazhab Sunni.
Kebijakan lain yang diambilnya adalah menunjuk seorang Qadi, Sadr al Din Abd al-Malik ibn Darabas untuk menjadi Qadi tertinggi, yang nantinya berhak mengeluarkan fatwa-fatwa tentang hukum-hukum mazhab Syafi’i. Di antaran fatwa yang dikeluarkan adalah melarang umat Islam saat itu untuk melakukan shalat Jum’at di masjid al-Azhar, dan hanya boleh melakukannya di masjid al-Hakim. Alasannya, masjid al-Hakim lebih luas. Selain itu, dalam mazhab Syafi’i tidak boleh ada dua khutbah Jum’at dalam satu kota yang sama.
Masjid al-Azhar tidak dipakai untuk shalat Jum’at dan kegiatan pendidikan selama lebih kurang seratus tahun, yaitu sejak Shalahudin berkuasa sampai khutbah Jum’at dihidupkan kembali pada zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir Baybars dari Dinasti Mamluk yang berkuasa atas Mesir.
Meskipun begitu, penutupan al-Azhar sebagai masjid dan perguruan tinggi pada masa dinasti Ayyubiyah, bukanlah berarti dinasti ini tidak memperhatikan bidang-bidang agama dan pendidikan. Bahkan pendidikan mendapat perhatian serius dari para penguasa dinasti ini. Indikasinya adalah pembangunan madrasah-madrasah di hampir setiap wilayah kekuasaan, mengadakan pengajian tinggi (kulliyat) dan universitas pun digalakkan. Oleh karena itu, tidak kurang dari 25 kulliyat didirikan oleh kerajaan Ayyubiyah. Diantara kulliyat-kuliyyat yang terkenal adalah Manazil al-‘Iz, al-Kulliyat al-‘Adiliyah, al-Kulliyat al-Arsufiyah, al-Kulliyat al- Fadiliyah, al-Kulliyat al-Azkasyiayah, dan al-kulliyat al- ‘Asuriyah. Semua nama-nama itu dinisbatkan kepada nama-nama pendirinya, yang biasanya sekaligus pemberi wakaf bagi murid-murid dan guru-gurunya.
Meskipun ada semacam larangan untuk tidak mengunakan al-Azhar sebagai pusat kegiatan, masjid itu tidak begitu saja ditinggalkan oleh murid-murid dan guru-guru, karena hanya sebagian mereka yang pergi meninggalkan tempat itu. Itu pun karena al-Azhar tidak mendapat subsidi (wakaf dari pemerintah). Dengan demikian, al-Azhar praktis mengalami masa-masa surut.
Keadaan demikian tidak selamanya terjadi, sebab pada masa pemerintahan Sultan al-Malik al-Aziz Imaduddin Usman, putra Shalahudin al-Ayyubi datang seorang alim ke tempat ini (al-Azhar), ia bernama Abd al-Latif al-Baghdadi yang datang ke Mesir tahun 1193M/589H. Beliau mengajar di al-Azhar selama Sultan al-Malik al-Aziz berkuasa. Materi yang diajarkannya meliputi mantiq dan Bayan.
Kedatangan al- Baghdadi menambah semangat beberapa ulama yang masih menetap di al-Azhar, di antara mereka adalah Ibn al-Farid, ahli sufi terkenal, Syeikh Abu al-Qosim al-Manfaluti, Syeikh Jama al-Din al- Asyuti, Syeikh Shahabu al-Din al-Sahruri, dan Syams al-Din Ibn Khalikan, seorang ahli sejarah yang mengarang kitab wafiyyat al-‘Ayan.
Selain mengajar mantiq dan bayan, al- Baghdadi juga mengajar hadits dan fiqh. Materi itu diajarkan kapada para muridnya pada pagi hari. Tengah hingga sore hari ia mengajar kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya. Selain itu, al- Baghdadi juga memberi kelas-kelas privat di tempat-tempat lain. Ini merupakan upaya al- Baghdadi untuk memberikan informasi dan sekaligus mensosialisasikan mazhab Sunni kepada masyarakat Mesir.
Selama masa pemerintahan dinasti Ayyubiyah di Mesir (1171-1250M), perkembangan aliran atau mazhab Sunni begitu pesat, pola dan sistem pendidikan yang dikembangkan tidak bisa lepas dari kontrol penguasa yang beraliran Sunni, sehingga al-Azhar dan masa-masa berikutnya merupakan lembaga tinggi yang sekaligus menjadi wadah pertahanan ajaran Sunni. Para penguasa dinasti Ayyubiyah yang sunni masih tetap menaruh hormat setia kepada pemerintahan khalifah Abbasiyah di Baghdad. Oleh karena itu, di bawah payung khalifah Abbasiyah mereka berusaha sungguh-sungguh menjalankan kebijaksanaan untuk kembali kepada ajaran Sunni. Salah satu lembaga strategis yang dapat diandalkan sebagai tempat pembelajaran dan penyebaran ajaran mazhab Sunni adalah al-Azhar.
Selain itu, masih banyak lagi perkembangan-perkembangan yang diciptakan pada masa Dinasti Ayyubiyah ini dalam berbagai bidang, seperti dapat kita baca pada pembahasan di bawah ini.

D. Kemajuan-keamajuan Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
Sebagaimana dinasti-dinasti sebelumnya, Dinasti Ayyubiyah pun mencapai kemajuan yang gemilang dan mempunyai beberapa peninggalan bersejarah. Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang, diantaranya adalah :
1. Bidang Arsitektur dan Pendidikan
Penguasa Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Ini ditandai dengan dibangunnya Madrasah al–Shauhiyyah tahun 1239 M sebagai pusat pengajaran empat madzhab hukum dalam sebuah lembaga Madrasah. Dibangunnya Dar al Hadist al-Kamillah juga dibangun (1222 M) untuk mengajarkan pokok-pokok hukum yang secara umum terdapat diberbagai madzhab hukum sunni. Sedangkan dalam bidang arsitek dapat dilihat pada monumen Bangsa Arab, bangunan masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun menyerupai gereja. Shalahuddin juga membangun benteng setelah menyadari bahwa ancaman pasukan salib akan terus menghantui, maka tugas utama dia adalah mengamankan Kairo dan sekitarnya (Fustat). Penasihat militernya saat itu mengatakan bahwa Kairo dan Fustat masing-masing membutuhkan benteng pertahanan, tapi Shalahuddin memiliki ide brilian, bahwa dia akan membangun benteng strategis yang melindungi secara total kotanya. Selanjutnya, dia memerintahkan untuk membangun benteng kokoh dan besar diatas bukit Muqattam yang melindungi dua kota sekaligus Kairo dan Fustat. Proyek besar Citadel dimulai pada 1176 M dibawah Amir Bahauddin Qaraqush. Shalahuddin juga membangun dinding yang memagari Kairo sebagai kota residen bani Fatimiyyah, sekaligus juga memagari benteng kebesarannya serta Qata’i-al Fustat yang saat itu merupakan pusat ekonomi Kairo terbesar.
2. Bidang Filsafat dan Keilmuan
Bukti konkritnya adalah Adelasd of Bath yang telah diterjemahkan, karya-karya orang Arab tentang astronomi dan geometri, penerjemahan bidang kedokteran. Di bidang kedokteran ini telah didirikan sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.
3. Bidang Industri
Kemajuan di bidang ini dibuktikan dengan dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Terdapat pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.
4. Bidang Perdagangan
Bidang ini membawa pengaruh bagi Eropa dan negara–negara yang dikuasai Ayyubiyah. Di Eropa terdapat perdagangan agriculture dan industri. Hal ini menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu Dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank, termasuk Letter of Credit (LC), bahkan ketika itu sudah ada uang yang terbuat dari emas.
5. Bidang Militer
Selain memiliki alat-alat perang seperti kuda, pedang, panah, dan sebagainya, ia juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan. Disamping itu, adanya perang Salib telah membawa dampak positif, keuntungan dibidang industri, perdagangan, dan intelektual, misalnya dengan adanya irigasi.

BAB III
PENUTUP

Dari uraian di atas dapat kita mengambil kesimpulan, bahwasanya dinasti Ayyubiyah adalah dinasti yang berdiri di atas puing-puing dinasti fatimiayah yang tidak mampu menghalau kekuatan serangan tentara salib pada masa itu. Dinasti Ayyubiyah berkembang menjadi dinasti yang besar dan tangguh di bawah kepemimpinan Shalahudin al-Ayyubi.
Shalahudin al-Ayyubi dengan sekuat tenaga bersama pasukannya menghalau tentara salib hingga kaum muslim menguasai kota Yerussalem. Selain mempertahankan dan memperluas kekuasaan Shalahudin al-Ayyubi juga mendirikan sarana pendidikan untuk generasi penerus yang mana lebih menekankan pada nilai-nilai ajaran Sunni.
Sasaran utama dalam hal ini mesjid sekaligus madrasah yang terkenal yakni al-Azhar. Al-Azhar pada saat itu, selain dijadikan tempat pendidikan juga sebagai wadah politik dan pertahanan ajaran Sunni. Hal ini dilakukan setelah runtuhnya Dinasti Fatimiyah. Selain itu, khalifah setelahnya pun ada yang mendirikan perguruan-perguruan tinggi yang semakin pesat.
Hubungan politik dengan pendidikan yang terjadi pada saat itu tidak membuat pendidikan malah menurun. Banyak ulama-ulama yang berdatangan dari berbagai penjuru dengan mengajarkan ilmu-ilmu nya pada generasi penerus, menambah khazanah keilmuan dan melahirkan para ilmuan-ilmuan pada saat itu serta dibuktikan dengan banyaknya bermunculan madrasah-madrasah dan pembangunan diberbagai bidang, baik pendidikan, keilmuan, arsitektur, filsafat, perdagangan (ekonomi) maupun militer.
Berakhirnya dinasti Ayyubiyah setelah terbunuhnya khalifah terakhir karena adanya konflik antara Turansyah dengan Mamluk Bahr.

___ Wallaahusubhanahuwata’ala A’lam__

DAFTAR PUSTAKA

• Lapidus, Ira. M., terj. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
• Mukti, Abd, 2008. Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir. Bandung : Cita Pustaka Media Perintis .
• Tamim Ansary, 2010. A History of The World through Islamic Eyes, diterjemahkan oleh Destiny Discruted (United States: Public Affairs, 2009) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yuliani Liputo, Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam, Jakarta: Penerbit Zaman
• Team Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam, 1981. Sejarah dan Kebudayaan Islam. IAIN Alaudin Ujung Pandang.
• Yatim, Badri. 2003. Sejarah Peradaban Islam. Jakrta : PT. Raja Grafindo Persada.

Internet :
http://duniamakalah88.wordpress.com/2010/01/07/dinasti-ayyubiyah/
http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/dinasti_dinasti-lokal-aghlabiyah-fatimiyah-dll.pdf
http://republika.co.id:8080/koran/0/139627/MADRASAH_ADILIYYAH_Arsitektur_Warisan_Dinasti_Ayyubiyah
http://www.islamfortoday.com/alazhar.htm
http://www.youregypt.com/ehistory/history/islamic/ayyubid/

Categories: Pemikiran Islam | Tinggalkan komentar

NEO-SUFISME DAN SPRITUALITAS MASYARAKAT MODERN

NEO-SUFISME DAN
SPRITUALITAS MASYARAKAT MODERN

A. Pendahuluan
Agama memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia. Agama tidak hanya memberikan landasan normatif dan kerangka nilai bagi kelangsungan hidup umatnya, namun juga memberikan arah dan orientasi duniawi di samping orientasi ukhrowi (eskatologis). Dengan demikian, kehadiran spiritualitas dalam pengalaman sufistik sangat penting dilakukan. Sebab, salah satu dampak negatif modernisme telah menyeret manusia untuk berlomba-lomba mengeruk harta kekayaan demi mendapatkan kekayaan, tanpa melihat esensi dan kualitasnya. Akibatnya, banyak manusia-manusia modern yang antirealitas dan asosial. Melihat gejala yang dihadapi masyarakat tersebut, para pemikir keagamaan, memberikan tawaran alternatif terapi untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, yakni dengan ber-tasawuf. Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa melakukan tindak sufisme bukan berarti meninggalkan dunia tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya. Sufisme juga dapat menjadi perisai untuk membentengi manusia dari kekuasaan nafsu.
Ilmu pengetahuan modern memberikan sarana bagi ummat Islam untuk mawas diri secara kritik kesejarahan dalam rangka menemukan kembali ajaran islam yang benar-benar segar dan kontekstual sesuai dengan semangat zaman terkini.

B. Pengertian
Neo-sufisme lebih menekankan manusia pada aspek rekonstruksi moral sosial masyarakat. Sufisme merupakan terapi yang efektif untuk membuat orang lebih manusiawi pula. Menjalani sufisme bukan berarti meninggalkan dunia. Tetapi, menjalani sufisme justru meletakkan nilai yang tinggi pada dunia dan memandang dunia sebagai media meraih spiritualitas yang sempurna.
Pada hakekatnya Neo-sufisme berarti paham tasawuf baru, atau menurut istilah Fazlurrahman, tasawuf yang diperbaharui untuk menyebut paham tasawuf para ahli hadits yang puritan, terutama tasawuf Ibnu Taimiyah dan muridnya, ibnu Al-Qayum Al-Jauziyah .
Neo-sufisme, dipelopori oleh tokoh salaf, Ibnu Taimiyah. Meskipun ia menentang berbagai praktek sufi, terutama kultus individu, namun Ibnu Taimiyah justru mengadopsi metode yang mereka gunakan. Ia meniru cara-cara kaum sufi dalam menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah SWT.
Sebagai ahli hukum Islam, ia berusaha menyeimbangkan syari’at dan tasawuf. Adapun caranya ialah, berbagai ragam pengalaman sufistik ia uji dengan pengalaman empirik. Perilaku eksternal sufi dikonfrontasikan dan diuji dengan merujuk pada aspek lahiriah ajaran islam. Neo-Sufisme cenderung mengacu pada kehidupan Nabi SAW secara utuh. Tidak ada dikotomi antar syari’at dan taswuf karena nabi Muhammad mampu menggabungkan keduanya dalam satu perilaku dan cermin kehidupan. Tidak ada dikotomi antara filsafat dan tasawuf karena Nabi membangun pola kehidupan yang merangkum keduanya.
Dalam buku the seculer city Harvey Cox, pernah memprediksi keruntuhan agama karena modernisme. Tetapi, agaknya ia segera merubah teorinya, karena ternyata modernisasai sama sekali tidak melumpuhkan agama. Modernisme justru mengantar mansuia pada jalan buntu yang menyebabkan mereka berpaling pada nilai-nilai spritual dan pencarian makna hidup. Fenomena ini diidentifikasi oleh Futrolokg Jhon Naisbitt dan Patridcia Abordene sebagai kebangkitan agama (spritualisme) millenium ketiga (Megatrends 2000, h. 254). Dalam islam kebangkitan spritualisme yang menandai era baru yang disebut Paskahmodernisme itu timbul antara lain dalam bentuk Neo-Sufisme.
Neo-Sufisme menurut Fazlurrahman memilki beberapa ciri yang membedakan dengan tasawwuf populer :
Pertama, Neo-Sufisme, memberikan pengahargaan positif pada dunia untuk seorang sufi. Menurut paham ini tidak harus miskin, bahkan boleh kaya. Kesalehan, menurut paham ini bukan dengan menolak harta dan kekayaan, tatapi mempergunakannya sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Rasul.
Kedua, Neo-Sufisme menekankan kesucian moral dan akhlakul karimah sebagai upaya memperkuat iman dan takwa.
Ketiga, dalam Neo-Sufisme terdapat aktivitas dan dinamika baik dalam berpkir maupun dalam bertindak.
Neo-Sufisme tetap menghendaki penghayatan esoterisme yang mendalam, tetapi tidak dengan mengasingkan diri (uzlah), melainkan tetap aktif melibatkan diri dalam masyarakat. Selain sebagai olah rohani, tasawuf klasik berperan melancarkan gerakan oposisi keagamaan (pious opposition) terhadap praktik-praktik penindasan.

C. Tokoh Neo-Sufisme, Persamaan dan Perbedaan dengan Sufi Klasik
Sufisme mempunyai aspek dukungan yang amat positif bagi mendalamnya keyakinan agama dan pembinaan akhlak yang karimah. Hal ini telah dikemukakan oleh imam Al-Ghazali dalam bukunya al-Munqidz min al Dlalal. Yaitu, karena mereka percaya bahwa dengan pengalaman kejiwaan (kasyfi) itu adalah hubungan langsung dengan Tuhan, maka benar atau salah kepercayaan ini menimbulkan keyakinan yang mantap tak tergoyahkan. Keyakinan itu menghidupkan rasa yang mendorong ketekunan beribadah dan pengamalan agama. Disamping itu, jalan untuk mencapai pengalaman kasyfi juga menjadi sarana pembinaan akhlak keagamaan. Ada kekhawatiran apabila tasawuf dihapuskan, umat Islam akan terpelanting ke arah formalisme yang kaku dan kosong dari rasa agama. Bahkan ada yang memandang penghayatan kasyfi sebagai dimensi batin bagi agama Islam. Nurcholis Madjid misalnya dalam bukunya Islam Agama Peradaban mengatakan sebagai berikut:
Sebagai sistem ajaran keagamaan yang lengkap dan utuh, Islam memberi tempat kepada jenis penghayatan keagamaan eksoterik (zhahiri) dan esoterik (bhatini) sekaligus. Tetapi meskipun tekanan yang berlebihan kepada salah satu dari kedua aspek penghayatan itu akan menghasilkan kepincangan yang menyalahi prinsip ekuilibrium (tawazun) dalam Islam, namun kenyataannya banyak kaum Muslim yang penghayatan keislamannya lebih mengarah kepada yang lahiri dan banyak pula yang lebih mengarah kepada bhatini. Kaum syariah lebih menitik beratkan perhatian kepada segi-segi syari’ah atau hukum sering juga disebut kaum lahiri. Sedangkan kaum thariqah yaitu mereka yang berkecimpung dalam amalan-amalan tarekat, dinamakan kaum batini.

Pemikir yang memahami benar-benar intisari sufisme yakni mencari hubungan langsung secara tatap muka dengan Tuhan dengan perantaraan pengalaman kejiwaan (kasyfi), pasti menilai tidak ada pembaharuan. Sufisme adalah kepercayaan bahwa penghayatan kasyfi yang bersifat pengalaman kejiwaan itu merupakan dalil yang paling meyakinkan. Intisari yang menjadi tujuan utama tasawuf tidak mungkin dicapai bila dibatasi dengan aturan-aturan syariat. Tujuan tasawuf hanya bisa dicapai dengan kontemplasi dengan perantara membaca aurad-aurad yang kaifiyatnya menyimpang dari tuntunan syariat. Dan amal semacam inilai yang dinalai oleh para pembaru agama sebagai bid’ah. Kenyataan inilah yang menyebabkan upaya-upaya untuk mensyariatkan sufisme seperti dicoba oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Haji Ahmad Rifa’i dan Hamka di Indonesia tidak bisa berkembang ; disebabkan berlawanan dengan logika pemikiran sufisme itu sendiri.
Istilah Neo Sufisme berasal dari Fazlur Rahman dalam upaya untuk memperbarui sufisme dengan jalan mencoba mengikat serta menundukkan ajaran tasauf dibawah kendali syariat yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam sistem Ghazaliyah tasawuf atau ilmu Hakikat dipandang lebih halus dan lebih tinggi dari syariat. Urutannya adalah syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Dalam cita neo-sufisme sebaliknya sufisme harus tunduk didalam kendali syari’at. Penganut paham neo-sufisme ini terdapat dua cabang. Satu cabang menolak penghayatan kasyfi sebagai intisari atau hakikat sufisme. Mereka berusaha mengembalikan pada bentuk tasawuf seperti yang diamalkan para sahabat nabi (ulama salaf). Artinya intisari yang menjadi tujuan tasawuf hendaknya hanya bertekun beribadah dan menghindari kemewahan hidup duniawi. Penghayatan kasyfi yang kadang menyertai orang-orang yang tekun beribadah itu adalah godaan, yang apabila itu diutamakan berarti penyimpangan dari tujuan tasawuf semula (yang asli). Cabang yang lain mengakui penghayatan kasyfi memang intisari ajaran tasawuf. Namun kebenarannya jangan di mutlakkan. Kebenaran penghayatan kasyfi harus di uji sesuai atau tidak dnegan syari’at. Cabang pertama yang berupaya mengalihkan intisari yang menjadi tujuan utama tasawuf adalah ketekunan beribadah dipelopori Ibnu Khaldun. Dalam kitabnya Muqadimah tentang bab “Ilmu Tashawwuf” Ibnu Khaldun mengatakan agar tujuan utama ajaran tasawuf atau sufisme diubah.
Usul Ibnu Khaldun untuk tidak mementingkan penghayatan kasyifi ini memang bagus, namun kurang realitis. Karena apabila penghayatan makrifat yang menjadi intisari sufisme ditinggalkan atau tidak menjadi tujuan utama, tasawuf pasti akan gulung tikar, tidak menjadi tasawuf lagi. Yakni berubah menjadi ‘abid atau zahid, tidak perlu disebut sufi atau mistikus. Karena kurang realis maka ide Ibnu Khaldun tidak digubris dan tidak diperhatikan oleh para sufi sendiri. Cabang kedua, tetap mengakui penghayatan kasyfi sebagai intisari dan tujuan utama tasawuf. Upaya ini mula-mula dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Di Indonesia faham ini dianut oleh Haji Rifa’i dan Hamka. Nurcholish Majid dalam bukunya Islam Agama Peradaban menjelaskan secara panjang lebar tentang neo-sufisme sebagai berikut :
Fazlur Rahman menjelaskan sufisme baru itu merupakan ciri utama berupa tekanan kepada motif moral dan penerapan metode zikir dan muraqobah atau konsentrasi keruhanian guna mendekati Tuhan, tetapi sasaran dan isi konsentrasi disejajarkan dengan doktrin salafi (ortodoks) dan bertujuan untuk meneguhkan keimanan kepada qidah yang benar dan kemurnian moral dan jiwa.gelaja yang dapat disebut sebagai neo-sufisme ini cenderung untuk menghidupkan kembali aktifisme salafi dan menanamkan kembali sikap positif kepada dunia. Dalam makna inilah kaum Hambali seperti Ibn taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyah, sekalipun sangat memusuhi sufisme populer, adalah jelas kaum neo-sufi, malah mejadi perintis ke arah kecenderungan ini. Selanjutnya kaum neo-sufi juga mengakui sampai batas tertentu, kebenaran klaim sufisme intelektual : mereka menerima kasyf (pengalaman menyingkapkan kebenaran Ilahi) kaum sifi atau ilham intuitif, tetapi menolak klaim mereka seolah-olah tidak dapat salah (ma’shum), dengan menekankan bahwa kehandalan kasyfi adalah sebanding dengan kebersihan moral dari kalbu, yang sesungguhnya mempunyai tingkat-tingkat yang tidak terhingga. Ibn Qayyim sesungguhnya mengaku pernah mengalami kasyf sendiri. (Islam Agama Peradaban, hlm. 93-94).

Keyakinan kaum sufi yang sejati tidak akan bisa ditawar, bahwa penghayatan kasyfi adalah ilmu yang mendatangkan haqqul-yaqin, dan bahwa ilmu yang mereka yakini sebagai ladunniyah lebih tinggi dan benar dari ilmu-ilmu ta’limiyah. Maka golongan terbesar atau masyarakat sufi tidak akan tergoyahkan dan tidak akan tertarik dengan ide-ide baru yang memang berlawanan dari dasar fikiran sufisme.
Adapun gerakan pemikiran Islam yang tegas menolak dan menjauhi sufisme juga membentur suatu masalah yang setiap saat menghantui mereka, yaitu proses pendangkalan spiritual dan rasa agama. Dengan pendangkalan ini gerakan akan selalu dihadang oleh penyakit formalisme dan kejatuhan moral Islam. Akhlak Islamiyah tidak bisa dibina hanya dengan kegarangan rasional saja. Bahkan rasionalisme syariat dan pemikiran Islam ini pun akan membentur pada masalah penafsiran kembali ajaran-ajaran agama yang itu-itu juga. Artinya akan terjerat pada pemikiran yang berputar sehingga mengkontektualkan Islam, namun kekurangan ahli pemikir agama yang mampu berfikir akademis.
Spritualisme masyarakat modern muncul di dorong oleh modernisme itu sendiri di mana manusia modern merasakan bahwa harta tidak lagi dapat menjadi patokan pembawa kebahagiaan dan penyejukab hati sehingga masyarakat modern mengalami kefakuman eksistensial. Hal ini pada akhirnya mengantarkan masyarakat modern kembali kepada nilai-nilai religius. Masyarakat modern haus akan kegiatan-kegiatan dan orang-orang yang mampu memberikan kesejukan dan ketenangan jiwa bagi mereka.
Sebuah fenomena, pada awal abad ke 20 ini, di Indonesia – dengan tidak menafikan negara-negara Islam lainnya – telah muncul pemikir-pemikir Islam yang cukup berani dengan kemampuannya mengungkap warisan ilmu pengetahuan Islam dengan pendekatan epistemologi Islaminya. Ary Ginanjar Agustian misalnya, meski dia seorang praktisi yang bergerak di bidang usaha, dengan ‘ESQ Model’ nya, ia telah dianggap mampu memperkenalkan paradigma baru yang mensinergikan sains, sufisme dan psikologi dengan tetap berpijak pada ajaran-ajaran Qur’ani serta penekanannya pada prinsip Tauhid.
Ada lagi Agus Musthofa, seorang sarjana teknik nuklir lulusan Universitas Gadjahmada (UGM) Yogyakarta, dengan cukup berani ia mencoba menyingkap fenomena-fenomena spiritual yang dianggap sulit dicerna oleh indera manusia dengan argumen-argumen logis-empiris namun tetap berpijak pada koridor ajaran wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadits).
Tantangan terbesar bagi ilmuwan Muslim saat ini adalah, bagaimana menemukan formulasi yang konfrehensif tentang berbagai macam teori ilmu pengetahuan yang dapat diterima oleh semua kalangan, baik Islam maupun non Islam, sehingga sains Islam-pun bukan hanya akan terbebas dari bayang-bayang imperialisme epistemologi barat, tetapi juga mampu mencerminkan secara kongkrit konsep Islam sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’.

D. Implikasnya bagi Masyarakt Modern
Menjelang abad XXI ini, tasawuf dituntut untuk lebih humanistik, empirik, dan fungsional. Penghayatan terhadap ajaran Islam, bukan hanya pada Tuhan, bukan hanya reaktif, tetapi aktif serta memberikan arah kepada sikap hidup manusia di dunia ini, baik berupa moral, spiritual, sosial, ekonomi, teknologi, dan sebagainya.
Saat ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai oang yang stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan aktif dalam medan perjuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi. Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani). Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial daripada “terkungkung” dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.
Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri, kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya terhadap Allah dan Rasulnya. Kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan sangat dianjurkan didalam Islam, serta pengamalan dari pengetahuan juga harus disesuaikan dengan kehendak Ilahi sebagai wujud yang kita yakini sebagai wujud tunggal yang menguasai segala hal di alam semesta ini. dalam mendorong umat untuk giat mencari ilmu, para ulama’ menetapkan bahwa setiap ilmu hasil ciptaan atau hasil buatan yang memang diperlukan oleh umat Islam maka hukumnya adalah fardu kifayah, seperti yang pernah dikatakan oleh al Ghazaly:
” apabila ilmu dan karya yang dimiliki oleh Non-Muslim lebih baik dan lebih maju dari pada yang dimiliki oleh kaum Muslim, maka kaum muslim berdosa dan kelak mereka akan dituntut atas kelalaianya itu”.
Dari serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan dari suatu masyarakat, karena tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan, kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu ibadah kepada Allah yang satu.
Kekuatan tasawuf mampu membangkitkan kesadaran dan nuansa pembebasan masyarakat Muslim. Kecenderungan demam tasawuf di perkotaan kian menunjukkan peningkatan. Kursus-kursus tasawuf yang diselenggarakan oleh lembaga semacam LSAF, Paramadina, Sehati, Tazkiya, dan lain-lain menarik minat yang cukup tinggi, terutama di kalangan kaum kota yang terdidik secara modern.
Mubaligh-mubaligh dalam sosok sufi pun makin dirindukan umat. Aa’ Gym, Arifin Ilham, atau Ihsan Tanjung, yang terkenal dengan program Alquran Seluler, mewakili dai-dai sufi yang bertumpu pada kekuatan akhlak dan aura spiritualnya. Buku-buku tasawuf, mulai dari sufi klasik; Ibn Arabi, al-Hallaj, al-Aththar, al-Qawariri, atau al-Kharraj hingga pemikir sufi kontemporer; Inayat Khan, Idris Shah, Kabir Helminski, Hakim Moinuddin Christhi, Seyyed Hossein Nasr, dll makin digemari dan membanjiri pasaran.
Kebangunan tasawuf ini dapat ditengarai sebagai antitesis fiqh-oriented yang telah lama menghinggapi pola hidup masyarakat Muslim. Bukan berarti fiqh tidak penting. Secara fungsional-historis, fiqh telah berdiri memberi arah kejelasan ajaran-ajaran Islam, tapi “penganakemasan” berlebihan pada fiqh hanya menggiring esktremisme yang tidak bisa ditolerir. Wacana keberagamaan yang cenderung fiqh bukan saja memancangkan reduksionisme pola pikir yang dualistis, tapi juga mengintrodusir tafsir keagamaan “bawah-atas” yang sangat terikat dengan ruang dan waktu, karenanya tidak berlaku universal. Fiqhisme memang berhasil menjelaskan tata cara hidup, namun gagal mengajarkan bagaimana menikmati hidup.
Dalam konteks ini, tasawuf hadir menginjeksi fungsi pendalaman, sesuatu yang bersifat esoteris. Namun, tasawuf bukanlah esoterisme. Karena esoterisme adalah pengembaraan aspek-aspek “dalam” yang sepenuhnya terlepas dari sandaran jurisprudensi formal agama, seperti syariat. Tasawuf berpijak pada syariat untuk menjalani tarekat guna mencapai hakikat. Inilah neo-sufisme yang dimunculkan Fazlur Rahman (1979) dengan menitikberatkan pada rekonstruksi sosio-moral masyarakat Muslim. Dengan pendalaman, tasawuf diharapkan memberikan tempat buat bangkitnya kesadaran dan nuansa pembebasan bagi masyarakat Muslim.

Categories: Pemikiran Islam, Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

STUDI FILSAFAT ISLAM

A. PENGERTIAN ISTILAH-ISTILAH KUNCI

A. Kata filsafat yang dalam bahasa Arab disebut falsafah berasal dari bahasa Yunani philoshophia yang terdiri dari dua kata yaitu philos artinya cinta dan shopia artinya ilmu, kebijaksanaan, hikmah.
Dalam bahasa Arab dikenal kata hikmah dan hakim, kata ini bisa diterjemahkan dengan arti filsafat dan filosof. Kata hukkam al Islam bisa berarti falasifat al Islam. Hikmah adalah perkara tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia dengan alat-alat tertentu, yaitu akal dan metode-metode berfikirnya. Pengidentikan kata falsafah dengan hikmah sebagai upaya justifikasi ajaran Islam, sebab kata ini terdapat dalam beberapa ayat al- Qur’an. Apabila kata hikmah terdapat dalam al- Qur’an dan kata falsafah identik dengan kata hikmah, maka al- Qur’an memberikan justifikasi terhadap aktifitas falsafah. Kata hikmah tampil dalam 3 bentuk, yaitu hikmah secara umum, hikmah yang dikaitkan dengan kekuasaan dan hikmah yang dikaitkan dengan kitab suci.
Kata hikmah dalam makna umum dijelaskan dalam QS. Al Baqarah: 269
                  
Kata hikmah yang dikaitkan dengan kekuasaan terdapat dalam QS. Al Baqarah: 251

                 ••           
Kata hikmah yang dikaitkan dengan kitab suci terdapat dalam QS. Al Baqarah: 151
             •    
Kendati al- Qur’an menggunakan kata hikmah dan kata ini identik dengan makna falsafah namun dalam perkembangan awal filsafat Islam kata falsafah lebih banyak digunakan, sehingga muncullah istilah falsafah Islam. Hal ini disebabkan oleh euforia Yunani yang begitu bergema di dunia Islam. Namun dalam perkembangan berikutnya, ketika falsafah mendapat reaksi keras dari Imam Ghazali, muncul upaya-upaya elaborasi falsafah dengan wacana intelektual lain, seperti Ilmu Kalam dan Tasawuf. Upaya ini begitu menggeliat, khususnya di dunia Syi’i, sehingga kata hikmah menjadi kata baku untuk maksud falsafah. Atau seperti kata Henry Corbin, kata hikmah di Persia (dunia Syi’i) dimaksudkan sebagai wacana intelektual yang telah melalui proses elaborasi dengan Ilmu Kalam dan Tasawuf.
Selanjutnya kata Islam berasal dari bahasa Arab aslama, yuslimu islaman yang berarti patuh, tunduk, berserah diri, serta memohon selamat dan sentosa. Kata tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman, dan damai.
Pada pengertian Filsafat Islam terdapat sejumlah pendapat. Musa Asy’ari mengatakan bahwa filsafat Islam itu pada dasarnya merupakan medan pemikiran yang terus berkembang dan berubah. Filsafat Islam dapatlah diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islami. Islam disini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat disebut islami bukan karena yang melakukan aktifitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam, atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi objeknya yang membahas mengenai pokok-pokok keislaman.
Ahmad Fuad Al- Ahwani mengatakan bahwa Filsafat Islam ialah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam-macam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, filsafat Islam dapat diketahui melalui lima cirinya sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi sifat dan coraknya, Filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan al- Qur’an dan hadits. Dengan sifat dan coraknya yang demikian itu, filsafat Islam berbeda dengan filsafat Yunani atau filsafat Barat pada umumnya yang semata-mata mengandalkan akal fikiran (rasio). Kedua, dilihat dari ruang lingkup pembahasannya, filsafat Islam mencakup bidang kosmologi, bidang metafisika, kehidupan manusia, masalah ilmu pengetahuan dan lain sebagainya kecuali masalah zat Tuhan. Ketiga, dilihat dari segi datangnya, filsafat Islam sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri, tepatnya ketika bagian dari ajaran Islam memerlukan penjelasan secara rasional dan filosofis. Keempat, dilihat dari segi yang mengembangkannya, filsafat Islam disajikan oleh orang-orang yang beragama Islam. Kelima, dilihat dari segi kedudukannya, filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya seperti fiqih, ilmu kalam, tasawuf, sejarah kebudayaan Islam dan pendidikan Islam.
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ‘sudah ditemukan’.

B. PERSENTUHAN ISLAM DENGAN PERADABAN YUNANI DAN PERSIA SEBAGAI LATAR BELAKANG TUMBUHNYA KAJIAN FILSAFAT

Sejak lama sebelum Islam menaklukkan wilayah-wilayah Timur, Suriah merupakan tempat bertemunya dua kekuasaan dunia saat itu, Roma dan Persia. Oleh sebab itu, bangsa Suriah memainkan peran penting dalam penyebaran kebudayaan Yunani ke Timur dan Barat. Pemikiran Yunani merupakan awal munculnya kesadaran manusia secara akliah yang mampu berfikir secara radikal untuk memecahkan rahasia alam atau yang maujud ini dan melihat hakekat Ketuhanan dengan pendekatan akal.
Proses pembentukan pemikiran itu diawali dengan peristiwa-peristiwa, misalnya ada persentuhan pendapat, agama, kebudayaan atau peradaban antara satu dengan lainnya. Persentuhan tersebut terkadang menimbulkan bentrokan atau akulturasi bahkan tidak jarang terjadi asimilasi.
Masuknya filsafat Yunani ke dalam dunia Islam terjadi secara tidak sengaja, dalam arti bahwa umat Islam tidak sengaja mencari filsafat Yunani untuk dipelajari. Masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam terjadi secara alami, sebagai hasil interaksi antarmasyarakat Islam dengan bangsa Syiria, Persia dengan wilayah lain yang secara tidak langsung telah membahas ilmu kedokteran, kimia ke dalam Islam. Yang pertama kali dipelajari oleh umat Islam adalah ilmu kedokteran. Hal ini terjadi pada masa khalifah Marwan bin Hakam (64-65 H) ketika dokter Maserqueh menerjemahkan kitab Pastur Ahran bin Ayun , yang berbahasa Suryani ke dalam bahasa Arab. Kitab ini disimpan di perpustakaan sampai masa pemerintahan Umar bin Abd Aziz (99-101 H) dalam riwayat lain ada yang mengatakan bahwa penerjemah yang pertama kali dalam Islam di lakukan oleh Khalid bin Yazid al Amawi (85 H) yang memerintahkan menerjemahkan kitab-kitab kimia ke dalam bahasa Arab.
Sejak awal pemerintahan Khulafaurrasyidin sampai pemerintahan Bani Umayyah, umat Islam sudah menguasai wilayah-wilayah yang dahulu dikuasai oleh bangsa Romawi, Persia dan pemikiran-pemikiran Yunani sudah dibaca dan masuk dalam kalangan Islam.
Pada masa pemerintahan bani Abbas setelah pusat pemerintahan dipindah dari Damaskus (Syiria) ke Baghdad (Irak), kegiatan penerjemahan di lakukan secara besar-besaran dan ditangani secara serius. Al Makmun memprakarsai penerjemahan tersebut dengan dua alasan utama yaitu:
Pertama, banyaknya perdebatan mengenai soal-soal agama antara kaum muslimin disatu pihak dengan kaum Yahudi dan Nasrani dipihak lain. Untuk menghadapi perdebatan tersebut mereka memerlukan filsafat Yunani agar dali-dalil dan pengaturan alasan bisa disusun dengan sebaik-baiknya sehingga bisa mengimbangi lawan-lawannya yang terkenal memakai ilmu Yunani terutama logika; kedua, banyaknya kepercayaan dan pikiran-pikiran Iran yang masuk kepada kaum muslimin, orang-orang Iran dalam menguatkan kepercayaan memakai ilmu berpikir yang didasarkan atas filsafat Yunani.
Di zaman Bani Umayyah karena perhatian banyak tertuju pada kebudayaan Arab, maka pengaruh kebudayaan terhadap Islam belum begitu kelihatan. Pengaruh itu baru nyata atau kelihatan pada masa Bani Abbas, karena yang berpengaruh di pusat pemerintahan bukan lagi orang Arab, tetapi orang-orang Persia. Puncak penerjemahan terjadi pada masa Al Makmun yang pada tahun 215 H mendirikan Bait al Hikmah, di mana para penerjemah dan pimpinannya di tangani oleh orang-orang yang menguasai bahasa Suryani, Yunani dan bahasa Arab dengan baik. Pimpinan Bait al Hikmah ini di pegang oleh Hunai ibn Ishaq.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani. Filosof-filosof Islam banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan tertarik dengan pikiran-pikiran Plotinus. Namun belajar (berguru) tidak berarti mengekor dan hanya mengikut saja. Transformasi pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan dengan perbudakan dan penghambaan. Maka satu ide dapat dibahas oleh banyak orang. Seorang filosof berhak mengambil sebagian pandangan orang lain tetapi hal itu tidak menghalanginya membawa teori-teori dan filsafatnya sendiri. Ibn Sina misalnya walaupun sebagai murid yang murni dari Aristoteles tetapi ia mempunyai filsafat sendiri yang tidak dikatakan oleh gurunya.

C. TOKOH DAN KARYA UTAMA

1. Al Kindi
Ya’kub bin Ishak As Sabah bin Imran Al Kindi lahir di Kufah pada penghujung awal ke 8 M dan wafat pada tahun 873 M. Karangannya yang terkenal ditemukan oleh seorang ahli ketimuran Jerman, yaitu Hillmuth Ritter di perpustakaan Aja Sofia Istambul, dan terdiri dari 29 risalah. Risalah-risalah tersebut sudah diterbitkan di Mesir oelh M. Abdulhadi Aburaidah.
Al Kindi merupakan merupakan Bapak filsuf Muslim. Selain itu ada juga yang menyebutkan Al Kindi sebagai ahli filsafat Arab sebagaimana T.J De Boer, karena Al Kindilah orang Arab yang pertama mengupas filsafat dalam bahasa Arab. Al Kindi banyak menerjemahkan buku-buku Yunani (filsafat) ke dalam bahasa Arab. Dia juga merevisi buku-buku terjemahan yang telah dilakukan oleh orang lain seperti buku ”Theology of Aristotle”.

2. Ar Razi
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi dilahirkan di Ray dekat Teheran, di sekitar tahun 865 M (251 H). Ia banyak menumpahkan perhatian untuk mempelajari matematika, kedokteran dan filsafat alam (natural philosophy) dan logika. Bukunya tentang filsafat antara lain Kitab Ilmul-Ilahi (Kitab ilmu Ilahi), Ath- Thibbur- Ruhani (hati yang suci) dan As Siratul Falsafiah (jalan filsafat). Sebagian besar dari karya tulisnya telah hilang. Ar Razi meninggal dunia pada tahun 925 M (313 H).

3. Al Farabi
Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlag Al Farabi, yang dikenal dengan Avennoser, lahir di Wasij dalam daerah Farab (Turkestan) sekitar tahun 870 M (257 H). Ia wafat pada bulan Rajab 339 H (Desember 950 M). Kealiman Al Farabi ditunjang oleh keahliannya dalam ilmu logika, sehingga ia disebut oleh para ahli sejarah dengan sebutan Al Mu’allimuts Tsani (guru kedua), dialah filosof besar yang kedua setelah Aristoteles.
Karya-karya Al Farabi antara lain:
a. Maqalatun fi ma’anil- aql . Berisi tentang kedudukan akal, pembagiannya dan sumber ilmu (makrifat)
b. Al Jami’ baina rakyil- Hakimain (perkumpulan di antara dua hakim) , mempertemukan pendapat dua orang filosof Yunani yang masyhur Plato dan Aristoteles
c. Fima yanbaghi an-yuaqaddima qabla ta’allumil falsafah, mengemukakan bahwa logika tidak termasuk filsafat, tetapi sebagai alat untuk mempelajarinya.
d. Al Ibanah an ghardi Aristo fi kitabi ma ba’dat tabi’ah. Penjelasan tujuan metafisika Aristoteles terutama tentang hakikat wujud ditinjau dari materi dan bentuk
e. Al Masa-ilul-falsafah wal ajbiwatu anha, kelanjutan bahasan Al Ibanah an ghardi Aristo fi kitabi ma ba’dat tabi’ah
f. Ara’u ahlil madinah al fadhilah, membahas tentang qidam dan hadisnya alam, kedudukan malaikat langit dan dunia
g. Ihsha al ulum wat ta’rif bi aghradhiha, menjelaskan tentang pembagian dan macam-macam ilmu.

Kontribusi Al Farabi terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa.

4. Ibn Maskawaih
Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Maskawaih disebut juga dengan Abu Ali Al Khazin, lahir di Ray sekitar tahun 330 H (932 M), meninggal pada tanggal 9 Safar 421 H (16 Februari 1030 M). Beberapa karya tulisnya adalah :
a. Tahzibul Akhlaq wa Thathhirul a’raq
b. Tajribul umam
c. Al fauzul Akbar
d. Al Fauzul Ashghar
e. Tartibus Sa’dah
f. As Siyar

5. Ibn Sina
Asy Syaikh Ar Rais Abu Ali Al Husain bin Abdillah bin Sina, disebut juga Avicenna. Lahir di Afsyanah (Ef shene) di Bukhara pada bulan Safar tahun 370 H (980 M). Ia Meninggal di Hamzan pada tahun 428 H (1036 M). Karya-karya Ibn Sina memadukan antara sistem analisa filsafat dan medis. Karya-karyanya antara lain:
a. Asy Syifa (penyembuh). Kitab ini telah diterbitkan kembali di Mesir oleh suatu panitia dalam rangka memperingati 1000 tahun hari lahir Ibn Sina di Baghdad pada tahun 1952.
b. An Najah (keselamatan)
c. Al Isyarat wat Tanbihat (peringatan dan larangan). Kitab ini pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 dan di Kairo pada tahun 1947 oleh Dr. Sulaiman Dunia
d. Al Hikamat Al Masyriqiyyah
e. Al Qanun fith Thib (The Canon). Buku ini terdiri atas lima jilid yang merupakan ensiklopedi ilmu kedokteran yang tiada tandingannya pada masa itu. Terjemahannya dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona merupakan buku bacaan bagi berbagai universitas di Eropa sampai abad ke 17 M.
f. Hayy ibn Yaqzhan (hidup anak Yaqzhan) yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Ny. Gaichan pada tahun 1959.

6. Al Ghazali
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali, nama latinnya Algazet atau Abuhamet dilahirkan di Ghazaleh pinggir kota Thus dalam wilayah Khurasan pada tahun 450 H (1058 M), meninggal dunia pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H (1111 M). Ia telah menulis berbagai buku, dalam bidang fikih dan ushulnya ia menulis Al Wajiz, Al Wasith, Al Basith, Al Mustashfa (rumah sakit), dalam ilmu kalam ia menulis Al Iqtishad fil I’tiqad. Dalam ilmu manthiq ia menulis Mi’yarul Ilmi, tentang filsafat ia menulis Maqashidul Falasifah, Tahafutul Falasifah, Kimya’us Sa’adah, Misykatul Anwar, dan buku Al Munqizu minadh dhalal merupakan buku terakhir yang ditulisnya.

7. Ibn Bajjah
Abu Bakar Muhammad bin Yahya Ash Sha’igh terkenal dengan sebutan Ibn Bajjah dan di Eropa dzaz de1`isebut Avempace atau Avenpace. Ia lahir di Saragossa pada tahun 475 H (1082M).
Karya-karyanya antara lain:
a. Tadbiratul Mutawahhid (pelajaran/ latihan pertama)
b. Fin Nafsi (dalam kehidupan)
c. Risalah al Wada’ (risalah terakhir)
d. Risalah al Ittishal (risalah yang tidak mungkin)

8. Ibn Thufail
Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Thufail Al Qaisi. Lahir di Guadix dekat Granada pada tahun 506 H (1110 M). Ibn Thufail biasa disebut Abubacer dalam bahasa Latin.
Karya-karya Ibn Thufail tidak ditemukan lagi kecuali buku roman filsafat yang berjudul Hayy Ibnu Yaqzhan fi Asrar al Hikmati’l Masyraqiyyah. Ibn Thufail meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H (1185 M).

9. Ibn Rusyd
Abul Wahid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd atau di Barat dikenal dengan Averroes. Dilahirkan di Cordova pada tahun 520 H (1126 M). Pendidikan Ibn Rusyd dimulai dengan belajar sastra Arab, tafsir Qur’an, hadits dan ilmu kalam. Ditambah dengan mempelajari matematika, fisika, astronomi dan logika. Ia juga belajar ilmu medis dan filsafat dari Ibn Thufail. Tetapi M.M Syarif dalam editor bukunya Para Filosof Muslim menerangkan bahwa ia bukan murid dari Ibn Thufail.

Diantara karya-karyanya adalah:
a. Tahafut at Tahafut
b. Fashlul Maqal fima bainal hikmah wasy Syari’ah minal Ittishal
c. Al Kasyfu an Manahi jil Adillah
d. Al Kulliyatul fith Thib
e. Bidayatul Mujtahid

10. Mulla Shadra
Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami Shirazi. Namun beliau lebih populer dengan nama Mulla Shadra. Terdapat nama atau gelar lain yang diberikan kepada beliau seperti Al Mu’allihin, Akhund, al Hakim al Illahi al Faylasuf al Rabbani. Ia lahir Shiraz tahun 979 H/1571 M.
Ia mengikuti pendidikan dasar di kota Shiraz. Kemudian ia hijrah di kota Ishafahan, sebagai pusat ilmu pengetahuan Persia, bahkan di dunia Islam saat itu. Di kota ini Mulla Shadra menemukan aneka macam pemikiran dan ahli, terutama tiga hukama’ yang sekaligus menjadi mursyidnya yaitu syekh Baha’ al Din al Amili, ia belajar tentang al- Qur’an dan hadits, hukum (ilmu-ilmu naqliyah). Mir Abd. Qashim Findiriski, padanya ia belajar ilmu-ilmu lain termasuk mengenai agama-agama di luar Islam. Sedangkan pada Mir Damad ia belajar ilmu-ilmu ‘aqliyah.
Adapun karya-karya Mulla Shadra menyangkut ilmu ‘aqliyah adalah: Hikmah Muta’aliyah fi Asfar al ‘Aqliyat al Arba’ah, Iksir al Arifin, Al Mazhamir al Illhiyah, Al mabda wa al Ma’ad, Kitab al Masya’ir, Al Syawahid al Rububiyyah fi al Manahij al Sulukiyyah, Al Hikmah al ‘Arsyiyyah, Al Lama’ah al masyriqiyyah fi al Funun al Manthiqiyyah, Kasr al Ashnam al Jahiliyyah fi dhamm al Mutashawwifin, Al Qadha wa al Qadr fi af’al al Basyar, Al Mijaz, Risalah fi al Hasyr.

Adapun karya-karya Mulla Shadra menyangkut ilmu naqliyah adalah: Tafsir al Qur’an al Karim (9 Jilid), Mafatih al Ghayb, Mutasayabihah al Qur’an, Asrar al Ayah wa Anwar al Bayyinah.
11. Ibn Haitham
Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354 H bersamaan dengan 965 M. Ia wafat di Kairo 1039. Ia memulai pendidikan awalnya di Basrah. Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logik, metafisik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Ia turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematik, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya.

Antara buku karyanya termasuk:
a. Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik penganalisaannya
b. Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri
c. Kitab Tahlil ai’masa^il al ‘Adadiyah tentang algebra
d. Maqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah
e. M.aqalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak dan
f. Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

12. Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab pada tanggal 22 Ferbruari 1873. Pada 1922 ia mendapat gelar Sir dari pemerintahan Inggris karena keahliannya dalam filsafat dan seni.

D. KONTROVERSI KAJIAN FILSAFAT

Filsafat Islam merupakan wacana yang mengadakan pembuktian kebenaran melalui rasio dengan kendali agama. Hal ini sesuai dengan pengertian filsafat Islam sebagai pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu dengan tingkat kemampuan manusia.
Filsafat di dunia Islam merupakan benih pembaharuan, meski hasil asimilasi dari budaya asing. Namun sangat disayangkan tak bernafas panjang. Di dunia Islam timur, filsafat lenyap atas jasa Al Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali, dengan kitabnya Tahafut al Falasifah. Sedang di dunia Islam barat, matinya filsafat setelah wafatnya Ibnu Rusyd (1198 M.) berakhir pula pengaruh filsafat paripatetik. Setelah ini, filsafat secara geografis berpindah ke Iran, dengan corak gnostik-nya sebagai akibat dari pengaruh metafisika Yunani dan Hindu.
Pikiran-pikaran al Ghazali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan bathin. Dalam bukunya Tahafut al Falasifah dan Al Munqiz min Ad Dlalal, ia menentang filosof-filosof Islam, bahkan mengkafirkan mereka dalam 3 hal:
1. Pengingkaran kebangkitan jasmai
2. Membataskan ilmu Tuhan kepada yang kulli, sehingga tidak mengetahui yang juz’i.
3. Kekadiman alam

Vonis kafir yang diberikan al Ghazali, membawa imbas yang besar terhadap aktifitas intelektual kemudian, sehingga menampilkan tiga konfigurasi aktifitas intelektual di dunia Islam. Pertama, di dunia Islam sunni belahan Timur aktifitas filsafat berhenti sama sekali, digantikan dengan aktifitas tasawuf dan ilmu kalam. Kedua, di belahan Barat dunia Islam, khususnya Spanyol melalui pembelaan Ibn Rusyd terhadap filsafat dalam bukunya Tahafut al Tahafut, aktifitas filsafat Islam terus berjalan. Di sini muncul dua filosof besar lainnya yaitu Ibn Thufail dan Ibn Bajjah. Namun karena kekuasaan Islam di kawasan ini dihancurkan oleh Ferdinand-ratu Isabella, aktifitas filsafat Islampun berhenti. Ketiga, di dunia Islam Syi’i aktifitas filsafat Islam terus berlanjut berbarengan dengan aktifitas tasawuf dan ilmu kalam.
Ibn Rusyd sebagai seorang filosof merasa berkewajiban menjawab Tahafut al Falasifah untuk menghilangkan kabut dan meratakan jalan bagi cara berfikir yang jernih. Oleh sebab itu ia menulis Tahafut al Tahafut untuk mengkaji argumen-argumen al Ghazali dan membela Aristotelianisme, dengan menunjukkan bahwa al Ghazali mempunyai paham yang keliru dan memberikan kritik-kritiknya mengenai para pendahulunya tidak mempunyai dasar. Ibn Rusyd mengutip beberapa ayat al Qur’an untuk menunjukkan bahwa berfikir tidak dilarang dalam Islam. Sebaliknya ada perintah-perintah yang jelas dalam al Qur’an agar orang-orang yang beriman berfikir dan merenungi kejadian-kejadian alam, karena berfikir seperti itu akan menuju kepada pengetahuan tentang Allah.
Agama Islam memberi penghargaan yang tinggi terhadap akal, tidak sedikit ayat-ayat al Qur’an yang menganjurkan dan mendorong manusia untuk banyak berfikir dan menggunakan akalnya. Di dalam al- Qur’an dijumpai perkataan yang berakar dari kata ’aql (akal) sebanyak 49 kali. Kata-kata yang dipakai dalam al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berfikir bukan hanya ’aqala tetapi juga kata-kata nazhara, tadabbara, tafakkarra, faqiha, tadzakkara,fahima.
Kemunduran pemikiran filsafat dalam dunia Islam ialah setelah filsafat mendapat reaksi keras dari Imam Ghazali. Namun hal ini tidak mengandung kebenaran, salah seorang sarjana Barat Henri Corbin membantah pendapat yang demikian. Kemunduran filsafat Islam bermula sejak tahun 1250 M dan itu bukan semata-mata akibat dari Tahafut al Falasifah Al Ghazali. Ini merupakan bagian dari hal yang kompleks dari ekses sosial, politik dan kultural pada umumnya. Atau dapat dikatakan kemunduran pemikiran filsafat dalam dunia Islam adalah akibat dari:
Pertama, hancurnya Baghdad sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Islam oleh serangan Hulagu Khan (10 Februari 1258 M). Ia menghancurkan perpustakaan-perpustakaan Islam yang besar di Baghdad. Koleksi buku –buku yang ribuan banyaknya di buang ke sungai Tigris. Kedua, sementara di Timur kota Baghdad mendapat kehancuran, di Barat kota-kota yang menjadi pusat ilmu dan kebudayaan Islam direbut pula oleh orang-orang Kristen, sehingga kota Cordova, Granada, Sevilla jatuh ke tangan mereka. Ketiga, kekacauan yang terjadi dalam tubuh pemerintahan Islam sendiri, tokoh-tokoh politik Islam saling menjatuhkan sehingga pecahlah daulat Islamiyah menjadi beberapa kerajaan kecil.
Meskipun faktor ini tidaklah merupakan faktor utama kemunduran pemikiran filsafat Islam, tetapi jelas membawa dampak yang negatif bagi perkembangan pemikiran Islam.

E. PERKEMBANGAN MUTAKHIR DALAM KAJIAN FILSAFAT

Generasi awal abad ke-20 adalah Sir Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim pertama di anak benua India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Hal ini muncul dari karya utamanya yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Melalui penggunaan istilah recontruction, ia mengungkapkan kembali pemikiran keagamaan Islam dalam bahasa modern utnuk dikonsumsi generasi baru muslim yang telah berkenalan dengan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan filsafat Barat abad ke-20.
Sebuah fenomena, pada awal abad ke 20 ini, di Indonesia – dengan tidak menafikan negara-negara Islam lainnya – telah muncul pemikir-pemikir Islam yang cukup berani dengan kemampuannya mengungkap warisan ilmu pengetahuan Islam dengan pendekatan epistemologi Islaminya. Ary Ginanjar Agustian misalnya, meski dia seorang praktisi yang bergerak di bidang usaha, dengan ‘ESQ Model’ nya, ia telah dianggap mampu memperkenalkan paradigma baru yang mensinergikan sains, sufisme dan psikologi dengan tetap berpijak pada ajaran-ajaran Qur’ani serta penekanannya pada prinsip Tauhid.
Ada lagi Agus Musthofa, seorang sarjana teknik nuklir lulusan Universitas Gadjahmada (UGM) Yogyakarta, dengan cukup berani ia mencoba menyingkap fenomena-fenomena spiritual yang dianggap sulit dicerna oleh indera manusia dengan argumen-argumen logis-empiris namun tetap berpijak pada koridor ajaran wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadits).
Tantangan terbesar bagi ilmuwan Muslim saat ini adalah, bagaimana menemukan formulasi yang konfrehensif tentang berbagai macam teori ilmu pengetahuan yang dapat diterima oleh semua kalangan, baik Islam maupun non Islam, sehingga sains Islam-pun bukan hanya akan terbebas dari bayang-bayang imperialisme epistemologi barat, tetapi juga mampu mencerminkan secara kongkrit konsep Islam sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zainal Abidin, Riwayat Hidup Imam Al Ghazali Jakarta: 1976; Riwayat Hidup Al Ghazali
dalam Al Munqidzu minadh dhalal, Kairo, 1329 H. Sulaiman Dunia,Al Haqiqah fi Nazharil Ghazali
Ahmadi, Abu, Filsafat Islam, Semarang: Toha Putra, 1988
Al-Hikmah, Jurnal Studi-Studi Islam, nomor 14 (Oktober- Desember 1993)
Ali, Maulana Muhammad, Ismologi Dinul Islam, (terj.) R. Kaelani dan H.M. Bachrun,
Jakarta: Ichtiar Baru- Van Hoove, 1980
Ali, Yunasril, Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991, cet. Ke-1
Asy’ari, Musa, Filsafat Islam Suatu Tinjauan Ontologis dalam Irma Fatimah (Ed.),
Filsafat Islam,Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1972, cet. Ke-1
Boer, T.J De, The History of Philosophy in Islam, New York: 1967
el-Zahro@ blogsspot..com/Halaqah ‘Usyâriah,Al-Mîzân Study Club, (unduh: 11 Nopember 2009)

Fuad Al-Ahwani, Ahmad, Filsafat Islam, (terj.) Pustaka Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985, cet. Ke-1,
dari judul asli Al Falsafah al Islamiyah, Kairo: Dar al Qalam, 1962
Ginanjar,Ary, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power, Jakarta: Arga, 2003
Hanafi, Ahmad, , Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1969
Hanafi, Ahmad, Islam Falsafah Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1973
Madkour, Ibrahim, Filsafat Islam Metode dan Penerapan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996
Muhaimin et.al, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 182
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Universitas Indonesia, 1979,
cet. Ke-1
Nasution, Hasan Bakti, Hikmah Muta’aliyah, Bandung: Citapustaka Media, 2006
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007
O. Kattsof, Louis, Pengantar Filsafat (terj.) Soejono Soemargono dari judul asli
Element of Philosophy, Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1989, cet. Ke-6.
Qadir, C. A, Filsafat Dan ilmu Pengetahuan Dalam Islam (terj.) Hasan Basari, Jakarta: Yayasan Obor,1989
Syarif, M.M, Para Filosof Muslim (ed), disunting oleh Ilyas Hasan dari A History of Muslim Philosophy,
Bandung: 1962
http://www.wikipedia.com (unduh: 11 Nop 2009)
Kairo, 1947, hlm. 19-76

Categories: Pemikiran Islam | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.