MUHAMMADIYAH DAN AL – WASHLIYAH DI SUMATERA UTARA; SEJARAH, IDEOLOGI, DAN AMAL USAHANYA (Penulis Ali M Zebua adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Medan, 2011, Perodi MPI)

PENDAHULUAN

Walaupun negeri Minangkabau dan Mandailing bertetangga, namun kedua kelompok etnik ini sangat berbeda. Kelompok etnis Minangkabau sebagian besar adalah pemeluk Islam modernis yang memiliki tradisi matrilinear yang kuat, terutama dalam hal suksesi, pewarisan, identitas, legitimasi, dan cenderung untuk merantau. Sementara itu, kelompok etnis Mandailing sebagian besar dikenal sebagai muslim konservatif yang memiliki tradisi patrilinear yang kuat dalam hal suksesi, pewarisan, identitas, dan legitimasi serta lebih cenderung untuk melakukan perluasan territorial.[1]

Organisasi[2] Muhammadiyah, dimana etnis Minangkabau mendominasi kepengurusan dan keanggotaannya, semakin lama memperkuat pengaruh etnis Minangkabau di Sumatera Timur. Karenanya, etnik Mandailing merasa eksistensi mereka terusik dan terancam oleh ekspansi sekolah-sekolah Muhammadiyah yang dibangun dan dikembangkan etnik Minangkabau di Sumatera Timur, baik di kota maupun di desa. Dalam kenyataannya, sekolah-sekolah Muhammadiyah lebih disukai oleh anak-anak dan orang tua mereka ketimbang sekolah-sekolah Melayu dan Mandailing. Setidaknya, hal itu dikarenakan manajemennya lebih teratur, memberi pelajaran umum dan agama, dan mempunyai kegiatan ekstrakurikuler seperti kepanduan dan perkemahan, mirip dengan sekolah-sekolah Belanda. Kebanyakan guru sekolah Muhammadiyah berasal dari Minangkabau dan merupakan lulusan dari sekolah Islam modern, misalnya Sumatera Thawalib dan Diniah Putri. Mereka mengorganisir kaum wanita menjadi bagian khusus dari Muhammadiyah dengan nama Aisyiyah (nama isteri Nabi) dan membentuk Pemuda Muhammadiyah. Perantau minangkabau menawarkan fasilitas pendidikan mereka bukan hanya untuk perantau minang, melainkan juga kepada orang Melayu dan perantau Mandailing. Mereka mengajak kau wanita dan kaum muda untuk memasuki Muhammadiyah. Demikianlah orang Mandailing menghadapi tantangan dari gerakan Muhammadiyah yang kian hari semakin solid.

Melihat fakta di atas, penulis[3] mencoba melihat dari sisi yang berbeda di tinjau dari segi sejarah, ideologi, dan amal usaha dari dua organisasi besar Islam yang berada di Sumatera Utara yang hingga sekarang sama-sama berpengaruh terhadap pembangunan dan kemajuan Islam, khususnya di Sumatera Utara.

  1. A.    MUHAMMADIYAH[4]
    1. 1.      Sejarah Pembentukan Muhammadiyah di Sumut[5]

Kapan Muhammadiyah masuk ke Sumatera Timur? Oleh Bapak Kalimin Sunar dalam makalahnya seperti yang penulis kutip buku Porfil Muhammadiyah Sumatera Utara dijelaskan bahwa pengesahan berdirnya Muhammadiyah di Sumatera Timur adalah tanggal 1 Juli 1928, namun kegiatan propaganda (dakwah) gerakan Muhammadiyah sudah dimulai sejak tanggal  25 Nopember 1927 pada sebuah tempat[6] di Jalan Nagapatam Nomor 44 Kampung Keling, Medan.

Pada saat itu biasanya di sana berlangsung pengajian rutin. Tetapi kali ini berubah agenda menjadi rapat pembentukan organisasi Muhammadiyah. Pada tanggal 25 Nopember 1927 tersebut mulailah para perantau-perantau dari minangkabau yang sudah menetap di Sumatera Timur menghimpun kawan-kawan yang sepaham dengan Muhammadiyah, ditandai ketika muzakarah, dan yang shalat disekitar pajak (pekan) bundar (kini sudah dibongkar). Disanalah bertemu St. Juin, Mas Pono, Sutan Marajo, Kari Suib dan kawan-kawan lain dari Tapanuli, mereka sepakat mendirikan[7] Muhammadiyah. Maka didekatilah HR Muhammad Said, sebagai tenaga baru kekuatan Muhammadiyah.[8]

Pemimpin pertemuan pada saat itu adalah HR Mohammad Said[9]. Ia seorang cendekiawan dan aktivis politik (Sarikat Islam Pematangsiantar). Hr Mohammad Said juga dikenal sebagai pemimpin sebuah surat kabar (Pewarta Deli). Sebelum maupun sesudah pendirian Muhammadiyah Sumatera Timur (Sekarang Kota Medan, Sumut), beliau sudah kerap mewartakan organisasi ini kepada pembacanya.

Jika terdapat jama’ah yang berbilang, tentulah pengurus Muhammadiyah yang diputuskan saat itu tak cuma belasan orang: Hr Mohammad Said (Ketua), Djuin St Penghulu (Wakil), Maspono (Sekreraris), Pangulu Manan (Wakil), dan seorang advisor bernama Tandjung Moehammad Arief . Selain itu kepengurusan dilengkapi 5 anggota[10]: Kongo St Maradjo, Hasan St Batuah, Awan St Saripado, H Su’ip, dan Sutan Berahim.

Mengembangkan sayap pada masa sulit, HR Mohammad Said memimpin pengembangan Muhammadiyah dengan titik awal di sebuah kota terpenting (Medan). Frekuensi gerakan dakwah Muhammadiyah semakin ditingkatkan, dengan mendatangkan penceramah dari Sumatera Barat dan penceramah lainnya, yang terfokus pada masalah usholli, meluruskan arah kiblat, shalat pakai dasi, kenduri kematian, ziarah kubur (kuburan keramat), shalat Hari Raya dilapangan terbuka dan shalat lain 11 rakaat, terutama bulan ramadhan.[11] Setelah itu tercatatlah pertumbuhan cukup menggembirakan di berbagai kota dan pelosok lainnya. Kegiatan Muhammadiyah di Medan sama seperti di tempat lain yaitu: tabligh, mendirikan sekolah dengan memakai sistem gubernemen, membentuk organisasi wanita, kepanduan dan lain sebagainya.[12]

Di Sumatera Barat Muhammadiyah telah lebih dahulu berdiri (1925). Diperkirakan  beberapa tempat di Tapanuli juga lebih dahulu mengenal Muhammadiyah. Dalam beberapa catatan terpercaya, malah para pendatang dari Sumatera Barat telah memperkenalkan Muhammadiyah sambil menjalankan aktivitasnya berdagang atau kegiatan intelektual lainnya, bahkan sebelum tahun 1927 di daerah-daerah yang mereka datangi, termasuk wilayah-wilayah sekitar perkebunan di Sumatera Timur.

Dalam Seminar Sejarah Muhammadiyah Sumatera Utara (1990) Ketua PDM Tapanuli Selatan almarhum H Ruhum Harahap  menuturkan Muhammadiyah di daerahnya merupakan pengembangan langsung dari Sumatera Barat, dan secara resmi berdiri di Padangsidimpuan tahun 1930, disusul kemudian di Sipirok.  Dari data yang dihimpun HM Nur Rizali ditemukan beberapa catatan sejarah perkembangan dengan pola tertentu. Setelah satu tahun berdiri di Sumatera Timur  maka pada tahun 1928 berdiri cabang Muhammadiyah di Pancurbatu (18 Januari 1928) kemudian pada tahun 1929 berdiri pula di Tebing Tinggi (1 Mei 1929) dan Kisaran (23 Desember 1929).

Rupanya jarak antara satu dan lain tempat tidak selalu memudahkan pengembangan. Ini terlihat dari fakta bahwa meskipun Medan dengan Binjai atau Belawan begitu dekat, tetapi justru di kedua kota itu Muhammadiyah barulah berdiri resmi beberapa tahun kemudian. Tercatat bahwa di Binjai Muhammadiyah berdiri 20 Nopember 1930, bersamaan tahun dengan pendirian di Muhammadiyah cabang Glugur (1 Juli 1930) Pematangsiantar (27 Januari 1930) dan Tanjungbalai (12 Oktober 1930). Sedangkan di kota Belawan pada tahun 1933, bersamaan tahun dengan pendirian di kota Rantauprapat dan Gunungsitoli (Pulau Nias).

Tanah Karo sudah lama diangap penting bagi para missionaris[13]. Pada saat Muhammadiyah berdiri di sana (1936), beberapa gereja sudah berdiri sebagai hasil pekerjaan para missionaris itu. Begitu pun di Kota Berandan baru berdiri tahun 1939 [14], sedangkan pada tahun itu di tempat terpencil di pedalaman Tapanuli Utara seperti Sirihit-rihit, Aekbotik, Janji Angkola dan Sibulan-bulan sudah berdiri Madrasah.

  1. 2.      Ideologi Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam memahami dan mengamalkan Islam berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan menggunakan akal pikiran sesuai ajaran Islam. Pengertian al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam adalah kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. sedangkan sunnah Rasul adalah sumber ajaran Islam beruapa penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran dalam al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw. (matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah).[15]

Bagi Muhammadiyah, memahami Islam secara benar sangatlah menentukan beragama secara benar pula. Apabila faham tentang Islam itu tidak benar maka tidak akan benar menangkap hakekat dan citra ajaran Islam secara benar. Sehingga akan berpengaruh terhadap pengamalannya dalam kehidupan secara benar pula. Oleh karena itu, untuk memahami Islam perlu dasar yang kokoh dan benar.

Sebagai gerakan Islam modern, Muhammadiyah dalam membersihkan Islam dari pengaruh ajaran yang salah mendasarkan programnya  terhadap sistem pendidikan Islam, dan memperbaiki kondisi sosial kaum muslimin Indonesia pada saat itu. Diantara program-program ini maka pendidikan merupakan aspek yang sangat menonjol dari pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah pada saat itu. Sebagai gerakan yang berlandaskan agama, maka ide pembaharuan Muhammadiyah ditekankan pada usaha untuk memurnikan Islam dari pengaruh tradisi dan kepercayaan lokal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Ideologi[16] Muhammadiyah sendiri adalah sistem keyakinan, cita-cita dan arah perjuangan. Tujuannya adalah untuk terbentuknya perilaku individu dan kolektif seluruh anggota Muhammadiyah yang menunjukkan keteladanan yang baik (uswah hasanah) menuju terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Batang tubuh Muhammadiyah adalah: 1) Muqaddimah anggaran dasar Muhammadiyah. 2) Kepribadian Muhammadiyah. 3) Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah. 4) Pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. 5) Keputusan-keputusan Resmi Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah merupakan wujud pembinaan kualitas iman menuju ketaqwaan, karena dengan ungkapan lain religious spirituality yang tepat akan mempengaruhi segala bentuk dan langkah seseorang, dan pada gilirannya berpengaruh pada kerja keras, kerja cerdas, serta kerja ikhlas dalam suatu organisasi.[17]

  1. 3.      Amal Sholeh dan Amal Usaha Muhammadiyah

Tidaklah berkelebihan kalau dikatakan bahwa perserikatan Muhammadiyah adalah satu organisasi sosial masyarakat Islam Modern yang terbesar di seluruh Dunia Islam. Muhammadiyah dengan tambahan ya’ nisbah, Muhammad ditambah ya’ yang menunjukkan jenis, artinya Mengambil suri tauladan terbaik dari nabi Muhammad SAW. Dalam upaya menjadi pemimpin: (1) al Amin, (2) dalam berbisnis dan bewirausaha, (3) dalam kehidupan rumah tangga, (4) dalam berdakwah, (5) dalam menata tatanan sosial dan politik, (6) dalam menata sistem hukum, (7) system pendidikan dan (8) strategi perjuangan militer. Bahkan pada masa kini terdapat tuntutan (9) menata arus informasi dalam era global. Dalam kaitan ini usaha-usaha yang dilakukan Muhammadiyah banyak terkait dengan masalah-masalah praktis ubudiyah dan muamalah.

Disamping itu, tidak dapat disangkal bahwa keberhasilan kiprah usaha-usaha Muhammadiyah dibidang pendidikan dan pelayanan sosial kepada masyarakat sangat besar, kalau tidak hendak dikatakan luar biasa.[18] Seiring dengan usianya yang bertambah, Muhammadiyah Sumut sudah melahirkan berbagai amal usaha, baik dalam bidang Pendidikan (TK hingga Perguruan Tinggi[19]), Kesehatan (RS Muhammadiyah[20]/Aisyiyah), dan berbagai amal usaha lainnya yang tidak sedikit jumlahnya.

Secara garis besar, amalan-amalan Soleh dalam Muhammadiyah di antaranya dirumuskan dalam amal usaha[21], yang diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatannya yakni meliputi:[22]

1)      Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

2)      Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk kemurnian dan kebenaran.

3)      Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan amal sholeh lainnya.

4)      Meningkatkan harkat, martabat dan kualitas sumber daya manusia agar berkemampuan tinggi serta berakhlak mulia.

5)      Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta meningkatkan penelitian.

6)      Memajukan perekonomian dan kewirausahaan kearah perbaikan hidup yang berkualitas.

7)      Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

8)      Memelihara, mengembangkan dan mendayagunakan sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan.

9)      Mengembangkan komunikasi, ukhuwah dan kerjasama dalam berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri.

10)  Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

11)  Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas anggota sebagai pelaku gerakan.

12)  Mengembangkan sarana, prasarana dan sumber dana untuk mensukseskan gerakan.

13)  Mengupayakan penegakan hukum, keadilan, dan kebenaran serta meningkatkan pembelaan terhadap masyarakat.

14)  Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah.

  1. B.     Al – JAM’IYATUL WASHLIYAH
    1. 1.      Sejarah Awal Lahirnya Al – Jam’iyatul Washliyah[23]

Sejarah awal berdirinya Al Washliyah sangat erat sekali dengan awal perkembangan dari situasi dan kondisi yang ada di Sumatera Utara (yang dahulu disebut Sumatera Timur). Di mana Sumatera Timur merupakan wilayah kesultanan yang seiring dibukanya perkebunan besar, daerah ini kemudian menjadi terkenal walaupun hal ini menyebabkan semakin dikuranginya kekuasaan para sultan oleh penguasa Belanda yang pada akhirnya wewenang kesultanan itu hanya terbatas pada bidang keagamaan saja. Sehingga daerah ini menjadi migrasi dengan penduduk yang multi etnis.[24]

Dalam hal pendidikan keIslaman yang ada di Sumatera Timur saat itu masih bersifat tradisional, yang lebih dikenal dengan pengajian. Di Sumatera Timur sama dengan di beberapa daerah yang lain di Indonesia, pengajian itu dilakukan oleh anak yang mulai umur 6-12 tahun, selain itu mereka pada usia ini biasanya belajar di sekolah tingkat dasar.[25]

Dengan bertambah banyaknya perkebunan, maka perantau-perantau dari Mandailing bertambah banyak pula yang bermigrasi di Medan dan sekitarnya. Masyarakat Mandailing pada umumnya berpendidikan relatif tinggi dibanding masyarakat Melayu Sumatera Timur. Oleh karena itu tidak mengherankan bila mereka mendapat posisi yang lebih baik di masyarakat dengan pekerjaan sebagai guru agama, Qadi atau pegawai. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi saudagar kelas menengah.[26]

Dengan motivasi yang kuat Syekh Mohammad Ya’kub berusaha merealisasi keinginan tersebut, beliau berinisiatif untuk mengajak masyarakat Mandailing mengumpulkan dana untuk pembangunan maktab. Masalah pendanaan tidak menjadi sebuah kendala yang berarti, sebab di antara mereka itu terdapat pedagangan yang berada dan sukses. Akan tetapi, kendala yang muncul kemudian adalah dalam mencari tempat untuk dibuat sebuah maktab, apalagi lagi yang diinginkan untuk membantu maktab tersebut adalah di sekitar Kesawan yang terletak di jantung kota Medan.

Namun dengan adanya hubungan baik dengan masyarakat Melayu, akhirnya mereka mendapat sebidang tanah dari Datuk Haji Mohammad Ali, seorang hartawan Melayu yang banyak memiliki tanah di kampung Kesawan. Beliau memberikan sebidang tanah sebagai wakaf, dan sebagai nazhir (pengurus) tanah yang diwakafkannya itu ditunjukkanya Haji Ibrahim, penghulu kampung Kesawan dan juga Syekh Mohammad Ya’cub. Dalam surat wakafnya dicantumkan bahwa di tanah tersebut akan didirikan sebuah rumah wakaf tempat belajar ilmu agama Islam dan bila salah seorang dari nazhir tersebut meninggal, maka kedudukannya diserahkan kepada ahli warisnya.[27]

Gedung maktab ini dibangun gotong royong oleh masyarakat Tapanuli (Mandailing) yang menetap di Medan, dan selesai tepat pada tanggal 8 Maret 1918 dan kemudian diresmikan pada tanggal 19 Maret 1918. Bangunan maktab ini terdiri dari empat ruangan belajar dan satu ruangan administrasi. Peralatan gedung seperti meja, bangku dan lainya di peroleh dari sumbangan Mayor Tjong A Fie seorang dermawan Cina.[28] Maktab ini kemudian dinamakan dengan Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) yang dipimpin oleh Abdurrahman Syihab (putra seorang perantau Madailing, Haji Syihabuddin, qadhi Sultan Serdang), dan kemudian pengajian yang awalnya diadakan di rumah Syekh Ja’far dipindahkan ke maktab ini. MIT ketika termasuk lembaga pendidikan modern, sebab sudah menggunakan sistem kelas, namun tetap mempunyai ciri-ciri tradisional, sebab masih menggunakan sistem hafalan.

Al-Jam’iyatul Washliyah sendiri resmi berdiri pada hari minggu tanggal 30 November 1930 Masehi atau tepatnya 9 Rajab 1349 Hijrah di Medan.[29] Ide didirikannya organisasi ini berawal dari perluasan sebuah perhimpunan pelajar yang ada di MIT yang merupakan satu-satunya lembaga pendidikan agama yang ada di kota Medan, yang ide awal pembentukannya dilakukan oleh pelajar-pelajar kelas tinggi MIT yang membentuk kelompok diskusi pada tahun 1928 yang mereka namakan dengan “Debating Club” yang tujuannya adalah untuk mendiskusikan[30] pelajaran-pelajaran yang mereka pelajari di maktab.[31] Setelah beberapa pertemuan dengan para ulama, dalam sebuah pertemuan di rumah Muhammad Joenoes pada 26 Oktober 1930, para pelajar dan ulama mengeluarkan keputusan untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Al-Djam’iatoel al-Washlijah[32].

Adapun yang menjadi latar belakang utama dari berdirinya Al Washliyah paling tidak ketika itu di dorong dengan ada dua hal:[33]

1)      Semangat Nasionalisme

Al Washliyah itu berdiri pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu semangat ingin bersatu mulai timbul di tengah-tengah masyarakat. Di tanah air ketika itu telah lahir Budi Utomo, Syarikat Islam, Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan sederetan organisasi besar lainnya. Demikian pula persatuan umat Islam di Sumatera Timur ketika itu begitu kental, hal ini ditandai banyaknya Pesantren, Rumah Suluk, Pengajian dan Kelompok (perserikatan) umat Islam timbul di mana-mana.

2)      Latar Belakang Sosio Keagamaan dengan Munculnya Masalah Khilafiyah di Tengah Masyarakat

Memasuki abad ke 19 telah terjadi pertentangan dikalangan umat Islam khususnya di Sumatera Barat dan Sumatera Utara yaitu antara Kaum Tua (Islam Tradisional) yang mengamalkan ibadahnya menurut kebiasaan-kebiasaan kaum lama dengan paham baru yang dibawa oleh pelajar-pelajar Islam dari Timur Tengah dan India yaitu kaum Muda Moderat. Paham ini banyak melakukan pembaharuan dan menyatakan ibadah Kaum Tua adalah bid’ah.

Belum lagi ditambah kemultietnisan masyarakat di Sumatera Uatara ketika dengan banyaknya pendatang yang kemudian berakibat munculnya, berbagai pertentangan dalam berbagai hal. Salah satu diantaranya adalah pertentangan pemahaman keagamaan.

Persoalan yang sering terjadi biasanya terhadap masalah furu’iyah dan banyak pada masalah prinsipil, namun karena ada faktor lain yaitu faktor politik “adu domba” penjajah Belanda saat itu sangat mempengaruhi dan mempertajam sumber konflik sebagai perbedaan pandangan dan termasuk persoalan khilafiyah di antara umat Islam. Dalam kenyataannya perbedaan masalah furu’iyyah di antara kedua golongan sudah diambang bahaya, kelompok tua merasa berbeda lain dengan kelompok kaum muda dalam hal ini terwakili oleh Muhammadiyah,[34] bahkan diantara saudara kandung ada yang terpisah persaudaraannya karena aliran yang berbeda.[35]

Faktor sosio keagamaan dengan banyaknya bermunculan permasalahan khilafiyan ini, kemudian menjadi faktor utama pembentukan Dewan Fatwa Al Washliyah, sebagai lembaga khusus dalam keorganisasian Al Washliyah yang bertujuan untuk menyelesaikan persoalan hukum yang khususnya terjadi pada warga Al Washliyah khususnya dan masyarakat Islam di Sumatera Utara pada umumnya.

Pada awal pembentukkannya Dewan Fatwa ini diberi nama dengan Majelis Fatwa yang berdiri tepat pada 10 Desember 1933, tiga tahun setelah Al Washliyah resmi berdiri. Lembaga Dewan Fatwa ini dibentuk oleh kepengurusan Al Washliyah yang pertama. Kepengurusan pertama ini menyusun 7 (tujuh) bagian Majelis yang akan melaksanakan program kerja organisasi, yang salah satu di antaranya adalah Majelis Fatwa.[36]

  1. 2.      Ideologi Al – Jam’iyatul Washliyah

Memang, dalam bidang doktrin keagamaan terdapat perbedaan yang sangat jauh dengan Muhammadiyah, karena Al Washliyah berasaskan Islam dalam iktihad serta berpegang teguh dengan mazhab Syafi’I dan dalam I’tiqad Ahlu Al-Sunnah wa Al-Jama’ah[37]. Sehingga jika dibandingkan dengan organisasi Islam lainnya, apalagi dengan Muhammadiyah yang notabene adalah organisasi yang dianggap berseberangan dengan Al Washliyah.[38] Maka Al Washliyah sendiri adalah termasuk organisasi tradisional yang bisa mewakili kaum tua, sebab jika dilihat dari awal munculnya Al Washliyah adalah karena begitu kuatnya pengaruh Muhammadiyah yang mengklaim dirinya sebagai organisasi tajdid.[39]

Latar belakang dari didirikannya Muhammadiyah dapat dicari dari adanya perselisihan mengenai taqlid dan persoalan yang berkaitan dengannya antara kaum muda dan tua di Medan. Perselisihan ini masih dipertajam oleh perbedaan antara orang Padang dan Batak, sehingga kalau perselisihan itu dianggap sebagai kriteria untuk menilai Al Washliyah, maka Al Washliyah menurut Boland sebagaimana yang dikutip oleh Steenbrink dapat disebut sangat ortodoks dengan ejekan konservatif.[40] Meskipun Steenbrink sendiri menyatakan  bahwa tidak cukup objektif  kalau organisasi Al Washliyah hanya dilihat dari beberapa faktor yang negatif dan ekstrem saja, yaitu menolak cita-cita dari kelompok lain, sebab organisasi ini juga bisa dikatakan modern, ini karena cikal bakal berdirinya Al Washliyah adalah daripara pelajar MIT yang merupakan sekolah Islam modern di Medan saat itu.[41]

Namun dalam aspek pemahaman keagamaan Steenbrink menjelaskan bahwa cap “tradisional”, ia mencontohkan bahwa dari kumpulan fatwa yang diterbitkan oleh Al Washliyah, yang pada umumnya berasal dari fatwa Arsyad Thalib Lubis, yang awalnya adalah brosur-brosur kecil. Persoalan yang dibicarakan hampir sama dengan isi karya Sirajuddin Abbas dalam bukunya 40 Masalah Agama. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Taufik Abdullah yang mengkategorikan pola pemikiran ulama Al Washliyah ke dalam kelompok tradisional.[42] Namun menurut Steenbrink cap “reformis” juga bisa ditujukan kepada Al Washliyah, hal ini dibuktikan untuk mengirim mahasiswa ke Cairo serta usaha mendirikan sekolah umum, yang mengikuti model gubernemen.[43]

Dalam bidang keagamaan sesuai dengan fungsi yang diembannya, terkait persoalan hukum yang mereka keluarkan. Pendapat hukum yang mereka keluarkan hanyalah sebatas fatwa, yang dirujuk kepada pendapat ulama klasik. Di kalangan ulama Al Washliyah menganggap bahwa hanya para ulama terdahulu saja yang mampu menetapkan hukum karena:[44]

Tidak semua orang mempunjai kesanggupan mengeluarkan hukum dengan sendirinja dari dalam Quran dan Hadis karena untuk melaksakan pekerdjaan tersebut harus memenuhi berbagai sjarat. Harus mengerti benar bahasa Arab mempunyai pelengkapan tentang ilmu-ilmu jang dihadjatkan untuk memahamkan Quran dan Hadis dan berbagai sjarat lain yang diterangkan dalam kitab Ushul fiqih.

Al Washliyah melalui Dewan fatwanya berprinsip bahwa mereka tidak menolak ijtihad, tetapi karena mereka menganggap diri mereka belum memiliki kemampuan dan kapasitas intelektual yang memadai untuk melakukan ijtihad, sehingga mereka tidak merasa diri mereka sebagai mujtahid tetapi adalah mengambil sebuah keputusan fatwa mereka tetap berpedoman dengan AD/ART yaitu dengan berpedoman dan mengikuti (taqlid) dengan pendapat yang dinyatakan oleh mazhab Syafi’i.

Namun sebaliknya jika dibandingkan dengan aliran pembaharuan yang lainnya seperti Muhammadiyah dan Persis, mereka hanya mengakui Al Qur’an dan Hadis sebagai sumber hukum dan menolak bertaqlid. Menurut mereka taqlid ini akan menyebabkan manusia itu tidak mampu menggunakan akal sehingga timbul paham yang jumud (beku). Paham ini mengakibatkan manusia tidak mampu mengikuti perkembangan zaman karena menggangap pintu ijtihad telah tertutup. Di samping itu, Persis juga mengakui ittiba’ yaitu mengikuti satu pendapat dengan mengetahui dalilnya dari Al Qur’an dan Hadis. Menurut Deliar Noer, pengakuan tentang ijtihad dan kembali pada Al Qur’an dan Hadis sebagai sumber hukum seperti ini, tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berangsur-angsur, terkadang disebabkan oleh tantangan yang datang dari golongan tradisi. Ia memberi contoh Minangkabau, di sini taqlid diarahkan kepada golongan adat, sedangkan imam-imam pendiri mazhab tetap dihormati sebagai mujtahid.[45]

Ini sangat berbeda jauh dengan Al Washliyah yang secara jelas bertaqlidnya kepada mazhab Syafi’i, yang penegasan ini kemudian dicantumkan di dalam Anggaran Dasar Al Washliyah. Sebagaimana terlihat dalam Anggaran Dasar pada Pasal 2, yakni:[46]

“Al Washliyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang berakidah Islam, dan hukum fikih bermazhab Syafi’i dan dalam I’tikad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah”.

Berpaham dengan mazhab Syafi’i dimaksudkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan dengan menghimpun orang-orang yang sepaham untuk berjuang membangun sesuatu yang menjadi tuntutan agama demi kepentingan umat Islam dan warga Al Washliyah khususnya.

Penyebutan bermazhab Syafi’i bukan berarti Al Washliyah tidak menghormati pendapat mazhab lain. Karena Al Washliyah menyadari bahwa hukum adalah hasil ijtihad yang bersifat Sanni yang tidak mempunyai kebenaran absolut dan Al Washliyah bersikap tasamuh (toleran) terhadap segala perbedaan pendapat dan paham. Perbedaan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu membawa perpecahan umat. Penyebutan bermazhab Syafi’i di dalam AD supaya menunjukkan tempat berpijak dalam fikih sekaligus referensi hukum bagi Al Washliyah dalam menghadapi persoalan hukum yang timbul.[47]

  1. 3.      Amal Usaha Al – Jam’iyatul Washliyah

Untuk mengukuhkan asas dan mencapai tujuan Al Washliyah haruslah ada ikhtiar dan usaha yang digerakkan, antara lain:

a)      Mengadakan, memperbaiki, dan memperbuat hubungan persaudaraan umat Islam dalam dan luar negeri dan berbuat serta berlaku adil terhadap sesama manusia.

b)      Membangun perguruan-perguruan dan mengatur kesempurnaan pengajaran pendidikan dan kebudayaan. Pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan adalah merupakan factor yang sanagat menentukan bagi nilai-nilai pribadi dan masayarakat sepanjang zaman. Dia akan tetap mengalami perkembangan, satu waktu ia membentuk zaman dan di lain waktu ia dibentuk zaman.

c)      Menyantuni fakir miskin dan memelihara serta mendidik anak yatim piatu dan anak miskin. Anak yatim piatu fakir miskin adalah merupakan penyakit pribadi sebagai anggota masyarakat yang tetap dijumpai sepanjang zaman. Penyakit ini dapat diperbaiki atau pun dikurangi dengan penyantunan yang diberikan secara efektif, berencana, dan berprogram.

d)     Mengusahakan berlakunya hukum-hukum Islam.

e)      Mempersiapkan umat Islam dalam menegakkan dan mempertahankan kebenaran dan keadilan.[48]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Sejarah adalah sebuah dialog intelektual antara manusia dengan pengalaman kolektifnya pada masa lampau. Bahwa pengalaman itu kita harapkan mampu menangkap iktibar (pelajaran moral) untuk dijadikan acuan dan pedoman masa kini, dalam rangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan lebih cerah.

Sekalipun manusia tidak punya kemampuan untuk meramalkan masa depan secara pasti, namun Al Qur’an mengajarkan agar kita mempersiapkan masa depan itu secerdas dan secermat mungkin. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyar: 18).

Dari pengalaman kolektif masa lampau, diharapkan akan dapat melihat benang merah pemihakan Allah Swt. kepada perilaku sejarah tertentu, sebab dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Allah Swt. tidak bersikap netral, akan tetapi Allah Swt. sepenuhnya berpihak kepada mereka yang telah berhasil mengembangkan nilai-nilai taqwa dan ihsan (QS. An Nahl: 128). Muhammadiyah dan Al Washliyah merupakan fakta sejarah berdirinya dua organisasi besar di Sumtera Utara yang merupakan gerakan bersama dalam perubahan gerakan Islam yang lebih maju, serta menentang kemungkaran dari kelompok luar yakni penjajah, yang menjadikan sebuah aksi yang salah satu alasan negeri ini terbebas dari penjajahan. Namun, dibalik itu, sejarah juga membuktikan bahwa dua organisasi ini yang sama-sama memberantas penjajahan ini memiliki perbedaan paham dalam hal ibadah yang akhirnya mempengaruhi sosial dan kultural di Sumatera Utara.

Muhammadiyah yang disebut Kaum Muda menjadi sebuah gerakan tajdid (pembaharuan) yang membuka lembaran baru dalam reformasi gerakan berpikir Kaum Tua pada saat itu. Kaum Tua pada saat itu yakin bahwa praktik-praktik ibadah di luar hukum-hukum Islam-seperti tepung tawar, dan ibadah-ibadah kejawen lainnya-akan lenyap dengan sendirinya setelah umat Islam mengetahui kewajiban-kewajiban religius dan hukum agama, namun ditangan Kaum Muda hal ini tidak dapat diberikan tolerir. Kaum Muda menganggap toleransi Kaum Tua tersebut melemahkan Islam. Oleh sebab itu praktik-praktik ibadah tersebut harus diluruskan agar Islam kembali suci dari animisme, dinamisme, kejawen, hindu, budha, dan adat, yang semuanya itu telah mengotori kemurnian Islam di Indonesia dan khususnya di Sumatera Utara. Di Sumatera Utara, Al Washliyah pun hadir dalam menjembatani perselisihan antara Kaum Muda dan Kaum Tua.

Membandingkan al-Washliyah dengan Muhammadiyah bukanlah dimaksudkan untuk melihat sisi doktrin keagamaan yang dianut keduanya, bukan berupaya justifikasi kebenaran dari salah satu organisasi. Sebab Muhamadiyah itu dikategorikan sebagai kelompok yang mewakili kaum Muda yang lahir karena menolak ajaran kaum Tua. Sedangkan al-Washliyah di sisi lain muncul dalam rangka menolak klaim bid’ah kaum muda terhadap kaum Tua, al-Washliyah dalam hal ini mewakili kaum tua yang berupaya membenarkan ajaran kaum Tua berdasarkan dalil-dalil syar’a, dan hal ini sesuai dengan makna Al-Djam’iatoel al-Washlijah yakni menghubungkan sesama manusia termasuk untuk mempertemukan dan mempersatukan dua kelompok yang berbeda ini.

Melihat hal tersebut di atas dalam menilai suatu peristiwa sejarah, tidak dapat digunakan ukuran-ukuran subjektif semata-mata, tetapi wahyu perlu dijadikan pedoman dalam memberikan pertimbangan moral terhadap episode sejarah di atas. Sebagai penikmat dan sekaligus pelaku sejarah, kita dapat menilai dan menyelidiki dengan menuntut bukti, fakta bukan fiktif, bila sejarah yang bukan faktual, maka gugurlah nilai sejarahnya. Oleh sebab itu “keegoisan” dalam menilai sejarah jangan didahulukan, tetapi sesuaikan dengan keyakinan (wahyu) dalam menilainya.

— Wallahu’alam —

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Majalah Soeara Moehammadijah” Nomor 4 Tahun 1939.

30 Tahun Muhammadijah Daerah Sumatera Timur. Medan: Panitian Besar Muhammadiyah, 1927-1957.

Abdullah, Taufik. Islam dan Masyarakat, Cet. I. Jakarta: LP3ES, 1987.

Al Rasyidin,dkk, Al Jami’yatul Washliyah. Medan: CAS & Perdana Publishing, 2011.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al-jam’iyatul Washliyah, Tahun 1987.

Anshori, M.A, H. Ari. “Ideologi Muhammadiyah dan Reaktualisasi Islam yang Berkemajuan dalam Dinamika Peradaban Kontemporer”. 2011.

Batubara, Ismed. Ja’far, ed. Bunga Rampai Al-Jam’iyatul Washliyah. Banda Aceh: AUP, 2010.

Bolan, The Struggle.

Djamil, Fathurrahman. Metode Ijtihad Majlis tarjih Muhammadiyah, cet. I. Jakarta: Logos, 1995.

Effendy, Muhadjir. Menggugat Pendidikan Muhammadiyah. Malang: Penerbit UMM-Press, 2005.

el-Hadidhy, Syahrul AR. et.al. Pendidikan Ke Al-Washliyahan. Medan, MPK Al-Jam’iyatul Washliyah, 2005.

Hasanuddin, Chalijah. Al-Jam’iyatul Washliyah Api Dalam Sekam. Bandung: Pustaka, 1988.

Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah Sekolah.

Kartodirjo, Sarto. Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: Gramedia, 1992.

Muhammadiyah; Pemberdayaan Umat? editor: M.A Fattah Santosa, Maryadi. Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam, h. 11. Lihat juga Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1982.

Pasha, Musthafa Kamal dan Ahmad Adaby Darban. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam-dalam Persepektif Historis dan Ideologis. Yogyakarta: LPPI UMY, 2003.

Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah; Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tanggal 8 s/d 11 Juli Tahun 2000. Jakarta: PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH 1421 H / 2000 M.

Pelly, Usman. Urbanisasi dan Adaptasi; Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: LP3ES.

Pijper. Fragmenta Islamica.

Profil Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan: 2005.

Salam, Solichin. Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia. Jakarta: NV Mega, 1956.

SteenBrink, Karel A. Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES,1986.

Sulaiman, Nukman. Peringatan ¼ Abad Al-Jam’iyatul Washliyah. Medan: PB Al-Jam’iyatul Washliyah, 1956.

Surya Negara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1996.

 

Sumber Internet :

http://www.al-washliyah.com

http://Muhammadiyahsumut.or.id/mengenang-pembesar-Muhammadiyah-hr-mohammad-said/

Lampiran 1

SEKRETARIAT PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH SE-SUMUT

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA MEDAN

Jl. Mandala By Pass No. 140-A, Medan 20224

Telp. 061-7363367; Fax. 061-3720547

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TAPANULI SELATAN

Jl. S Parman No. 16 Samping SMA Muhammadiyah 1, Kota

Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan 22718 Telp. 0634-21595

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN DELI SERDANG

Komplek Masjid Taqwa

Jl. Diponegoro No. 1 Lubuk Pakam, Deli Serdang 20511

Telp. 061-7957218 / 085261044375; Fax. 061-7957218

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA TEBINGTINGGI

Jl. Sisingamangaraja No. 47, TebingTinggi 20625, Kotak Pos 53

Telp. 0621-326804

PIMPINANDAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TAPANULI TENGAH

Jl. Padang sidempuan Km 10,5 No. 36 Pandan Komp Masjid Taqwa

Pandan, Tapanuli Tengah 22611 Telp. 0631-23745, 24216

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LABUHAN BATU

Jl. KHA Dahlan No. 94 Rantau Prapat, Labuhan Batu 21412

Telp. 0624-23450; Fax. 0624-21486

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN NIAS

Jl. Diponegoro No. 29 Kel Ilir Gunung Sitoli, Nias 22815

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN SIMALUNGUN

d/a. Ponpes Muhammadiyah Darul Arqam Kerasaan I

Kec. Pematang Bandar, Kab Simalungun 21186, Sumatera Utara

Telp. 0622-64052; Fax. 0622-64052

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LANGKAT

Jl. Kalimantan (SMU Muhammadiyah 04) Pangkalan Berandan, Langkat, Sumatera Utara 20857

Telp. 0620-20811; Fax. 0620-323190

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN ASAHAN

Jl. Madong Lubis No. 8 Mutiara, Kisaran Timur, Asahan 21223

Telp. 0623-42557; Fax. 0623-42557

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TANAH KARO

Jl. Masjid No. 38 Kabanjahe 22114, Tanah Karo Telp. 0628-20444

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA BINJAI

Jl. Perintis Kemerdekaan No. 122, Binjai 20743 Telp. 061-8820411

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN DAIRI

Jl. Sudirman No. 88 Sidikalang, Kab. Dairi 22211 Telp. 0267-21699

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA PEMATANG SIANTAR

Jl. Merdeka No. 271, Pematang siantar 21118

Telp. 0622-26606, 29079

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN TAPANULI UTARA

Jl. Pembangunan Gang Cendana No. 8/17 Tarutung 22412

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA SIBOLGA

Jl. D.E. Sutan Bungaran Panggabean no. 20 Sibolga

Telp. 0631-26094; Fax. 0631-26094

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN MANDAILING NATAL

Jl. Merdeka No.127 Kayu Jati, Panyabungan, MADINA 22919

Telp. 0636-321629; Fax. 0636-321629

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA TANJUNG BALAI

Jl. Taqwa 38 A (SMP Muhammadiyah), Tanjung Balai 21316

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

Komplek Masjid Taqwa, Jl. Sudirman No. 46 Sei Rampah,

Kab Serdang Begadai Telp. 0621-41094

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN BATUBARA

Jl. Sudirman No. 122 Indrapura Kec. Air Putih, Kab Batubara 21256

Telp. 08126218518

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN PAKPAK BARAT

Mushalla Taqwa, Jl. Runding, desa Sibande, Kec. STTUJ,

Kab. Pak Pak Bharat

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LABUHAN BATU SELATAN

Jl. Prof. H.M. Yamin SH, Kotapinang, Labuhan Batu Selatan,

Telp. 0624-95344; Email: pdm_kotapinang@yanoo.com

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KOTA PADANGSIDEMPUAN

Jl. Imam Bonjol No. 42 Kota Padangsidempuan Telp. 0634-24973

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH

KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA

Komplek SMK Muhammadiyah 3 Kualuh Hulu

Jl. KH. Ahmad Dahlan Labuhan Batu Utara

Telp. 0624-692995 / 081375680950 (Ketua)

Sumber:http://Muhammadiyahsumut.or.id/sekretariat-pimpinan-daerah-Muhammadiyah-sumut/

Lampiran 2

PENGURUS WILAYAH AL WASHLIYAH

 

NAD
Jl. Soekarno Hatta No. 10 Ketapang Dua,Banda Aceh
Telp. 0651-42560

SUMATERA UTARA
Jl. Sisingamangaraja No. 144 Medan  20217
Telp/Fax. 061-7365758

SUMATERA BARAT
Komplek Cemara II Jl. JJ No. 14 Gunung Pangilun,Padang
Telp. 0751-7875439

R I  A U 
Jl. Jend. Ahmad Yani No. 70 Pekanbaru
Telp. 0761-20030

KEPULAUAN RIAU 
Komplek Anggrek Mas Blok G No. 45 Batam-Indonesia 29432
Telp. 0778-463697

BENGKULU 
Jl. Tongkol Rt. 1 No. 175 Belakang Masjid Malabro,Bengkulu
Telp. 0721-251584/784950 atau 073620143

SUMATERA SELATAN 
Jl. Rambutan No. 10 Palembang 30144
Telp. 0711-312040

LAMPUNG
Jl. Raden Patah Gg. Mastiga Rt. 002/03 No. 2 Lingk. I Kaliawi,Tanjung Karang
Telp. 0721-251584/784950

BANTEN
Jl. Trip Jamaksari Gg Gelatik Rt. 01/15 No. 4 Bungur Indah,Tangerang
Telp. 0254-202347

DKI JAKARTA 
Jl. Jurug Raya No. 20 Pondok Kelapa,Kali Malang,Jaktim
Telp. 021-8646574/8657928

JAWA BARAT 
Jl. Kawaluyaan VI RT. 05 RW. 06 Kelurahan Sekejati Kecamatan Buah Batu Kota Bandung 40286 Tlp (022) 7332378,7332378 Fax (022) 7332378

JAWA TENGAH 
Jl. Raya Solo Purwodadi KM 12 Rt. 05/I Tuban,Gondang Rejo,Krg Anyar

BALI
Jl. Gg. Seraya I No. 25 Denpasar
Telp. 0361-482430/481630

D.I. YOGYAKARTA

NUSA TENGGARA BARAT 
Jl. Oscar No. 12 Perumahan Sandik Indah Batu Layar,Lobar NTB

NUSA TENGGARA TIMUR
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 3 Kupang

KALIMANTAN BARAT
Jl. Bakri Gg. Paten Blok M 3 No. 13 Pontianak Barat
Telp. 0561-770768

KALIMANTAN TENGAH 
Jl. Taurus II No. 226 Komp. Perumahan Amaco Baru,Palangkaraya
Komplek IAIN Antasari No. 10
KALIMANTAN SELATAN

Jl. A. Yani Km 4,5 Banjarmasin,Kalimantan Selatan Telp. 0511-3250767

KALIMANTAN TIMUR
Jl. Gunung Cermai No. 7 Samarinda
Telp. 0541-736927

SULAWESI UTARA 
Jl. Sungai Siak No. 55 Ketang Baru,Manado
Telp. 0431-855173

SULAWESI TENGAH
Jl. Miagas III No. 1-B Palu,Sulawesi Tengah  94112
Telp. 0451-427516

SULAWESI TENGGARA 
Jl. Sungai Wanggu II No. 8 Kel. Bende Wua-Wua,Kendari
Telp. 0401-394135/390607

SULAWESI SELATAN 
Jl. Gunung Merapi No. 86-A/7 Ujung Pandang

SULAWESI BARAT

MALUKU 
Jl. Bandeng No. 28 Blok IV Perum Perumnas Tual

MALUKU UTARA
Jl. Batu Angus Kel. Dufa-Dufa Kota Ternate,Maluku Utara
Telp. 0921-24346

JAMBI
Jl. Pattimura Lr. Masjid RT. 05 No. 42 Kenali Besar,Jambi

BANGKA BELITUNG 
Jl. Manggis No. 1 Pangkal Pinang,Bangka Belitung
Telp. 0717-431747 Fax. 0717-431917

Sumber:http://www.Al Washliyah.com/keorganisasian/pengurus-wilayah

Lampiran 3

STRUKTUR PB AL WASHLIYAH

Susunan Personalia Dewan Fatwa Al Washliyah periode 2010 -2015

Ketua                         :K. H. M. Ridwan Ibrahim Lubis

Wakil Ketua               :Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid,MA

Wakil Ketua               :Dr. H. Syarbaini Tanjung,MA.

Sekretaris                   :Musthafa Abdul Aziz Dahlan,MA

Wakil Sekretaris         :Muhammad Natsir,Lc,MA.

Wakil Sekretaris         :Drs. H. Abdul Aziz Ritonga,MA.

Anggota-Anggota     :

  1. Prof. Dr. H. Yusran Salman
  2. KH. Chaidir Abdul Wahab,MA
  3. Drs. H. Syarifuddin El Hayat,MA
  4. Dr. Ahmad Qarib,MA
  5. Ustadz H.  Hafidz Yazid
  6. Drs. H. Hafidz Ismail.

Susunan Personalia Dewan Pertimbangan  Al Jam’iyatul Washliyah

Periode 2010 -2015

KETUA                  :  DR. H. MASLIN BATUBARA

Wakil Ketua            :  Drs. H. Hasbullah Hadi,SH. M.Kn

Sekretaris                :  Drs. H. Ahmad Hamim Azizy,MA

ANGGOTA-ANGGOTA

  1. (Letjend. Purn. TNI) H. Sudi Silalahi
  2. H. Chairuman Harahap,SH,MH
  3. K.H. Aziddin,SE
  4. H. Abdul Wahab Dalimunthe,SH
  5. Drs. H. Sulaiman Daudy
  6. Drs. H. Yahya Tanjung
  7. Ir. H. Azwar Abubakar,MM
  8. Dr. Tata Z. Muttaqin
  9. Drs. H. Miswar Sulaiman
  10. Ibnu Pratomo

Susunan Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah

Periode 2010 – 2015

KETUA UMUM      :PROF. DR. H. MUSLIM NASUTION,MA

Wakil Ketua Umum:Dr. H. Yusnar Yusuf,MA

KETUA-KETUA

Ketua Bidang Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Asset:Prof. Dr. Syahrin Harahap,MA

Ketua Bidang Pengkaderan:Ir. H. M. Yusuf Pardamean

Ketua Bidang Dakwah :Drs. H. Masyhuril Khomis,SH.

Ketua Bidang Pendidikan:Drs. H. Ismail Effendy,M.Si

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan:Dr. H. Rahman Dahlan,MA.

Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi Keummatan:Dr. H. Halfian Lubis,SH. MA.

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga:Drs. H. Irgan Chairul Mahfizh

Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat:Drs. H. Lukman Hakim Hasibuan

Ketua Bidang Luar Negeri:H. Abdul Mun’im Ritonga,SH,MH.

Ketua Bidang Amal Sosial :Drs. H. Aris Banaji

Ketua Bidang Hukum dan Ham:R. Akbar Lubis,SH.

SEKRETARIS JENDERAL :  PROF. DR. RUSYDI ALI MUHAMMAD,MA.

Sekretaris                                           :Drs. Haris Sambas

Sekretaris                                           :A. Dolly  Kurnia Zainuddin Tanjung,MA

Sekretaris                                           :Ir. H. Amran Arifin,MM. MBA.

Sekretaris                                           :Deding Abdul Fattah

BENDAHARA UMUM :H. M. NATSIR ADNAN,SH

Bendahara                                          :H. Gio Hamdani

Bendahara                                          :Drs. H. Syaiful Wathan

ANGGOTA – ANGGOTA:

Mayor Jend. (Purn) Pol. H. Hamdan Mansyur

Ir. H. Leo Jamarial Damanik,M.Sc.

Hendro Saryanto,SH,M. Hum

Drs. H. Ahmad Ikhyar Hasibuan

Prof. Dr. H. Kamrani Bussyeri,MA.

Drs. Khoiruddin Hsb,M.Ag.

Drs. H. Pangihutan,SH,MH

Drs. Hotrun Siregar

Tk. Zulfahmi Zaiwi,SE,MM.

Drs. Amar Nasution

H. Oman Syahroman

Drs. Muzakkir Samidan,SH. HM

H. Pangadilan Daulay,MA

Sumber: http://www.Al Washliyah.com/about/struktur-pb


[1] Dikutip dari Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi; Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing (Jakarta: LP3ES), h. 185. Lihat dalam buku Al Rasyidin,dkk, Al Jami’yatul Washliyah (Medan: CAS & Perdana Publishing, 2011), h.3.

[2] Muhadjir Effendy menegaskan bahwa jati dri Muhammadiyah itu adalah gerakan (Movement). Jadi bukan organisasi. Kemudian kata gerakan itu di dalam anggaran dasrnya dijabarkan lebih lanjut sebagai “Gerakan dakwah amar makruf nahi munkar”. Lihat dalam Muhadjir Effendy, Menggugat Pendidikan Muhammadiyah (Malang: Penerbit UMM-Press, 2005), h.iii.

[3] Makalah ini dipersentasikan pada materi perkuliahan Sejarah Peradaban Islam (Perodi MPI,  Pascasarjana IAIN Medan, 2011), oleh Ali M Zebua.

[4] Muhammadiyah secara umum didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan tanggal 18 November 1912 Miladiyah di Yogyakarta untuk jangka waktu tidak terbatas (Lihat Anngaran Dasar Muhammadiyah Bab I, Pasal 2 tentang Nama, Pendiri, dan Tempat Kedudukan). Secara singkat lahirnya gerakan Muhammadiyah disebabkan dua faktor, yakni faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu; pertama, kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, karena merajalelanya perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat yang menyebabkan umat Islam menjadi beku; kedua, keadaan bangsa Indonesia dan umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran; ketiga, tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat; keempat, lembaga pendidikan Islam tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik, dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno. Sedangkan faktor ekstern terdiri dari pertama, adanya penjajahan Belanda di Indonesia; kedua, kegiatan dan kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen Katolik di Indonesia; ketiga, sikap sebagai intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman; keempat, adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya, lihat dalam Solichin Salam, Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia, (Jakarta: NV Mega, 1956), h. 55-56.

[5] Sebagian dikutip dari situs resmi Muhammadiyah Sumut: http://Muhammadiyahsumut.or.id/mengenang-pembesar-Muhammadiyah-hr-mohammad-said/ (Artkel ini diposting tanggal 22 Juni 2011). Di unduh pada tanggal 19 Desember 2011.

[6] Tempat pertemuan itu kini sudah berubah nama menjadi Jalan Kediri. Rumah itu smpai kini masih ada, namun nampaknya dalam penguasaan orang lain.

[7] Gerakan awal ini dirintis sejak tahun 1923, terutama oleh Mas Pono.

[8] Baca dalam Profil Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan: 2005), h.4-5.

[9] HR Mohammad Said wafat tanggal 22 Desember 1939. HAMKA menceritakan perihal wafatnya tokoh besar ini dengan rinci. Tentang jumlah pelayat yang demikian besar, tentang pemberitaan media yang melukiskan perasaan kehilangan. Tetapi ada yang amat menarik, bahwa saat menyaksikan deraian air mata jama’ah yang menangisi kepergian almarhum HR Mohammad Said, dengan amat tegas HAMKA berkata: ”Apa yang kita tangiskan tuan-tuan? Siapa yang kita tangisi?  Padahal almarhum yang kita cintai ini wafat meninggalkan jasa yang amat besar. Kalau hendak menangis juga, sebaiknya tangisilah diri sendiri karena tidak mempunyai jasa sebesar almarhum HR Mohammad Said”. Dia juga merupakan pemimpin dan tenaga yang paling aktif dalam 10 tahun pertama dalam pembentukan Muhammadiyah di Sumut yang dahulu adalah ketua Sarekat Islam, lihat tentang Muhammadiyah di Medan: 30 Tahun Muhammadijah Daerah Sumatera Timur (Medan: Panitian Besar Muhammadiyah, 1927-1957), Lihat juga: Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah Sekolah (Jakarta: LP3ES,1986), h.76.

[10] Sebagian besar anggota pimpinan Muhammadiyah berasal dari Minangkabau, walaupun ada juga beberapa orang berasal dari Jawa dan Melayu. Dari sebelas anggota pimpinan, enam orang bergelar Sutan dan boleh diaggap sebagai orang yang berasal dari Sumatera Barat. Tidak seorangpun yang memakai nama Batak. 30 Tahun Muhammadijah Daerah Sumataera Timur, h. 100. Lihat juga: Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah…, h.77. Muhammadiyah di Sumatera Timur dikembangkan oleh mubalig dan pedagang yang merantau ke Sumatera Timur dari Minangkabau. Para perantau Minangkabau sangat tertarik kepada ide-ide Muhammadiyah yang relatif sama dengan ide-ide kaum Muda yang menolak bertaqlid kepada ulama fikih.

[11] Lebih lanjut lihat dalam buku Profil Muhammadiyah…, h.5.

[12] Pijper, Fragmenta Islamica, h. 166-167 memberikan gambaran yang menarik tentang penyebaran Muhammadiyah di daerah di luar Jawa.

[13] Aktivitas kristenisasi yang dilakukan oleh misi Katolik maupun Zending Protestan terhadap penduduk  pribumi yang telah beragama Islam terus berlangsung tanpa halangan dari  penguasa kolonial. Lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah, panti asuhan, dan rumah sakit yang didirikan oleh misi Zending sebagai pendukung utama dalam proses kristenisasi, secara reguler mendapat bantuan dana yang besar dari pemerintah. Sarto Kartodirjo, Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme, Jakarta: Gramedia, 1992, hlm. 52

[14] Pada tahun ini juga diadakannya Muktamar Muhammadiyah ke 28. Muhammadiyah Sumut saat baru berusia 12 tahun begitu berani menjadi tuan rumah Muktamar. Bayangkan lagi, saat itu Indonesia belum merdeka. Sebenarnya Muktamar ke 28 tahun 1939 di Medan adalah hasil pinangan ketiga setelah pinangan resmi yang diajukan pada Muktamar 25 (Betawi), Muktamar 26 (Yogjakarta) dan Muktamar ke 27 (Malang). Jumlah pengunjung yang tak kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) orang pada Muktamar ke 28 ini cukup melukiskan besarnya perhelatan tersebut (Data ini dicatat pada “Majalah Soeara Moehammadijah” Nomor 4 Tahun 1939).

[15] Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam-dalam Persepektif Historis dan Ideologis (Yogyakarta: LPPI UMY, 2003), h.43.

[16]  Selain itu, sejarah mencatat Muhammadiyah sebagai organisasi sosial pendidikan yang pertama menentang ideology komunis yang dikembangkan oleh Semaun, Darsono, dan Haji Misbach. Lihat dalam Ahmad Mansur Surya Negara, Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1996), Cet. III, h.220.

[17] Disampaikan Oleh: Drs. H. Ari Anshori, M.A. pada Pengajian Ramadhan 1432 H. Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahad, 7 Ramadhan 1432 H/7 Agustus 2011 M. Jam 15.30-17.30 WIB. Dengan Tema : “Ideologi Muhammadiyah dan Reaktualisasi Islam yang Berkemajuan dalam Dinamika Peradaban Kontemporer”. Lihat juga di dalam Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah; Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tanggal 8 s/d 11 Juli Tahun 2000 ( Jakarta: PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH 1421 H / 2000 M).

[18] Muhammadiyah; Pemberdayaan Umat? editor: M.A Fattah Santosa, Maryadi (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), h.3.

[19] Seperti UMSU yang didirikan pada 29 Februari 1957) atas prakarsa HM Bustami Ibrahim, dkk. UMSU kemudian memperkarsai berdirinya Universitas Tapanuli Selatan (1984), Sekolah Tinggi Ekonomi dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Kisaran-Asahan.

[20] Salah satunya RS Muhammadiyah Jl. Mandala By Pass, Medan, yang hingga kini masih eksis.

[21] Dahulu, pertama sekali dalam melawan penjajah, Muhammadiyah melakukan amal usaha berupa pembangunan dalam bidang pendidikan sebagai jawaban atas pendidikan Belanda yang pada saat itu dipersukar, diperlambat pembangunannya, dan diupayakan sebagai sarana pemecah-belah kehidupan rakyat pribumi. Oleh sebab itu, Muhammadiyah realitasnya melakukan politik pendidikan yang berpengaruh terhadap generasi muda. Dengan dibangunnya kepramukaan Hizbul Wathon (Cinta tanah air); Keputrian, Nasyiatul Aisyiyah. Selain itu, Muhammadiyah berhasil membangun sekolah sebanyak delapan buah Holland Indische School (HIS), sebuah Kweekschool (sekolah guru), 32 Indische School (sekolah rendah “kelas dua”), dan madrasah 14 buah, ini terjadi pada 1925. Kurikulumnya berbeda dengan sekolah-sekolah Belanda pada saat itu, karena ditambah dengan Pendidikan Agama Islam (HIS met de Quran). Seiring Muhammadiyah semakin luas cabangnya, maka pada tahun 1928 terdapat 150, 1929 terdapat 209, dan 1931 terdapat 267 cabang. Poliklinik yang dibangun di Yogya, Surabaya, Surakarta, Malang pada 1929 telah mengobati 81.000 orang pasien. Disaat masyarakat masih takut kepada dokter, polikliniknya mendapatkan perhatian masyarakat sebanyak itu. Lihat dalam Mansur Surya Negara, Menemukan Sejarah.., h.220-221.

[22] Lihat dalam Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Pasal 3 mengenai Usaha.

[23] Sebagian dikutip dari situs resmi Al Washliyah: http://www.al-washliyah.com. Di unduh pada tanggal 16 Desember 2011.

[24] Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul Washliyah Api Dalam Sekam, (Bandung: Pustaka, 1988), h.34-35.

[25] Pengajian itu biasanya dilakukan di masjid atau dirumah seorang ulama. Namun ada juga yang belajar langsung kepada orang tuanya masing-masing di rumah, yang biasanya waktunya itu dilakukan setelah maghrib.  Tujuan utama pengajian ini adalah hanya untuk dapat memberikan kemampuan kepada anak-anak itu agar dapat membaca Alquran. Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 16.

[26] Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 16.

[27] Ibid.

[28] Bantuan dari Mayor Tjong A Fie ini menunjukkan bahwa masyarakat Tapanuli di Medan mempunyai hubungnan baik dengan masyarakat Cina, antara lain hubungan dagang yang menyebabkan mereka saling berkepentingan. Penyebutan Mayor ini bukan merupakan kepangkatan dalam militer, tetapi karena beliua orang yang palang terpandang dalam etnisnya.

[29] Sehingga setiap tanggal 30 November diresmikan dan ditetapkan sebagai hari lahirnya “al-Jam’iyatul Washliyah”. Susunan yang pertama terdiri dari: Ketua H. Ismail Banda, Penulis (sekretaris) H. Muhammad Arsyad Tahlib Lubis, Bendahara H. Muhammad Ya’kub, Pembantu-pembantu H. Syamsuddin, Abdul Malik, Abdul Aziz Efendy dan Muhammad Nurdin. Kepada mereka diserahkan untuk segera menetapkan Anggaran dasar al-Washliyah. Lihat dalam:  Syahrul AR el-Hadidhy, et.al., Pendidikan Ke Al-Washliyahan (Medan, MPK Al-Jam’iyatul Washliyah, 2005), h. 2-4.

[30] Salah satu isi diskusi pada saat itu adalah mengenai pengucapan niat dulu atau tidak ketika shalat. Masalah ini dikenal dengan usolli. Menyikapi masalah tersebut, menjadi salah satu alasan didirikannya Al Washliyah.

[31] Perkumpulan atau kelompok diskusi pelajar seperti ini adalah hal yang sudah lumrah dan banyak dibentuk di kalangan pelajar-pelajar sekolah umum. Di Medan sendiri terdapat kumpulan pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Medan yang didirikan oleh pelajar-palajar Indonesia yang belajar di sekolah Belanda pada tahun 1926. akan tetapi pelajaran MIT tidak tergabung di dalam keanggotaanya, karena mereka belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Belanda, bahasa yang di pergunakan JIB. Mereka membentuk sebuah perkumpulan sendiri dengan nama Debating Club. Pemberian nama ini mengandung arti bahwa mereke berkeinginan berdiri sejajar dengan rekan-rekan pelajar Islam yang belajar di sekolah Belanda. Lihat dalam: Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 34-35.

[32] Nama ini diberikan oleh Syaikh HM Joenoes yang berarti perhimpunan yang memperhubungkan dan mempertalikan. Menurut analisis Ridwan Lubis, nama tersebut mempunyai dua makna dua dimensi. Pertama, memperhubungkan antara manusia dengan khaliqnya, Kedua memperhubungkan sesame manusia termasuk untuk mempertemukan dan mempersatukan dua kelompok yang berbeda, yakni Kelompok  Tua dan Kelompok Muda. Lihat dalam buku Nukman Sulaiman, Peringatan…, h.34-38.

[33] Syahrul AR el-Hadidhy, et.al., Pendidikan…, h. 2-4.

[34] Muhammadiyah sendiri didirikan oleh seorang ulama di Kauman, Yokyakarta, oleh Haji Ahmad Dahlan, bersama dengan teman-temannya pada tahun 1912. Tujuan mereka adalah memperbaiki praktek-praktek pelaksanaan ajaran Islam yang dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Menurut anggapan mereka ajaran Islam, telah banyak disusupi oleh unsur bid’ah dan khurafat. Untuk merealisir citra-citra ini, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berprinsip menolak taqlid dan menggalakkan ijtihad.

[35] Syahrul AR el-Hadidhy, et.al., Pendidikan…, h. 2-4.

[36] Duduk sebagai pengurus pertama adalah Syekh Mahmud Yunus (Penasehat) Ismail Banda (Ketua), Abdurrahman Syihab (Wakil Ketua) dan Mhd. Arsyad Thalib Lubis (Sekretaris), dan beberapa orang pembantu. Kepengurusun ini menyusun tujuh program kerja yaitu: (1). Tabligh (Ceramah Agama), (2). Tarbiyah (Pengajaran), (3). Pustaka/Penerbitan, (4). Fatwa, (5). Penyiaran, (6). Urusan Anggota, dan (7). Tolong Menolong. Lihat: Chalijah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul…, h. 35-36.

[37] Hal ini sesuai dengan Anggaran Dasar Al-Washliyah BAB II Pasal 2 tentang Asas dan Akidah. Lihat juga di dalam buku Bunga Rampai Al-Jam’iyatul Washliyah, editor: Ismed Batubara, Ja’far (Banda Aceh: AUP, 2010), h.27. Maksudnya adalah bahwa setiap gerak, cita-cita, dan usah-usaha perhimpunan ini haruslah sesuai tuntunan dan ajaran Islam.

[38] Membandingkan al-Washliyah dengan Muhammadiyah dimaksudkan untuk melihat sisi doktrin keagamaan yang dianut keduanya, bukan berupaya justifikasi kebenaran dari salah satu organisasi. Sebab Muhamadiyah itu dikategorikan sebagai kelompok yang mewakili kaum Muda yang lahir karena menolak ajaran kaum Tua. Sedangkan al-Washliyah itu muncul dalam rangka menolak klaim bid’ah kaum muda terhadap kaum Tua, al-Washliyah dalam hal ini mewakili kaum tua yang berupaya membenarkan ajaran kaum Tua berdasarkan dalil-dalil syar’a.

[39] Identitas tajdid ini semakin menonjol setelah mukhtamar Muhammadiyah ke-42 di Yokyakarta tahun 1960, dalam salah satu putusannya berhubungan dengan identitas Muhammadiyah dengan menetapkan Ketua Bidang Tajdid, yang dalam struktur kepengurusan sebelumnya tidak pernah ada. Inilah yang kemudian menjadikan dasar kuat untuk menyatakan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Walaupun masih terjadi perbedaan pendapat tentang rumusan yang tepat dari tajdid itu, sampai akhirnya pada tahun 1989 pada mukhtamar ke-22 di Malang dirumuskan defenisi yang resmi bagi Muhammadiyah. Lebih jelas baca: Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majlis tarjih Muhammadiyah, cet. I (Jakarta: Logos, 1995), h. 57-59.

[40] Bolan, The Struggle, h. 75 lihat juga dalam Karel A. SteenBrink, Pesantren Madrasah Sekolah, h. 78.

[41] Ibid.

[42] Cap tradisional ini menurutnya adalah karena kecendrungan tradisional para ulama Indonesia yang pada awalnya di dominasi oleh para ulama dari pesantren itu kemudian mereka itu tergabung ke daam organisasi formal, seperti Nahdlatul Ulama/NU (di Jawa), Persatuan Tarbiyah Islamiyah/Perti (di Sumatera Barat) dan al-Jam’iyah al-Washliyah (di Sumatera Utara). Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, Cet. I (Jakarta: LP3ES, 1987), h. 29.

[43] Lihat dalam: Karel A. SteenBrink, Pesantren…, h. 79.

[44] Peringatan 30 Tahun Muhammadiyah di Sumatera Timur  (Medan: Panitian Besar Muhammadiyah, 1927-1957), h.351.

[45] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam, h. 11. Lihat juga Harun Nasution, Pembaharusn Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), h. 64-65.

[46] Lihat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al-jam’iyatul Washliyah, Tahun 1987, h. 4.

[47] Pernyataan ini dinyatakan oleh Mhd. Arsyad Thalib Lubis, salah seorang ulama sekaligus pendiri al-Washliyah pada kata pengantar dalam buku Nukman Sulaiman, Peringatan ¼ Abad Al-Jam’iyatul Washliyah (Medan: PB Al-Jam’iyatul Washliyah, 1956), h.18-20.

[48] Al Rasyidin,dkk, Al Jami’yatul…, h.219-222. Lihat juga dalam buku Bunga Rampai Al-Jam’iyatul…, h.32-36.

Categories: Sejarah Peradaban Islam | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: